Jumat, 22 Mei 2009



kuontai
05-05-2007, 11:24 AM
Hal yang sangat menyedihkan adalah saat kau jujur pada temanmu, dia berdusta padamu. Saat dia telah berjanji padamu, dia mengingkarinya. Saat kau memberikan perhatian, dia tidak menghargainya.

Hal yang sangat menyakitkan adalah saat kau mengirimkan e-mail pada temanmu, dia menghapus tanpa membacanya. Saat kau memerlukan jawapan dari e-mailmu, dia tidak menjawab dan mengacuhkannya.

Saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu. Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintamu. Saat dia yang kau sayangi tiba2 mengirimkan undangan pernikahannya.

Hal yang sangat mengecewakan adalah kau diperlukan hanya pada saat dia dalam kesulitan. Saat kau bersikap ramah, dia terkadang bersikap sinis padamu. Saat kau butuh dia untuk berbagi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu.

Jangan pernah menyesali atas apa yang terjadi padamu. Sebenarnya hal-hal yang kau alami sedang mengajarimu. Saat temanmu berdusta padamu atau tidak menepati janjinya padamu atau dia tidak menghargai perhatian yang kau berikan. sebenarnya ia telah mengajarimu agar kau tidak berprilaku seperti dia.

Saat temanmu menghapus e-mail yang kau kirim sebelum membacanya atau saat bertemu dengannya dan ingin menyapa, dia pura2 tidak melihatmu.

Sebenarnya dia telah mengajarkanmu agar tidak berprasangka buruk & selalu berpikiran positif bahwa mungkin saja dia pernah membaca e-mail yang kau kirim atau mungkin saja dia tidak melihatmu.

Dan saat dia tidak menjawab e-mailmu. sebenarnya dia telah mengajarkanmu untuk menjawab e-mail temanmu yang membutuhkan jawaban walaupun kau sedang sibuk dan jika kau tidak bisa menjawabnya katakan kalau kau belum bisa menjawabnya jangan biarkan e-mailnya tanpa jawaban karena mungkin dia sedang menunggu jawabanmu.

Saat kau mencintainya dengan tulus tapi dia tidak mencintaimu atau dia yang kau sayangi tiba2 mengirimkan kad undangan pernikahannya. sebenarnya sedang mengajarimu untuk menerima takdirNya.

Saat kau bersikap ramah tapi dia terkadang bersikap sinis padamu. sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk selalu bersikap ramah pada siapapun.

Saat kau ingin dia untuk berkongsi cerita, dia berusaha untuk menghindarimu. sebenarnya dia sedang mengajarimu untuk menjadi seorang teman yang bisa diajak berkongsi cerita, mau mendengarkan keluhan temanmu dan membantunya.

Bila kau diperlukan hanya pada saat dia sedang dalam kesulitan. Sebenarnya juga telah mengajarimu untuk menjadi orang yang arif & santun, kau telah membantunya saat dia dalam kesulitan.

Begitu banyak hal yang tidak menyenangkan yang sering kau alami atau bertemu dengan orang2 yang menjengkelkan, egois dan sikap yang tidak menyenangkan.

Dan betapa tidak menyenangkan menjadi orang yang dikecewakan, disakiti, tidak dipedulikan, tidak dihargai malah mungkin dicaci dan dihina. Sebenarnya orang2 tersebut sedang mendidikmu untuk melatih membersihkan hati & jiwa, melatih untuk menjadi orang yang sabar dan mengajarimu untuk tidak berperilaku seperti itu.

Mungkin Tuhan menginginkan kau bertemu orang dengan berbagai macam karakter yang tidak menyenangkan sebelum kau bertemu dengan orang yang menyenangkan dalam kehidupanmu dan kau harus mengerti bagaimana berterimakasih atas kurnia itu yang telah mengajarkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupmu.

sumber: anonim
kuontai
05-05-2007, 11:30 AM
Jangan sesali apa yang sudah pergi. Jangan tangisi apa yang sudah tiada. Tetapi bangkitlah dan bina kembali apa yang telah hilang dan pergi.

Jika anda bekerja semata-mata untuk uang, anda tidak akan menjadi kaya karenanya. Tetapi jika anda mencintai pekerjaan yang anda lakukan itu, kejayaan akan menjadi milik anda ~ Ray Kroc (Pengasas McDonalds)

Kita sering tampak menderita hari ini, tapi kita jarang ingat kebahagiaan untuk esok hari, jadi belajar lah untuk menghargai apa yg kita miliki hari ini, karena kita takkan dapat mencapai penghargaan untuk esoknya jika semuanya telah tiada…..

Komunikasi adalah sesuatu yg mudah, susahnya ialah apabila kita tidak menyebutnya dengan perkataan yg mudah.~T.S Matthews

Masa lalu adalah seperti melihat dari kaca yang berdebu, segalanya nampak senyap dan tidak pasti.

Anda mungkin ditipu jika terlalu mempercayai tetapi hidup anda akan tersiksa jika tidak cukup mempercayai ~ Frank Crane

Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata -katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka karena kata - kata adalah sama buruknya dengan luka berdarah.
kuontai
05-05-2007, 05:44 PM
PERPISAHAN
Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan - seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran.

KATA TERINDAH
Kata yang paling indah di bibir umat manusia adalah kata ‘Ibu’, dan panggilan paling indah adalah ‘Ibuku’. Ini adalah kata penuh harapan dan cinta, kata manis dan baik yang keluar dari kedalaman hati.

SAHABAT SEJATI
Tidak ada sahabat sejati yang ada hanya kepentingan.

PERSAHABATAN
Persahabatan itu adalah tanggungjawaban yang manis, bukannya peluang.

SULUH HIDUP
Tuhan telah memasang suluh dalam hati kita yang menyinarkan pengetahuan dan keindahan;berdosalah mereka yang mematikan suluh itu dan menguburkannya ke dalam abu.

PENYAIR
Penyair adalah orang yang tidak bahagia, kerana betapa pun tinggi jiwa mereka, mereka tetap diselubungi airmata.

Penyair adalah adunan kegembiraan dan kepedihan dan ketakjuban, dengan sedikit kamus.

Penyair adalah raja yang tak bertakhta, yang duduk di dalam abu istananya dan cuba membangun khayalan daripada abu itu.

Penyair adalah burung yang membawa keajaiban. Dia lari dari kerajaan syurga lalu tiba di dunia ini untuk berkicau semerdu-merdunya dengan suara bergetar. Bila kita tidak memahaminya dengan cinta di hati, dia akan kembali mengepakkan sayapnya lalu terbang kembali ke negeri asalnya.

SUARA KEHIDUPANKU
Suara kehidupanku memang tak akan mampu menjangkau telinga kehidupanmu; tapi marilah kita cuba saling bicara barangkali kita dapat mengusir kesepian dan tidak merasa jemu.

KEINDAHAN KEHIDUPAN
Keindahan adalah kehidupan itu sendiri saat ia membuka tabir penutup wajahnya. Dan kalian adalah kehidupannya itu, kalianlah cadar itu. Keindahan adalah keabadian yag termangu di depan cermin. Dan kalian; adalah keabadian itu, kalianlah cermin itu.

RUMAH
Rumahmu tak akan menjadi sebuah sangkar, melainkan tiang utama sebuah kapal layar.

PUISI
Puisi bukanlah pendapat yang dinyatakan. Ia adalah lagu yang muncul daripada luka yang berdarah atau mulut yang tersenyum.

NILAI
Nilai dari seseorang itu di tentukan dari keberaniannya memikul tanggungjawab, mencintai hidup dan pekerjaannya.

PENDERITAAN
Penderitaan yang menyakitkan adalah koyaknya kulit pembungkus kesedaran- seperti pecahnya kulit buah supaya intinya terbuka merekah bagi sinar matahari yang tercurah.

Kalian memiliki takdir kepastian untuk merasakan penderitaan dan kepedihan. Jika hati kalian masih tergetar oleh rasa takjub menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam kehidupan, maka pedihnya penderitaan tidak kalah menakjubkan daripada kesenangan.

Banyak di antara yang kalian menderita adalah pilihan kalian sendiri - ubat pahit kehidupan agar manusia sembuh dari luka hati dan penyakit jiwa. Percayalah tabib kehidupan dan teguk habis ramuan pahit itu dengan cekal dan tanpa bicara.

SAHABAT
Sahabat adalah keperluan jiwa yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau subur dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu. Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa memerlukan kedamaian.

SIKAP MANUSIA
Jauhkan aku dari manusia yang tidak mahu menyatakan kebenaran kecuali jika ia berniat menyakiti hati, dan dari manusia yang bersikap baik tapi berniat buruk, dan dari manusia yang mendapatkan penghargaan dengan jalan memperlihatkan kesalahan orang lain.

DUA HATI
Orang yang berjiwa besar memiliki dua hati; satu hati menangis dan yang satu lagi bersabar.

HUTANG KEHIDUPAN
Periksalah buku kenanganmu semalam, dan engkau akan tahu bahwa engkau masih berhutang kepada manusia dan kehidupan.

INSPIRASI
Inspirasi akan selalu bernyanyi; kerana inspirasi tidak pernah menjelaskan.

POHON
Pohon adalah syair yang ditulis bumi pada langit. Kita tebang pohon itu dan menjadikannya kertas, dan di atasnya kita tulis kehampaan kita.

FALSAFAH HIDUP
Hidup adalah kegelapan jika tanpa hasrat dan keinginan. Dan semua hasrat -keinginan adalah buta, jika tidak disertai pengetahuan . Dan pengetahuan adalah hampa jika tidak diikuti pelajaran. Dan setiap pelajaran akan sia-sia jika tidak disertai cinta

KERJA
Bekerja dengan rasa cinta, bererti menyatukan diri dengan diri kalian sendiri,dengan diri orang lain dan kepada Tuhan.

Tapi bagaimanakah bekerja dengan rasa cinta itu ? Bagaikan menenun kain dengan benang yang ditarik dari jantungmu, seolah-olah kekasihmu yang akan memakainya kelak.

LAGU GEMBIRA
Alangkah mulianya hati yang sedih tetapi dapat menyanyikan lagu kegembiraan bersama hati-hati yang gembira.

KEBEBASAN
Ada orang mengatakan padaku, “Jika engkau melihat ada hamba tertidur, jangan dibangunkan, barangkali ia sedang bermimpi akan kebebasan.”
Kujawab,”Jika engkau melihat ada hamba tertidur, bangunkan dia dan ajaklah berbicara tentang kebebasan.”

ORANG TERPUJI
Sungguh terpuji orang yang malu bila menerima pujian, dan tetap diam bila tertimpa fitnah.

BERJALAN SEIRINGAN
Aku akan berjalan bersama mereka yang berjalan. Kerana aku tidak akan berdiri diam sebagai penonton yang menyaksikan perarakan berlalu.

DOA
Doa adalah lagu hati yang membimbing ke arah singgahsana Tuhan meskipun ditingkah oleh suara ribuan orang yang sedang meratap.

PENYIKSAAN
Penyiksaan tidak membuat manusia tak bersalah jadi menderita: penindasan pun tak dapat menghancurkan manusia yang berada di pihak Kebenaran: Socrates tersenyum ketika disuruh minum racun, dan Stephen tersenyum ketika dihujani dengan lemparan batu. Yang benar-benar menyakitkan hati ialah kesedaran kita yang menentang penyiksaan dan penindasan itu, dan terasa pedih bila kita mengkhianatinya.

KATA-KATA
Kata-kata tidak mengenal waktu. Kamu harus mengucapkannya atau menuliskannya dengan menyedari akan keabadiannya.

BICARA WANITA
Bila dua orang wanita berbicara, mereka tidak mengatakan apa-apa; tetapi jika seorang saja yang berbicara, dia akan membuka semua tabir kehidupannya.

KESEDARAN
Aku tidak mengetahui kebenaran mutlak. Tetapi aku menyedari kebodohanku itu, dan di situlah terletak kehormatan dan pahalaku.

ILMU DAN AGAMA
Ilmu dan agama itu selalu sepakat, tetapi ilmu dan iman selalu bertengkar.

NILAI BURUK
Alangkah buruknya nilai kasih sayang yang meletakkan batu di satu sisi bangunan dan menghancurkan dinding di sisi lainnya.

MENUAI CINTA
Manusia tidak dapat menuai cinta sampai dia merasakan perpisahan yang menyedihkan, dan yang mampu membuka fikirannya, merasakan kesabaran yang pahit dan kesulitan yang menyedihkan.

KEHIDUPAN
Sebab kehidupan tidak berjalan mundur, pun tidak tenggelam dimasa lampau.

KERJA
Kerja adalah wujud nyata cinta. Bila kita tidak dapat bekerja dengan kecintaan, tapi hanya dengan kebencian, lebih baik tinggalkan pekerjaan itu. Lalu, duduklah di gerbang rumah ibadat dan terimalah derma dari mereka yang bekerja dengan penuh suka cita.

SELAMATKAN AKU
Selamatkan aku dari dia yang tidak mengatakan kebenaran kecuali kalau kebenaran itu menyakiti; dan dari orang yang berperilaku baik tetapi berniat buruk; dan dari dia yang memperoleh nilai dirinya dengan mencela orang lain.

CINTA
Salahlah bagi orang yang mengira bahwa cinta itu datang kerana pergaulan yang lama dan rayuan yang terus menerus.

Cinta adalah tunas pesona jiwa, dan jika tunas ini tak tercipta dalam sesaat, ia takkan tercipta bertahun-tahun atau bahkan abad.

CINTA
Ketika cinta memanggilmu maka dekatilah dia walau jalannya terjal berliku, jika cinta memelukmu maka dakaplah ia walau pedang di sela-sela sayapnya melukaimu.

CINTA
Cinta tidak menyedari kedalamannya dan terasa pada saat perpisahan pun tiba. Dan saat tangan laki-laki menyentuh tangan seorang perempuan mereka berdua telah menyentuh hati keabadian.

CINTA
Cinta adalah satu-satunya kebebasan di dunia kerana cinta itu membangkitkan semangat- hukum-hukum kemanusiaan dan gejala alami pun tak mampu mengubah perjalanannya.

CINTA
Jika cinta tidak dapat mengembalikan engkau kepadaku dalam kehidupan ini, pastilah cinta akan menyatukan kita dalam kehidupan yang akan datang

ATAS NAMA CINTA
Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah kesesuaian jiwa dan jika itu tak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan abad.

CINTA YANG BERLALU
Cinta berlalu di depan kita, terbalut dalam kerendahan hati; tetapi kita lari daripadanya dalam ketakutan, atau bersembunyi di dalam kegelapan; atau yang lain mengejarnya, untuk berbuat jahat atas namanya.

CINTA LELAKI
Setiap lelaki mencintai dua orang perempuan, yang pertama adalah imaginasinya dan yang kedua adalah yang belum dilahirkan.

TAKDIR CINTA
Aku mencintaimu kekasihku, sebelum kita berdekatan, sejak pertama kulihat engkau.

Aku tahu ini adalah takdir. Kita akan selalu bersama dan tidak akan ada yang memisahkan kita.

CINTA PERTAMA
Setiap orang muda pasti teringat cinta pertamanya dan mencuba menangkap kembali hari-hari asing itu, yang kenangannya mengubah perasaan direlung hatinya dan membuatnya begitu bahagia di sebalik, kepahitan yang penuh misteri.

LAFAZ CINTA
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu… Aku ingin mencintaimu dengan sederhana… seperti isyarat yang tak sempat dikirimkan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

LAFAZ CINTA
Jangan menangis, Kekasihku… Janganlah menangis dan berbahagialah, kerana kita diikat bersama dalam cinta. Hanya dengan cinta yang indah… kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan, pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan.

KALIMAH CINTA
Apa yang telah kucintai laksana seorang anak yang tak henti-hentinya aku mencintai… Dan, apa yang kucintai kini… akan kucintai sampai akhir hidupku, kerana cinta ialah semua yang dapat kucapai… dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya

CINTA DAN AIRMATA
Cinta yang dibasuh oleh airmata akan tetap murni dan indah sentiasa.

WANITA
Seorang wanita telah dilengkapi oleh Tuhan dengan keindahan jiwa dan raga adalah suatu kebenaran, yang sekaligus nyata dan maya, yang hanya bisa kita fahami dengan cinta kasih, dan hanya bisa kita sentuh dengan kebajikan.

BANGSA
Manusia terbahagi dalam bangsa, negara dan segala perbatasan. Tanah airku adalah alam semesta. Aku warganegara dunia kemanusiaan.

KESENANGAN
Kesenangan adalah kesedihan yang terbuka bekasnya. Tawa dan airmata datang dari sumber yang sama.
Semakin dalam kesedihan menggoreskan luka ke dalam jiwa semakin mampu sang jiwa menampung kebahagiaan;

WARISAN
Manusia yang memperoleh kekayaannya oleh kerana warisan, membangun istananya dengan yang orang-orang miskin yang lemah.

RESAH HATI
Jika manusia kehilangan sahabatnya, dia akan melihat sekitarnya dan akan melihat sahabat-sahabatnya datang dan menghiburkannya. Akan tetapi apabila hati manusia kehilangan kedamaiannya, dimanakah dia akan menemukannya, bagaimanakah dia akan bisa
memperolehinya kembali?

JIWA
Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui. Mereka dipisahkan kerana alasan duniawi dan dipisahkan di hujung bumi. Namun jiwa tetap ada di tangan cinta… terus hidup… sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan.

LUAHAN
Setitiss airmata menyatukanku dengan mereka yang patah hati; seulas senyum menjadi sebuah tanda kebahagiaanku dalam kewujudan… Aku merasa lebih baik jika aku mati dalam hasrat dan kerinduan…dari aku hidup menjemukan dan putus asa.

LAGU KEINDAHAN
Jika kamu menyanyikan lagu tentang keindahan, walau sendirian di puncak gurun, kamu akan didengari.

DIRI
Dirimu terdiri dari dua; satu membayangkan ia mengetahui dirinya dan yang satu lagi membayangkan bahawa orang lain mengetahui ia.

TEMAN MENANGIS
Kamu mungkin akan melupakan orang yang tertawa denganmu, tetapi tidak mungkin melupakan orang yang pernah menangis denganmu.

PEMAHAMAN DIRI
Orang-orang berkata, jika ada yang dapat memahami dirinya sendiri, ia akan dapat memahami semua orang. Tapi aku berkata, jika ada yang mencintai orang lain, ia dapat mempelajari sesuatu tentang dirinya sendiri.

HATI LELAKI
Ramai wanita yang meminjam hati laki-laki; tapi sangat sedikit yang mampu memilikinya.

PENULIS
Kebanyakan penulis menampal fikiran-fikiran mereka yang tidak karuan dengan bahan tampalan daripada kamus.

HARTA BENDA
Harta benda yang tak punya batas, membunuh manusia perlahan dengan kepuasan yang berbisa. Kasih sayang membangunkannya dan pedih peri nestapa membuka jiwanya.

OBOR HATI
Tuhan telah menyalakan obor dalam hatimu yang memancarkan cahaya pengetahuan dan keindahan; sungguh berdosa jika kita memadamkannya dan mencampakkannya dalam abu.

KESEPIAN
Kesepianku lahir ketika orang-orang memuji kelemahan-kelemahanku yang ramah dan menyalahkan kebajikan-kebajikanku yang pendiam.

KEABADIAN PANTAI
Aku berjalan selalu di pantai ini. Antara pasir dan buih, Air pasang bakal menghapus jejakku. Dan angin kencang menyembur hilang buih putih. Namun lautan dan pantai akan tinggal abadi

MEMAHAMI TEMAN
Jika kamu tidak memahami teman kamu dalam semua keadaan, maka kamu tidak akan pernah memahaminya sampai bila-bila.

MANUSIA SAMA
Jika di dunia ini ada dua orang yang sama, maka dunia tidak akan cukup besar untuk menampung mereka.

MENCINTAI
Kekuatan untuk mencintai adalah anugerah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia, sebab kekuatan itu tidak akan pernah direnggut dari manusia penuh berkat yang mencinta.

CERMIN DIRI
Ketika aku berdiri bagaikan sebuah cermin jernih di hadapanmu,
kamu memandang ke dalam diriku dan melihat bayanganmu. Kemudian kamu berkata,
Aku cinta kamu.
Tetapi sebenarnya, kamu mencintai dirimu dalam diriku

KEBIJAKSANAAN
Kebijaksanaan tidak lagi merupakan kebijaksanaan apabila ia menjadi terlalu angkuh untuk menangis, terlalu serius untuk tertawa, dan terlalu egois untuk melihat yang lain kecuali dirinya sendiri.

KEBENARAN
Diperlukan dua orang untuk menemui kebenaran; satu untuk mengucapkannya dan satu lagi untuk memahaminya.

NYANYIAN PANTAI
Apakah nyanyian laut berakhir di pantai atau dalam hati-hati mereka yang mendengarnya?


~ Mutiara Kata Khalil Gibran
kuontai
05-05-2007, 05:52 PM
Kita lahir dengan dua mata di depan wajah kita, karena kita tidak boleh selalu melihat ke belakang. Tapi pandanglah semua itu ke depan, pandanglah masa depan kita.

Kita dilahirkan dengan 2 buah telinga di kanan dan di kiri, supaya kita dapat mendengarkan semuanya dari dua buah sisi. Untuk berupaya mengumpulkan pujian dan kritikan dan memilih mana yang benar dan mana yang salah.

Kita lahir dengan otak di dalam tengkorak kepala kita. Sehingga tidak peduli semiskin mana pun kita, kita tetap kaya. Karena tidak akan ada seorang pun yang dapat mencuri otak kita, fikiran kita dan idea kita. Dan apa yang anda fikirkan dalam otak anda jauh lebih berharga daripada emas dan perhiasan.

Kita lahir dengan 2 mata dan 2 telinga, tapi kita hanya diberi 1 buah mulut. Karena mulut adalah senjata yang sangat tajam, mulut bisa menyakiti, bisa membunuh, bisa menggoda, dan banyak hal lainnya yang tidak menyenangkan. Sehingga ingatlah bicara sesedikit mungkin tapi lihat dan dengarlah sebanyak-banyaknya.

Kita lahir hanya dengan 1 hati jauh di dalam diri kita. Mengingatkan kita pada penghargaan dan pemberian cinta diharapkan berasal dari hati kita yang paling dalam. Belajar untuk mencintai dan menikmati betapa kita dicintai tapi jangan pernah mengharapkan orang lain untuk mencintai kita seperti kita mencintai dia.

Berilah cinta tanpa meminta balasan dan kita akan menemui cinta yang jauh lebih indah.
kuontai
05-05-2007, 06:05 PM
Dalam hidup, seringkali kita lebih banyak mendapatkan apa yang tidak kita inginkan. Dan ketika kita mendapatkan apa yang kita inginkan, akhirnya kita tahu bahawa apa yang kita inginkan terkadang tidak dapat membuat hidup kita menjadi lebih bahagia.

Seandainya kita tidak mampu untuk menghadirkan sedikit kesenangan kepada orang lain, berusahalah supaya kita tidak mengirimkan walau sedikit kesusahan kepada orang lain.

Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi sering kali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

Memaafkan mungkin amat berat untuk diberikan kepada orang yang pernah melukai hati kita. Tetapi hanya dengan memberi maaf saja kita akan dapat mengobati hati yang telah terluka.

Seseorang manusia harus cukup rendah hati untuk mengakui kesalahannya, cukup bijak untuk mengambil manfaat dari kegagalannya dan cukup berani untuk membetulkan kesalahannya.

Jadikan dirimu bagai pohon yang rindang di mana orang dapat berteduh. Jangan seperti pohon kering tempat sang pungguk melepas rindu dan hanya layak dibuat kayu api.

Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi. Jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

Masa depan yang cerah berdasarkan pada masa lalu yang telah dilupakan. Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu sampai kamu melupakan kegagalan kamu dan rasa sakit hati.

Doa memberikan kekuatan pada orang yang lemah, membuat orang tidak percaya menjadi percaya dan memberikan keberanian pada orang yang ketakutan 

Janganlah berputus asa. Tetapi kalau anda sampai berada dalam keadaan putus asa, berjuanglah terus meskipun dalam keadaan putus asa.

Dunia ini umpama lautan yg luas. Kita adalah kapal yg belayar dilautan telah ramai kapal karam didalamnya..andai muatan kita adalah iman, dan layarnya takwa, niscaya kita akan selamat dari tersesat di lautan hidup ini.

Dalam masyarakat manusia ada binatang jalang tetapi dalam masyarakat binatang tidak ada satu pun manusia jalang.

Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup berada disisimu ketika kamu memerlukan dukungan.

Hati yang terluka umpama besi bengkok walau diketok sukar kembali kepada bentuk asalnya.

Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum.
Jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.

Tanda-tanda orang yang budiman ialah dia akan berasa gembira jika dapat berbuat kebaikan kepada orang lain, dan dia akan berasa malu jika menerima kebaikan daripada orang lain.

Sebaik-baik manusia ialah yang diharapkan kebaikannya dan terlindung dari kejahatannya.

Hiduplah seperti lilin menerangi orang lain, janganlah hidup seperti duri mencucuk diri dan menyakiti orang lain

Semoga kamu mendapat cukup kebahagiaan untuk membuat kamu bahagia, cukup cobaan untuk membuat kamu kuat, cukup penderitaan untuk membuat kamu menjadi manusia yang sesungguhnya, dan cukup harapan untuk membuat kamu positif terhadap kehidupan.
kuontai
07-05-2007, 09:35 AM
Jika seseorang hadir dalam hidup kamu dan menjadi sebahagian daripada kamu, tetapi atas sebab tertentu dia terpaksa pergi, jangan terlalu sedih, terimalah kenyataan itu dan sekurang-kurangnya dia pernah membahagiakan kamu.

Cinta itu seperti sinar matahari, memberi TANPA mengharap kembali.Cinta itu seperti sinar matahari, TIDAK MEMILIH siapa yang ia sinari. Cinta itu seperti sinar matahari yang MEMBERI KEHANGATAN DI HATI.

Cinta adalah sebuah janji, cinta adalah sebuah cenderahati, sekali diberi tidak akan di lupakan , jangan biarkan ia hilang.

Jika ia sebuah cinta, ia tidak hadir dengan permintaan… namun ia hadir karena ketentuannya….jika ia sebuah cinta, ia tidak hadir dengan kemewahan dan kebendaan…namun ia hadir kerana pengorbanan dan kesetiaan

Cinta tak pernah menjanjikan apa-apa. Ia berlaku dengan indah sekali dan mungkin berakhir dengan perih sekali.

Cinta tidak semestinya membawa kebahagian dan keindahan. Cinta juga adalah pemusnah dan boleh membawa pada kekecewaan yang panjang. Oleh itu berhati-hatilah dalam menyambut atau menerima uluran cinta dari seseorang itu.

Cinta tidak semestinya diucap dengan kata-kata manis sekiranya kita tidak tahu menghargai atau memahaminya. Apalah arti cinta jika kesetiaan yang wujud bukanlah dari hati yang ikhlas dan suci.

Cinta itu satu siksaan jika tiada kepastian. Jiwa pasti gelisah dalam meniti sebuah kepastian… gelisah memikirkan sama ada cinta yang berbalas atau hanya bertepuk sebelah tangan. Apa juga keputusan yang bakal diterima, tabahlah selalu karena tidak semua impian dan kehendak kita menjadi milik kita.

Cinta tak semestinya diakhiri dengan perkawinan. Perkawinan tanpa cinta tak semestinya gagal. Keyakinan, kejujuran dan keridhoan Allah adalah segala -galanya.

Untuk bercinta kita mesti berani. Jangan takut pada kegagalan tapi takutlah pada kemungkaran. Bersedialah menghadapi kegagalan sebelum kegagalan menghancurkan hidup kita.

Ingat disetiap waktu ada org yang lebih menyayangi diri kita. Kita tak akan kehilangannya sekira kita terus menyayanginya dengan sepenuh hati

Cinta perempuan itu diibaratkan seperti layang-layang, bila dikejar ia lari, bila ditunggu ia menanti. Manakala cinta lelaki pula adalah seperti cermin, walaupun ia tidak berbohong, namun sukar untuk dipercayai. Sedangkan cinta itu sendiri adalah seperti sang rembulan yang menerangi kegelapan malam yang gelita tetapi sampai hati membiarkan pungguk merinduinya.

Andai kita menyinta, jangan dipuja cinta itu seperti bunga kerana bunga akan layu bila akhir musimnya. Biarlah cinta itu seperti sungai yang mengalir kerana ianya akan mengalir buat selamanya.

Cinta ibarat dua hati yang dihubungkan oleh sebatang spring teguh dan ajaib, apabila dua hati itu dijarakkan, spring itu akan mengalami ketegangan. Semakin jauh spring itu diregangkan, semakin kuat dua hati itu ingin bertemu.

Cinta yang dimulai dengan senyuman,tumbuh dengan dakapan dan seringkali berakhir dengan air mata.

Cinta itu adalah sesuatu yang SEDAP jika dilihat, tapi BASI jika dibiarkan. Cinta itu BUKAN seuatu hal yang indah, jika berakhir dengan perpisahan. Cinta itu PENYAKIT, iaitu membuat jantung GEMENTAR

Hal paling kejam yang seseorang lakukan kepada orang lain adalah membiarkannya jatuh cinta, sementara kamu tidak berniat untuk menangkapnya

Jangan pernah membicarakan perasaan yang tidak pernah ada. Jangan pernah menyentuh hidup seseorang kalau hal itu akan menghancurkan hatinya. Jangan pernah menatap matanya kalau semua yang kamu lakukan hanya berbohong.


sumber : anonim
kuontai
08-05-2007, 08:58 AM
Dunia adalah komedi bagi mereka yang melakukannya, atau tragedi bagi mereka yang merasakannya. - Horace Walpole

Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah Yang Terbaik untukmu ! Dan karena itulah, Qalbu seorang pecinta-Nya lebih besar daripada Singgasana-Nya. - Jalaludin Rumi

Sesungguhnya seseorang bisa disebut mandiri bukan lantaran ia sudah tidak lagi meminta, tapi lebih karena ia sudah bisa memberi harapan akan kembali diberi. - Anonim

Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui. - Anonim

Tak ada orang yang terlalu miskin sehingga tidak bisa memberikan pujian. - Anonim

Kesehatan selalu tampak lebih berharga setelah kita kehilangannya. - Jonathan Swift

Kita tidak bisa menjadi bijaksana dengan kebijaksanaan orang lain, tapi kita bisa berpengetahuan dengan pengetahuan orang lain. - Michel De Montaigne

Seorang konsultan psikologi paling jenius sekalipun tidak lebih mengerti tentang pikiran dan keinginan kita lebih daripada diri kita sendiri. - Anonim

Salah satu fungsi diplomasi adalah untuk menutupi kenyataan dalam bentuk moralitas. - Will Dan Ariel Dunant

Do all the goods you can, All the best you can, In all times you can, In all places you can, For all the creatures you can. - Anonim

Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun bagaimana bertanding dengan baik. - Baron Pierre De Coubertin

Yang terpenting dalam Olimpiade bukanlah kemenangan, tetapi keikutsertaan ... - Baron Pierre De Coubertin

Hari ini Anda adalah orang yang sama dengan Anda di lima tahun mendatang, kecuali dua hal : orang-orang di sekeliling Anda dan buku-buku yang Anda baca. - Charles "tremendeous" Jones

Jika pekerjaan Anda lenyap, jati diri Anda tidak akan pernah hilang. - Gordon Van Sauter

Jangan biarkan jati diri menyatu dengan pekerjaan Anda. - Gordon Van Sauter

Ketika satu pintu tertutup, pintu lain terbuka; namun terkadang kita melihat dan menyesali pintu tertutup tersebut terlalu lama hingga kita tidak melihat pintu lain yang telah terbuka. - Alexander Graham Bell

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat. Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras. Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu dengan kesiapan. - Thomas A. Edison

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di tangan orang banyak. - John Naisbitt

Uang merupakan hamba yang sangat baik, tetapi tuan yang sangat buruk. - P.t. Barnum

Ingatlah, semua ini diawali dengan seekor tikus, Tanpa inspirasi.... kita akan binasa. - Walt Disney
kuontai
09-05-2007, 09:27 AM
Jangan sesali apa yang sudah pergi. Jangan tangisi apa yang sudah tiada. Tetapi bangkitlah dan bina kembali apa yang telah hilang dan pergi.

Jika anda bekerja semata-mata untuk wang, anda tidak akan menjadi kaya kerananya. Tetapi jika anda menyintai pekerjaan yang anda lakukan itu, kejayaan akan menjadi milik anda ~ Ray Kroc (Pengasas McDonalds)

Kita sering nampak derita hari ini, tapi kita jarang ingat kebahagiaan untuk esok hari, jadi belajar lah untuk menghargai apa yg kita miliki hari ini, kerana kita takkan dapat mencapai penghargaan untuk esoknya jika semuanya telah tiada…..

Komunikasi adalah sesuatu yg mudah, susahnya ialah apabila kita tidak menyebutnya dengan perkataan yg mudah

Masa lalu adalah seperti melihat dari tingkap kaca yang berdebu, segalanya nampak senyap dan tidak pasti.

Mereka yang berjaya bukanlah mereka yang gagal dalam mencuba, bukan juga mereka yang sering gagal tetapi mereka yang tidak pernah gagal mencuba dan terus mencuba sehingga kejayaan yang dikecapi.

Anda mungkin ditipu jika terlalu mempercayai tetapi hidup anda akan terseksa jika tidak cukup mempercayai ~ Frank Crane

Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata -katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau pada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli berapa kali kamu meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka kerana kata - kata adalah sama buruknya dengan luka berdarah.
kuontai
10-05-2007, 01:13 PM
Yang memimpin wanita bukan akalnya, melainkan hatinya.

Amat mudah untuk memadamkan api yang sedang menyala, tetapi sukar untuk meredakan api kemarahan dalam diri sendiri.

Kata-kata itu sebenarnya tidak mempunyai makna untuk menjelaskan perasaan. Manusia boleh membentuk seribu kata-kata, seribu bahasa.Tapi kata-kata bukan bukti unggulnya perasaan.

Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.

Mahkota kemanusiaan ialah rendah hati.

Setiap jiwa yang dilahirkan telah tertanam dengan benih untuk mencapai keunggulan hidup. Tetapi benih itu tidak akan tumbuh seandainya tidak disemai dengan keberanian

Sahabat yang tidak jujur ibarat dapur yang berhampiran. Jikalau pun kamu tidak terkena jelaganya sudah pasti akan terkena asapnya.

Kalau kita dapat membuka dan menutup telinga dengan mudah sebagaimana membuka dan menutup mata, pasti kita akan terhindar dari mendengarkan banyak kebatilan.

Jika keadilan ditegakkan, keberanian tidak diperlukan lagi.

Tiada siapa yang paling pandai dan paling bodoh di dunia ini karena setiap yang pandai itu boleh menjadi bodoh dan setiap yang bodoh itu boleh menjadi pandai

Akal itu menteri yang menasihati, Hati itu ialah raja yang menentukan, Harta itu satu tamu yang akan berangkat, kesenangan itu satu masa yang ditinggalkan

Barangsiapa memusuhi orang yang di bawahnya, hilanglah kewibawaannya.

Hidup biarlah berbakti, walaupun tidak dipuji.

Seorang boleh menipu seseorang sekali-sekala tetapi orang yang sama tidak boleh menipu semua orang pada masa yang sama

Kamu dapat mengenal lebih banyak tentang diri seseorang itu dari adab dan pertanyaannya, bukan dari jawaban-jawabannya -Voltaire

Setiap orang dapat mencapai kejayaan dalam hal apa saja, asalkan ia sangat menyukai pekerjaan yang dilakukan.

Hari ini bila ia datang, jangan biarkan ia berlalu pergi. Esok kalau ia masih bertandang, jangan harap ia akan datang kembali

Lebih baik tidur dengan perut yang lapar daripada bangun tidur dengan banyak hutang -Anonim

Orang cerdik yang mengenal dunia, terungkap baginya musuh yang berbaju kawan.

Pengumpul harta belum tentu memanfaatkannya, dan yang memanfaatkan harta belum tentu yang mengumpulkannya.

Sesuatu yang baik, belum tentu benar. Sesuatu yang benar, belum tentu baik. Sesuatu yang bagus, belum tentu berharga. Sesuatu yang berharga/berguna, belum tentu bagus.

Jangan abaikan permintaan orang, kalau tidak mahu permintaan kamu diabaikan orang.

Agama menjadi sendi hidup, pengaruh menjadi penjaganya. Kalau tidak bersendi, runtuhlah hidup dan kalau tidak berpenjaga, binasalah hayat. Orang yang terhormat itu kehormatannya sendiri melarangnya berbuat jahat. -Pepatah Arab
kuontai
12-05-2007, 09:57 AM
Barangsiapa membawa berita tentang orang lain kepadamu, maka dia akan membawa berita tentang dirimu kepada orang lain.

Nikmat itu kadang-kadang tidak disadari, hanya apabila ia telah hilang barulah manusia benar-benar terasa.

Emas diuji dengan api, wanita diuji dengan emas dan lelaki diuji dengan wanita.

Orang yang berbohong itu sentiasa ingin melarikan diri sedangkan tiada seorang pun yang mengejarnya namun orang yang benar itu berani seperti singa -Goethe

Mengetahui sesuatu dan memahami segala sesuatu adalah lebih baik daripada mengetahui segala sesuatu, tetapi tidak memahami sesuatu.

Kawan sejati ialah orang yang mencintaimu meskipun telah mengenal baik dan burukmu.

Sabar adalah jalan keluar bagi orang yang tidak bisa menemukan jalan keluar.

Kepala yang tidak mempunyai fikiran sama halnya dengan sesebuah benteng yang tidak dibela -Napoleon Bonaparte

Jika dunia ini persinggahan, mengapa tidak kita banyakkan bekal untuk meneruskan perjalanan?

Apabila bicara itu perak, diam adalah emas.

Jagalah dirimu baik-baik, usahakanlah kemuliaannya, kerana engkau dipandang manusia bukan kerana rupa tetapi kesempurnaan budi dan adab -Nabi SAW

Setiap yang kita lakukan biarlah jujur karena kejujuran itu telalu penting dalam sebuah kehidupan. Tanpa kejujuran hidup sentiasa menjadi mainan orang.

Mengherankan sekali, orang yang mencuci wajahnya berkali-kali dalam sehari, tetapi tidak mencuci hatinya walaupun sekali setahun.

Barangsiapa menyebarluaskan berita-berita kekejian yang didengarnya, maka dia seperti pelakunya.

Keikhlasan mempunyai kilauan dan sinar, meskipun ribuan mata tidak melihatnya.

Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah.

Jangan memberi makanan kepada orang lain yang anda sendiri tidak suka memakannya.

Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahawa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

Musibah dalam harta lebih ringan daripada musibah dalam kehormatan.

Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika bertemu seseorang yang sangat bererti dan mendapati pada akhirnya bahawa tidak demikian adanya dan harus melepaskannya pergi.

Beritahukan kepadaku apa bacaan-bacaanmu, niscaya aku akan beritahu siapa diri kamu ini.

Masa depan yang cerah selalu tergantung pada masa lalu yang dilupakan. Kita tidak dapat meneruskan hidup dengan baik jika tidak dapat melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.
kuontai
14-05-2007, 09:06 AM
Kita ada di sini bukan untuk saling bersaing. Kita ada di sini untuk saling melengkapi. - Bill Mccartney

Saat menghadapi kesulitan, beberapa orang tumbuh sayap, sedang yang lain mencari tongkat penyangga. - Harold W. Ruoff

Jika kita sungguh-sungguh menginginkan cinta, maka cintalah pada akhirnya yang justru menunggu kita. - Oscar Wilde

Kebebasan itu berasal dari manusia, tidak dari undang-undang atau institusi. - Clarence Darrow

Lebih mudah menambahkan sesuatu pada reputasi yang besar daripada untuk memperoleh reputasi itu sendiri. - Publius Syrus

Ketika kita menjadi tua, waktu akan membuat kita dikelilingi oleh orang-orang yang mencintai kita, sebagai ganti dari orang-orang yang kita cintai. - J. Petit Senn

Tak melakukan apa-apa merupakan kekuatan setiap orang. - Samuel Johnson

Keberanian bukanlah ketidakhadiran rasa takut, tetapi melakukannya - Montaigne

Kegagalan biasanya merupakan langkah awal menuju sukses, tapi sukses itu sendiri sesungguhnya baru merupakan jalan tak berketentuan menuju puncak sukses. - Lambert Jeffries

Pastikanlah bahwa kepala Anda tidak lebih tinggi dari topi Anda. - Vergill

Tempat untuk berbahagia itu di sini. Waktu untuk berbahagia itu kini. Cara untuk berbahagia ialah dengan membuat orang lain berbahagia. - Robert G. Ingersoll

Keberanian bukanlah ketidakhadiran rasa takut, tetapi melakukannya. - Montaigne

Sifat Cinta: 1. Tidak membeda-bedakan 2. Cuma-cuma atau tanpa pamrih 3. Ketidaksadaran diri 4. Bebas - Anthony De Mello Sj

Hanya ikan yang bodoh yang bisa dua kali kena pancing dengan umpan yang sama. - 

Kebanyakan dari kita yakin bisa membuat orang lain bahagia dengan cara yang kita tentukan. - Robert S. Lynd

Jika kita sungguh-sungguh menginginkan cinta, maka cintalah pada akhirnya yang justru menunggu kita. - Oscar Wilde

Orang yang tidak bisa memaafkan orang lain sama saja dengan orang yang memutuskan jembatan yang harus dilaluinya, karena semua orang perlu di maafkan. - Thomas Fuller

Ada dua hal yang harus Anda lupakan: Kebaikan yang Anda lakukan kepada orang lain dan kesalahan orang lain kepada Anda. - Sai Baba

Suatu kehidupan yang penuh kesalahan tak hanya lebih berharga namun juga lebih berguna dibandingkan hidup tanpa melakukan apapun. - George Bernard Shaw

Pengetahuan ada dua macam : yang telah kita ketahui dengan sendirinya atau yang hanya kita ketahui dimana ia bisa didapatkan. - Samuel Johnson
kuontai
14-05-2007, 01:43 PM
“Nurse, boleh saya tengok bayi saya?” ibu muda yang baru bersalin itu bersuara antara dengar dan tidak kepada seorang jururawat.

Sambil tersenyum jururawat membawakan bayi yang masih merah itu. Si ibu menyambut dengan senyum meleret. Dibuka selimut yang menutup wajah comel itu, diciumnya berkali-kali sebaik bayi tersebut berada dipangkuan.

Jururawat kemudian mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Tidak sanggup dia bertentang mata dengan si ibu yang terperanjat melihat bayinya dilahirkan tanpa kedua-dua daun telinga.

Namun gumamnya cuma seketika. Dekapan dan ciuman silih berganti sehingga bayi yang sedang tidur itu merengek. Dokter bagaimanapun menyatakan pendengaran bayi itu normal, sesuatu yang cukup mengembirakan si ibu.

Masa terus berlalu…

Pada suatu hari pulang dari sekolah, anak yang tiada daun telinga itu yang kini telah sekolah itu menangis memberitahu bagaimana dia diejek rakan-rakan. “Mereka bilang saya cacat,” katanya kepada si ibu.

Si ibu menahan tangis. Dibujuknya si anak dengan pelbagai kata semangat. Si anak menerimanya dan dia muncul pelajar cemerlang dengan menyandang pelbagai jabatan di sekolah. Bagaimanapun tanpa daun telinga, si anak tetap merasa rendah diri walaupun si ibu terus membujuk dan membujuk. Ayah anak itu bertemu dokter. “Saya yakin dapat melakukannya jika ada penderma,” kata pakar bedah. 

Setahun berlalu…

“Anakku, kita akan menemui dokter minggu ini. Ibu dan ayah telah mendapatkan seorang penderma, tapi dia mau dirinya dirahasiakan, ” kata si ayah. Pembedahan berjalan lancar dan akhirnya si anak muncul sebagai manusia baru. Pelajarannya tambah cemerlang dan rasa rendah diri yang kerap dialaminya hilang.

Rekan-rekan memuji kecantikan parasnya. Si anak cukup seronok, bagaimanapun dia tidak mengabaikan pelajaran. Pada usianya lewat 20-an, si anak menjabat jabatan tinggi dalam bidang diplomatik.

“Sebelum saya berangkat keluar negara, saya ingin tahu siapakah penderma telinga ini, saya ingin membalas jasanya,” kata si anak berkali-kali.

“Tak mungkin,” balas si ayah. “Perjanjian antara ayah dengan penderma itu masih berjalan. Tunggulah, masanya akan tiba.” “Bila?” tanya si anak.

“Akan tiba masanya anakku,” balas si ayah sambil ibunya mengangguk-angguk. Keadaan terus kekal menjadi rahasia bertahun-tahun lamanya.

Hari yang ditunggu tiba akhirnya. Ketika si anak berdiri di sisi keranda ibunya, perlahan-lahan si ayah menyebak rambut ibunya yang kaku.

Gelap seketika pandangan si anak apabila melihat kedua-dua cuping telinga ibunya tiada.

“Ibumu tidak pernah memotong pendek rambutnya,” si ayah berbisik ke telinga anaknya. “Tetapi tiada siapa pernah mengatakan ibumu cacat, dia tetap cantik, pada ayah dia satu-satunya wanita paling cantik yang pernah ayah temui. Tak percaya… tanyalah pada sesiapa pun kenalannya.”
kuontai
14-05-2007, 01:54 PM
Teman adalah hadiah terindah kurniaan Tuhan buat kita.

Seperti hadiah, ada yang bungkusannya cantik dan ada yang bungkusannya tidak cantik. Yang bungkusannya cantik punya wajah rupawan, atau keperibadian yang menarik. Yang bungkusannya tidak cantik punya wajah biasa saja, atau keperibadian yang biasa saja, atau mungkin buruk.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berkongsi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justeru kerana ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita dapat darinya seringkali sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah dan lain-lain.

Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencuba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahawa itu semua bukanlah kerana mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta kerana dia sebenarnya inginkan cinta kita, simpati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka dalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana boleh kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana boleh kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka kerana mereka tidak mahu berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan memberitahu bahawa “lutut” mereka luka atau mereka “takut air”, mereka akan beritahu bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan nyatakan berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan kata:
“Menari itu tidak menarik”
“Tidak ada yang sesuai denganku”
“Teman-temanku sudah lulus semua”
“Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku”
“Kisah hidupku membosankan”

Mereka tidak akan kata:
“Aku tidak boleh menari”
“Aku mendambakanmu “
“Aku kesepian”
“Aku ingin diterima”
“Aku ingin diberi perhatian”

Mereka semua hadiah buat kita, tak kira bungkusnya cantik atau buruk, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh luaran. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
kuontai
14-05-2007, 01:58 PM
Teman adalah hadiah terindah kurniaan Tuhan buat kita.

Seperti hadiah, ada yang bungkusannya cantik dan ada yang bungkusannya tidak cantik. Yang bungkusannya cantik punya wajah rupawan, atau keperibadian yang menarik. Yang bungkusannya tidak cantik punya wajah biasa saja, atau keperibadian yang biasa saja, atau mungkin buruk.

Seperti hadiah, ada yang isinya bagus dan ada yang isinya jelek. Yang isinya bagus punya jiwa yang begitu indah sehingga kita terpukau ketika berkongsi rasa dengannya, ketika kita tahan menghabiskan waktu berjam-jam, saling bercerita dan menghibur, menangis bersama, dan tertawa bersama. Kita mencintai dia dan dia mencintai kita.

Yang isinya buruk punya jiwa yang terluka. Begitu dalam luka-lukanya sehingga jiwanya tidak mampu lagi mencintai, justeru kerana ia tidak merasakan cinta dalam hidupnya. Sayangnya yang kita dapat darinya seringkali sikap penolakan, dendam, kebencian, iri hati, kesombongan, amarah dan lain-lain.

Kita tidak suka dengan jiwa-jiwa semacam ini dan mencuba menghindar dari mereka. Kita tidak tahu bahawa itu semua bukanlah kerana mereka pada dasarnya buruk, tetapi ketidakmampuan jiwanya memberikan cinta kerana dia sebenarnya inginkan cinta kita, simpati kita, kesabaran dan keberanian kita untuk mendengarkan luka-luka dalam yang memasung jiwanya.

Bagaimana boleh kita mengharapkan seseorang yang terluka lututnya berlari bersama kita? Bagaimana boleh kita mengajak seseorang yang takut air berenang bersama? Luka di lututnya dan ketakutan terhadap airlah yang mesti disembuhkan, bukan mencaci mereka kerana mereka tidak mahu berlari atau berenang bersama kita. Mereka tidak akan memberitahu bahawa “lutut” mereka luka atau mereka “takut air”, mereka akan beritahu bahwa mereka tidak suka berlari atau mereka akan nyatakan berenang itu membosankan dll. Itulah cara mereka mempertahankan diri.

Mereka akan kata:
“Menari itu tidak menarik”
“Tidak ada yang sesuai denganku”
“Teman-temanku sudah lulus semua”
“Aku ini buruk siapa yang bakal tahan denganku”
“Kisah hidupku membosankan”

Mereka tidak akan kata:
“Aku tidak boleh menari”
“Aku mendambakanmu “
“Aku kesepian”
“Aku ingin diterima”
“Aku ingin diberi perhatian”

Mereka semua hadiah buat kita, tak kira bungkusnya cantik atau buruk, entah isinya bagus atau jelek. Dan jangan tertipu oleh luaran. Hanya ketika kita bertemu jiwa dengan jiwa, kita tahu hadiah sesungguhnya yang sudah disiapkanNya buat kita.
kuontai
15-05-2007, 09:18 AM
Maha Guru Ching Hai 
Kita tidak dapat memperoleh pikiran yang damai kecuali kita dapat berhubungan dengan Sumber kedamaian yang ada di dalam diri kita. Damai yang kamu miliki dalam dirimu, dan jika kamu mencarinya di luar, kamu tidak akan pernah menemukannya. 

Jika kita melayani dengan penyerahan penuh (bhakti), kita selamanya terpuaskan, dan merasa terpenuhi. Kita tidak akan berpikir untuk meminta apapun, karena kita merasa bahwa kita memiliki segala sesuatu dalam kelimpahan. 

Janganlah merasa terlalu kecewa, tetapi jalanilah hidup setiap saat dengan sepenuh hati kamu. Apapun yang mesti kamu lakukan, lakukan dengan kebaktian penuh. Miliki iman pada Tuhan dan rencana agung seluruh alam semesta. 

Segala sesuatu merupakan suatu kebiasaan. Kita mempelajari cara keariefan yang merupakan cara kelenturan. Apabila kita terbiasa dengan kelenturan, maka (kita) terbiasa dengan berbagai perubahan dadakan, kita terbiasa dengan tindakan segera, tindakan spontan, bukan tindakan prasangka, itulah cara yang terbaik. 

Kadang kala kita dilahirkan dalam keadaan fakir miskin (sengsara), karena Tuhan menghendaki kita belajar bersemangat pantang mundur dan berlatih keberanian diri.

Kita seharusnya menjadi se-agung sang Pencipta. Dia bisa mewadahi semua ciptaanNya, mengapa kita tidak bisa bertoleransi terhadap pemikiran-pemikiran saudara kita, teman kita, atau orang lain yang kita kenal? Kita harus bisa berbuat yang sama untuk mencapai Anuttara-Samyak-Samboddhi, dimensi tertinggi, tingkat tertinggi. 

Pada saat kita lancar atau sukses, santai; justru harus lebih waspada, jangan menjadikannya sesuatu terjadi karena kemampuan kita, hingga kehilangan rendah hati, rasa penyesalan, lalu mulai malas, tidak dapat maju.


Setiap hari jika kita berpikir seperti Buddha, bertindak seperti Buddha, bertutur kata seperti Buddha, maka pada hari itu Anda adalah Buddha. 

Anda harus ungkapkan perasaan hati Anda. Agar orang lain dapat mengetahui bahwa ia telah melukai hati Anda. Kemudian segera menyelesaikannya. Jangan menyimpannya. Berapa lamakah Anda dapat menyimpannya? Hawa kemarahan yang tertimbun dalam hati Anda dapat terbawa dari satu kelahiran ke kelahiran berikutnya. Hingga suatu saat, jika hawa itu sangat besar, Anda bisa terlahir menjadi binatang. Jenis binatang yang sangat buas. Itu hanya disebabkan sentimen marah Anda tidak segera dihapuskan. Maka janganlah meremehkan hal ini. Itu adalah konsep pikiran yang salah. 

Anda memiliki keluarga, tetapi Anda membaktikan diri Anda dan seluruh keluarga Anda dalam pemeliharaan Tuhan. Anda adalah pemelihara keluarga ini untuk kepentingan Tuhan; itu juga pembiaraan (menepikan hal-hal yang bersifat duniawi). Lebih sulit membiara dengan cara itu daripada mencukur rambutmu dan menyembunyikan dirimu di biara. Jika Anda dapat melakukan itu, Anda adalah para suci sejati. 

Kita menjadi biarawan demi pengabdian kepada sesama makhluk hidup, bukanlah ingin lebih cepat menjadi Buddha untuk mengungguli orang lain. 

Menjadi biarawan atau tidak, kita tetap dapat berlatih rohani, yang terpenting harus mencapai kebebasan abadi dan memperoleh kebijaksanaan ilahi dahulu, barulah kita dapat menolong dunia. 

Yang Maha Kuasa menempatkan kita di mana saja, dan hal itu pasti merupakan yang terbaik, yang mana kita harus puas atas penempatanNya. 

Ingin mengetahui Anda ada kemajuan atau tidak, cukup melihat perubahan watak diri Anda, keluasan wawasan Anda dan pengembangan kemurahan hati Anda. Itulah kemajuan dan tingkat Anda sesungguhnya. 

Wadag manusia ini hanyalah kumpulan dari kebiasaan dan pikiran yang berasal dari kehidupan satu ke kehidupan berikutnya. Kita bukanlah wadag manusia ini, kita tidak pernah berpisah, kita adalah kebijaksanaan, kita adalah cinta kasih, yang memenuhi seluruh alam semesta, bagaimana mungkin dapat dipisahkan oleh selapis kulit?

Adakalanya, setelah Anda mengikuti retret 7 hari, 2 hari atau 1 hari, Anda merasakan tingkat rohani Anda terangkat. Karena kita telah mencurahkan seluruh perhatian kita untuk menembusi tingkat rohani yang kita miliki sekarang. Kita mengetahui itulah satu-satunya tujuan untuk mengikuti retret, maka tingkat rohani kita terangkat dan karma kita akan tertinggal di belakang. 

Retret sangatlah penting, ianya dapat menenangkan hati kita, dan menyaring pencemaran kehidupan duniawi. 

Apa itu semangat Zen? Hayatilah hari ini. Lakukan apa yang perlu dilakukan hari ini, betapapun susahnya atau senangnya adalah hari ini, pahamkah? Jangan peduli masa lampau, karena yang lalu tidak dapat ditarik kembali! Dan masa depan belum menjelma. Karena sangat jarang orang yang dapat dengan sepenuh hati menempatkan mentalnya pada saat kini, sehingga kita begitu menderita. - Guru Ching Hai

Sangatlah penting untuk bertobat dan bersahaja, tetapi adalah lebih penting untuk mengasihi dirimu sendiri. Jika Anda tidak dapat mengasihi dirimu sendiri, siapakah yang dapat Anda kasihi? 

Bersahajalah! Hidup akan lebih mudah buat Anda, dan Anda menghemat seluruh energi Anda untuk naik (ke atas) daripada memboroskannya pada bidang intelektual yang berpencaran di sini dan di sana, dan melekatkan diri Anda di sana. Anda cantik, sungguh cantik. Bebaskan diri Anda. Anda terlalu membebani diri; itu tidak perlu. Jadilah dirimu sendiri. Bebaskanlah.
kuontai
21-05-2007, 09:31 AM
Selama Anda tulus dan mengingat Ajaran Guru, itu adalah penghormatan yang terbaik. - Guru Ching Hai

Bagaikan anak, kita harus menjaga kepolosan hati dan menerima dengan tangan terbuka, dengan demikian kita akan maju dengan pesat. - Guru Ching Hai

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu yang disebut Nasib, itu hanyalah masalah kurang berlatih rohani. - Guru Ching Hai

Kegagalan atau keberhasilan duniawi bukanlah tujuan yang penting. Kadang-kadang kegagalan adalah keberhasilan, sebaliknya keberhasilan adalah kegagalan. Kita harus menilainya dengan mata kebijaksanaan. - Guru Ching Hai

Jangan suka saling memuji, hal ini akan saling meracuni diri, karenanya akan menurunkan tingkat seseorang, dengan sendirinya ia telah menciptakan karma perintang bagi dirinya. - Guru Ching Hai

Kita banyak berutang budi kepada dunia, andaikan kita memberikan sedikit sedekah kepada orang lain, itu hanya merupakan pembayaran hutang, bukanlah amal. - Guru Ching Hai

Kebahagiaan adalah karena diri kita tidak berubah, dalam situasi apapun kita tetap stabil, tetap sama. - Guru Ching Hai

Untuk melakukan hal-hal yang besar, kita mesti sempurnakan hal-hal yang kecil. Orang-orang yang termasyur sangat penuh perhatian pada rincian yang kecil. Itulah bagaimana mereka menjadi termasyur. - Guru Ching Hai

Anda mesti bekerja sendiri, kalian semua, sampai Anda memahami apa adanya dirimu, dan tidak tergantung pada segala sesuatu. Bersikap teguhlah. Jangan terlalu banyak menaruh kepentingan pada keberadaan fisik Anda. Berikan makanan secukupnya; berikan tubuh makanan secukupnya, pakaian secukupnya, latihan secukupnya, hanya itu saja. Jadikan tubuh itu menyenangkan dan itu sudah cukup. Kalau tidak kita akan selamanya terikat pada dimensi fisik. Apapun yang terlalu kita perhatikan, kita akan terikat dengannya. Saya juga harus bekerja untuk pemahamanku. Kemungkinan saya bekerja lebih cepat dari Anda, tetapi cepat atau lambat Anda akan sampai. - Guru Ching Hai

Jangan membeda-bedakan pekerjaan mana yang baik dan mana yang buruk. Masalah muncul jika kita membeda-bedakan dan memihak sesuatu. - Guru Ching Hai

Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan. - Guru Ching Hai

Kita mengerjakan segala sesuatu haruslah dengan tuntas, sempurna. Jangan sampai dicela, dikeluh orang, itulah yang terbaik. - Guru Ching Hai

Kita bekerja harus tanpa pamrih. Itu berlaku untuk segala pekerjaan. Pengabdian tanpa syarat adalah yang terbaik. - Guru Ching Hai

Anda selalu berlebih-lebihan dalam pekerjaan. Anda tidak tahu kapan untuk berhentinya. Inilah masalah yang sebenarnya. - Guru Ching Hai

Bekerja adalah untuk melatih diri, mengabdikan diri, demi amal bhakti atau balas budi kepada dunia atas segala pemberiannya. - Guru Ching Hai

Carilah uang secukupnya saja untuk membiayai kehidupan, agar dapat menyisihkan waktu dan tenaga untuk berlatih rohani. - Guru Ching Hai

Kita bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, melainkan untuk menunaikan kewajiban kita. - Guru Ching Hai

Membantu orang lain adalah membantu kita sendiri. Kita senantiasa harus membersihkan pikiran kita, mengamalkan cinta kasih dan kasih sayang kita dengan tanpa syarat, tidak mengharapkan sesuatu imbalan, itulah jalan terbaik. - Guru Ching Hai

Membantu orang untuk mencapai Kebebasan Abadi dan mengenal Ajaran Sejati adalah bantuan yang terbesar, jasa yang tertinggi. - Guru Ching Hai

Jika masih memikirkan untuk membela nama baik kita, wibawa kita, agar orang tahu bahwa kita sangat baik, maka kita masih mempunyai ke-aku-an, masih belum terbebas dari konsepsi orang awam. - Guru Ching Hai
Shiro Amachi
22-05-2007, 07:18 PM
Saya punya cerita niih.. simak yah :)

Waktu itu ada sorang pekerja bangunan yang sedang mengerjakan sebuah gedung, dimana pekerja tersebut sedang mengerjakan tugasnya di tingkat / lantai tiga, pada saat itu dia memerlukan sebuah alat yang ternyata masih tertinggal di bawah.

Kemudian dia menengok kebawah, dan kebetulan ada seorang temannya yang berada dibawah dekat alat yang tertinggal tersebut, kemudian dia memanggil-manggil temannya itu, tapi karena suara bising mesin-mesin disekitar proyek bangunan itu temannya yang berada dibawah tidak mendengar panggilan pekerja yang berada diatas. Pekerja yang diatas kemudian punya akal, dia jatuhkan sekeping uang, pikirnya dia - temannya yang dibawah itu- pasti tertarik dan nantinya melihat keatas. Kemudian dia jatuhkan sekeping uang..pluk..teman yang berada dibawah itu memang melihat uang itu, tapi dia cuma tengok kanan-kiri lalu diambil uang tersebut dan dikantongi tanpa melihat ke atas.

Pekerja yang diatas mencobanya lagi, dan hal seperti tadi terulang lagi, hingga tiga kali, dan temannya yang dibawah tetap tidak mendongak ke atas. Pekerja yang ada diatas agak kesal kemudian dia ambil batu kecil dan dijatuhkan didekat temannya yang dibawah tadi, nah barulah teman tadi melihat keatas sambil marah-marah " hai...hati-hati dong..dibawah ada orang niih..!!! "

Apasih maksud cerita diatas ? Begini : 
Kita umpamakan pekerja yang diatas itu adalah Tuhan, sedang pekerja yang dibawah adalah kita, Tuhan sering memberi kita rahmat-Nya, atau rejeki, tapi kita sering atau jarang untuk " melihat ke atas" ( maksudnua bersyukur ), dan tiap kali kita diberi rejeki atau berkah kita tidak berterima kasih, akan tetapi saat Tuhan menjatuhkan " Batu Kecil " kita sudah marah, putus asa, kadang menyalahkan Tuhan. Kadang kita kalau diberi sedikit kesulitan kita sudah mengeluh " Tuhan sudah tidak sayang padaku.. " atau " Tuhan..kenapa kau berikan cobaan berat ini..? " ya nggak ?... nahh hari ini sudahkah kita berterima kasih kepada Tuhan ? Sudahkah kita bersyukur atas nikmat yang kita terima hari ini dari kita bangun tidur hinng akita mau tidur lagi nanti ?

Salam untuk semuanya
kuontai
26-05-2007, 09:40 AM
Selama Anda tulus dan mengingat Ajaran Guru, itu adalah penghormatan yang terbaik. - Guru Ching Hai

Bagaikan anak, kita harus menjaga kepolosan hati dan menerima dengan tangan terbuka, dengan demikian kita akan maju dengan pesat. - Guru Ching Hai

Sesungguhnya, tidak ada sesuatu yang disebut Nasib, itu hanyalah masalah kurang berlatih rohani. - Guru Ching Hai

Kegagalan atau keberhasilan duniawi bukanlah tujuan yang penting. Kadang-kadang kegagalan adalah keberhasilan, sebaliknya keberhasilan adalah kegagalan. Kita harus menilainya dengan mata kebijaksanaan. - Guru Ching Hai

Jangan suka saling memuji, hal ini akan saling meracuni diri, karenanya akan menurunkan tingkat seseorang, dengan sendirinya ia telah menciptakan karma perintang bagi dirinya. - Guru Ching Hai

Kita banyak berutang budi kepada dunia, andaikan kita memberikan sedikit sedekah kepada orang lain, itu hanya merupakan pembayaran hutang, bukanlah amal. - Guru Ching Hai

Kebahagiaan adalah karena diri kita tidak berubah, dalam situasi apapun kita tetap stabil, tetap sama. - Guru Ching Hai

Untuk melakukan hal-hal yang besar, kita mesti sempurnakan hal-hal yang kecil. Orang-orang yang termasyur sangat penuh perhatian pada rincian yang kecil. Itulah bagaimana mereka menjadi termasyur. - Guru Ching Hai

Anda mesti bekerja sendiri, kalian semua, sampai Anda memahami apa adanya dirimu, dan tidak tergantung pada segala sesuatu. Bersikap teguhlah. Jangan terlalu banyak menaruh kepentingan pada keberadaan fisik Anda. Berikan makanan secukupnya; berikan tubuh makanan secukupnya, pakaian secukupnya, latihan secukupnya, hanya itu saja. Jadikan tubuh itu menyenangkan dan itu sudah cukup. Kalau tidak kita akan selamanya terikat pada dimensi fisik. Apapun yang terlalu kita perhatikan, kita akan terikat dengannya. Saya juga harus bekerja untuk pemahamanku. Kemungkinan saya bekerja lebih cepat dari Anda, tetapi cepat atau lambat Anda akan sampai. - Guru Ching Hai

Jangan membeda-bedakan pekerjaan mana yang baik dan mana yang buruk. Masalah muncul jika kita membeda-bedakan dan memihak sesuatu. - Guru Ching Hai

Kerjakanlah sesuatu secara tulus dan wajar, dan segalanya akan baik. Kesempurnaan terletak pada motivasi kerja, bukan pada pekerjaan. - Guru Ching Hai

Kita mengerjakan segala sesuatu haruslah dengan tuntas, sempurna. Jangan sampai dicela, dikeluh orang, itulah yang terbaik. - Guru Ching Hai

Kita bekerja harus tanpa pamrih. Itu berlaku untuk segala pekerjaan. Pengabdian tanpa syarat adalah yang terbaik. - Guru Ching Hai

Anda selalu berlebih-lebihan dalam pekerjaan. Anda tidak tahu kapan untuk berhentinya. Inilah masalah yang sebenarnya. - Guru Ching Hai

Bekerja adalah untuk melatih diri, mengabdikan diri, demi amal bhakti atau balas budi kepada dunia atas segala pemberiannya. - Guru Ching Hai

Carilah uang secukupnya saja untuk membiayai kehidupan, agar dapat menyisihkan waktu dan tenaga untuk berlatih rohani. - Guru Ching Hai

Kita bekerja tidak semata-mata untuk mencari uang, melainkan untuk menunaikan kewajiban kita. - Guru Ching Hai

Membantu orang lain adalah membantu kita sendiri. Kita senantiasa harus membersihkan pikiran kita, mengamalkan cinta kasih dan kasih sayang kita dengan tanpa syarat, tidak mengharapkan sesuatu imbalan, itulah jalan terbaik. - Guru Ching Hai

Membantu orang untuk mencapai Kebebasan Abadi dan mengenal Ajaran Sejati adalah bantuan yang terbesar, jasa yang tertinggi. - Guru Ching Hai

Jika masih memikirkan untuk membela nama baik kita, wibawa kita, agar orang tahu bahwa kita sangat baik, maka kita masih mempunyai ke-aku-an, masih belum terbebas dari konsepsi orang awam. - Guru Ching Hai
kuontai
31-05-2007, 05:50 PM
CINTA

Cinta itu seperti art yg indah dan agung,
berbahagialah yg pernah mendapatkannya meskipun tidak abadi

Cinta tidak membuat dunia berputar
Cinta inilah yang membuat perjalanan tersebut berharga

Cinta tidak berupa tatapan satu sama lain,
tetapi memandang ke luar bersama ke arah yang sama.

Bel bukanlah bel sebelum engkau membunyikannya
Lagu bukanlah lagu sebelum engkau menyanyikannya
Cinta di dalam hatimu tidak diletakkan untuk tinggal di sana

Cinta bukanlah cinta sebelum engkau memberikannya 
Nafsu adalah emosi
Cinta adalah pilihan
Cara untuk mencintai sesuatu adalah dengan menyadari
Bahwa sesuatu itu mungkin hilang

Cinta adalah kunci induk yang membuka Gerbang kebahagiaan
Kekasih yang bijaksana tidak menghargai hadiah dari kekasihnya
Sebesar cinta dari si pemberi

Jika anda ingin dicinta, mencintalah
dan jadilah orang yang pantas dicinta

Di antara mereka yang saya sukai atau kagumi,
saya tidak dapat menemukan suatu kesamaan
Tetapi di antara mereka yang saya kasihi,
saya dapat menemukannya: mereka semua membuat saya tertawa

Persahabatan sering berakhir dengan cinta
Tetapi cinta tidak pernah berakhir dengan persahabatan

Kita harus sedikit menyerupai satu sama lain
untuk mengerti satu sama lain
Tetapi kita harus sedikit berbeda
Untuk mencintai satu sama lain

Cinta yang belum matang berkata:
"Aku cinta kamu karena aku butuh kamu"
Cinta yang sudah matang berkata:
"Aku butuh kamu karena aku cinta kamu"

Cinta memasukkan kesenangan dalam kebersamaan
kesedihan dalam perpisahan
harapan pada hari esok
kegembiraan di dalam hati

Siapa pun yang mempunyai hati penuh cinta
selalu mempunyai sesuatu untuk diberikan
Cinta sejati dimulai ketika tidak sesuatu pun
diharapkan sebagai balasan

Segera sesudah kita belajar mencinta
Kita akan belajar untuk hidup
Cinta...
Jika anda memilikinya, anda tidak memerlukan sesuatu pun yang lain
Dan jika anda tidak memilikinya,
apa pun yang lain yang anda miliki tidak banyak berarti

Cinta tidak dapat dipaksakan
Cinta tidak dapat dibujuk dan digoda
Cinta muncul dari Surga tanpa topeng dan tanpa dicari

Cobalah bernalar tentang cinta dan engkau pun
akan kehilangan nalarmu
kuontai
31-05-2007, 06:01 PM
Kiriman dari seorang sahabat :

Cerita di bawah ini mengingatkan kita untuk semakin dan mencintai lebih dalam kepada Tuhan.

Diambil dari cerita nyata..

Ada seorang bocah kelas 4 SD di suatu daerah di Milaor Camarine Sur, Filipina, yang setiap hari mengambil rute melintasi daerah tanah yang berbatuan dan menyeberangi jalan raya yang berbahaya dimana banyak kendaraan yang melaju kencang dan tidak beraturan. 

Setiap kali berhasil menyebrangi jalan raya tersebut, bocah ini mampir sebentar ke Gereja tiap pagi hanya untuk menyapa Tuhan, sahabatnya.
Tindakannya ini selama ini diamati oleh seorang ******* yang merasa terharu menjumpai sikap bocah yang lugu dan beriman tersebut.

"Bagaimana kabarmu, Andy? Apakah kamu akan ke Sekolah?"

"Ya, Bapa *******!" balas Andy dengan senyumnya yang menyentuh hati ******* tersebut.

Dia begitu memperhatikan keselamatan Andy sehingga suatu hari dia berkata kepada bocah tersebut, "Jangan menyebrang jalan raya sendirian, setiap kali pulang sekolah, kamu boleh mampir ke Gereja dan saya akan memastikan kamu pulang ke rumah dengan selamat."

"Terima kasih, Bapa *******."

"Kenapa kamu tidak pulang sekarang? Apakah kamu tinggal di Gereja setelah pulang sekolah?" 

"Aku hanya ingin menyapa kepada Tuhan.. sahabatku."

Dan ******* tersebut meninggalkan Andy untuk melewatkan waktunya di depan altar berbicara sendiri, tetapi pastur tersebut bersembunyi di balik altar untuk mendengarkan apa yang dibicarakan Andy kepada Bapa di Surga.

"Engkau tahu Tuhan, ujian matematikaku hari ini sangat buruk, tetapi aku tidak mencontek walaupun temanku melakukannya. Aku makan satu kue dan minum airku. Ayahku mengalami musim paceklik dan yang bisa kumakan hanya kue ini.
Terima kasih buat kue ini, Tuhan! Tadi aku melihat anak kucing malang yang kelaparan dan aku memberikan kueku yang terakhir buatnya.. lucunya, aku jadi tidak begitu lapar. 

Lihat ini selopku yang terakhir. Aku mungkin harus berjalan tanpa sepatu minggu depan.Engkau tahu sepatu ini akan rusak, tapi tidak apa-apa..
paling
tidak aku tetap dapatpergi ke sekolah. Orang-orang berbicara bahwa kami akan mengalami musim panen yang susah bulan ini, bahkan beberapa dari temanku sudah berhenti sekolah, tolong Bantu mereka supaya bisa bersekolah lagi.
Tolong Tuhan.

Oh, ya..Engkau tahu kalau Ibu memukulku lagi. Ini memang menyakitkan, tapi aku tahu sakit ini akan hilang, paling tidak aku masih punya seorang Ibu.
Tuhan, Engkau mau lihat lukaku??? Aku tahu Engkau dapat menyembuhkannya, disini..disini.aku rasa Engkau tahu yang ini kan....??? Tolong jangan marahi ibuku, ya..?? dia hanya sedang lelah dan kuatir akan kebutuhan makan dan biaya sekolahku..itulah mengapa dia memukul aku. 

Oh, Tuhan..aku rasa, aku sedang jatuh cinta saat ini. Ada seorang gadis yang sangat cantik dikelasku, namanya Anita. menurut Engkau, apakah dia akan menyukaiku??? Bagaimanapun juga paling tidak aku tahu Engkau tetap menyukaiku karena aku tidak usah menjadi siapapun hanya untuk menyenangkanMu. Engkau adalah sahabatku. 

Hei.ulang tahunMu tinggal dua hari lagi, apakah Engkau gembira??? Tunggu saja sampai Engkau lihat, aku punya hadiah untukMu. Tapi ini kejutan bagiMu.
Aku berharap Engkau menyukainya. Oooops..aku harus pergi sekarang."

Kemudian Andy segera berdiri dan memanggil ******* .

"Bapa *******..Bapa *******..aku sudah selesai bicara dengan sahabatku, anda bisa menemaniku menyebrang jalan sekarang!"

Kegiatan tersebut berlangsung setiaphari, Andy tidak pernah absen sekalipun.

******* Agaton berbagi cerita ini kepada jemaat di Gerejanya setiap hari Minggu karena dia belum pernah melihat suatu iman dan kepercayaan yang murni kepada Tuhan.. suatu pandangan positif dalam situasi yang negatif.

Pada hari Natal, ******* Agaton jatuh sakit sehingga tidak bisa memimpin gereja dan dirawat di rumah sakit. Gereja tersebut diserahkan kepada 4 wanita tua yang tidak pernah tersenyum dan selalu menyalahkan segala sesuatu yang orang lain perbuat. Mereka juga mengutuki orang yang menyinggung mereka.

Ketika mereka sedang berdoa, Andypun tiba di Gereja tersebut usai menghadiri pesta Natal di sekolahnya, dan menyapa "Halo Tuhan..Aku.."

"Kurang ajar kamu, bocah!!!tidakkah kamu lihat kalau kami sedang berdoa???!!! Keluar, kamu!!!!!"

Andy begitu terkejut,"Dimana Bapa ******* Agaton..??Seharusnya dia membantuku menyeberangi jalan raya. dia selalu menyuruhku untuk mampir lewat pintu belakang Gereja. Tidak hanya itu, aku juga harus menyapa Tuhan Yesus, karena hari ini hari ulang tahunNya, akupun punya hadiah untukNya.."

Ketika Andy mau mengambil hadiah tersebut dari dalam bajunya, seorang dari keempat wanita itu menarik kerahnya dan mendorongnya keluar Gereja.

"Keluar kamu, bocah!..kamu akan mendapatkannya!!!" 

Andy tidak punya pilihan lain kecuali sendirian menyebrangi jalan raya yang berbahaya tersebut di depan Gereja. Lalu dia menyeberang, tiba-tiba sebuah bus datang melaju dengan kencang - disitu ada tikungan yang tidak terlihat pandangan. Andy melindungi hadiah tersebut didalam saku bajunya, sehingga dia tidak melihat datangnya bus tersebut. Waktunya hanya sedikit untuk menghindar.dan Andypun tewas seketika. Orang-orang disekitarnya berlarian dan mengelilingi tubuh bocah malang tersebut yang sudah tidak bernyawa lagi.

Tiba-tiba, entah muncul darimana ada seorang pria berjubah putih dengan wajah yang halus dan lembut, namun dengan penuh airmata dating dan memeluk bocah malang tersebut. Dia menangis.

Orang-orang penasaran dengan dirinya dan bertanya,"Maaf tuan..apakah anda keluarga dari bocah yang malang ini? Apakah anda mengenalnya?"

Tetapi pria tersebut dengan hati yang berduka karena penderitaan yang begitu dalam berkata,"Dia adalah sahabatku." Hanya itulah yang dikatakan.

Dia mengambil bungkusan hadiah dari dalam saku baju bocah malang tersebut dan menaruhnya didadanya. Dia lalu berdiri dan membawa pergi tubuh bocah tersebut, kemudian keduanya menghilang. Orang-orang yang ada disekitar tersebut semakin penasaran dan takjub..

Di malam Natal, ******* Agaton menerima berita yang sangat mengejutkan.

Diapun berkunjung ke rumah Andy untuk memastikan pria misterius berjubah putih tersebut. ******* itu bertemu dengan kedua orang tua Andy. 

"Bagaimana anda mengetahui putra anda telah meninggal?"

"Seorang pria berjubah putih yang membawanya kemari." Ucap ibu Andy terisak.

"Apa katanya?"

Ayah Andy berkata,"Dia tidak mengucapkan sepatah katapun. Dia sangat berduka. Kami tidak mengenalnya namun dia terlihat sangat kesepian atas meninggalnya Andy, sepertinya Dia begitu mengenal Andy dengan baik. Tapi ada suatu kedamaian yang sulit untuk dijelaskan mengenai dirinya. Dia menyerahkan anak kami dan tersenyum lembut. Dia menyibakkan rambut Andy dari wajahnya dan memberikan kecupan dikeningnya, kemudian Dia membisikkan sesuatu.

"Apa yang dikatakan?"

"Dia berkata kepada putraku.." Ujar sang Ayah. "Terima kasih buat kadonya.
Aku akan berjumpa denganmu. Engkau akan bersamaku." Dan sang ayah melanjutkan, "Anda tahu kemudian semuanya itu terasa begitu indah.. aku menangis tapi tidak tahu mengapa bisa demikian. Yang aku tahu.aku menangis karena bahagia..aku tidak dapat menjelaskannya Bapa *******, tetapi ketika dia meninggalkan kami, ada suatu kedamaian yang memenuhi hati kami, aku merasakan kasihnya yang begitu dalam di hatiku.. Aku tidak dapat melukiskan sukacita dalam hatiku. aku tahu, putraku sudah berada di Surga sekarang.
Tapi tolong Bapa ******* .. Siapakah pria ini yang selalu bicara dengan putraku setiap hari di Gerejamu? Anda seharusnya mengetahui karena anda selalu di sana setiap hari, kecuali pada saat putraku meninggal.

******* Agaton tiba-tiba merasa air matanya menetes dipipinya, dengan lutut gemetar dia berbisik,"Dia tidak berbicara kepada siapa-siapa... kecuali dengan Tuhan."
kuontai
01-06-2007, 02:29 AM
Namanya Hani. Hani Irmawati. Ia adalah gadis pemalu, berusia 17 tahun. Tinggal di rumah berkamar dua bersama dua saudara dan orangtuanya. Ayahnya adalah penjaga gedung dan ibunya pembantu rumah tangga. Pendapatan tahunan mereka, tidak setara dengan biaya kuliah sebulan di Amerika.

Pada suatu hari, dengan baju lusuh, ia berdiri sendirian di tempat parkir sebuah sekolah internasional. Sekolah itu mahal, dan tidak menerima murid Indonesia. Ia menghampiri seorang guru yang mengajar bahasa Inggris di sana. Sebuah tindakan yang membutuhkan keberanian besar untuk ukuran gadis Indonesia.

"Aku ingin kuliah di Amerika," tuturnya, terdengar hampir tak masuk akal. Membuat sang guru tercengang, ingin menangis mendengar impian gadis belia yang bagai pungguk merindukan bulan.

Untuk beberapa bulan berikutnya, Hani bangun setiap pagi pada pukul lima dan naik bis kota ke SMU-nya. Selama satu jam perjalanan itu, ia belajar untuk pelajaran biasa dan menyiapkan tambahan pelajaran bahasa Inggris yang didapatnya dari sang guru sekolah internasional itu sehari sebelumnya. Lalu pada jam empat sore, ia tiba di kelas sang guru. Lelah, tapi siap belajar.

"Ia belajar lebih giat daripada kebanyakan siswa ekspatriatku yang kaya-kaya," tutur sang guru. "Semangat Hani meningkat seiring dengan meningkatnya kemampuan bahasanya, tetapi aku makin patah semangat."

Hani tak mungkin memenuhi syarat untuk mendapatkan beasiswa dari universitas besar di Amerika. Ia belum pernah memimpin klub atau organisasi, karena di sekolahnya tak ada hal-hal seperti itu. Ia tak memiliki pembimbing dan nilai tes standar yang mengesankan, karena tes semacam itu tak ada.

Namun, Hani memiliki tekad lebih kuat daripada murid mana pun.

"Maukah Anda mengirimkan namaku?" pintanya untuk didaftarkan sebagai penerima beasiswa.

"Aku tak tega menolak. Aku mengisi pendaftaran, mengisi setiap titik-titik dengan kebenaran yang menyakitkan tentang kehidupan akademisnya, tetapi juga dengan pujianku tentang keberanian dan kegigihannya," ujar sang guru.

"Kurekatkan amplop itu dan mengatakan kepada Hani bahwa peluangnya untuk diterima itu tipis, mungkin nihil."

Pada minggu-minggu berikutnya, Hani meningkatkan pelajarannya dalam bahasa Inggris. Seluruh tes komputerisasi menjadi tantangan besar bagi seseorang yang belum pernah menyentuh komputer. Selama dua minggu ia belajar bagian-bagian komputer dan cara kerjanya.

Lalu, tepat sebelum Hani ke Jakarta untuk mengambil TOEFL, ia menerima surat dari asosiasi beasiswa itu.

"Inilah saat yang kejam. Penolakan," pikir sang guru.

Sebagai upaya mencoba mempersiapkannya untuk menghadapi kekecewaan, sang guru lalu membuka surat dan mulai membacakannya: Ia diterima! Hani diterima....

"Akhirnya aku menyadari bahwa akulah yang baru memahami sesuatu yang sudah diketahui Hani sejak awal: bukan kecerdasan saja yang membawa sukses, tapi juga hasrat untuk sukses, komitmen untuk bekerja keras, dan keberanian untuk percaya akan dirimu sendiri."
kuontai
01-06-2007, 02:39 AM
"Huuu....uuura!" 

Teriakan gembira dari seorang Ibu yang menerima telegram dari anaknya yang telah bertahun-tahun menghilang. Apalagi ia adalah anak satu-satunya. Maklumlah anak tersebut pergi ditugaskan perang ke Vietnam pada 4 tahun yang lampau dan sejak 3 tahun yang terakhir, orang tuanya tidak pernah menerima kabar lagi dari putera tunggalnya tersebut. Sehingga diduga bahwa anaknya gugur dimedan perang. Anda bisa membayangkan betapa bahagianya perasaan Ibu tersebut. Dalam telegram tersebut tercantum bahwa anaknya akan pulang besok. 

Esok harinya telah disiapkan segalanya untuk menyambut kedatangan putera tunggal kesayangannya, bahkan pada malam harinya akan diadakan pesta khusus untuk dia, dimana seluruh anggota keluarga maupun rekan-rekan bisnis dari suaminya diundang semua. Maklumlah suaminya adalah Direktur Bank Besar yang terkenal diseluruh ibukota. 

Siang harinya si Ibu menerima telepon dari anaknya yang sudah berada di airport. 

Si Anak: "Bu bolehkah saya membawa kawan baik saya?" 

Ibu: "Oh sudah tentu, rumah kita cuma besar dan kamarpun cukup banyak, bawa saja, jangan segan-segan bawalah!" 

Si Anak: "Tetapi kawan saya adalah seorang cacad, karena korban perang di Vietnam?" 

Ibu: "......oooh tidak jadi masalah, bolehkah saya tahu, bagian mana yang cacad?" - nada suaranya sudah agak menurun 

Si Anak: "Ia kehilangan tangan kanan dan kedua kakinya!" 

Si Ibu dengan nada agak terpaksa, karena si Ibu tidak mau mengecewakan anaknya: "Asal hanya untuk beberapa hari saja, saya kira tidak jadi masalah?" 

Si Anak: "...tetapi masih ada satu hal lagi yang harus saya ceritakan sama Ibu, kawan saya itu wajahnya juga turut rusak begitu juga kulitnya, karena sebagian besar hangus terbakar, maklumlah pada saat ia mau menolong kawannya ia menginjak ranjau, sehingga bukan tangan dan kakinya saja yang hancur melainkan seluruh wajah dan tubuhnya turut terbakar!" 

Si Ibu dengan nada kecewa dan kesal: "Na...ak lain kali saja kawanmu itu diundang kerumah kita, untuk sementara suruh saja ia tinggal di hotel, kalau perlu biar saya yang bayar nanti biaya penginapannya!" 

Si Anak: "...tetap ia adalah kawan baik saya Bu, saya tidak ingin pisah dari dia!" 

Si Ibu: "Cobalah renungkan olehmu nak, ayah kamu adalah seorang konglomerat yang ternama dan kita sering kedatangan tamu para pejabat tinggi maupun orang-orang penting yang berkunjung kerumah kita, apalagi nanti malam kita akan mengadakan perjamuan malam bahkan akan dihadiri oleh seorang menteri, apa kata mereka apabila mereka nanti melihat tubuh yang cacad dan wajah yang rusak. Bagaimana pandangan umum dan bagaimana lingkungan bisa menerima kita nanti? Apakah tidak akan menurunkan martabat kita bahkan jangan-jangan nanti bisa merusak citra binis usaha dari ayahmu nanti." 

Tanpa ada jawaban lebih lanjut dari anaknya telepon diputuskan dan ditutup. 

Orang tua dari kedua anak tersebut maupun para tamu menunggu hingga jauh malam ternyata anak tersebut tidak pulang, ibunya mengira anaknya marah, karena tersinggung, disebabkan temannya tidak boleh datang berkunjung kerumah mereka. 

Jam tiga subuh pagi, mereka mendapat telepon dari rumah sakit, agar mereka segera datang kesana, karena harus mengidetifitaskan mayat dari orang yang bunuh diri. Mayat dari seorang pemuda bekas tentara Vietnam, yang telah kehilangan tangan dan kedua kakinya dan wajahnyapun telah rusak karena kebakar. Tadinya mereka mengira bahwa itu adalah tubuh dari teman anaknya, tetapi kenyataannya pemuda tersebut adalah anaknya sendiri! Untuk membela nama dan status akhirnya mereka kehilangan putera tunggalnya!
kuontai
01-06-2007, 11:01 PM
Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk.

Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah.

etapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. "Operator," kataku pada bagian peneragan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?"

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit.

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!" "Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada." Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.

"Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. "Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut, "bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah."

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya," lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. "Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,......."

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ......katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael." Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?" Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini."

"Siapakah Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar." Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan." Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?" Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini."

Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang." Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya," kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya."

"Michael," kataku, "Ayo ikuti aku." Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan.

"Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?" Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. "Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah."

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkawinan di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!" Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka.

Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun.
kuontai
02-06-2007, 12:21 PM
Michael dan aku tidak tahu kapan pelayan meletakkan piring-piring di meja kami. Waktu itu kami duduk-duduk di sebuah restoran kecil, terlindung dari kesibukan Third Street, di New York City. Aroma blintze yang baru saja disajikan tidak mengusik keasyikan kami mengobrol. Malahan, blintze itu lama kami biarkan terendam dalam krim asam. Kami terlalu asyik mengobrol sampai lupa makan. 

Obrolan kami seru sekali, meskipun yang diobrolkan tidak penting. Kami tertawa-tawa membicarakan film yang kami tonton malam sebelumnya dan berdebat tentang makna di balik teks yang baru saja kami pelajari untuk seminar sastra. Dia bercerita waktu dia mengambil langkah penting menuju kedewasaan, yaitu hanya mau dipanggil Michael dan pura-pura tidak mendengar bila dipanggil "Mikey". Waktu umur dua belas atau empat belas? 

Dia lupa, tapi dia ingat ibunya menangis dan berkata bahwa dia terlalu cepat menjadi dewasa. Ketika kami mencicipi blueberry blintzes, aku bercerita dulu aku dan kakakku suka memetik blueberry liar kalau mengunjungi sepupu-sepupu kami yang tinggal di desa. Aku ingat, aku selalu memakan habis bagianku sebelum pulang ke rumah dan bibiku selalu memperingatkan bahwa perutku pasti akan sakit sekali. Tentu saja, itu tak pernah terjadi. 

Sementara obrolan kami yang menyenangkan terus berlanjut, pandanganku melayang ke seberang ruangan dan berhenti di sudut. Sepasang orang tua duduk berduaan di pojok itu. Si wanita mengenakan rok bermotif bunga yang sudah pudar, sama pudarnya dengan bantal tempat dia meletakkan tas tangannya yang kusam. Puncak kepala si lelaki mengilat seperti telur rebus yang sedang dia nikmati pelan-pelan. Wanita itu mengunyah oatmeal-nya pelan-pelan juga, nyaris dengan susah payah. 

Tetapi yang membuat pikiranku teralih kepada mereka adalah keheningan yang melingkupi mereka. Aku seakan melihat kekosongan melankolis melingkupi pojok tempat mereka duduk. Ketika obrolanku dengan Michael mereda dari gelak tawa menjadi bisikan, dari pengakuan ke penilaian, keheningan pasangan itu mengusik pikiranku. Alangkah menyedihkan, pikirku, kalau tak ada lagi yang bisa diobrolkan. Tidak adakah halaman yang belum mereka baca dalam kisah hidup masing-masing? Bagaimana kalau itu terjadi pada kami 

Michael dan aku membayar makanan lalu kami beranjak hendak meninggalkan restoran. Ketika kami melewati pojok tempat pasangan itu duduk, dompetku terjatuh. Aku membungkuk untuk mengambilnya, aku melihat, di bawah meja tangan mereka saling berpegangan lembut. Mereka makan dengan hening sambil bergandengan tangan! Aku menegakkan tubuhku. 

Aku sangat tersentuh melihat tindak sederhana namun penuh makna yang mencerminkan kedekatan hubungan pasangan itu. Aku merasa istimewa karena boleh menyaksikannya. 

Belaian lembut tangan lelaki tua itu pada jari-jari istrinya yang letih dan keriput mengisi tidak hanya apa yang sebelumnya kuanggap sudut yang secara emosional kosong, tetapi juga mengisi hatiku. 

Keheningan mereka bukanlah keheningan yang tidak nyaman, seperti ketidaknyamanan yang selalu kita rasakan setelah mendengar sebaris lelucon atau canda-tawa waktu kencan pertama. Bukan itu. Keheningan mereka adalah keheningan yang nyaman dan rileks, itu adalah ungkapan cinta yang lembut dan tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk mengekspresikannya. 

Mungkin telah bertahun-tahun mereka bersama-sama menghabiskan jam-jam seperti ini di pagi hari. Mungkin hari ini tak ada bedanya dari kemarin, tetapi mereka menikmatinya dengan hati yang damai. Mereka saling menerima pasangannya, apa adanya. 

Mungkin, pikirku ketika aku dan Michael keluar dari restoran, bukan sesuatu yang buruk bila kelak yang seperti itu kami alami. Mungkin, itu akan menjadi ungkapan cinta yang lembut dan penuh kasih.
kuontai
04-06-2007, 09:42 AM
Ketika aku berjalan kaki pulang ke rumah di suatu hari yang dingin, kakiku tersandung sebuah dompet yang tampaknya terjatuh tanpa sepengetahuan pemiliknya. Aku memungut dan melihat isi dompet itu kalau-kalau aku bisa menghubungi pemiliknya. Tapi, dompet itu hanya berisi uang sejumlah tiga Dollar dan selembar surat kusut yang sepertinya sudah bertahun-tahun tersimpan di dalamnya. Satu-satunya yang tertera pada amplop surat itu adalah alamat si pengirim. Aku membuka isinya sambil berharap bisa menemukan petunjuk.

Lalu aku baca tahun "1924". Ternyata surat itu ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu. Surat itu ditulis dengan tulisan tangan yang anggun di atas kertas biru lembut yang berhiaskan bunga-bunga kecil di sudut kirinya. Tertulis di sana, "Sayangku Michael", yang menunjukkan kepada siapa surat itu ditulis yang ternyata bernama Michael. Penulis surat itu menyatakan bahwa ia tidak bisa bertemu dengannya lagi karena ibu telah melarangnya. Tapi, meski begitu ia masih tetap mencintainya. Surat itu ditandatangani oleh Hannah. Surat itu begitu indah.

Tetapi tetap saja aku tidak bisa menemukan siapa nama pemilik dompet itu. Mungkin bila aku menelepon bagian penerangan mereka bisa memberitahu nomor telepon alamat yang ada pada amplop itu. "Operator," kataku pada bagian peneragan, "Saya mempunyai permintaan yang agak tidak biasa. sedang berusaha mencari tahu pemiliki dompet yang saya temukan di jalan. Barangkali anda bisa membantu saya memberikan nomor telepon atas alamat yang ada pada surat yang saya temukan dalam dompet tersebut?"

Operator itu menyarankan agar aku berbicara dengan atasannya, yang tampaknya tidak begitu suka dengan pekerjaan tambahan ini. Kemudian ia berkata, "Kami mempunyai nomor telepon alamat tersebut, namun kami tidak bisa memberitahukannya pada anda." Demi kesopanan, katanya, ia akan menghubungi nomor tersebut, menjelaskan apa yang saya temukan dan menanyakan apakah mereka berkenan untuk berbicara denganku. Aku menunggu beberapa menit.

Tak berapa lama ia menghubungiku, katanya, "Ada orang yang ingin berbicara dengan anda." Lalu aku tanyakan pada wanita yang ada di ujung telepon sana, apakah ia mengetahui seseorang bernama Hannah. Ia menarik nafas, "Oh, kami membeli rumah ini dari keluarga yang memiliki anak perempuan bernama Hannah. Tapi, itu 30 tahun yang lalu!" "Apakah anda tahu dimana keluarga itu berada sekarang?" tanyaku. "Yang aku ingat, Hannah telah menitipkan ibunya di sebuah panti jompo beberapa tahun lalu," kata wanita itu. "Mungkin, bila anda menghubunginya mereka bisa mencaritahu dimana anak mereka, Hannah, berada." Lalu ia memberiku nama panti jompo tersebut. Ketika aku menelepon ke sana, mereka mengatakan bahwa wanita, ibu Hannah, yang aku maksud sudah lama meninggal dunia. Tapi mereka masih menyimpan nomor telepon rumah dimana anak wanita itu tinggal. Aku mengucapkan terima kasih dan menelepon nomor yang mereka berikan. Kemudian, di ujung telepon sana, seorang wanita mengatakan bahwa Hannah sekarang tinggal di sebuah panti jompo.

"Semua ini tampaknya konyol," kataku pada diriku sendiri. Mengapa pula aku mau repot-repot menemukan pemilik dompet yang hanya berisi tiga Dollar dan surat yang ditulis lebih dari 60 tahun yang lalu? Tapi, bagaimana pun aku menelepon panti jompo tempat Hannah sekarang berada. Seorang pria yang menerima teleponku mengatakan, "Ya, Hannah memang tinggal bersama kami." Meski waktu itu sudah menunjukkan pukul 10 malam, aku meminta agar bisa menemui Hannah. "Ok," kata pria itu agak bersungut-sungut, "bila anda mau, mungkin ia sekarang sedang menonton TV di ruang tengah."

Aku mengucapkan terima kasih dan segera berkendara ke panti jompo tersebut. Gedung panti jompo itu sangat besar. Penjaga dan perawat yang berdinas malam menyambutku di pintu. Lalu, kami naik ke lantai tiga. Di ruang tengah, perawat itu memperkenalkan aku dengan Hannah. Ia tampak manis, rambut ubannya keperak-perakan, senyumnya hangat dan matanya bersinar-sinar. Aku menceritakan padanya mengenai dompet yang aku temukan. Aku pun menunjukkan padanya surat yang ditulisnya. Ketika ia melihat amplop surat berwarna biru lembut dengan bunga-bunga kecil di sudut kiri, ia menarik nafas dalam-dalam dan berkata, "Anak muda, surat ini adalah hubunganku yang terakhir dengan Michael." Matanya memandang jauh, merenung dalam-dalam. Katanya dengan lembut, "Aku amat-amat mencintainya. Saat itu aku baru berusia 16 tahun, dan ibuku menganggap aku masih terlalu kecil. Oh, Ia sangat tampan. Ia seperti Sean Connery, si aktor itu." "Ya," lanjutnya. Michael Goldstein adalah pria yang luar biasa. "Bila kau bertemu dengannya, katakan bahwa aku selalu memikirkannya, Dan,......."

Ia ragu untuk melanjutkan, sambil menggigit bibir ia berkata, ......katakan, aku masih mencintainya. Tahukah kau, anak muda," katanya sambil tersenyum. Kini air matanya mengalir, "aku tidak pernah menikah selama ini. Aku pikir, tak ada seorang pun yang bisa menyamai Michael." Aku berterima kasih pada Hannah dan mengucapkan selamat tinggal. Aku menuruni tangga ke lantai bawah. Ketika melangkah keluar pintu, penjaga di sana menyapa, "Apakah wanita tua itu bisa membantu anda?" Aku sampaikan bahwa Hannah hanya memberikan sebuah petunjuk, "Aku hanya mendapatkan nama belakang pemilik dompet ini. Aku pikir, aku biarkan sajalah dompet ini untuk sejenak. Aku sudah menghabiskan hampir seluruh hariku untuk menemukan pemilik dompet ini." Aku keluarkan dompet itu, dompat kulit dengan benang merah disisi-sisinya. Ketika penjaga itu melihatnya, ia berseru, "Hei, tunggu dulu. Itu adalah dompet Pak Goldstein! Aku tahu persis dompet dengan benang merah terang itu.Ia selalu kehilangan dompet itu. Aku sendiri pernah menemukannya dompet itu tiga kali di dalam gedung ini."

"Siapakah Pak Goldstein itu?" tanyaku. Tanganku mulai gemetar. "Ia adalah penghuni lama gedung ini. Ia tinggal di lantai delapan. Aku tahu pasti, itu adalah dompet Mike Goldstein. Ia pasti menjatuhkannya ketika sedang berjalan-jalan di luar." Aku berterima kasih pada penjaga itu dan segera lari ke kantor perawat. Aku ceritakan pada perawat di sana apa yang telah dikatakan oleh si penjaga. Lalu, kami kembali ke tangga dan bergegas ke lantai delapan. Aku berharap Pak Goldstein masih belum tertidur. Ketika sampai di lantai delapan, perawat berkata, "Aku pikir ia masih berada di ruang tengah. Ia suka membaca di malam hari. Ia adalah Pak tua yang menyenangkan." Kami menuju ke satu-satunya ruangan yang lampunya masih menyala. Di sana duduklah seorang pria membaca buku. Perawat mendekati pria itu dan menanyakan apakah ia telah kehilangan dompet. Pak Goldstein memandang dengan terkejut. Ia lalu meraba saku belakangnya dan berkata, "Oh ya, dompetku hilang!" Perawat itu berkata, "Tuan muda yang baik ini telah menemukan sebuah dompet. Mungkin dompet anda?" Aku menyerahkan dompet itu pada Pak Goldstein. Ia tersenyum gembira. Katanya, "Ya, ini dompetku! Pasti terjatuh tadi sore. Aku akan memberimu hadiah." "Ah tak usah," kataku. "Tapi aku harus menceritakan sesuatu pada anda. Aku telah membaca surat yang ada di dalam dompet itu dengan harap aku mengetahui siapakah pemilik dompet ini."

Senyumnya langsung menghilang. "Kamu membaca surat ini?" "Bukan hanya membaca, aku kira aku tahu dimana Hannah sekarang." Wajahnya tiba-tiba pucat. "Hannah? Kau tahu dimana ia sekarang? Bagaimana kabarnya? Apakah ia masih secantik dulu? Katakan, katakan padaku," ia memohon. "Ia baik-baik saja, dan masih tetap secantik seperti saat anda mengenalnya," kataku lembut. Lelaki tua itu tersenyum dan meminta, "Maukah anda mengatakan padaku dimana ia sekarang? Aku akan meneleponnya esok." Ia menggenggam tanganku, "Tahukah kau anak muda, aku masih mencintainya. Dan saat surat itu datang hidupku terasa berhenti. Aku belum pernah menikah, aku selalu mencintainya."

"Michael," kataku, "Ayo ikuti aku." Lalu kami menuruni tangga ke lantai tiga. Lorong-lorong gedung itu sudah gelap. Hanya satu atau dua lampu kecil menyala menerangi jalan kami menuju ruang tengah di mana Hannah masih duduk sendiri menonton TV. Perawat mendekatinya perlahan.

"Hannah," kata perawat itu lembut. Ia menunjuk ke arah Michael yang sedang berdiri di sampingku di pintu masuk. "Apakah anda tahu pria ini?" Hannah membetulkan kacamatanya, melihat sejenak, dan terdiam tidak mengucapkan sepatah katapun. Michael berkata pelan, hampir-hampir berbisik, "Hannah, ini aku, Michael. Apakah kau masih ingat padaku?" Hannah gemetar, "Michael! Aku tak percaya. Michael! Kau! Michaelku!" Michael berjalan perlahan ke arah Hannah. Mereka lalu berpelukan. Perawat dan aku meninggalkan mereka dengan air mata menitik di wajah kami. "Lihatlah," kataku. "Lihatlah, bagaimana Tuhan berkehendak. Bila Ia berkehendak, maka jadilah."

Sekitar tiga minggu kemudian, di kantor aku mendapat telepon dari rumah panti jompo itu. "Apakah anda berkenan untuk hadir di sebuah pesta perkawinan di hari Minggu mendatang? Michael dan Hannah akan menikah!" Dan pernikahan itu, pernikahan yang indah. Semua orang di panti jompo itu mengenakan pakaian terbaik mereka untuk ikut merayakan pesta. Hannah mengenakan pakaian abu-abu terang dan tampak cantik. Sedangkan Michael mengenakan jas hitam dan berdiri tegak. Mereka menjadikan aku sebagai wali mereka. Rumah panti jompo memberi hadiah kamar bagi mereka.

Dan bila anda ingin melihat bagaimana sepasang pengantin berusia 76 dan 79 tahun bertingkah seperti anak remaja, anda harus melihat pernikahan pasangan ini. Akhir yang sempurna dari sebuah hubungan cinta yang tak pernah padam selama 60 tahun.
kuontai
04-06-2007, 09:48 AM
Seorang anak gadis kecil sedang berdiri terisak didekat pintu masuk sebuah gereja yang tidak terlalu besar, ia baru saja tidak diperkenankan masuk ke gereja tersebut karena "sudah terlalu penuh". 

Seorang pastur lewat didekatnya dan menanyakan kenapa si gadis kecil itu menangis? 

"Saya tidak dapat ke Sekolah Minggu" kata si gadis kecil. 

Melihat penampilan gadis kecil itu yang acak-acakan dan tidak terurus, sang pastur segera mengerti dan bisa menduga sebabnya si gadis kecil tadi tidak disambut masuk ke Sekolah Minggu. Segera dituntunnya si gadis kecil itu masuk ke ruangan Sekolah Minggu di dalam gereja dan ia mencarikan tempat duduk yang masih kosong untuk si gadis kecil. 

Sang gadis kecil ini begitu mendalam tergugah perasaannya, sehingga pada waktu sebelum tidur dimalam itu, ia sempat memikirkan anak-anak lain yang senasib dengan dirinya yang seolah-olah tidak mempunyai tempat untuk memuliakan Jesus. 

Ketika ia menceritakan hal ini kepada orang tuanya, yang kebetulan merupakan orang tak berpunya, sang ibu menghiburnya bahwa si gadis masih beruntung mendapatkan pertolongan dari seorang pastur. Sejak saat itu, si gadis kecil berkawan dengan sang pastur. 

Dua tahun kemudian, si gadis kecil meninggal di tempat tinggalnya didaerah kumuh,dan sang orang tuanya meminta bantuan dari si pastur yang baik hati untuk prosesi pemakaman yang sangat sangat sederhana. Saat pemakaman selesai dan ruang tidur si gadis di rapihkan, sebuah dompet usang, kumal dan sobek sobek ditemukan, tampak sekali bahwa dompet itu adalah dompet yang mungkin ditemukan oleh si gadis kecil dari tempat sampah. Didalamnya ditemukan uang receh sejumlah 57 sen dan secarik kertas bertuliskan tangan, yang jelas kelihatan ditulis oleh seorang anak kecil yang isinya: 

"Uang ini untuk membantu pembangunan gereja kecil agar gereja tersebut bisa diperluas sehingga lebih banyak anak anak bisa menghadiri ke Sekolah Minggu" 

Rupanya selama 2 tahun, sejak ia tidak dapat masuk ke gereja itu, si gadis kecil ini mengumpulkan dan menabungkan uangnya sampai terkumpul sejumlah 57 sen untuk maksud yang sangat mulia. 

Ketika sang pastur membaca catatan kecil ini, matanya sembab dan ia sadar apa yang harus diperbuatnya. Dengan berbekal dompet tua dan catatan kecil ini, sang pastur segera memotivasi para pengurus dan jemaat gerejanya untuk meneruskan maksud mulia si gadis kecil ini untuk memperbesar bangunan gereja.

Namun Ceritanya tidak berakhir sampai disini. Suatu perusahaan koran yang besar mengetahui berita ini dan mempublikasikannya terus menerus. Sampai akhirnya seorang Pengembang membaca berita ini dan ia segera menawarkan suatu lokasi yang berada didekat gereja kecil itu dengan harga 57 sen, setelah para pengurus gereja menyatakan bahwa mereka tak mungkin sanggup membayar lokasi sebesar dan sebaik itu. 

Para anggota jemaat pun dengan sukarela memberikan donasi dan melakukan pemberitaan, akhirnya bola salju yang dimulai oleh sang gadis kecil ini bergulir dan dalam 5 tahun, berhasil mengumpulkan dana sebesar 250.000 dollar, suatu jumlah yang fantastik pada saat itu (pada pergantian abad, jumlah ini dapat membeli emas seberat 1 ton). 

Inilah hasil nyata cinta kasih dari seorang gadis kecil yang miskin, kurang terawat dan kurang makan,namun perduli pada sesama yang menderita. Tanpa pamrih, tanpa pretensi. 

Saat ini, jika anda berada di Philadelphia, lihatlah Temple Baptist Church, dengan kapasitas duduk untuk 3300 orang dan Temple University, tempat beribu ribu murid belajar. Lihat juga Good Samaritan Hospital dan sebuah bangunan special untuk Sekolah Minggu yang lengkap dengan beratus ratus (yah,beratus ratus) pengajarnya, semuanya itu untuk memastikan jangan sampai ada satu anakpun yang tidak mendapat tempat di Sekolah MInggu. 

Didalam salah satu ruangan bangunan ini, tampak terlihat foto si gadis kecil, yang dengan tabungannya sebesar 57 sen, namun dikumpulkan berdasarkan rasa cinta kasih sesama yang telah membuat sejarah. Tampak pula berjajar rapih foto sang pastur yang baik hati yang telah mengulurkan tangan kepada si gadis keci miskin itu, yaitu pastor DR.Russel H.Conwell penulis buku "Acres of Diamonds"
kuontai
04-06-2007, 09:55 AM
Sore itu adalah sore yang sangat dingin di Virginia bagian utara, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Janggut si orang tua dilapisi es musim dingin selagi ia menunggu tumpangan menyeberangi sungai. Penantiannya seakan tak berakhir. Tubuhnya menjadi mati rasa dan kaku akibat angin utara yang dingin. 

Samar-samar ia mendengar irama teratur hentakan kaki kuda yang berlari mendekat di atas jalan yang beku itu. Dengan gelisah ia mengawasi beberapa penunggang kuda memutari tikungan. Ia membiarkan kuda yang pertama lewat, tanpa berusaha untuk menarik perhatian. Lalu, satu lagi lewat, dan satu lagi. Akhirnya, penunggang kuda yang terakhir mendekati tempat si orang tua yang duduk seperti patung salju. 

Saat yang satu ini mendekat, si orang tua menangkap mata si penunggang, dan berkata, "Pak, maukah anda memberikan tumpangan pada orang tua ini ke seberang? Kelihatannya tak ada jalan untuk berjalan kaki." 

Sambil menghentikan kudanya, si penunggang menjawab, "Tentu. Naiklah." 

Melihat si orang tua tak mampu mengangkat tubuhnya yang setengah membeku dari atas tanah, si penunggang kuda turun dan menolongnya naik ke atas kuda. Si penunggang membawa si orang tua itu bukan hanya ke seberang sungai, tapi terus ke tempat tujuannya, yang hanya berjarak beberapa kilometer. 

Selagi mereka mendekati pondok kecil yang nyaman, rasa ingin tahu si penunggang kuda mendorongnya untuk bertanya, "Pak, saya lihat tadi bapak membiarkan penunggang kuda lain lewat tanpa berusaha meminta tumpangan. Saya ingin tahu kenapa pada malam musim dingin begini bapak mau menunggu dan minta tolong pada penunggang terakhir. Bagaimana kalau saya tadi menolak dan meninggalkan bapak di sana ?" 

Si orang tua menurunkan tubuhnya perlahan dari kuda, memandang langsung mata si penunggan kuda, dan menjawab, "Saya sudah lama tinggal di daerah ini. Saya rasa saya cukup kenal dengan orang." 

Si orang tua melanjutkan, "Saya memandang mata penunggang yang lain, dan langsung tahu bahwa di situ tidak ada perhatian pada keadaan saya. Pasti percuma saja saya minta tumpangan. Tapi waktu saya melihat ke matamu, kebaikan hati dan rasa kasihmu terlihat jelas. Saya tahu saat itu juga bahwa jiwamu yang lembut akan menyambut kesempatan untuk memberi saya pertolongan pada saat saya membutuhkannya." 

Komentar yang menghangatkan hati itu menyentuh si penunggang kuda dengan dalam. 

"Saya berterima kasih sekali atas perkataan bapak", ia berkata pada si orang tua. "Mudah-mudahan saya tidak akan sibuk mengurus masalah saya sendiri hingga saya gagal menanggapi kebutuhan orang lain dengan kasih dan kebaikan hati saya." 

Seraya berkata demikian, Thomas Jefferson si penunggang kuda itu, memutar kudanya dan melanjutkan perjalanannya menuju ke Gedung Putih.


Oleh: Brian Cavanaugh
Sumber: The Sower's Seeds
kuontai
04-06-2007, 09:58 AM
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal. 

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30. 

"Tinnn.. Tiiiinnnnn...!!" 

Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah. 

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang. 

"Mama, mama.. Mama, mama..." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. 

Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?" 

Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. 

Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?" 

Tiba-tiba... 

"Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!" Mama membentak dengan suara tinggi. 

Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama? 

Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya. 

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. 

"Tinnn.. Tiiiinnnnn...!!" 

Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. 

"Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya." 

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: "Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu." 

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka. 

"Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?"
kuontai
05-06-2007, 09:20 AM
"Rosa, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja." Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. "Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.

Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, "Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri"

Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?

Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan..

Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami mama..... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Tuhan?

--- +++ ---

"Rosa, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. " Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. "Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama." Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..

Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu..
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

--- +++ ---

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia..

--- +++ ---

"Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip mamaku ya Tuhan.."

Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya..
kuontai
05-06-2007, 09:23 AM
Seorang pemuda sebentar lagi akan di wisuda, sebentar lagi dia akan menjadi seorang sarjana, akhir jerih payahnya selama beberapa tahun di bangku pendidikan. Beberapa bulan yang lalu dia melewati sebuah showroom, dan saat itu dia jatuh cinta kepada sebuah mobil sport, keluaran terbaru dari Ford. Selama beberapa bulan dia selalu membayangkan, nanti pada saat wisuda ayahnya pasti akan membelikan mobil itu kepadanya. Dia yakin, karena dia anak satu-satunya dan ayahnya sangat sayang padanya, sehingga dia yakin banget nanti dia pasti akan mendapatkan mobil itu. Diapun berangan-angan mengendarai mobil itu, bersenang-senang dengan teman-temannya. Bahkan semua mimpinya itu dia ceritakan ke teman-temannya. Saatnya pun tiba, siang itu, setelah wisuda, dia melangkah pasti ke ayahnya. 

Sang ayah tersenyum, dan dengan berlinang air mata karena terharu dia mengungkapkan betapa dia bangga akan anaknya, dan betapa dia mencintai anaknya itu. Lalu dia pun mengeluarkan sebuah bingkisan,... bukan sebuah kunci! Dengan hati yang hancur sang anak menerima bingkisan itu, dan dengan sangat kecewa dia membukanya. Dan dibalik kertas kado itu ia menemukan sebuah Alkitab yang bersampulkan kulit asli, di kulit itu terukir indah namanya dengan tinta emas. 

Pemuda itu menjadi marah, dengan suara yang meninggi dia berteriak, "Yaahh... Ayah memang sangat mencintai saya, dengan semua uang ayah, ayah belikan alkitab ini untukku?" 

Lalu dia membanting Alkitab itu dan lari meninggalkan ayahnya. Ayahnya tidak bisa berkata apa-apa, hatinya hancur, dia berdiri mematung ditonton beribu pasang mata yang hadir saat itu. 

Tahun demi tahun berlalu, sang anak telah menjadi seorang yang sukses. Dengan bermodalkan otaknya yang cemerlang dia berhasil menjadi seorang yang terpandang. Dia mempunyai rumah yang besar dan mewah, dan dikelilingi istri yang cantik dan anak-anak yang cerdas. 

Sementara itu ayahnya semakin tua dan tinggal sendiri. Sejak hari wisuda itu, anaknya pergi meninggalkan dia dan tak pernah menghubungi dia. Dia berharap suatu saat dapat bertemu anaknya itu, hanya untuk meyakinkan dia betapa kasihnya pada anak itu. Sang anak pun kadang rindu dan ingin bertemu dengan sang ayah, tapi mengingat apa yang terjadi pada hari wisudanya, dia menjadi sakit hati dan sangat mendendam. 

Sampai suatu hari datang sebuah telegram dari kantor kejaksaan yang memberitakan bahwa ayahnya telah meninggal, dan sebelum ayahnya meninggal, dia mewariskan semua hartanya kepada anak satu-satunya itu. Sang anak disuruh menghadap Jaksa wilayah dan bersama-sama ke rumah ayahnya untuk mengurus semua harta peninggalannya. Saat melangkah masuk kerumah itu, mendadak hatinya menjadi sangat sedih, mengingat semua kenangan semasa dia tinggal disitu. Dia merasa sangat menyesal telah bersikap jelek terhadap ayahnya. Dengan bayangan-bayangan masa lalu yang menari-nari di matanya, dia menelusuri semua barang di rumah itu. Dan ketika dia membuka brankas ayahnya, dia menemukan Alkitab itu, masih terbungkus dengan kertas yang sama beberapa tahun yang lalu. 

Dengan airmata berlinang, dia lalu memungut Alkitab itu, ia membuka Alkitab tersebut dan mulai membalik-balik halamannya. Ayahnya menggaris dengan rapi sebuah ayat, Matius 7:11. 

"Dan kamu yang jahat tahu memberikan yang baik kepada anakmu, masakan Bapa-mu yang di sorga tidak akan memberikan apa yang kamu minta kepada-Nya?" 

Selesai dia membaca tulisan itu, sesuatu jatuh dari bagian belakang Alkitab itu. Dia memungutnya.. sebuah kunci mobil! Di gantungan kunci mobil itu tercetak nama dealer, sama dengan dealer mobil sport yang dulu dia idamkan! Dia membuka halaman terakhir Alkitab itu, dan menemukan di situ terselip STNK dan surat-surat lainnya, namanya tercetak di situ. Dan sebuah kwitansi pembelian mobil, tanggalnya tepat sehari sebelum hari wisuda itu. 

Dia berlari menuju garasi, dan di sana dia menemukan sebuah mobil yang berlapiskan debu selama bertahun-tahun, meskipun mobil itu sudah sangat kotor karena tidak disentuh bertahun-tahun, dia masih mengenal jelas mobil itu, mobil sport yang dia dambakan bertahun-tahun lalu. Dengan buru-buru dia menghapus debu pada jendela mobil dan melongok kedalam. Bagian dalam mobil itu masih baru, plastik membungkus jok mobil dan setirnya, di atas dashboardnya ada sebuah foto, foto ayahnya, sedang tersenyum bangga. Mendadak dia menjadi lemas, lalu terduduk disamping mobil itu, air matanya tidak terhentikan, mengalir terus mengiringi rasa menyesalnya yang tak mungkin diobati... 

HOW MANY TIMES DO WE MISS GOD'S BLESSINGS BECAUSE WE CAN'T SEE PAST OUR OWN DESIRES.
kuontai
07-06-2007, 09:29 AM
"Bisa saya melihat bayi saya?" pinta seorang ibu yang baru melahirkan penuh kebahagiaan. Ketika gendongan itu berpindah ke tangannya dan ia membuka selimut yang membungkus wajah bayi lelaki yang mungil itu, ibu itu menahan nafasnya. Dokter yang menungguinya segera berbalik memandang ke arah luar jendela rumah sakit. Bayi itu dilahirkan tanpa kedua belah telinga!

Waktu membuktikan bahwa pendengaran bayi yang kini telah tumbuh menjadi seorang anak itu bekerja dengan sempurna. Hanya penampilannya saja yang tampak aneh dan buruk.

Suatu hari anak lelaki itu bergegas pulang ke rumah dan membenamkan wajahnya di pelukan sang ibu yang menangis. Ia tahu hidup anak lelakinya penuh dengan kekecewaan dan tragedi. Anak lelaki itu terisak-isak berkata, "Seorang anak laki-laki besar mengejekku. Katanya, aku ini makhluk aneh."

Anak lelaki itu tumbuh dewasa. Ia cukup tampan dengan cacatnya. Ia pun disukai teman-teman sekolahnya. Ia juga mengembangkan bakatnya di bidang musik dan menulis. Ia ingin sekali menjadi ketua kelas. Ibunya mengingatkan, "Bukankah nantinya kau akan bergaul dengan remaja-remaja lain?" Namun dalam hati ibu merasa kasihan dengannya.

Suatu hari ayah anak lelaki itu bertemu dengan seorang dokter yang bisa mencangkokkan telinga untuknya. "Saya percaya saya bisa memindahkan sepasang telinga untuknya. Tetapi harus ada seseorang yang bersedia mendonorkan telinganya," kata dokter.

Kemudian, orangtua anak lelaki itu mulai mencari siapa yang mau mengorbankan telinga dan mendonorkannya pada mereka. Beberapa bulan sudah berlalu. Dan tibalah saatnya mereka memanggil anak lelakinya,

"Nak, seseorang yang tak ingin dikenal telah bersedia mendonorkan telinganya padamu. Kami harus segera mengirimmu ke rumah sakit untuk dilakukan operasi. Namun, semua ini sangatlah rahasia." kata sang ayah.

Operasi berjalan dengan sukses. Seorang lelaki baru pun lahirlah. Bakat musiknya yang hebat itu berubah menjadi kejeniusan. Ia pun menerima banyak penghargaan dari sekolahnya. Beberapa waktu kemudian ia pun menikah dan bekerja sebagai seorang diplomat.

Ia menemui ayahnya, "Yah, aku harus mengetahui siapa yang telah bersedia mengorbankan ini semua padaku. Ia telah berbuat sesuatu yang besar namun aku sama sekali belum membalas kebaikannya." Ayahnya menjawab, "Ayah yakin kau takkan bisa membalas kebaikan hati orang yang telah memberikan telinga itu."

Setelah terdiam sesaat ayahnya melanjutkan, "Sesuai dengan perjanjian, belum saatnya bagimu untuk mengetahui semua rahasia ini." Tahun berganti tahun. Kedua orangtua lelaki itu tetap menyimpan rahasia. Hingga suatu hari tibalah saat yang menyedihkan bagi keluarga itu.

Di hari itu ayah dan anak lelaki itu berdiri di tepi peti jenazah ibunya yang baru saja meninggal. Dengan perlahan dan lembut, sang ayah membelai rambut jenazah ibu yang terbujur kaku itu, lalu menyibaknya sehingga tampaklah bahwa sang ibu tidak memiliki telinga. "Ibumu pernah berkata bahwa ia senang sekali bisa memanjangkan rambutnya," bisik sang ayah. "Dan tak seorang pun menyadari bahwa ia telah kehilangan sedikit kecantikannya bukan?"

Kecantikan yang sejati tidak terletak pada penampilan tubuh namun di dalam hati. Harta karun yang hakiki tidak terletak pada apa yang bisa terlihat, namun pada apa yang tidak dapat terlihat. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan namun tidak diketahui.
kuontai
07-06-2007, 09:40 AM
Para penumpang bus memandang penuh simpati ketika wanita muda berpenampilan menarik dan bertongkat putih itu dengan hati-hati menaiki tangga. Dia membayar sopir bus lalu, dengan tangan meraba-raba kursi, dia berjalan menyusuri lorong sampai menemukan kursi yang tadi dikatakan kosong oleh si sopir. Kemudian ia duduk, meletakkan tasnya dipangkuannya dan menyandarkan tongkatnya pada tungkainya. 

Setahun sudah lewat sejak Susan, 34 tahun, menjadi buta. Gara-gara salah diagnosa dia kehilangan penglihatannya dan terlempar kedunia yang gelap gulita, penuh amarah, frustasi, dan rasa kasihan pada diri sendiri. 

Sebagai wanita yang sangat independen, Susan merasa terkutuk oleh nasib mengerikan yang membuatnya kehilangan kemampuan, merasa tak berdaya, dan menjadi beban bagi semua orang di sekelilingnya. 

"Bagaimana mungkin ini bisa terjadi padaku?" dia bertanya-tanya, hatinya mengeras karena marah. Tetapi, betapa pun seringnya ia menangis atau menggerutu atau berdoa, dia mengerti kenyataan yang menyakitkan itu -- penglihatannya takkan pernah pulih lagi. 

Depresi mematahkan semangat Susan yang tadinya selalu optimis. Mengisi waktu seharian kini merupakan perjuangan berat yang menguras tenaga dan membuatnya frustasi. Dia menjadi sangat bergantung pada Mark, suaminya. Mark seorang perwira Angkatan Udara. Dia mencintai Susan dengan tulus. 

Ketika istrinya baru kehilangan penglihatannya, dia melihat bagaimana Susan tenggelam dalam keputusasaan. Mark bertekat untuk membantunya menemukan kembali kekuatan dan rasa percaya diri yang dibutuhkan Susan untuk menjadi mandiri lagi. 

Latar belakang militer Mark membuatnya terlatih untuk menghadapi berbagai situasi darurat, tetapi dia tahu, ini adalah pertempuran yang paling sulit yang pernah dihadapinya. 

Akhirnya, Susan merasa siap bekerja lagi. Tetapi, bagaimana dia akan bisa sampai ke kantornya? Dulu Susan biasa naik bus, tetapi sekarang terlalu takut untuk pergi ke kota sendirian. Mark menawarkan untuk mengantarkannya setiap hari, meskipun tempat kerja mereka terletak di pinggir kota yang berseberangan. 

Mula-mula, kesepakatan itu membuat Susan nyaman dan Mark puas karena bisa melindungi istrinya yang buta, yang tidak yakin akan bisa melakukan hal-hal paling sederhana sekalipun. 

Tetapi, Mark segera menyadari bahwa pengaturan itu keliru -- membuat mereka terburu-buru, dan terlalu mahal. Susan harus belajar naik bus lagi, Mark menyimpulkan dalam hati. Tetapi, baru berpikir untuk menyampaikan rencana itu kepada Susan telah membuatnya merasa tidak enak. Susan masih sangat rapuh, masih sangat marah. 

Bagaimana reaksinya nanti? Persis seperti dugaan Mark, Susan ngeri mendengar gagasan untuk naik bus lagi. 

"Aku buta!" tukasnya dengan pahit. "Bagaimana aku bisa tahu kemana aku pergi? Aku merasa kau akan meninggalkanku" 

Mark sedih mendengar kata-kata itu, tetapi ia tahu apa yang harus dilakukan. Dia berjanji bahwa setiap pagi dan sore, ia akan naik bus bersama Susan, selama masih diperlukan,sampai Susan hafal dan bisa pergi sendiri. 

Dan itulah yang terjadi. Selama dua minggu penuh Mark, menggunakan seragam militer lengkap, mengawal Susan ke dan dari tempat kerja, setiap hari. Dia mengajari Susan bagaimana menggantungkan diri pada indranya yang lain, terutama pendengarannya, untuk menemukan dimana ia berada dan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Dia menolong Susan berkenalan dan berkawan dengan sopir-sopir bus dan menyisakan satu kursi kosong untuknya. 

Dia membuat Susan tertawa, bahkan pada hari-hari yang tidak terlalu menyenangkan ketika Susan tersandung waktu turun dari bus, atau menjatuhkan tasnya yang penuh berkas di lorong bus. Setiap pagi mereka berangkat bersama-sama, setelah itu Mark akan naik taksi ke kantornya. 

Meskipun pengaturan itu lebih mahal dan melelahkan daripada yang pertama, Mark yakin bahwa hanya soal waktu sebelum Susan mampu naik bus tanpa dikawal. Mark percaya kepadanya, percaya kepada Susan yang dulu dikenalnya sebelum wanita itu kehilangan penglihatannya; wanita yang tidak pernah takut menghadapi tantangan apapun dan tidak akan pernah menyerah. 

Akhirnya, Susan memutuskan bahwa dia siap untuk melakukan perjalanan itu seorang diri. 

Tibalah hari Senin. Sebelum berangkat, Susan memeluk Mark yang pernah menjadi kawannya satu bus dan sahabatnya yang terbaik. Matanya berkaca-kaca, penuh air mata syukur karena kesetiaan, kesabaran dan cinta Mark. Dia mengucapkan selamat berpisah. Untuk pertama kalinya mereka pergi ke arah yang berlawanan. 

Senin, Selasa, Rabu, Kamis... Setiap hari dijalaninya dengan sempurna. Belum pernah Susan merasa sepuas itu. Dia berhasil ! Dia mampu berangkat kerja tanpa dikawal. 

Pada hari Jum'at pagi, seperti biasa Susan naik bus ke tempat kerja. Ketika dia membayar ongkos bus sebelum turun, sopir bus itu berkata : "Wah,aku iri padamu". 

Susan tidak yakin apakah sopir itu bicara kepadanya atau tidak. Lagipula, siapa yang bisa iri pada seorang wanita buta yang sepanjang tahun lalu berusaha menemukan keberanian untuk menjalani hidup? 

Dengan penasaran, dia berkata kepada sopir itu, "Kenapa kau bilang kau iri kepadaku?" 

Sopir itu menjawab, "Kau pasti senang selalu dilindungi dan dijagai seperti itu" 

Susan tidak mengerti apa maksud sopir itu. Sekali lagi dia bertanya, "Apa maksudmu ?" 

"Kau tahu, minggu kemarin, setiap pagi ada seorang pria tampan berseragam militer berdiri di sudut jalan dan mengawasimu waktu kau turun dari bus. Dia memastikan bahwa kau menyeberang dengan selamat dan dia mengawasimu terus sampai kau masuk ke kantormu. Setelah itu dia meniupkan ciuman, memberi hormat ala militer, lalu pergi. Kau wanita yang beruntung", kata sopir itu. 

Air mata bahagia membasahi pipi Susan. Karena meskipun secara fisik tidak dapat melihat Mark, dia selalu bisa memastikan kehadirannya. Dia beruntung, sangat beruntung, karena Mark memberikannya hadiah yang jauh lebih berharga daripada penglihatan, hadiah yang tak perlu dilihatnya dengan matanya untuk menyakinkan diri -- hadiah cinta yang bisa menjadi penerang dimanapun ada kegelapan.
kuontai
07-06-2007, 09:42 AM
"Rosa, bangun.. Sarapanmu udah mama siapin di meja." Tradisi ini sudah berlangsung 26 tahun, sejak pertama kali aku bisa mengingat tapi kebiasaan mama tak pernah berubah. "Mama sayang. ga usah repot-repot ma, aku sudah dewasa." pintaku pada mama pada suatu pagi. Wajah tua itu langsung berubah.

Pun ketika mama mengajakku makan siang di sebuah restoran. Buru-buru kukeluarkan uang dan kubayar semuanya, ingin kubalas jasa mama selama ini dengan hasil keringatku.. Raut sedih itu tak bisa disembunyikan.

Kenapa mama mudah sekali sedih? Aku hanya bisa mereka-reka, mungkin sekarang fasenya aku mengalami kesulitan memahami mama karena dari sebuah artikel yang kubaca.. orang yang lanjut usia bisa sangat sensitive dan cenderung untuk bersikap kanak-kanak. tapi entahlah.. Niatku ingin membahagiakan malah membuat mama sedih. Seperti biasa, mama tidak akan pernah mengatakan apa-apa.

Suatu hari kuberanikan diri untuk bertanya "Ma, maafin aku kalau telah menyakiti perasaan mama. Apa yang bikin mama sedih?" Kutatap sudut-sudut mata mama, ada genangan air mata di sana. Terbata-bata mama berkata, "Tiba-tiba mama merasa kalian tidak lagi membutuhkan mama. Kamu sudah dewasa, sudah bisa menghidupi diri sendiri. Mama tidak boleh lagi menyiapkan sarapan untuk kamu, mama tidak bisa lagi jajanin kamu. Semua sudah bisa kamu lakukan sendiri"

Ah, Ya Tuhan, ternyata buat seorang Ibu.. bersusah payah melayani putra-putrinya adalah sebuah kebahagiaan. Satu hal yang tak pernah kusadari sebelumnya.. Niat membahagiakan bisa jadi malah membuat orang tua menjadi sedih karena kita tidak berusaha untuk saling membuka diri melihat arti kebahagiaan dari sudut pandang masing-masing.

Diam-diam aku merenungkan. Apa yang telah kupersembahkan untuk mama dalam usiaku sekarang? Adakah mama bahagia dan bangga pada putrinya?

Ketika itu kutanya pada mama. Mama menjawab "Banyak sekali nak kebahagiaan yang telah kamu berikan pada mama. Kamu tumbuh sehat dan lucu ketika bayi adalah kebahagiaan. Kamu berprestasi di sekolah adalah kebanggaan buat mama. Setelah dewasa, kamu berprilaku sebagaimana seharusnya seorang hamba, itu kebahagiaan buat mama. Setiap kali binar mata kamu mengisyaratkan kebahagiaan di situlah kebahagiaan orang tua."

Lagi-lagi aku hanya bisa berucap "Ampunkan aku ya Tuhan kalau selama ini sedikit sekali ketulusan yang kuberikan kepada mama. Masih banyak alasan ketika mama menginginkan sesuatu." Betapa sabarnya mamaku melalui liku-liku kehidupan..

Mamaku seorang yang idealis, menata keluarga, merawat dan mendidik anak-anak adalah hak prerogatif seorang ibu yang takkan bisa dilimpahkan kepada siapapun. Ah, maafin kami mama..... 18 jam sehari sebagai "pekerja" seakan tak pernah membuat mama lelah.. Sanggupkah aku ya Tuhan?

--- +++ ---

"Rosa, bangun nak.. sarapannya udah mama siapin di meja.. " Kali ini aku lompat segera.. kubuka pintu kamar dan kurangkul mama sehangat mungkin, kuciumi pipinya yang mulai keriput, kutatap matanya lekat-lekat dan kuucapkan.. "Terimakasih mama, aku beruntung sekali memiliki mama yang baik hati, ijinkan aku membahagiakan mama." Kulihat binar itu memancarkan kebahagiaan..

Cintaku ini milikmu, Mama. Aku masih sangat membutuhkanmu..
Maafkan aku yang belum bisa menjabarkan arti kebahagiaan buat dirimu..

--- +++ ---

Sahabat.. tidak selamanya kata sayang harus diungkapkan dengan kalimat "Aku sayang padamu." Namun begitu, Tuhan menyuruh kita untuk menyampaikan rasa cinta yang kita punya kepada orang yang kita cintai..

Ayo kita mulai dari orang terdekat yang sangat mencintai kita, Ibu.. Walau mereka tak pernah meminta. Percayalah.. kata-kata itu akan membuat mereka sangat berarti dan bahagia..

--- +++ ---

"Ya Tuhan, cintailah mamaku, beri aku kesempatan untuk bisa membahagiakan mama. Dan jika saatnya nanti mama Kau panggil, terimalah dan jagalah ia disisiMu.. Titip mamaku ya Tuhan.."

Untuk dan oleh semua Ibu yang mencintai anak-anaknya dan semua anak yang mencintai Ibunya..
kuontai
07-06-2007, 09:47 AM
Pada suatu hari, seorang pemuda berdiri di tengah kota dan menyatakan bahwa dialah pemilik hati yang terindah yang ada di kota itu. Banyak orang kemudian berkumpul dan mereka semua mengagumi hati pemuda itu, karena memang benar-benar sempurna. Tidak ada satu cacat atau goresan sedikitpun di hati pemuda itu. Pemuda itu sangat bangga dan mulai menyombongkan hatinya yang indah. 

Tiba-tiba, seorang lelaki tua menyeruak dari kerumunan, tampil ke depan dan berkata "Mengapa hatimu masih belum seindah hatiku ?". 

Kerumunan orang-orang dan pemuda itu melihat pada hati pak tua itu. Hati pak tua itu berdegup dengan kuatnya, namun penuh dengan bekas luka, dimana ada bekas potongan hati yang diambil dan ada potongan yang lain ditempatkan di situ; namun tidak benar-benar pas dan ada sisi-sisi potongan yang tidak rata. Bahkan, ada bagian-bagian yang berlubang karena dicungkil dan tidak ditutup kembali. Orang-orang itu tercengang dan berpikir, bagaimana mungkin pak tua itu mengatakan bahwa hatinya lebih indah ? 

Pemuda itu melihat kepada pak tua itu, memperhatikan hati yang dimilikinya dan tertawa "Anda pasti bercanda, pak tua", katanya, "bandingkan hatimu dengan hatiku, hatiku sangatlah sempurna sedangkan hatimu tak lebih dari kumpulan bekas luka dan cabikan". 

"Ya", kata pak tua itu," hatimu kelihatan sangat sempurna meski demikian aku tak akan menukar hatiku dengan hatimu. Lihatlah, setiap bekas luka ini adalah tanda dari orang-orang yang kepadanya kuberikan kasihku, aku menyobek sebagian dari hatiku untuk kuberikan kepada mereka, dan seringkali mereka juga memberikan sesobek hati mereka untuk menutup kembali sobekan yang kuberikan. Namun karena setiap sobekan itu tidaklah sama, ada bagian-bagian yang kasar, yang sangat aku hargai, karena itu mengingatkanku akan cinta kasih yang telah bersama-sama kami bagikan. Adakalanya, aku memberikan potongan hatiku begitu saja dan orang yang kuberi itu tidak membalas dengan memberikan potongan hatinya. Hal itulah yang meninggalkan lubang-lubang sobekan - - memberikan cinta kasih adalah suatu kesempatan. Meskipun bekas cabikan itu menyakitkan, mereka tetap terbuka, hal itu mengingatkanku akan cinta kasihku pada orang-orang itu, dan aku berharap, suatu ketika nanti mereka akan kembali dan mengisi lubang-lubang itu. Sekarang, tahukah engkau keindahan hati yang sesungguhnya itu ?" 

Pemuda itu berdiri membisu dan airmata mulai mengalir di pipinya. Dia berjalan ke arah pak tua itu, menggapai hatinya yang begitu muda dan indah, lalu merobeknya sepotong. Pemuda itu memberikan robekan hatinya kepada pak tua dengan tangan-tangan yang gemetar. Pak tua itu menerima pemberian itu, menaruhnya di hatinya dan kemudian mengambil sesobek dari hatinya yang sudah amat tua dan penuh luka, kemudian menempatkannya untuk menutup luka di hati pemuda itu. Sobekan itu pas, tetapi tidak sempurna, karena ada sisi-sisi yang tidak sama rata. Pemuda itu melihat kedalam hatinya, yang tidak lagi sempurna tetapi kini lebih indah dari sebelumnya, karena cinta kasih dari pak tua itu telah mengalir kedalamnya. Mereka berdua kemudian berpelukan dan berjalan beriringan.
kuontai
08-06-2007, 07:05 PM
Seorang wanita di lapangan terbang sedang menunggu waktu penerbangannya. Sambil menunggu, dia makan biskut yang dibelinya sebelum itu dan membaca buku cerita. Sedang dia makan dia terperasan yang lelaki disebelahnya turut mengambil biskut dari bungkusan yang sama yang terletak di sebelahnya.

Setiap keping biskut yang dia ambil lelaki itu turut mengambil sama. Di dalam hati wanita itu menyumpah-nyumpah lelaki itu. 

“Alangkah tak malunya lelaki ni….. dah la tak mintak dari aku…. makan sama banyak dengan aku pulak tu…Pencuri!! ” rungut wanita itu dalam hati.

Dalam pada itu, lelaki itu dengan muka yang tenang terus dengan perbuatannya. Hinggalah sampai ke biskut terakhir yang terdapat dalam bungkusan itu. Wanita itu menunggu reaksi dari lelaki itu. Sambil tersenyum lelaki itu mengambil biskut yang terakhir itu lalu dipatah dua lantas memberikan separuh darinya kepada wanita itu. Wanita itu menjadi begitu marah namun dia tetap menahan dirinya dari memarahi lelaki itu.

Sambil merampas dengan kasar biskut yang separuh itu dan menunjukkan mukanya yang masam mencuka, wanita itu berkata dalam hatinya. 

“Berani sungguh lelaki ni. Memang muka tak malu. Pencuri besar.” kata hatinya dengan marah.

Kedua-dua wanita dan lelaki itu terus duduk sehingga panggilan untuk menaiki pesawat untuk wanita itu sampai. Sambil menarik nafas lega seolah baru lepas dari satu kejadian ngeri wanita itu bergerak menaiki pesawatnya.

Apabila dia sampai di tempat duduknya beliau membuka beg kecilnya untuk mengambil barang. Alangkah terkejutnya dia apabila melihat satu bungkusan biskut berada di dalam begnya dan ia masih elok belum terbuka.

“Jika biskut ini ada dalam beg aku jadi bermakna biskut yang aku makan tadi…” getusnya. 

Ya.. .biskut yang dimakannya tadi adalah kepunyaan lelaki itu. Alangkah malunya dia atas segala tindakannya terhadap lelaki itu. Lelaki itu telah sanggup berkongsi biskut dengannya sehingga biskut yang terakhir biarpun dari awal lagi wanita itu telah menunjukkan reaksi marahnya.

Untuk meminta maaf sudah terlambat namun hatinya penuh kekesalan kerana bersifat kedekut dan tidak mahu berkongsi dengan orang lain. Kini dia menyedari bahawa dialah pencuri biskut yang sebenar.
kuontai
08-06-2007, 07:10 PM
Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang hamba sahaya yang sangat bebal - begitu dungu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Suatu hari sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana.”Hutang mereka sudah cukup tempoh,” kata sang tuan. “Baik, Tuan,” sahut si bodoh. “Tetapi nanti wangnya mahu dibeli apa?” “Belikan sesuatu yang belum aku punyai,” jawab sang tuan.

Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksudkan. Cukup penat juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan sedikit demi sedikit wang hutang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan ketika itu pula tengah terjadinya kemarau panjang.

Akhirnya si bodoh berjaya juga menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.”

“Apa, ya?” tanya si bodoh dalam hati. “Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?” Setelah berfikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawapannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi wang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk. “Tuanku, memberikan wang ini kepada kalian,” katanya.

Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan. Ketika si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. “Benar-benar bodoh,” keluhnya.

Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; perubahan pemimpin kerana pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh miskin dan melarat. Dia terpaksa meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.

“Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mahu berbaik hati menolongku?” tanya sang tuan.

“Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,” jawab si bodoh. “Tuan berpesan agar wang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berfikir, tuan sudah memiliki segalanya. Satu-satunya hal yang belum tuan punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membahagikan wang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.”

Semoga orang-orang yang punya kekayaan dan pengaruh dapat belajar dari kisah tadi bahawa kekayaan dan pengaruh baru akan sangat berguna kalau dipergunakan untuk menebar cinta kasih.

“Nama baik lebih berharga dari pada kekayaan besar, dan dikasihi orang lebih baik dari pada perak dan emas.”
kuontai
09-06-2007, 09:22 AM
Aku meminta kepada Tuhan untuk menyingkirkan penderitaanku. Tuhan menjawab,
Tidak. Itu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi agar kau mengalahkannya.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menyempurnakan kecacatanku.
Tuhan menjawab, Tidak. Jiwa adalah sempurna, badan hanyalah sementara.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menghadiahkanku kesabaran.
Tuhan menjawab, Tidak. Kesabaran adalah hasil dari kesulitan; itu tidak dihadiahkan, itu harus dipelajari.

Aku meminta kepada Tuhan untuk memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, Tidak. Aku memberimu berkat. Kebahagiaan adalah tergantung padamu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menjauhkan penderitaan.
Tuhan menjawab, Tidak. Penderitaan menjauhkanmu dari perhatian duniawi dan membawamu mendekat padaKu.

Aku meminta kepada Tuhan untuk menumbuhkan rohku.
Tuhan menjawab, Tidak. Kau harus menumbuhkannya sendiri, tetapi Aku akan memangkas untuk membuatmu berbuah.

Aku meminta kepada Tuhan segala hal sehingga aku dapat menikmati hidup.
Tuhan menjawab, Tidak. Aku akan memberimu hidup, sehingga kau dapat menikmati segala hal.

Aku meminta kepada Tuhan membantuku mengasihi orang lain, seperti Ia mengasihiku.
Tuhanmenjawab.., akhirnya kau mengerti. HARI INI ADALAH MILIKMU JANGAN SIA-SIAKAN. Bagi dunia kamu mungkin hanyalah seseorang, Tetapi bagi seseorang kamu adalah dunianya.
kuontai
09-06-2007, 09:23 AM
Sebuah kapal karam diterjang badai hebat. Hanya dua lelaki yang dapat menyelamatkan diri dan berenang ke pulau kecil yang gersang. Dua orang yang selamat itu tak tahu apa yang harus dilakukan kecuali berdoa. Untuk mengetahui doa siapakah yang paling dikabulkan, mereka sepakat pergi ke daerah berasingan dan mereka tinggal berjauhan.

Doa pertama, mereka memohon diturunkan makanan. Esok harinya, lelaki pertama melihat sebuah pohon penuh buah-buahan tumbuh di sisi tempat tinggalnya. Sedangkan di daerah tempat tinggal lelaki yang lainnya tetap kosong.

Seminggu kemudian. Lelaki pertama merasa kesepian dan memutuskan berdoa agar diberikan isteri, keesokan harinya, ada kapal karam dan satu-satunya penumpang yang selamat adalah seorang wanita yang terdampar di sisi pulau tepat lelaki pertama tinggal. Sedangkan di sisi tempat tinggal lelaki ke dua tetap saja tidak ada apa-apa.

Segera saja, lelaki pertama ini berdoa memohon rumah, pakaian dan makanan. Keesokan harinya, seperti keajaiban, semua yang diminta hadir untuknya. Sedangkan lelaki yang kedua tetap saja tidak mendapatkan apa-apa.

Akhirnya, lelaki pertama ini berdoa meminta kapal agar ia dan isterinya dapat meninggalkan pulau itu.

Pagi siang hari mereka menemui kapal tertambat di sisi pantainya. Segera saja lelaki pertama dan isterinya naik ke atas kapal dan siap-siap berlayar meninggalkan pulau itu. Ia pun memutuskan meninggalkan lelaki kedua yang tinggal di sisi lain pulau. Menurutnya lelaki kedua itu tidak pantas menerima keajaiban tersebut kerana doa-doanya tak pernah terkabulkan.

Apabila kapal siap berangkat, lelaki pertama mendengar suara dari langit, “Hai. Mengapa engkau meninggalkan rakanmu yang ada di sisi lain pulau ini?”

“Berkatku hanyalah milikku sendiri, hanya kerana doakulah yang dikabulkan,” jawab lelaki pertama.

“Doa temanku itu tak satupun dikabulkan. Maka ia tak pantas mendapatkan apa-apa,”

“Kau salah!” suara itu bertempik.

“Tahukah kau bahwa rakanmu itu hanya memiliki satu doa. Dan semua doanya terkabulkan. Bila tidak, maka kau takkan mendapatkan apa-apa.”

Lelaki pertama bertanya, “Doa macam apa yang dia panjatkan sehingga aku harus berhutang atas semua ini padanya?”

“Dia berdoa agar semua doamu dikabulkan”

Kesombongan macam apakah yang membuat kita merasa lebih baik dari yang lain? Banyak orang yang telah mengorbankan segalanya demi kebahagiaan kita. Tak selayaknya kita mengabaikan peranan orang lain, dan janganlah menilai sesuatu hanya dari “yang terlihat” saja.
kuontai
12-06-2007, 09:45 AM
Toshinobu Kubota yang biasanya dipanggil Shinji terpaksa meninggalkan keluarganya utk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. “Di sini keadaannya amat sukar. Kau adalaah harapan kami” kata si ayah sambil memeluk anak lelakinya itu sambil mengucapkan selamat tinggal.

Shinji menaiki kapal Atlantik yang menawarkan pengangkutan percuma kepada para pemuda yang mahu bekerja sebagai buruh penyodok arang batu sebagai imbalan kos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemui emas di pergunungan Colorado, keluarganya akan menyusul. Berbulan lamanya Shinji mengerjakan tanahnya tanpa kenal lelah. Emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang tidak seberapa tetapi teratur.

Setiap hari ketika pulang ke pondoknya, Shinji sangat teringin disambut oleh Asaka Matsutoya, gadis yang diam-diam diminatinya di kampung. Sepanjang ingatannya keluarga mereka sudah lama saling mengenali dan sepanjang itulah dia menyimpan hasrat untuk memperisterikan Asaka. Senyumnya yang menawan membuatnya menjadi puteri keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.

Setiap malam sebelum tidur di kabinnya, Shinji ingin sekali membelai rambut ikal panjang Asaka yang perang kemerah-merahan itu. Akhirnya dia mengirim surat kepada ayahandanya untuk merealisasikan impiannya itu. Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang membawa berita. Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan puterinya kepada Shinji di Amerika.

Anak perempuannya itu akan bekerjasama dengan Shinji dan membantunya mengembangkan bisnes perlombongan emas. Diharapkan selepas setahun, keluarga masing-masing akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri majlis pernikahan mereka. Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubahsuai pondoknya menjadi tempat tinggal yang lebih sempurna.

Dia membeli katil sederhana untuk tempat tidurnya di ruang tamu dan menata kamar tidurnya agar sesuai untuk seorang wanita. Langsir dari bekas karung guni diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung gandum. Di meja sisi tempat tidur, dia meletakkan pasu berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.

Akhirnya, hari yang dinanti telah kunjung tiba. Dengan membawa seikat bunga daisi segar yang baru dipetiknya, di pergi ke stesen keretapi. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika keretapi mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harapan sebelum tersentak kemudiannya. Bukan Asaaka, tetapi Yumi Matsutoya, kakaknya yang turun dari keretapi.

Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya mampu memandang terpana. Kemudian dengan tangan gementar dihulurkan jambangan bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang” katanya perlahan-lahan sambil matanya menatap nanar. Senyum tipis menghiasi wajah Yumi yang tidak cantik.

“Aku senang ketika ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini” kata Yumi.

“Ayuh! Aku akan membawa begmu” kata Shinji dengan senyum terpaksa, bersama-sama mereka menuju kereta kuda.

Sementara Shinji bekerja di lombong, Yumi mencatat semua kegiatan di lombong. Dalam tempoh enam bulan, aset mereka telah meningkat sekali ganda. Masakannya yang lazat dan senyumannya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.

“Tetapi bukan wanita ini yang aku inginkan” keluh Shinji di dalam hati, setiap malam sebelum tidur dengan seribu rasa susah hati di ruang tamu.

Setahun lamanya Shinji dan Yumi bekerja, bermain dan tertawa bersama, tetapi tidak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk ke kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi hanya mampu berpuas hati dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pergunungan atau sekadar berbual di beranda setelah makan malam.

Pada suatu petang di musim bunga, hujan deras menyirami punggung bukit, membuat jalan masuk ke lombong mereka ditenggelami air. Shinji mengisi karung-karung pasir untuk dijadikan benteng. Badannya basah kuyup tetapi usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegang karung guni yang terbuka. Shinji mencedok dan memasukkan pasir ke dalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tepi lalu membuka karung yang lain.

Berjam-jam bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok. Sambil menikmati sup panas, Shinji berterima kasih kepada Yumi. “Aku takkan dapat menyelamatkan lombong itu tanpamu”

“Sama-sama” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, Shinji menerima sepucuk surat yang menyatakan keluarga Matsuyo dan keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menyembunyikannya, namun jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dahulu kerana akan bertemu lagi dengan Asaka. Ketika Asaka muncul di hujung platformnya, Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia” katanya. Shinji berasa kaget, “Apa maksudmu?”

“Shinji, sudah lama aku tahu bahawa aku bukan puteri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka pada pesta bunga nan lalu.”katanya. Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahawa dia bukan aku, yang kau inginkan menjadi isterimu..”

“Tapi…” Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji.
“Syy..” bisiknya “Aku mencintaimu Shinji. Aku selalu mencintaimu. Kerana itu, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku,” Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi mendongakkan mukanya, utk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu.

Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan unggun api, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyedari, apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan tidak disedarinya.

“Tidak, Yumi. Dikaulah yang kuinginkan”

Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengucup dahinya dengan cinta yang tiba-tiba membara di dalam dadanya. Keluarga mereka berkerumun dan berseru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!” Cinta sejati tidak akan berakhir dengan penamat yang menggembirakan kerana cinta yang tulus dan suci itu sesungguhnya tidak akan pernah berakhir.
kuontai
12-06-2007, 09:46 AM
“Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?” tanya Dara.
“Sudah pasti kamu!” balas Jejaka.
“Pada pandangan kamu, aku ini siapa?” tanya Dara lagi.

Jejaka diam sejenak, berfikir, lalu menatap Dara dengan tenang dan berkata, “Kamu adalah tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahawa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua lelaki mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, dia tidak lagi merasakan sakit di hati.”

Mereka kemudiannya bernikah dan melalui masa-masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain.

Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara membentak, “Kamu tak cintakan aku lagi!”

Jejaka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan membalas, “Aku juga menyesal menikah dengan kamu! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!”

Dara terkedu, berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Dia menatap Jejaka, seakan tak percaya dengan apa yang telah didengarnya tadi. Jejaka pula menyesal dengan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk ditarik kembali. Dengan linangan air mata, Dara mengemas barang-barangnya, bertekad untuk berpisah.

“Jika aku bukan tulang rusukmu, aku akan pergi! Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”

Lima tahun berlalu…

Jejaka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari khabar tentang kehidupan Dara. Khabarnya Dara pernah menikah dengan seseorang selepas itu, tetapi jodohnya tidak panjang juga. Jejaka yang tahu semua tentang Dara, merasa kecewa kerana dia tak pernah diberi kesempatan untuk kembali. Dara tak pernah menunggunya.

Suatu malam yang sunyi, saat Jejaka menghirup secawan kopi panas, dia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahawa dia merindukan Dara. Ditakdirkan mereka bertemu kembali secara tidak sengaja.

“Kamu apa khabar?” tanya Jejaka.

“Baik-baik saja. Hmm, apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?” tanya Dara spontan.

“Belum,” jawab Jejaka sepatah.

“Aku akan ke luar negara esok. Mungkin akan pulang dua minggu lagi,” beritahu Dara.

“Telefon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nombor telefon rumah kita, bukan? Masih tidak berubah. Dan, tak akan ada yang berubah,” kata Jejaka. 

Dara tersenyum kemudian berlalu.

Seminggu kemudian, Jejaka mendengar khabar bahawa Dara mengalami kemalangan, dan meninggal. 

Malam itu, sekali lagi, Jejaka menghirup kopi panas dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sedar bahawa sakit itu adalah kerana Dara - tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan
kuontai
14-06-2007, 09:48 AM
Seorang wanita bertanya kepada seorang pemuda tentang cinta dan harapan. Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pemuda berkata ingin menjadi matahari. Wanita tidak mengerti kenapa pemuda ingin menjadi matahari, bukan kupu-kupu atau kumbang yang terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan tetapi pemuda tetap ingin menjadi matahari. Wanita semakin bingung kerana matahari dan bulan takkan boleh bertemu, tetapi pemuda tetap ingin menjadi matahari. Wanita berkata ingin menjadi burung yang mampu terbang ke langit jauh di atas matahari dan pemuda berkata ia akan selalu menjadi matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah 3 kali menduga namun pemuda tetap keras kepala, ingin menjadi matahari tanpa mahu ikut berubah bersama wanita. Maka wanita itu pun beredar pergi dengan rasa kecewa dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa matahari juga menjadi pilihan pemuda. Sang pemuda merenung sendiri dan menatap matahari.

Saat wanita menjadi bunga, pemuda ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarannya kepada bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan akhirnya rama-rama yang akan menari bersama bunga. Ini disebut kasih iaitu memberi tanpa syarat, tanpa mengharapkan imbuhan dan balasan.

Saat wanita menjadi bulan, pemuda tetap menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat akan matahari? Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak berupaya menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut.

Ini dinamakan pengorbanan, menyakitkan namun sangat layak untuk cinta. Dan saat wanita jadi burung yang dapat terbang tinggi jauh ke langit, bahkan di atas matahari, pemuda tetap selalu jadi matahari agar burung tetap bebas untuk pergi pada bila-bila masa pun yang ia mahu dan matahari tidak akan mencegahnya. Matahari rela melepaskan burung untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk burung.

Matahari selalu ada untuk burung bila-bila pun ia mahu kembali walau burung tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain burung yang berupaya masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya. Ini disebut sebagai kesetiaan, walaupun ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan tegar untuk memaafkan. Pemuda tidak pernah menyesal menjadi matahari untuk wanita yang dicintainya….
kuontai
14-06-2007, 09:49 AM
Toshinobu Kubota yang biasanya dipanggil Shinji terpaksa meninggalkan keluarganya utk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. “Di sini keadaannya amat sukar. Kau adalaah harapan kami” kata si ayah sambil memeluk anak lelakinya itu sambil mengucapkan selamat tinggal.

Shinji menaiki kapal Atlantik yang menawarkan pengangkutan percuma kepada para pemuda yang mahu bekerja sebagai buruh penyodok arang batu sebagai imbalan kos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemui emas di pergunungan Colorado, keluarganya akan menyusul. Berbulan lamanya Shinji mengerjakan tanahnya tanpa kenal lelah. Emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang tidak seberapa tetapi teratur.

Setiap hari ketika pulang ke pondoknya, Shinji sangat teringin disambut oleh Asaka Matsutoya, gadis yang diam-diam diminatinya di kampung. Sepanjang ingatannya keluarga mereka sudah lama saling mengenali dan sepanjang itulah dia menyimpan hasrat untuk memperisterikan Asaka. Senyumnya yang menawan membuatnya menjadi puteri keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.

Setiap malam sebelum tidur di kabinnya, Shinji ingin sekali membelai rambut ikal panjang Asaka yang perang kemerah-merahan itu. Akhirnya dia mengirim surat kepada ayahandanya untuk merealisasikan impiannya itu. Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang membawa berita. Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan puterinya kepada Shinji di Amerika.

Anak perempuannya itu akan bekerjasama dengan Shinji dan membantunya mengembangkan bisnes perlombongan emas. Diharapkan selepas setahun, keluarga masing-masing akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri majlis pernikahan mereka. Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubahsuai pondoknya menjadi tempat tinggal yang lebih sempurna.

Dia membeli katil sederhana untuk tempat tidurnya di ruang tamu dan menata kamar tidurnya agar sesuai untuk seorang wanita. Langsir dari bekas karung guni diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung gandum. Di meja sisi tempat tidur, dia meletakkan pasu berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.

Akhirnya, hari yang dinanti telah kunjung tiba. Dengan membawa seikat bunga daisi segar yang baru dipetiknya, di pergi ke stesen keretapi. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika keretapi mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harapan sebelum tersentak kemudiannya. Bukan Asaaka, tetapi Yumi Matsutoya, kakaknya yang turun dari keretapi.

Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya mampu memandang terpana. Kemudian dengan tangan gementar dihulurkan jambangan bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang” katanya perlahan-lahan sambil matanya menatap nanar. Senyum tipis menghiasi wajah Yumi yang tidak cantik.

“Aku senang ketika ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini” kata Yumi.

“Ayuh! Aku akan membawa begmu” kata Shinji dengan senyum terpaksa, bersama-sama mereka menuju kereta kuda.

Sementara Shinji bekerja di lombong, Yumi mencatat semua kegiatan di lombong. Dalam tempoh enam bulan, aset mereka telah meningkat sekali ganda. Masakannya yang lazat dan senyumannya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.

“Tetapi bukan wanita ini yang aku inginkan” keluh Shinji di dalam hati, setiap malam sebelum tidur dengan seribu rasa susah hati di ruang tamu.

Setahun lamanya Shinji dan Yumi bekerja, bermain dan tertawa bersama, tetapi tidak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk ke kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi hanya mampu berpuas hati dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pergunungan atau sekadar berbual di beranda setelah makan malam.

Pada suatu petang di musim bunga, hujan deras menyirami punggung bukit, membuat jalan masuk ke lombong mereka ditenggelami air. Shinji mengisi karung-karung pasir untuk dijadikan benteng. Badannya basah kuyup tetapi usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegang karung guni yang terbuka. Shinji mencedok dan memasukkan pasir ke dalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tepi lalu membuka karung yang lain.

Berjam-jam bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok. Sambil menikmati sup panas, Shinji berterima kasih kepada Yumi. “Aku takkan dapat menyelamatkan lombong itu tanpamu”

“Sama-sama” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, Shinji menerima sepucuk surat yang menyatakan keluarga Matsuyo dan keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menyembunyikannya, namun jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dahulu kerana akan bertemu lagi dengan Asaka. Ketika Asaka muncul di hujung platformnya, Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia” katanya. Shinji berasa kaget, “Apa maksudmu?”

“Shinji, sudah lama aku tahu bahawa aku bukan puteri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka pada pesta bunga nan lalu.”katanya. Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahawa dia bukan aku, yang kau inginkan menjadi isterimu..”

“Tapi…” Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji.
“Syy..” bisiknya “Aku mencintaimu Shinji. Aku selalu mencintaimu. Kerana itu, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku,” Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi mendongakkan mukanya, utk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu.

Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan unggun api, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyedari, apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan tidak disedarinya.

“Tidak, Yumi. Dikaulah yang kuinginkan”

Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengucup dahinya dengan cinta yang tiba-tiba membara di dalam dadanya. Keluarga mereka berkerumun dan berseru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!” Cinta sejati tidak akan berakhir dengan penamat yang menggembirakan kerana cinta yang tulus dan suci itu sesungguhnya tidak akan pernah berakhir.
kuontai
20-06-2007, 11:54 AM
Seorang wanita bertanya kepada seorang pemuda tentang cinta dan harapan. Wanita berkata ingin menjadi bunga terindah di dunia dan pemuda berkata ingin menjadi matahari. Wanita tidak mengerti kenapa pemuda ingin menjadi matahari, bukan kupu-kupu atau kumbang yang terus menemani bunga.

Wanita berkata ingin menjadi rembulan tetapi pemuda tetap ingin menjadi matahari. Wanita semakin bingung kerana matahari dan bulan takkan boleh bertemu, tetapi pemuda tetap ingin menjadi matahari. Wanita berkata ingin menjadi burung yang mampu terbang ke langit jauh di atas matahari dan pemuda berkata ia akan selalu menjadi matahari.

Wanita tersenyum pahit dan kecewa. Wanita sudah 3 kali menduga namun pemuda tetap keras kepala, ingin menjadi matahari tanpa mahu ikut berubah bersama wanita. Maka wanita itu pun beredar pergi dengan rasa kecewa dan tak pernah lagi kembali tanpa pernah tahu alasan kenapa matahari juga menjadi pilihan pemuda. Sang pemuda merenung sendiri dan menatap matahari.

Saat wanita menjadi bunga, pemuda ingin menjadi matahari agar bunga dapat terus hidup. Matahari akan memberikan semua sinarannya kepada bunga agar ia tumbuh, berkembang dan terus hidup sebagai bunga yang cantik. Walau matahari tahu ia hanya dapat memandang dari jauh dan akhirnya rama-rama yang akan menari bersama bunga. Ini disebut kasih iaitu memberi tanpa syarat, tanpa mengharapkan imbuhan dan balasan.

Saat wanita menjadi bulan, pemuda tetap menjadi matahari agar bulan dapat terus bersinar indah dan dikagumi. Cahaya bulan yang indah hanyalah pantulan cahaya matahari, tetapi saat semua makhluk mengagumi bulan siapakah yang ingat akan matahari? Matahari rela memberikan cahayanya untuk bulan walaupun ia sendiri tidak berupaya menikmati cahaya bulan, dilupakan jasanya dan kehilangan kemuliaannya sebagai pemberi cahaya agar bulan mendapatkan kemuliaan tersebut.

Ini dinamakan pengorbanan, menyakitkan namun sangat layak untuk cinta. Dan saat wanita jadi burung yang dapat terbang tinggi jauh ke langit, bahkan di atas matahari, pemuda tetap selalu jadi matahari agar burung tetap bebas untuk pergi pada bila-bila masa pun yang ia mahu dan matahari tidak akan mencegahnya. Matahari rela melepaskan burung untuk pergi jauh, namun matahari akan selalu menyimpan cinta yang membara di dalam hatinya hanya untuk burung.

Matahari selalu ada untuk burung bila-bila pun ia mahu kembali walau burung tidak selalu ada untuk matahari. Tidak akan ada makhluk lain selain burung yang berupaya masuk ke dalam matahari dan mendapatkan cintanya. Ini disebut sebagai kesetiaan, walaupun ditinggal pergi dan dikhianati namun tetap menanti dan tegar untuk memaafkan. Pemuda tidak pernah menyesal menjadi matahari untuk wanita yang dicintainya….
kuontai
20-06-2007, 04:23 PM
Lelaki tua itu semakin lemah. Kodratnya sudah tiada. Segala sendinya kejang dan lemah. Penyakit demi penyakit bersarang ditubuhnya membuatkan lelaki tua itu tidak mampu lagi untuk berdiri. Setiap hari yang termampu dilakukan hanyalah berbaring dan membilang baki hari yang akan dilaluinya.

Keadaan lelaki tua itu menjengkelkan anaknya. Anak muda itu mengeluh kerana setiap hari sejak beberapa bulan bapanya terlantar, hanya dia seorang sahaja terpaksa berladang dan menjaga binatang-binatang ternakan.

Penat berladang, pulang ke rumah dia terpaksa pula memasak, membasuh, mengemas rumah serta membantu bapanya yang tidak mampu menguruskan diri sendiri. Paling dibenci anak muda itu ialah mengurus kencing berak bapanya, lantaran si ibu sudah beberapa tahun meninggal dunia.

“Ah! Tak guna langsung, menyusahkan saja…” Keluh si anak yang tidak sanggup lagi menanggung beban menguruskan ayahnya. Kesabarannya hilang. Dia tidak mahu menggalas beban itu lebih lama lagi.

Suatu hari si anak membuat satu keranda daripada kayu dan membawanya balik ke rumah. Ketika itu ayahnya sedang tidur. Tanpa melengahkan masa anak muda itu terus mengheret keranda ke bahagian anjung tempat ayahnya sedang berbaring. Perlahan-lahan tubuh tua ayahnya diangkat dan diletakkan ke dalam keranda kayu. Kemudian, ditutupnya keranda itu.

Anak muda itu mengheret keranda tersebut sehinggalah ke tebing sebuah gaung yang dalam dan dipenuhi bongkah batu. Segala-galanya akan berakhir sebentar lagi. Tetapi sewaktu hendak menolak keranda itu ke dalam tebing gaung, tiba-tiba dia terdengar bunyi ketukan yang lemah dari dalam keranda.

Lalu anak muda itu membukanya. Dalam keadaan terbaring lemah, lelaki tua memandang tepat ke dalam mata anaknya. “Ayah tau kau nak tolak ayah dari tebing ini..”Begitu payah si bapa mengeluarkan suaranya.

“Boleh..kau boleh lakukannya tapi…ayah ada satu permintaan..” Sambung lelaki tua itu dengan suara tersekat-sekat menahan sebak di dada. Si anak mengangguk, menyuruh bapanya meneruskan kata-kata.

“Kau boleh tolak ayah dari sini jika kau mahu..tapi simpanlah keranda ini baik-baik sebab anakmu juga akan memerlukan keranda ini suatu masa nanti…” sambung si bapa.
kuontai
27-06-2007, 08:48 PM
Suatu malam tiga orang pengembara memacu kuda merentasi padang pasir. Ketika melintasi sebatang sungai yang kering kontang, para pengembara itu terdengar suatu suara mengarahkan mereka berhenti.

Mereka patuh pada arahan itu. Suara itu kemudian menyuruh mereka turun dari kuda dan mengutip batu-batu yang terdapat di dasar sungai. Ketiga-tiga pengembara mengagau di dalam gelap mengutip batu-batu kerikil dan memasukkannya ke dalam poket.

Suara misteri itu seterusnya berkata, “Kamu telah ikut arahan aku. Esok kamu akan berasa gembira dan juga sesal. Sekarang tinggalkan tempat ini”

Ketiga-tiga pengembara memacu kuda mereka hingga ke hujung padang pasir. Apabila matahari memancar keesokkannya, pengembara-pengembara itu menyeluk poket masing-masing. Alangkah terkejutnya mereka, batu-batu yang mereka kutip malam tadi telah berubah menjadi batu permata berharga!

Seketika itu juga mereka teringat pada amaran yang dikeluarkan oleh suara tersebut, “Kamu akan gembira dan kesal”. Betul, mereka gembira kerana mendapat batu permata tapi kesal kerana tidak mengambil lebih banyak lagi.

Begitulah manusia, mereka memang tidak pernah puas dengan apa yang dimiliki.
birru
27-06-2007, 11:09 PM
Keren Abis Bro............
kuontai
07-07-2007, 09:51 AM
Sudah beberapa jam si pengembara berjalan kaki memerhatikan pemandangan indah musim bunga di kawasan perkampungan itu. Bunga-bungaan sedang mekar, unggas dan serangga yang berterbangan ke sana dan serata halaman rumah yang cantik dihiasi kuntuman bunga amat menarik perhatian pengembara muda itu.

Tetapi perjalanan yang jauh dan matahari yang sedang terik menyebabkan pemuda yang cintakan keindahan alam itu mula berasa letih. Tekaknya kering, sedangkan pengembaraannya masih panjang lagi.

Lantas pemuda itu memutuskan untuk pergi ke sebuah rumah kecil di sebuah ladang di tepi jalan yang sedang disusurinya itu. Seorang budak perempuan membuka pintu rumah yang diketuknya tadi. Wajahnya comel.

Pemuda itu menceritakan yang dirinya kehausan, dia berharap budak perempuan itu dapat memberikannya segelas air. Budak perempuan itu bergegas ke dapur dan sebentar kemudian kembali mendapatkan pemuda tersebut.

Dia bukan membawa segelas air, sebaliknya segelas susu kerana dia tahu pemuda tersebut bukan sekadar dahaga tetapi juga memerlukan tenaga untuk meneruskan pengembaraannya.

“Berapa harga susu ini?” tanya pemuda itu selepas menghabiskan susu tersebut.

Jawab budak perempuan itu, “Oh, percuma! Tak perlu bayar. Emak dan ayah telah mengajar saya supaya jangan meminta sebarang balasan terhadap apa juga kebaikan yang kita lakukan”

Pengembaramuda itu tersentuh hati dengan jawapan tersebut. “Kalau begitu, saya hanya dapat mengucapkan terima kasih sahaja,”kata pemuda tersebut, disambut oleh budak perempuan itu dengan senyuman dan anggukan.

Sifat mulia budak perempuan itu memberikan kesan yang mendalam kepada pemuda yang berkenaan. Kejujuran budak itu dan keengganannya menerima sebarang bayaran, walaupun dirinya sendiri miskin, sering saja bermain dalam fikiran pemuda tersebut.

Tahun berganti, budak perempuan itu yang kini berusia 20-an, diserang penyakit kronik. Dia dihantar ke sebuah hospital terkenal di tengah kota untuk diperiksa oleh doktor pakar dan seterusnya menjalani pembedahan. Seorang doktor dipanggil.

Sejurus melihat wajah gadis itu dan alamat tempat tinggalnya, doktor itu segera terkenang saat dia meneguk segelas susu suatu ketika dahulu. Tidak lain tidak bukan, inilah budak perempuan yang pernah memberinya segelas susu dan kemudiannya berkata,” Emak dan ayah telah mengajar saya supaya jangan meminta sebarang balasan terhadap apa juga kebaikan yang kita lakukan,”

Kini masanya untuk membalas jasa. Doktor itu melakukan segala yang terdaya untuk menyelamatkan gadis tersebut. Si gadis ditempatkan di wad untuk beberapa lama. Pembedahan dilakukan dan penyakit si gadis berjaya diubati.

Kini bayaran perlu dikenakan kepadanya. Bil rawatan ditunjukkan kepada doktor itu untuk pengesahan. Doktor tersebut menyelaknya sehelai demi sehelai. Dia memerhatikan setiap angka yang tercatat pada bil tersebut, kemudian menulis sesuatu di bucu helaian terakhirnya. Setelah itu dia menurunkan tandatangannya. Bil itu dihantar ke alamat yang tertera, iaitu sebuah rumah kecil di pinggir ladang.

Gadis tersebut menggeletar sebaik menerima bil tersebut. Helaian demi helaian dibeleknya, ternyata jumlahnya terlalu besar. Dia tidak mampu membayarnya. Walau si gadis bekerja sepanjang hayat sekalipun, belum tentu dia dapat membayar bil yang dikenakan itu.

Jumlah-jumlah yang menakutkan terus terpapar, hinggalah ke helaian terakhir apabila si gadis membaca satu catatan ringkas di bucunya. Tulisan itu berbunyi…

“Bayarlah dengan segelas susu..”
kuontai
07-07-2007, 09:57 AM
Toshinobu Kubota yang biasanya dipanggil Shinji terpaksa meninggalkan keluarganya utk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. “Di sini keadaannya amat sukar. Kau adalaah harapan kami” kata si ayah sambil memeluk anak lelakinya itu sambil mengucapkan selamat tinggal.

Shinji menaiki kapal Atlantik yang menawarkan pengangkutan percuma kepada para pemuda yang mahu bekerja sebagai buruh penyodok arang batu sebagai imbalan kos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemui emas di pergunungan Colorado, keluarganya akan menyusul. Berbulan lamanya Shinji mengerjakan tanahnya tanpa kenal lelah. Emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang tidak seberapa tetapi teratur.

Setiap hari ketika pulang ke pondoknya, Shinji sangat teringin disambut oleh Asaka Matsutoya, gadis yang diam-diam diminatinya di kampung. Sepanjang ingatannya keluarga mereka sudah lama saling mengenali dan sepanjang itulah dia menyimpan hasrat untuk memperisterikan Asaka. Senyumnya yang menawan membuatnya menjadi puteri keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.

Setiap malam sebelum tidur di kabinnya, Shinji ingin sekali membelai rambut ikal panjang Asaka yang perang kemerah-merahan itu. Akhirnya dia mengirim surat kepada ayahandanya untuk merealisasikan impiannya itu. Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang membawa berita. Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan puterinya kepada Shinji di Amerika.

Anak perempuannya itu akan bekerjasama dengan Shinji dan membantunya mengembangkan bisnes perlombongan emas. Diharapkan selepas setahun, keluarga masing-masing akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri majlis pernikahan mereka. Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk mengubahsuai pondoknya menjadi tempat tinggal yang lebih sempurna.

Dia membeli katil sederhana untuk tempat tidurnya di ruang tamu dan menata kamar tidurnya agar sesuai untuk seorang wanita. Langsir dari bekas karung guni diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung gandum. Di meja sisi tempat tidur, dia meletakkan pasu berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.

Akhirnya, hari yang dinanti telah kunjung tiba. Dengan membawa seikat bunga daisi segar yang baru dipetiknya, di pergi ke stesen keretapi. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika keretapi mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harapan sebelum tersentak kemudiannya. Bukan Asaaka, tetapi Yumi Matsutoya, kakaknya yang turun dari keretapi.

Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya mampu memandang terpana. Kemudian dengan tangan gementar dihulurkan jambangan bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang” katanya perlahan-lahan sambil matanya menatap nanar. Senyum tipis menghiasi wajah Yumi yang tidak cantik.

“Aku senang ketika ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini” kata Yumi.

“Ayuh! Aku akan membawa begmu” kata Shinji dengan senyum terpaksa, bersama-sama mereka menuju kereta kuda.

Sementara Shinji bekerja di lombong, Yumi mencatat semua kegiatan di lombong. Dalam tempoh enam bulan, aset mereka telah meningkat sekali ganda. Masakannya yang lazat dan senyumannya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.

“Tetapi bukan wanita ini yang aku inginkan” keluh Shinji di dalam hati, setiap malam sebelum tidur dengan seribu rasa susah hati di ruang tamu.

Setahun lamanya Shinji dan Yumi bekerja, bermain dan tertawa bersama, tetapi tidak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk ke kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi hanya mampu berpuas hati dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pergunungan atau sekadar berbual di beranda setelah makan malam.

Pada suatu petang di musim bunga, hujan deras menyirami punggung bukit, membuat jalan masuk ke lombong mereka ditenggelami air. Shinji mengisi karung-karung pasir untuk dijadikan benteng. Badannya basah kuyup tetapi usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegang karung guni yang terbuka. Shinji mencedok dan memasukkan pasir ke dalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tepi lalu membuka karung yang lain.

Berjam-jam bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok. Sambil menikmati sup panas, Shinji berterima kasih kepada Yumi. “Aku takkan dapat menyelamatkan lombong itu tanpamu”

“Sama-sama” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, Shinji menerima sepucuk surat yang menyatakan keluarga Matsuyo dan keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menyembunyikannya, namun jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dahulu kerana akan bertemu lagi dengan Asaka. Ketika Asaka muncul di hujung platformnya, Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia” katanya. Shinji berasa kaget, “Apa maksudmu?”

“Shinji, sudah lama aku tahu bahawa aku bukan puteri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka pada pesta bunga nan lalu.”katanya. Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahawa dia bukan aku, yang kau inginkan menjadi isterimu..”

“Tapi…” Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji.
“Syy..” bisiknya “Aku mencintaimu Shinji. Aku selalu mencintaimu. Kerana itu, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku,” Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi mendongakkan mukanya, utk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu.

Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan unggun api, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyedari, apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan tidak disedarinya.

“Tidak, Yumi. Dikaulah yang kuinginkan”

Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengucup dahinya dengan cinta yang tiba-tiba membara di dalam dadanya. Keluarga mereka berkerumun dan berseru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!” Cinta sejati tidak akan berakhir dengan penamat yang menggembirakan kerana cinta yang tulus dan suci itu sesungguhnya tidak akan pernah berakhir.
kuontai
14-07-2007, 11:16 AM
Sudah beberapa jam si pengembara berjalan kaki memerhatikan pemandangan indah musim bunga di kawasan perkampungan itu. Bunga-bungaan sedang mekar, unggas dan serangga yang berterbangan ke sana dan serata halaman rumah yang cantik dihiasi kuntuman bunga amat menarik perhatian pengembara muda itu.

Tetapi perjalanan yang jauh dan matahari yang sedang terik menyebabkan pemuda yang cintakan keindahan alam itu mulai terasa letih. Tenggorokannya kering, sedangkan pengembaraannya masih panjang lagi.

Lantas pemuda itu memutuskan untuk pergi ke sebuah rumah kecil di sebuah ladang di tepi jalan yang sedang disusurinya itu. Seorang perempuan membuka pintu rumah yang diketuknya tadi. Wajahnya lusuh dan dekil.

Pemuda itu menceritakan yang dirinya kehausan, dia berharap perempuan itu dapat memberikannya segelas air. Perempuan itu bergegas ke dapur dan sebentar kemudian kembali mendapatkan pemuda tersebut.

Dia bukan membawa segelas air, sebaliknya segelas susu kerana dia tahu pemuda tersebut bukan sekadar dahaga tetapi juga memerlukan tenaga untuk meneruskan pengembaraannya.

“Berapa harga susu ini?” tanya pemuda itu selepas menghabiskan susu tersebut.

Jawab perempuan itu, “Oh, tak perlu bayar. Ibu dan ayah telah mengajar saya supaya jangan meminta sebarang balasan terhadap apa juga kebaikan yang kita lakukan”

Pengembara muda itu tersentuh hati dengan jawapan tersebut. “Kalau begitu, saya hanya dapat mengucapkan terima kasih sahaja,”kata pemuda tersebut, disambut oleh perempuan itu dengan senyuman dan anggukan.

Sifat mulia perempuan itu memberikan kesan yang mendalam kepada pemuda yang berkenaan. Kejujuran budak itu dan keengganannya menerima sebarang bayaran, walaupun dirinya sendiri miskin, sering saja bermain dalam fikiran pemuda tersebut.

Tahun berganti, perempuan itu yang kini berusia 20-an, diserang penyakit kronik. Dia dihantar ke sebuah hospital terkenal di tengah kota untuk diperiksa oleh doktor pakar dan seterusnya menjalani pembedahan. Seorang doktor dipanggil.

Sejurus melihat wajah gadis itu dan alamat tempat tinggalnya, doktor itu segera terkenang saat dia meneguk segelas susu suatu ketika dahulu. Tidak lain tidak bukan, inilah perempuan yang pernah memberinya segelas susu dan kemudiannya berkata,” Ibu dan ayah telah mengajar saya supaya jangan meminta sebarang balasan terhadap apa juga kebaikan yang kita lakukan,”

Kini masanya untuk membalas jasa. Doktor itu melakukan segala yang terdaya untuk menyelamatkan gadis tersebut. Si gadis ditempatkan di wad untuk beberapa lama. Pembedahan dilakukan dan penyakit si gadis berjaya diubati.

Kini bayaran perlu dikenakan kepadanya. Biaya perawatan ditunjukkan kepada doktor itu untuk pengesahan. Doktor tersebut membuka setiap lembar dari tagihan tersebut. Dia memerhatikan setiap angka yang tercatat pada tagihan tersebut, kemudian menulis sesuatu pada lembar terakhir dari tagihan tersebut. Setelah itu dia menurunkan tandatangannya. Tagihan itu dihantar ke alamat yang tertera, iaitu sebuah rumah kecil di pinggir ladang.

Gadis tersebut terjejut menerima tagihan tersebut. Dia tidak mampu membayarnya. Walau si gadis bekerja sepanjang hayat sekalipun, belum tentu dia dapat membayar tagihan yang dikenakan itu.

Jumlah-jumlah yang menakutkan terus terpapar, hinggalah ke lembar terakhir apabila si gadis membaca satu catatan ringkas di bucunya. Tulisan itu berbunyi…

“Bayarlah dengan segelas susu..”
kuontai
14-07-2007, 08:45 PM
Daniel termasuk orang yang menarik menurutku. Dia adalah orang yang mudah bergaul, dan memiliki banyak sahabat dalam hidupnya. 

Dia tergolong orang yang terbuka terhadap sahabatnya, dan dia sering merefleksikan perasaan yang dirasakan di dalam hatinya dalam kata katanya. 

Dia pernah berkata kepadaku bahwa persahabatan yang pernah ia jalin dengan siapapun mereka, baginya sangat berharga, dan aku merasa bahagia sewaktu dia berkata bahwa aku sangat berharga di matanya dan tidak ada orang lain yang dapat menggantikan posisiku di dalam hatinya. Aku sering merasakan perhatiannya dan kasih sayangnya kepadaku justru di waktu aku benar-benar membutuhkan orang untuk kuandalkan. 

Tapi, di samping itu, ada juga sekelompok orang yang kurang respek terhadapnya karena menurutnya Daniel adalah orang yang aneh, tidak sama dengan orang lain pada umumnya. Dia adalah orang yang sangat perasa terhadap keadaan di sekitarnya dan juga sering menyendiri. 

Menurutku mereka yang kurang menyukainya karena mereka belum mengenal Daniel sama sekali. Banyak sifatnya yang tidak akan mereka kira di balik sifat penyendirinya itu kalau suatu saat mereka mencoba untuk mengenalnya. 

Daniel memang tidak selalu mengajakku ngobrol setiap kali kita bertemu. Ada kalanya dimana dia hanya menyapaku atau hanya tersenyum kepadaku lalu pergi. Atau kadang kadang sewaktu dia sibuk, dia hanya memanggil namaku dan meneruskan kembali pekerjaannya itu. 

Tapi ada kalanya pula dia menceritakan banyak perihal mengenai dirinya kepadaku. Dia sangat senang menceritakan pengalaman dan masalah yang ada di dalam kehidupannya kepadaku, karena di situlah hubungan kami semakin terjalin erat dan di sana juga aku dan dia dapat saling lebih mengenal satu sama lain. 

Dia menceritakan semua yang dialaminya kepadaku baik itu masalah yang besar seperti masalah keadaan keluarganya yang di mana dia dilahirkan adalah keluarga yang kurang harmonis, kenapa dia menjadi orang yang senang menyendiri, ataupun kepribadian dan sifat sifat positif atau negatif yang ada di dalam dirinya yang secara tidak langsung membuat aku semakin mengenal dirinya dan kepribadiannya. 

Tapi yang sangat aku banggakan dan kagumi dari dia adalah kemauannya untuk berkorban dan menolong sahabatnya yang membutuhkannya. Dia sering meluangkan waktunya untuk sharing dengan sahabatnya yang sedang mengalami masalah dan lalu ikut mendoakan mereka, dan dia juga sering memberikan bantuan yang terkadang untuk melakukannya mengharuskan ia mengorbankan banyak uang, waktu, pikiran dan juga tenaganya. 

Sewaktu aku bertanya kenapa dia mau berbuat seperti itu, dia hanya menjawab “Rachel, semua itu aku lakukan karena persahabatan yang aku miliki dengan mereka semua termasuk dengan kamu sangat berharga buatku. Sahabatku adalah pemberian terindah dalam hidupku yang Tuhan berikan kepadaku.“ 

Pada suatu hari Daniel meneleponku dan seperti yang biasa kami lakukan, kami mengobrol di telepon dan kami akan saling menceritakan segala hal yang menarik yang kami alami di hari hari yang sudah kami lewati minggu ini. 

Tapi rupa rupanya hari ini pembicaraannya cukup aneh menurutku karena pembicaraannya seakan akan dia sudah dekat dengan kematiannya, padahal yang kutahu selama ini dia tidak menderita penyakit apapun dan tidak ada tanda tanda bahwa dia akan meninggal. 

“Rachel, kalau nanti saya meninggal, saya ingin sekali melihat siapa saja di dunia ini yang menangisi kepergian saya.. “ kata Daniel kepadaku di telepon malam itu. 

“Untuk apa?“ tanyaku sekenanya karena heran mendengar pernyataannya yang membicarakan tentang kematiannya itu. Kupikir, dia kan masih sangat muda, seumuran denganku, tentu masih banyak yang akan dia lihat dan alami di dunia ini, untuk apa membicarakan kematian? Tetapi jawaban yang diberikannya sangat menyentuh hatiku. 

“Kalau kita menangisi kepergian seseorang, berarti orang tersebut sangat berharga buat kita. Saya ingin melihat siapa saja yang menangis buat saya, dan saya akan tahu kalau saya benar-benar berharga di mata mereka semua, terlebih juga di mata Tuhan“ katanya dengan suara yang perlahan tapi sangat terdengar jelas di telingaku walaupun ada hujan yang deras pada malam hari yang sejuk itu. 

“Lalu saya ingin meminta kepada Tuhan untuk kembali ke dunia barang 5 sampai 10 menit, untuk memeluk mereka semua dan disana saya akan berkata, Terimakasih sahabatku.. air matamu memiliki makna yang sangat berharga untukku.. aku senang mengetahui kalau hidupku benar benar berharga buat kalian semua..“ 

“.....“ aku diam, mendengarkan kata katanya itu dan memikirkan maksud dia mengatakan hal itu kepadaku. 

“Apa dia akan pergi?“ pikirku dalam hati. 

Lalu Daniel melanjutkan ceritanya, “Sebelum aku pergi dari hadapan mereka, aku akan mengatakan hal ini sebagai kata-kata terakhir“ 

“Sahabatku, saat seseorang yang kamu kasihi meninggal, kamu tidak akan bisa mengatasi kesedihanmu dengan melupakannya, karena dengan melakukan demikian, kamu akan semakin sedih dan semakin sulit untuk mengatasi kesedihanmu, tetapi kamu bisa mengatasi kesedihan yang kamu alami dengan tetap mengingatnya dan menyadari bahwa dia tidak akan benar benar lenyap atau hilang walaupun mereka sudah meninggal kalau mereka sudah pernah hadir di dalam hidup kita, ikut mewarnai kehidupan kita, dan mencintai dan menyayangi kita seperti kita juga sangat menyayangi mereka.. Walaupun aku sekarang pergi meninggalkan kamu semua, aku tetap akan hidup di dalam hatimu selamanya...“ 

Seminggu setelah kejadian malam itu, Daniel meneleponku lagi. Malam itu aku sangat kecewa dan juga marah kepadanya setelah kudengar bahwa dia ternyata selama setengah tahun terakhir ini ternyata menderita penyakit paru-paru dan umurnya sekarang ini hanya tinggal hitungan hari saja dan akan segera meninggalkanku. 

“Daniel, kenapa kamu tidak pernah membicarakan soal penyakitmu ini kepadaku dari dulu? Terus terang, aku sangat menguatirkan dirimu semenjak kamu bercerita padaku minggu lalu, tapi aku selalu berusaha untuk berpikir positif, tetapi ternyata...“ aku bertanya kepadanya setengah berteriak sambil mencoba menahan air mataku yang mulai mengalir membasahi kelopak mataku. 

“Rachel, aku hanya ingin semua sahabatku dapat bergaul dan bersahabat denganku tanpa membebani pikiran dan diri mereka sama sekali. Aku bukannya tidak mau menerima bantuan dari mereka selama aku sakit sampai sekarang ini, tapi justru dimana aku dapat bersahabat dan menjalani waktuku bersama mereka tanpa membebani mereka sangat membantu aku untuk dapat bertahan hidup lebih lama..“ 

“Keceriaan dan tawa yang selama ini kita alami bersama tidak akan pernah ada kan kalau aku memberitahukan keadaanku ini yang sebenarnya? Malah dengan tidak adanya keceriaan yang sekarang ini masih dapat kurasakan, mungkin akan membuatku pergi lebih cepat lagi..“ 

“Sudah.. cukup !!“ teriakku.. 

“Daniel, kamu hanya akan membuatku semakin sedih dengan terus berbicara soal kepergianmu yang sebentar lagi ini...“ 

“Tapi, aku tidak mengerti sikapmu! Kenapa aku juga tidak kamu beritahu? Bukankah selama ini tidak pernah ada rahasia yang kita simpan satu sama lain?“ 

“Rachel, tadi sudah kujelaskan, aku tidak ingin melihat semua sahabatku berbeda di saat saat terakhirku , aku ingin hidup normal di depan mereka semua“ 

“Jadi, termasuk aku juga?“ tanyaku sambil menangis. 

“Justru terutama karena kamu! Aku masih ingin melihat senyum yang terlukis di bibirmu yang lembut, masih ingin melihat tawamu yang membuat kamu semakin cantik, dan apa adanya dirimu, sama seperti yang sudah kukenal dengan baik bertahun tahun ini. Aku masih ingin melihat kamu yang seperti itu sebelum aku meninggalkan kamu semua“ 

“Kalau kamu pergi, mungkin tidak akan ada lagi sahabat di dunia ini yang dapat menguatkan aku lagi dengan perkataan yang biasa kamu lakukan di waktu aku punya masalah, tidak akan ada lagi orang yang mau berkorban menghabiskan waktu, uang, pikiran, dan tenaganya untukku sama seperti yang kamu lakukan untukku“ lalu mulai kudengar Daniel juga mulai menangis, tapi sepertinya dia mencoba untuk menahan tangisannya itu.. 

Hening sejenak, lalu Daniel mulai mencoba untuk berbicara lagi. 

“Tuhan pasti memberimu seorang sahabat yang terbaik kepadamu.“ 

“Tapi, siapapun dia tidak akan mungkin dapat menggantikan apa yang sudah kita jalani selama ini kan?“ 

“Rachel, Setiap orang berharga di mata Tuhan dan tidak ada yang dapat menggantikan posisinya di hatiNya, termasuk kamu. Kalau kamu tidak bisa menemukan orang lain untuk menjadi penggantiku di dalam hatimu, begitu juga dengan kamu di dalam hatiku. Kamu sangat berharga di hatiku dan tidak akan ada orang yang dapat menggantikanmu, begitu juga dengan sahabatku yang lain, mereka semua mempunyai tempat yang khusus karena mereka semua sangat berharga.“ 

“Rachel, kamu tahu kan kalau kita adalah gambaran dari Tuhan sendiri, Dia ingin kita sama seperti Dia, menghargai setiap orang dan menganggapnya spesial dan berharga di mata kita karena semua orang diciptakanNya sempurna“ 

Pembicaraanku dengan Daniel terus berlanjut sampai tengah malam, sampai akhirnya aku benar benar lelah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. 

Selama lima hari lamanya aku banyak menghabiskan waktu bersama dengan dia. Dia sama sekali tidak merasa takut dalam menghadapi kematiannya karena dia sudah tau kemana dia akan pergi kalau meninggal nanti. 

Selama lima hari itu, aku justru merasa semakin dekat dengan dia dan aku menjadi semakin sedih, mengapa justru hubungan aku dengan dia yang paling dekat terjalin di saat aku akan berpisah dengan dia. Kami banyak melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan sebelumnya dan banyak perasaan yang diungkapkan lewat kata kata kami yang tidak pernah kami ungkapkan sebelumnya. 

Semua seakan akan berlalu sangat cepat, sakitnya kulihat semakin parah, nafasnya sudah tidak menentu, dan kurasa dia sangat menderita, tetapi di wajahnya selalu terpancar kebahagiaan di balik air matanya yang membasahi tanganku. 

Banyak sahabat-sahabatnya yang datang menjumpai dia untuk pertemuan terakhir dengannya. Daniel mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang mengunjunginya untuk semua yang sudah dialaminya bersama sama dengan mereka di masa hidupnya. 

Di hari yang ketiga, aku mengambil fotoku yang terakhir bersama dengan dia, dan aku juga menerima barang terakhir darinya. Dia berpesan kepadaku untuk membukanya kalau dia sudah pergi meninggalkanku. 

Malam hari menjelang dia meninggal, aku memandang wajahnya, kulihat dia memang tidak lama lagi akan meninggalkanku. Aku semakin sedih saat mengingat orang yang paling kusayangi di dalam hidupku ini akan pergi meninggalkanku tidak lama lagi. 

Aku memeluknya sambil terus menangis, dia juga memelukku sambil membelai dan mengusap kepalaku, menyentuh rambutku dengan jarinya yang sudah lemah, tetapi kasih sayangnya yang besar tetap dapat kurasa, perlindungan dan perhatian yang diberikannya kepadaku dulu masih tetap dapat kurasakan meskipun sekarang keadaan tubuhnya sekarang sangat lemah Aku menemaninya sampai dia benar benar pergi meninggalkanku. 

Aku membelai kepalanya dan berkata, “Selamat jalan, sahabatku... Kau akan selalu kukenang di dalam hatiku. Nasihat dan kata katamu yang menguatkanku akan selalu hidup di dalam hidupku dan akan selalu mewarnai langkah hidupku menjalani dunia ini.“ 

Akhirnya Daniel pergi dengan damai, meninggalkan sanak keluarganya, meninggalkan harta bendanya, dan juga meninggalkan sahabat-sahabatnya yang sangat dia sayangi. Tetapi aku bahagia karena dia pergi tanpa kehilangan imannya kepada Tuhan Yesus, yang merupakan hartanya yang abadi di dalam hidupnya. 

Lalu aku teringat kembali akan kata-katanya di telepon pada waktu itu mengenai kematiannya. Di depan peti di mana dia dibaringkan, aku terus menangis, membiarkan air mataku terus jatuh, membasahi bunga bunga melati yang tersebar di sana. Aku sesekali memandang wajahnya yang memancarkan kebahagiaan. 

Malamnya aku pulang ke rumah, dan kulihat hadiah terakhir dari Daniel yang masih terbungkus rapi yang belum kusentuh sama sekali. Aku mulai membukanya, kulihat sebuah album foto, dan kulihat disana ada berbagai macam kenangan diriku dengan dia yang masih dia simpan. 

Aku buka buka lagi kartu natal dan ulang tahun yang pernah kuberikan kepadanya, foto-fotoku semenjak aku kecil sampai sekarang, dan bahkan hal-hal kecil seperti pesan pesanku yang sering kutulis di bukunya, potongan tiket bioskop saat kita pertama kali nonton bersama, atau kartu undangan ulang tahunku setiap tahun, masih tersimpan di sana. 

Kubuka halaman belakangnya, disana tertulis pesan dan ada kertas kecil yang terbungkus dan tertempel disana. 

Kubaca pesannya tertulis demikian, “Rachel, tolong bawa semua ini saat aku dikuburkan, dan biarlah semua barang yang paling berharga bagiku ini terkubur bersama denganku, dan di dalam kertas itu ada hadiah terakhir yang kuberikan khusus untukmu“ 

Kubuka kertasnya, dan aku melihat ada kalung salib dari emas putih dan ada cincin berlian di tengahnya. Di salib itu terukir inisial namaku dan di cincinnya itu terukir tulisan “our friendship will always remain“ 

Setelah aku saat teduh pada malam harinya, aku pun tertidur lelap karena hari itu aku sangat lelah sekali, di samping aku juga masih sangat sedih atas kejadian yang baru kualami hari ini. 

Saat aku tidur, aku bermimpi... Di mimpiku, aku melihat Daniel menggunakan baju putih bersih dengan wajah yang bersinar datang menghampiriku, lalu memelukku sambil berkata, “Aku akan tetap hidup di dalam hatimu selamanya.. kita akan segera bertemu dan bersama-sama lagi“ lalu dia pergi meninggalkanku. Sampai ketemu lagi di surga, Daniel... kita pasti akan dapat bersama sama lagi...
kuontai
14-07-2007, 08:46 PM
Seorang petani mempunyai beberapa anak ****** yang akan di jualnya. Dia menulisi papan untuk mengiklankan anak-anak ****** tersebut, dan memakukannya pada tiang di pinggir halamannya Ketika dia sedang dalam perjalanan untuk memasangnya, dia merasakan tarikan pada bajunya. Dia memandang ke bawah dan bertemu mata dengan seorang anak laki-laki kecil. " Tuan," anak itu berkata, "Saya ingin membeli salah satu anak ****** anda."

"Yah," kata si petani, sambil mengusap keringat di lehernya, "Anak-anak ****** ini berasal dari keturunan yang bagus dan cukup mahal harganya."

Anak itu tertunduk sejenak, kemudian merogoh ke dalam saku bajunya, Ia menarik segenggam uang receh dan menunjukkannya kepada si petani.

"Saya punya tiga puluh sembilan sen. Apakah ini cukup untuk melihatnya?"

"Tentu," kata si petani yang kemudian bersiul " Dolly, kemari!" panggilnya.

Dolly keluar dari rumah anjingnya dan berlari turun diikuti oleh anak-anaknya

Si anak laki-laki tersebut menempelkan wajahnya ke pagar, matanya bersinar-sinar. Sementara ******-****** tersebut berlarian menuju pagar, perhatian anak laki-laki tersebut beralih pada sesuatu yg bergerak di rumah ******.

Perlahan keluarlah seekor anak ******, lebih kecil dari yang lain. Ia berlari menuruni lereng dan terpeleset. Kemudian dengan terpincang-pincang berlari, berusaha menyusul yang lain.

"Aku mau yang itu," kata si anak, menunjuk pada yg anak ****** kecil itu. Sang petani berjongkok disampingnya dan berkata," Nak, kau tidak akan mau anak ****** yang itu, dia tidak akan bisa berlari dan bermain bersamamu seperti yang bisa dilakukan anak-anak ****** lainnya."

Anak itu melangkah menjauh dari pagar, meraih ke bawah, menggulung celana di salah satu kakinya, memperlihatkan penguat kaki dari logam yang melingkari kakinya hingga sepatu yg di buat khusus untuknya.

Ia memandang sang petani, dan berkata, "Anda lihat, tuan, saya juga tidak bisa berlari, dan anak ****** itu memerlukan seseorang yang memahaminya."

Dunia penuh dengan orang-orang yang memerlukan seseorang lain yang mau memahaminya.

Yesus berkata, "Sebab barangsiapa malu karena Aku, Aku-pun akan malu karena orang itu di hadapan Bapa-Ku"

Tidak merasa malu? berikut ini adalah test yg paling mudah............jika kau mengasihi Tuhan, dan tidah malu atas hal-hal indah yang dilakukan-Nya bagi kita.

Untuk benar-benar memahami rasa sakit (kesukaran) dalam hidupmu, kau harus menjalaninya
kuontai
14-07-2007, 08:48 PM
Malam ini terpikir dalam hati saya , bahwa kita besar kita jadi seperti kita saat ini Siapakah yang telah membuat kita seperti ini…. Jawabanya tentulah orang tuakita Pernah suatu hari saya melihat pertengkaran orang tua dengan anaknya… sedih hati ini durhakalah anak tersebut yang melawan orang tuanya.

Kita yang tumbuh dewasa dan memiliki cinta kita mencari pasangan hidup dengan tujuan untuk menikah memiliki keturunan, mari sedikit kita merenung sejenak berawal kita dewasa, memiliki cinta, memilih pasangan, menikah, dan memiliku anak tercinta apa yang akan kita lakukan untuk anak kita, kita akan berusaha sekuat tenaga bersama pasangan kita untuk membimbing dan membesarkan anak kita walau harus kaki jadi kepala kepala jadi kaki, serta doa kita yang baik untuk anak kita, dan pasti apapun akan kita lakukan untuk anak kita.

Pernah kah terpikir bila kita sudah suah tua dan anak kita sudah dewasa, anak yang kita besarkan dengan cintakasih menjadi seorang yang melawan dan durhaka… apa yang kita rasakan hancur… sedih… kecewa…. Itulah yang orang tua kita alami saat ini jika kita tidak berbakti pada orang tua.

Anda boleh hari ini menjadi Presiden, Menteri, direktur, manajer, pengusaha, penulis, atlit, musisi, seniman atau posisi hebat lainya, tapi jangan lupa tanpa orang tua, kita bukan apa-apa mungkin juga kita takan pernah ada didunia ini.

Wahai teman-temanku marilah kita sayangi orang tua, mulailah dari sekarang temui orang tua, kita lihat mereka, tatap mereka, peluk meraka, hubungi mereka, sayangi mereka, sadarlah waktu kita sedikit untuk dapat membalas jasa mereka, buatlah mereka senang. Karena mereka Lahirlah sebuah keluarga, lahirlah sebuah bangsa, Sebuah Negara. Mulailah hargai orang tua kita. Mulai saat ini minta maaf lah atas semua kesalahan kita, yang terkadang terjadi pertengkaran, terkadang egois kita. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Untuk orang tuaku, terimakasihku yang tak ternilai atas semua jasa-jasa mu, papah, mamah aku sayang kalian. Maaf aku belum bisa membalas semua cinta yang kau berikan tanpa henti.
kuontai
19-07-2007, 09:22 AM
Daniel termasuk orang yang menarik menurutku. Dia adalah orang yang mudah bergaul, dan memiliki banyak sahabat dalam hidupnya. 

Dia tergolong orang yang terbuka terhadap sahabatnya, dan dia sering merefleksikan perasaan yang dirasakan di dalam hatinya dalam kata katanya. 

Dia pernah berkata kepadaku bahwa persahabatan yang pernah ia jalin dengan siapapun mereka, baginya sangat berharga, dan aku merasa bahagia sewaktu dia berkata bahwa aku sangat berharga di matanya dan tidak ada orang lain yang dapat menggantikan posisiku di dalam hatinya. Aku sering merasakan perhatiannya dan kasih sayangnya kepadaku justru di waktu aku benar-benar membutuhkan orang untuk kuandalkan. 

Tapi, di samping itu, ada juga sekelompok orang yang kurang respek terhadapnya karena menurutnya Daniel adalah orang yang aneh, tidak sama dengan orang lain pada umumnya. Dia adalah orang yang sangat perasa terhadap keadaan di sekitarnya dan juga sering menyendiri. 

Menurutku mereka yang kurang menyukainya karena mereka belum mengenal Daniel sama sekali. Banyak sifatnya yang tidak akan mereka kira di balik sifat penyendirinya itu kalau suatu saat mereka mencoba untuk mengenalnya. 

Daniel memang tidak selalu mengajakku ngobrol setiap kali kita bertemu. Ada kalanya dimana dia hanya menyapaku atau hanya tersenyum kepadaku lalu pergi. Atau kadang kadang sewaktu dia sibuk, dia hanya memanggil namaku dan meneruskan kembali pekerjaannya itu. 

Tapi ada kalanya pula dia menceritakan banyak perihal mengenai dirinya kepadaku. Dia sangat senang menceritakan pengalaman dan masalah yang ada di dalam kehidupannya kepadaku, karena di situlah hubungan kami semakin terjalin erat dan di sana juga aku dan dia dapat saling lebih mengenal satu sama lain. 

Dia menceritakan semua yang dialaminya kepadaku baik itu masalah yang besar seperti masalah keadaan keluarganya yang di mana dia dilahirkan adalah keluarga yang kurang harmonis, kenapa dia menjadi orang yang senang menyendiri, ataupun kepribadian dan sifat sifat positif atau negatif yang ada di dalam dirinya yang secara tidak langsung membuat aku semakin mengenal dirinya dan kepribadiannya. 

Tapi yang sangat aku banggakan dan kagumi dari dia adalah kemauannya untuk berkorban dan menolong sahabatnya yang membutuhkannya. Dia sering meluangkan waktunya untuk sharing dengan sahabatnya yang sedang mengalami masalah dan lalu ikut mendoakan mereka, dan dia juga sering memberikan bantuan yang terkadang untuk melakukannya mengharuskan ia mengorbankan banyak uang, waktu, pikiran dan juga tenaganya. 

Sewaktu aku bertanya kenapa dia mau berbuat seperti itu, dia hanya menjawab “Rachel, semua itu aku lakukan karena persahabatan yang aku miliki dengan mereka semua termasuk dengan kamu sangat berharga buatku. Sahabatku adalah pemberian terindah dalam hidupku yang Tuhan berikan kepadaku.“ 

Pada suatu hari Daniel meneleponku dan seperti yang biasa kami lakukan, kami mengobrol di telepon dan kami akan saling menceritakan segala hal yang menarik yang kami alami di hari hari yang sudah kami lewati minggu ini. 

Tapi rupa rupanya hari ini pembicaraannya cukup aneh menurutku karena pembicaraannya seakan akan dia sudah dekat dengan kematiannya, padahal yang kutahu selama ini dia tidak menderita penyakit apapun dan tidak ada tanda tanda bahwa dia akan meninggal. 

“Rachel, kalau nanti saya meninggal, saya ingin sekali melihat siapa saja di dunia ini yang menangisi kepergian saya.. “ kata Daniel kepadaku di telepon malam itu. 

“Untuk apa?“ tanyaku sekenanya karena heran mendengar pernyataannya yang membicarakan tentang kematiannya itu. Kupikir, dia kan masih sangat muda, seumuran denganku, tentu masih banyak yang akan dia lihat dan alami di dunia ini, untuk apa membicarakan kematian? Tetapi jawaban yang diberikannya sangat menyentuh hatiku. 

“Kalau kita menangisi kepergian seseorang, berarti orang tersebut sangat berharga buat kita. Saya ingin melihat siapa saja yang menangis buat saya, dan saya akan tahu kalau saya benar-benar berharga di mata mereka semua, terlebih juga di mata Tuhan“ katanya dengan suara yang perlahan tapi sangat terdengar jelas di telingaku walaupun ada hujan yang deras pada malam hari yang sejuk itu. 

“Lalu saya ingin meminta kepada Tuhan untuk kembali ke dunia barang 5 sampai 10 menit, untuk memeluk mereka semua dan disana saya akan berkata, Terimakasih sahabatku.. air matamu memiliki makna yang sangat berharga untukku.. aku senang mengetahui kalau hidupku benar benar berharga buat kalian semua..“ 

“.....“ aku diam, mendengarkan kata katanya itu dan memikirkan maksud dia mengatakan hal itu kepadaku. 

“Apa dia akan pergi?“ pikirku dalam hati. 

Lalu Daniel melanjutkan ceritanya, “Sebelum aku pergi dari hadapan mereka, aku akan mengatakan hal ini sebagai kata-kata terakhir“ 

“Sahabatku, saat seseorang yang kamu kasihi meninggal, kamu tidak akan bisa mengatasi kesedihanmu dengan melupakannya, karena dengan melakukan demikian, kamu akan semakin sedih dan semakin sulit untuk mengatasi kesedihanmu, tetapi kamu bisa mengatasi kesedihan yang kamu alami dengan tetap mengingatnya dan menyadari bahwa dia tidak akan benar benar lenyap atau hilang walaupun mereka sudah meninggal kalau mereka sudah pernah hadir di dalam hidup kita, ikut mewarnai kehidupan kita, dan mencintai dan menyayangi kita seperti kita juga sangat menyayangi mereka.. Walaupun aku sekarang pergi meninggalkan kamu semua, aku tetap akan hidup di dalam hatimu selamanya...“ 

Seminggu setelah kejadian malam itu, Daniel meneleponku lagi. Malam itu aku sangat kecewa dan juga marah kepadanya setelah kudengar bahwa dia ternyata selama setengah tahun terakhir ini ternyata menderita penyakit paru-paru dan umurnya sekarang ini hanya tinggal hitungan hari saja dan akan segera meninggalkanku. 

“Daniel, kenapa kamu tidak pernah membicarakan soal penyakitmu ini kepadaku dari dulu? Terus terang, aku sangat menguatirkan dirimu semenjak kamu bercerita padaku minggu lalu, tapi aku selalu berusaha untuk berpikir positif, tetapi ternyata...“ aku bertanya kepadanya setengah berteriak sambil mencoba menahan air mataku yang mulai mengalir membasahi kelopak mataku. 

“Rachel, aku hanya ingin semua sahabatku dapat bergaul dan bersahabat denganku tanpa membebani pikiran dan diri mereka sama sekali. Aku bukannya tidak mau menerima bantuan dari mereka selama aku sakit sampai sekarang ini, tapi justru dimana aku dapat bersahabat dan menjalani waktuku bersama mereka tanpa membebani mereka sangat membantu aku untuk dapat bertahan hidup lebih lama..“ 

“Keceriaan dan tawa yang selama ini kita alami bersama tidak akan pernah ada kan kalau aku memberitahukan keadaanku ini yang sebenarnya? Malah dengan tidak adanya keceriaan yang sekarang ini masih dapat kurasakan, mungkin akan membuatku pergi lebih cepat lagi..“ 

“Sudah.. cukup !!“ teriakku.. 

“Daniel, kamu hanya akan membuatku semakin sedih dengan terus berbicara soal kepergianmu yang sebentar lagi ini...“ 

“Tapi, aku tidak mengerti sikapmu! Kenapa aku juga tidak kamu beritahu? Bukankah selama ini tidak pernah ada rahasia yang kita simpan satu sama lain?“ 

“Rachel, tadi sudah kujelaskan, aku tidak ingin melihat semua sahabatku berbeda di saat saat terakhirku , aku ingin hidup normal di depan mereka semua“ 

“Jadi, termasuk aku juga?“ tanyaku sambil menangis. 

“Justru terutama karena kamu! Aku masih ingin melihat senyum yang terlukis di bibirmu yang lembut, masih ingin melihat tawamu yang membuat kamu semakin cantik, dan apa adanya dirimu, sama seperti yang sudah kukenal dengan baik bertahun tahun ini. Aku masih ingin melihat kamu yang seperti itu sebelum aku meninggalkan kamu semua“ 

“Kalau kamu pergi, mungkin tidak akan ada lagi sahabat di dunia ini yang dapat menguatkan aku lagi dengan perkataan yang biasa kamu lakukan di waktu aku punya masalah, tidak akan ada lagi orang yang mau berkorban menghabiskan waktu, uang, pikiran, dan tenaganya untukku sama seperti yang kamu lakukan untukku“ lalu mulai kudengar Daniel juga mulai menangis, tapi sepertinya dia mencoba untuk menahan tangisannya itu.. 

Hening sejenak, lalu Daniel mulai mencoba untuk berbicara lagi. 

“Tuhan pasti memberimu seorang sahabat yang terbaik kepadamu.“ 

“Tapi, siapapun dia tidak akan mungkin dapat menggantikan apa yang sudah kita jalani selama ini kan?“ 

“Rachel, Setiap orang berharga di mata Tuhan dan tidak ada yang dapat menggantikan posisinya di hatiNya, termasuk kamu. Kalau kamu tidak bisa menemukan orang lain untuk menjadi penggantiku di dalam hatimu, begitu juga dengan kamu di dalam hatiku. Kamu sangat berharga di hatiku dan tidak akan ada orang yang dapat menggantikanmu, begitu juga dengan sahabatku yang lain, mereka semua mempunyai tempat yang khusus karena mereka semua sangat berharga.“ 

“Rachel, kamu tahu kan kalau kita adalah gambaran dari Tuhan sendiri, Dia ingin kita sama seperti Dia, menghargai setiap orang dan menganggapnya spesial dan berharga di mata kita karena semua orang diciptakanNya sempurna“ 

Pembicaraanku dengan Daniel terus berlanjut sampai tengah malam, sampai akhirnya aku benar benar lelah karena terlalu banyak mengeluarkan air mata. 

Selama lima hari lamanya aku banyak menghabiskan waktu bersama dengan dia. Dia sama sekali tidak merasa takut dalam menghadapi kematiannya karena dia sudah tau kemana dia akan pergi kalau meninggal nanti. 

Selama lima hari itu, aku justru merasa semakin dekat dengan dia dan aku menjadi semakin sedih, mengapa justru hubungan aku dengan dia yang paling dekat terjalin di saat aku akan berpisah dengan dia. Kami banyak melakukan hal-hal yang tidak pernah kami lakukan sebelumnya dan banyak perasaan yang diungkapkan lewat kata kata kami yang tidak pernah kami ungkapkan sebelumnya. 

Semua seakan akan berlalu sangat cepat, sakitnya kulihat semakin parah, nafasnya sudah tidak menentu, dan kurasa dia sangat menderita, tetapi di wajahnya selalu terpancar kebahagiaan di balik air matanya yang membasahi tanganku. 

Banyak sahabat-sahabatnya yang datang menjumpai dia untuk pertemuan terakhir dengannya. Daniel mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang mengunjunginya untuk semua yang sudah dialaminya bersama sama dengan mereka di masa hidupnya. 

Di hari yang ketiga, aku mengambil fotoku yang terakhir bersama dengan dia, dan aku juga menerima barang terakhir darinya. Dia berpesan kepadaku untuk membukanya kalau dia sudah pergi meninggalkanku. 

Malam hari menjelang dia meninggal, aku memandang wajahnya, kulihat dia memang tidak lama lagi akan meninggalkanku. Aku semakin sedih saat mengingat orang yang paling kusayangi di dalam hidupku ini akan pergi meninggalkanku tidak lama lagi. 

Aku memeluknya sambil terus menangis, dia juga memelukku sambil membelai dan mengusap kepalaku, menyentuh rambutku dengan jarinya yang sudah lemah, tetapi kasih sayangnya yang besar tetap dapat kurasa, perlindungan dan perhatian yang diberikannya kepadaku dulu masih tetap dapat kurasakan meskipun sekarang keadaan tubuhnya sekarang sangat lemah Aku menemaninya sampai dia benar benar pergi meninggalkanku. 

Aku membelai kepalanya dan berkata, “Selamat jalan, sahabatku... Kau akan selalu kukenang di dalam hatiku. Nasihat dan kata katamu yang menguatkanku akan selalu hidup di dalam hidupku dan akan selalu mewarnai langkah hidupku menjalani dunia ini.“ 

Akhirnya Daniel pergi dengan damai, meninggalkan sanak keluarganya, meninggalkan harta bendanya, dan juga meninggalkan sahabat-sahabatnya yang sangat dia sayangi. Tetapi aku bahagia karena dia pergi tanpa kehilangan imannya kepada Tuhan Yesus, yang merupakan hartanya yang abadi di dalam hidupnya. 

Lalu aku teringat kembali akan kata-katanya di telepon pada waktu itu mengenai kematiannya. Di depan peti di mana dia dibaringkan, aku terus menangis, membiarkan air mataku terus jatuh, membasahi bunga bunga melati yang tersebar di sana. Aku sesekali memandang wajahnya yang memancarkan kebahagiaan. 

Malamnya aku pulang ke rumah, dan kulihat hadiah terakhir dari Daniel yang masih terbungkus rapi yang belum kusentuh sama sekali. Aku mulai membukanya, kulihat sebuah album foto, dan kulihat disana ada berbagai macam kenangan diriku dengan dia yang masih dia simpan. 

Aku buka buka lagi kartu natal dan ulang tahun yang pernah kuberikan kepadanya, foto-fotoku semenjak aku kecil sampai sekarang, dan bahkan hal-hal kecil seperti pesan pesanku yang sering kutulis di bukunya, potongan tiket bioskop saat kita pertama kali nonton bersama, atau kartu undangan ulang tahunku setiap tahun, masih tersimpan di sana. 

Kubuka halaman belakangnya, disana tertulis pesan dan ada kertas kecil yang terbungkus dan tertempel disana. 

Kubaca pesannya tertulis demikian, “Rachel, tolong bawa semua ini saat aku dikuburkan, dan biarlah semua barang yang paling berharga bagiku ini terkubur bersama denganku, dan di dalam kertas itu ada hadiah terakhir yang kuberikan khusus untukmu“ 

Kubuka kertasnya, dan aku melihat ada kalung salib dari emas putih dan ada cincin berlian di tengahnya. Di salib itu terukir inisial namaku dan di cincinnya itu terukir tulisan “our friendship will always remain“ 

Setelah aku saat teduh pada malam harinya, aku pun tertidur lelap karena hari itu aku sangat lelah sekali, di samping aku juga masih sangat sedih atas kejadian yang baru kualami hari ini. 

Saat aku tidur, aku bermimpi... Di mimpiku, aku melihat Daniel menggunakan baju putih bersih dengan wajah yang bersinar datang menghampiriku, lalu memelukku sambil berkata, “Aku akan tetap hidup di dalam hatimu selamanya.. kita akan segera bertemu dan bersama-sama lagi“ lalu dia pergi meninggalkanku. Sampai ketemu lagi di surga, Daniel... kita pasti akan dapat bersama sama lagi...
kuontai
19-07-2007, 09:23 AM
Malam ini terpikir dalam hati saya , bahwa kita besar kita jadi seperti kita saat ini Siapakah yang telah membuat kita seperti ini…. Jawabanya tentulah orang tuakita Pernah suatu hari saya melihat pertengkaran orang tua dengan anaknya… sedih hati ini durhakalah anak tersebut yang melawan orang tuanya.

Kita yang tumbuh dewasa dan memiliki cinta kita mencari pasangan hidup dengan tujuan untuk menikah memiliki keturunan, mari sedikit kita merenung sejenak berawal kita dewasa, memiliki cinta, memilih pasangan, menikah, dan memiliku anak tercinta apa yang akan kita lakukan untuk anak kita, kita akan berusaha sekuat tenaga bersama pasangan kita untuk membimbing dan membesarkan anak kita walau harus kaki jadi kepala kepala jadi kaki, serta doa kita yang baik untuk anak kita, dan pasti apapun akan kita lakukan untuk anak kita.

Pernah kah terpikir bila kita sudah suah tua dan anak kita sudah dewasa, anak yang kita besarkan dengan cintakasih menjadi seorang yang melawan dan durhaka… apa yang kita rasakan hancur… sedih… kecewa…. Itulah yang orang tua kita alami saat ini jika kita tidak berbakti pada orang tua.

Anda boleh hari ini menjadi Presiden, Menteri, direktur, manajer, pengusaha, penulis, atlit, musisi, seniman atau posisi hebat lainya, tapi jangan lupa tanpa orang tua, kita bukan apa-apa mungkin juga kita takan pernah ada didunia ini.

Wahai teman-temanku marilah kita sayangi orang tua, mulailah dari sekarang temui orang tua, kita lihat mereka, tatap mereka, peluk meraka, hubungi mereka, sayangi mereka, sadarlah waktu kita sedikit untuk dapat membalas jasa mereka, buatlah mereka senang. Karena mereka Lahirlah sebuah keluarga, lahirlah sebuah bangsa, Sebuah Negara. Mulailah hargai orang tua kita. Mulai saat ini minta maaf lah atas semua kesalahan kita, yang terkadang terjadi pertengkaran, terkadang egois kita. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya.

Untuk orang tuaku, terimakasihku yang tak ternilai atas semua jasa-jasa mu, papah, mamah aku sayang kalian. Maaf aku belum bisa membalas semua cinta yang kau berikan tanpa henti.
kuontai
19-07-2007, 09:29 AM
"Mengapa bebanku berat sekali?" aku berpikir sambil membanting pintu kamarku dan bersender.

"Tidak adakah istirahat dari hidup ini?". Aku menghempaskan badanku ke ranjang, menutupi telingaku dengan bantal.

"Ya Tuhan," aku menangis, "Biarkan aku tidur...Biarkan aku tidur dan tidak pernah bangun kembali!" Dengan tersedu-sedu, aku mencoba untuk meyakinkan diriku untuk melupakan.

Tiba-tiba gelap mulai menguasai pandanganku, Lalu, suatu cahaya yang sangat bersinar mengelilingiku ketika aku mulai sadar. Aku memusatkan perhatianku pada sumber cahaya itu. Sesosok pria berdiri di depan salib.

"Anakku," orang itu bertanya, "Mengapa engkau datang kepada-Ku sebelum Aku siap memanggilmu?"

"Tuhan, aku mohon ampun. Ini karena... aku tidak bisa melanjutkannya. Kau lihat! betapa berat hidupku. Lihat beban berat di punggungku. Aku bahkan tidak bisa mengangkatnya lagi."

"Tetapi, bukankah Aku pernah bersabda kepadamu untuk datang kepadaku semua yang letih lesu dan berbeban berat, karena Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

"Aku tahu Engkau pasti akan mengatakan hal itu. Tetapi kenapa bebanku begitu berat?"

"Anak-Ku, setiap orang di dunia memiliki beban. Mungkin kau ingin mencoba salib yang lain?"

"Aku bisa melakukan hal itu?"

Ia menunjuk beberapa salib yang berada di depan kaki-Nya. Kau bisa mencoba semua ini. Semua salib itu berukuran sama. Tetapi setiap salib tertera nama orang yang memikulnya.

"Itu punya Joan," kataku.

Joan menikah dengan seorang kaya raya. Ia tinggal di lingkungan yang nyaman dan memiliki 3 anak perempuan yang cantik dengan pakaian yang bagus-bagus.Kadangkala ia menyetir sendiri ke gereja dengan mobil Cadillac suaminya kalau mobilnya rusak.

"Umm, aku coba punya Joan. Sepertinya hidupnya tenang-tenang saja. Seberat apa beban yang Joan panggul?" pikirku.

Tuhan melepaskan bebanku dan meletakkan beban Joan di pundakku. Aku langsung terjatuh seketika.

"Lepaskan beban ini!" teriakku. "Apa yang menyebabkan beban ini sangat berat?"

"Lihat ke dalamnya."

Aku membuka ikatan beban itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat gambaran ibu mertua Joan, dan ketika aku mengangkatnya, ibu mertua Joan mulai berbicara, "Joan, kau tidak pantas untuk anakku, tidak akan pernah pantas. Ia tidak seharusnya menikah denganmu.Kau adalah wanita yang terburuk untuk cucu-cucuku..."

Aku segera meletakkan gambaran itu dan mengangkat gambaran yang lain. Itu adalah Donna, adik terkecil Joan. Kepala Donna dibalut sejak operasi epilepsi yang gagal itu. Gambaran yang ketiga adalah adik laki-laki Joan. Ia kecanduan narkoba,telah dijatuhi hukuman karena membunuh seorang perwira polisi.

"Aku tahu sekarang mengapa bebannya sangat berat, Tuhan. Tetapi ia selalu tersenyum dan suka menolong orang lain. Aku tidak menyadarinya..."

"Apakah kau ingin mencoba yang lain?" tanya Tuhan dengan pelan.

Aku mencoba beberapa. Beban Paula terasa sangat berat juga: Ia melihara 4 orang anak laki-laki tanpa suami. Debra punya juga demikian: masa kecilnya yang dinodai olah penganiayaan seksual dan menikah karena paksaan. Ketika aku melihat beban Ruth, aku tidak ingin mencobanya. Aku tahu di dalamnya ada penyakit Arthritis, usia lanjut, dan tuntutan bekerja penuh sementara suami tercintanya berada di Panti Jompo.

"Beban mereka semua sangat berat, Tuhan" kataku. "Kembalikan bebanku"

Ketika aku mulai memasang bebanku kembali, aku merasa bebanku lebih ringan dibandingkan yang lain.

"Mari kita lihat ke dalamnya," Tuhan berkata.

Aku menolak, menggenggam bebanku erat-erat. "Itu bukan ide yang baik," jawabku.

"Mengapa?"

"Karena banyak sampah di dalamnya."

"Biar Aku lihat"

Suara Tuhan yang lemah lembut membuatku luluh. Aku membuka bebanku. Ia mengambil satu buah batu bata dari dalam bebanku.

"Katakan kepada-Ku mengenai hal ini."

"Tuhan, Engkau tahu itu. Itu adalah uang. Aku tahu kalau kami tidak semenderita seperti orang lain di beberapa negara atau seperti tuna wisma di sini. Tetapi kami tidak memiliki asuransi, dan ketika anak-anak sakit, kami tidak selalu bisa membawa mereka ke dokter. Mereka bahkan belum pernah pergi ke dokter gigi. Dan aku sedih untuk memberikan mereka pakaian bekas."

"Anak-Ku, Aku selalu memberikan kebutuhanmu.... dan semua anak-anakmu. Aku selalu memberikan mereka badan yang sehat. Aku mengajari mereka bahwa pakaian mewah tidak membuat seorang berharga di mataKu."

Kemudian ia mengambil sebuah gambaran seorang anak laki-laki.! "Dan yang ini?" tanya Tuhan.

"Andrew..." aku menundukkan kepala, merasa malu untuk menyebut anakku sebagai sebuah beban.

"Tetapi, Tuhan, ia sangat hiperaktif. Ia tidak bisa diam seperti yang lain, ia bahkan membuatku sangat kelelahan. Ia selalu terluka, dan orang lain yang membalutnya berpikir akulah yang menganiayanya. Aku berteriak kepadanya selalu. Mungkin suatu saat aku benar-benar menyakitinya..."

"Anak-Ku," Tuhan berkata.

"Jika kau percayakan kepada-Ku, aku akan memperbaharui kekuatanmu, dan jika engkau mengijinkan Aku untuk mengisimu dengan Roh Kudus, aku akan memberikan engkau kesabaran."

Kemudian Ia mengambil beberapa kerikil dari bebanku.

"Ya, Tuhan.." aku berkata sambil menarik nafas panjang.

"Kerikil-kerikil itu memang kecil. Tetapi semua itu adalah penting. Aku membenci rambutku. Rambutku tipis, dan aku tidak bisa membuatnya kelihatan bagus. Aku tidak mampu untuk pergi ke salon. Aku kegemukan dan tidak bisa menjalankan diet. Aku benci semua pakaianku. Aku benci penampilanku!"

"Anak-Ku, orang memang melihat engkau dari penampilan luar, tetapi Aku melihat jauh sampai ke dalamnya hatimu. Dengan Roh Kudus, kau akan memperoleh pengendalian diri untuk menurunkan berat badanmu. Tetapi keindahanmu tidak harus datang dari luar. Bahkan, seharusnya berasal dari dalam hatimu, kecantikan diri yang tidak akan pernah hilang dimakan waktu. Itulah yang berharga di mata-Ku."

Bebanku sekarang tampaknya lebih ringan dari sebelumnya. "Aku pikir aku bisa menghadapinya sekarang," kataku,

"Yang terakhir, berikan kepada-Ku batu bata yang terakhir." kata Tuhan.

"Oh, Engkau tidak perlu mengambilnya. Aku bisa mengatasinya."

"Anak-Ku, berikan kepadaKu."

Kembali suara-Nya membuatku luluh. Ia mengulurkan tangan-Nya, dan untuk pertama kalinya Aku melihat luka-Nya.

"Tuhan....Bagaimana dengan tangan-Mu? Tangan-Mu penuh dengan luka!!"

Aku tidak lagi memperhatikan bebanku, aku melihat wajah-Nya untuk pertama kalinya. Dan pada dahi-Nya, kulihat luka yang sangat dalam... tampaknya seseorang telah menekan mahkota duri terlalu dalam ke dagingNya.

"Tuhan," aku berbisik. "Apa yang terjadi dengan Engkau?"

Mata-Nya yang penuh kasih menyentuh kalbuku."AnakKu, kau tahu itu. Berikan kepadaku bebanmu. Itu adalah milikKu. Aku telah membelinya."

"Bagaimana?"

"Dengan darah-Ku"

"Tetapi kenapa Tuhan?"

"Karena aku telah mencintaimu dengan cinta abadi, yang tak akan punah dengan waktu. Berikan kepadaKu."

Aku memberikan bebanku yang kotor dan mengerikan itu ke tangan-Nya yang terluka. Beban itu penuh dengan kotoran dan iblis dalam kehidupanku: kesombongan, egois, depresi yang terus-menerus menyiksaku. Kemudian Ia mengambil salibku kemudian menghempaskan salib itu ke kolam yang berisi dengan darahNya yang kudus. Percikan yang ditimbulkan oleh salib itu luar biasa besarnya.

"Sekarang anak-Ku, kau harus kembali. Aku akan bersamamu selalu. Ketika kau berada dalam masalah, panggillah Aku dan Aku akan membantumu dan menunjukkan hal-hal yang tidak bisa kau bayangkan sekarang."

"Ya, Tuhan, aku akan memanggil-Mu." Aku mengambil kembali bebanku.

"Kau boleh meninggalkannya di sini jika engkau mau. Kau lihat beban-beban itu? Mereka adalah kepunyaan orang-orang yang telah meninggalkannya di kakiKu, yaitu Joan, Paula, Debra, Ruth... Ketika kau meninggalkan bebanMu di sini, aku akan menggendongnya bersamamu. Ingat, kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan."

Seketika aku meletakkan bebanku, cahaya itu mulai menghilang. Namun, masih kudengar suaraNya berbisik, "Aku tidak akan meninggalkanmu, atau melepaskanmu."
kuontai
20-07-2007, 04:45 PM
Seorang anak terlahir normal, tanpa cacat sedikit pun. Proses kelahirannya berlangsung normal, tanpa operasi caesar. Tetapi proses panjang selama sembilan bulan sebelum melahirkan itulah yang tidak normal. Bahkan, jika bukan karena kuasa Allah, takkan pernah terjadi sebuah kelahiran yang menakjubkan ini. Selain faktor Allah, tentu saja ada sang bunda yang teramat luar biasa...

Pekan pertama setelah mengetahui bahwa dirinya positif hamil, Sinta mengaku kaget bercampur haru. Perasaan yang luar biasa menghinggapi seisi hidupnya, sepanjang hari-harinya setelah itu. Betapa tidak, sekian tahun lamanya ia menunggu kehamilan, ia teramat merindui kehadiran buah hati penyejuk jiwa di rumah tangganya. Dan kenyataannya, Allah menanamkan sebentuk amanah dalam rahimnya. Sinta pun tersenyum gembira.

Namun kebahagiaan Sinta hanya berlangsung sesaat, tak lebih dari dua pekan ia menikmati hari-hari indahnya, ia jatuh sakit. Dokter yang merawatnya tak bisa mendiagnosa sakit yang diderita Sinta. Makin lama, sakitnya bertambah parah, sementara janin yang berada dalam kandungannya pun ikut berpengaruh. Satu bulan kemudian, Sinta tak kunjung sembuh, bahkan kondisinya bertambah parah. Dokter mengatakan, pasiennya belum kuat untuk hamil sehingga ada kemungkinan jalan untuk kesembuhan dengan cara menggugurkan kandungannya.

Sinta yang mendengar rencana dokter, langsung berkata "tidak". Ia rela melakukan apa pun untuk kelahiran bayinya, meski pun harus mati. Suaminya dan dokter pun sepakat menyerah dengan keputusan Sinta. Walau mereka sudah membujuknya dengan kalimat, "kalau kamu sehat, kamu bisa hamil lagi nanti dan melahirkan anak sebanyak kamu mau". Namun Santi tak bergeming. Janin itu pun tetap bersemayam di rahimnya.

Waktu terus berjalan, memasuki bulan ketiga, Sinta mengalami penurunan stamina. Keluarga sudah menangis melihat kondisinya, tak sanggup melihat penderitaan Sinta. Tak lama kemudian, dokter menyatakan Sinta dalam keadaan kritis. Tidak ada jalan lain, janin yang sudah berusia hampir empat bulan pun harus segera dikeluarkan demi menyelamatkan sang bunda.

Dalam keadaan kritis, rupanya Sinta tahu rencana dokter dan keluarganya. Ia pun bersikeras mempertahankan bayinya. "Ia berhak hidup, biar saya saja yang mati untuknya". Santi pun memohon kepada suaminya untuk mengabulkan keinginannya ini. "Mungkin saja ini permintaan terakhir saya Mas, biarkan saya meninggal dengan tenang setelah melahirkan nanti. Yang penting saya bisa melihatnya terlahir ke dunia," luluhlah sang suami. Pengguguran kandungan pun batal.

Bulan berikutnya, kesehatan Sinta tak berangsur pulih. Di bulan ke enam kehamilannya, ia drop, dan dinyatakan koma. Satu rumah dan dua mobil sudah habis terjual untuk biaya rumah sakit Sinta selama sekian bulan. Saat itu, suami dan keluarganya sudah nyaris menyerah. Dokter dan pihak rumah sakit sudah menyodorkan surat untuk ditandatangani suami Sinta, berupa surat izin untuk menggugurkan kandungan. Seluruh keluarga sudah setuju, bahkan mereka sudah ikhlas jika Allah berkehendak terbaik untuk Sinta dan bayinya.

Seorang bunda memang selalu luar biasa. Tidak ada yang mampu menandingi cintanya, dan kekuatan cinta itu yang membuatnya bertahan selama enam bulan masa kehamilannya. Maha Suci Allah yang berkenan menunjukkan kekuatan cinta sang bunda melalui Sinta, menjelang sang suami menandatangani surat izin pengguguran, Santi mengigau dalam komanya. "Jangan, jangan gugurkan bayi saya. Ia akan hidup, begitu juga saya" Kemudian ia tertidur lagi dalam komanya.

Air mata meleleh dari pelupuk mata sang suami. Ia sangat menyayangi isteri dan calon anaknya. Surat pun urung ditandatanganinya, karena jauh dari rasa iba melihat penderitaan isterinya, ia pun sangat memimpikan bisa segera menggendong buah hatinya. Boleh jadi, kekuatan cinta dari suami dan isteri ini kepada calon anaknya yang membuat Allah tersenyum.

Allah Maha Kuasa. Ia berkehendak tetap membuat hidup bayi dalam kandungan Sinta meski sang bunda dalam keadaan koma. Bahkan, setelah hampir tiga bulan, Sinta tersadar dari komanya. Hanya beberapa hari menjelang waktu melahirkan yang dijadwalkan. Ada kekuatan luar biasa yang bermain dalam episode cinta seorang Sinta. Kekuatan Allah dan kekuatan cinta sang bunda.

Bayi itu pun terlahir dengan selamat dan normal, tanpa cacat, tanpa operasi caesar. "Mungkin ini bayi termahal yang pernah dilahirkan. Terima kasih Allah, saya tak pernah membayangkan bisa melewati semua ini," ujar Sinta menutup kisahnya.
kuontai
20-07-2007, 04:48 PM
Alkisah di suatu desa ada seorang ibu yang sudah tua hidup berdua dengan anak satu-satunya.Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang Ibu sering sekali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya . Adapun anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk, yaitu suka mencuri,berjudi,mengadu ayam, dan banyak lagi yang ,membuat si ibu sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun begitupun ibu tua itu selalu berdoa kepada Tuhan, "Tuhan tolong Kau sadarkan anakku yang kusayangi, supaya ia tidak berbuat dosa lebih banyak lagi. Aku sudah tua dan aku ingin menyaksikan dia bertobat,sebelum Aku mati".

Namun semakin lama si Anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Sudah sangat sering ia keluar masuk bui karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di sebuah rumah penduduk desa. Namun malang nasibnya akhirnya ia tertangkap oleh penduduk yang kebetulan lewat. Kemudian dia dibawa ke hadapan Raja untuk diadili sesuai dengan kebiasaan di Kerajaan tersebut. Setelah ditimbang berdasarkan sudah seringnya ia mencuri, maka tanpa ampun lagi si Anak tersebut dijatuhi hukuman Pancung. Pengumuman hukuman itu disebarkan ke seluruh desa. Hukuman pancung akan dilakukan keesokan harinya didepan rakyat desa dan kerajaan tepat pada saat lonceng Gereja berdentang menandakan pukul enam pagi. Berita hukuman itu sampai juga ke telinga si Ibu. Dia menangis, meratapi Anak yang sangat dikasihinya. Sembari berlutut dia berdoa kepada Tuhan. "Tuhan, Ampunilah Anak Hamba.Biarlah HambaMu yang sudah tua renta ini yang menanggung dosa dan kesalahannya. Dengan tertatih-tatih dia mendatangi Raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan, tapi keputusan sudah bulat, si Anak tetap harus menjalani hukuman. Dengan hati hancur si Ibu kembali ke rumah . Tidak berhenti dia berdoa supaya anaknya diampuni.Karena kelelahan dia tertidur dan bermimpi bertemu dengan Tuhan.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan ,rakyat berbondong-bondong untuk menyaksikan hukuman pancung tersebut. Sang Algojo sudah siap dengan Pancungnya, dan si Anak tadi sudah pasrah menantikan saat ajal menjemputnya. Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, tanpa terasa dia menangis menyesali perbuatannya. Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan, lonceng Gereja belum juga berdentang. Suasana mulai berisik. Sudah lima menit lewat dari waktunya. Akhirnya didatangi petugas yang membunyikan lonceng di Gereja. Dia Juga mengaku heran, karena sudah sedari tadi dia menarik lonceng tapi, suara dentangnya tidak ada.

Ketika mereka sedang terheran-heran, tiba-tiba dari tali yang di pegangnya mengalir darah. , darah tersebut datangnya dari atas,berasal dari tempat di mana Lonceng diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah itu. Tahukah Anda apa yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng besar itu ditemui tubuh si Ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk Bandul di dalam lonceng yang mengakibatkan lonceng tidak berbunyi, sebagai gantinya kepalanya yang terbentur ke dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata . Sementara si Anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan.Dia menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya. Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke Atas dan mengikat dirinya di lonceng tersebut serta memeluk besi di dalam lonceng,untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

Demikianlah, sangat jelas kasih seorang ibu untuk anaknya, betapapun jahatnya si Anak. Marilah kita mengasihi orang tua kita masing-masing , selagi kita masih mampu karena mereka adalah sumber kasih Tuhan bagi kita di Dunia ini. Amin.
kuontai
25-07-2007, 01:15 PM
Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal. 

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah. Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi. Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan tidak digubrisnya. Pukul 18.30. 

"Tinnn.. Tiiiinnnnn...!!" 

Cassie kecil melompat girang! Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dicintainya itu masuk ke rumah. 

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu menghempaskan diri di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga. Bagi si kecil Cassie juga yang tentunya belum mengerti banyak. Di otaknya yang kecil, Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan Papa pulang. 

"Mama, mama.. Mama, mama..." Cassie menggerak-gerakkan tangan Mama. Mama diam saja. 

Dengan cemas Cassie bertanya, "Mama sakit ya? Mananya yang sakit? Mam, mana yang sakit?" 

Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata. 

Cassie makin gencar bertanya, "Mama, mama... mana yang sakit? Cassie ambilin obat ya? Ya? Ya?" 

Tiba-tiba... 

"Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!" Mama membentak dengan suara tinggi. 

Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama... Cassie salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama? Cassie tidak boleh sayang Mama? 

Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan otak kecil Cassie merekam semuanya. 

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa. 

"Tinnn.. Tiiiinnnnn...!!" 

Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan mengunci pintu. Menghilang dari pandangan. 

"Cassie mana?". "Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya." 

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua. Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: "Mengapa anakku sendiri, yang kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku? Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama orangtua! Tidak seperti jaman dulu." 

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam diam. Dari jauh. Dari tempat dimana ia tidak akan terluka. 

"Mama, Papa, katakan padaku, bagaimana caranya memeluk seekor landak?"
kuontai
25-07-2007, 01:17 PM
Pada suatu malam, seorang buta berpamitan pulang dari rumah sahabatnya. Sang sahabat membekalinya dengan sebuah lentera pelita. 

Orang buta itu terbahak berkata: "Buat apa saya bawa pelita? Kan sama saja buat saya! Saya bisa pulang kok." 

Dengan lembut sahabatnya menjawab, "Ini agar orang lain bisa melihat kamu, biar mereka tidak menabrakmu." 

Akhirnya orang buta itu setuju untuk membawa pelita tersebut. Tak berapa lama, dalam perjalanan, seorang pejalan menabrak si buta. 

Dalam kagetnya, ia mengomel, "Hei, kamu kan punya mata! Beri jalan buat orang buta dong!" 

Tanpa berbalas sapa, mereka pun saling berlalu. 

Lebih lanjut, seorang pejalan lainnya menabrak si buta. 

Kali ini si buta bertambah marah, "Apa kamu buta? Tidak bisa lihat ya? Aku bawa pelita ini supaya kamu bisa lihat!" 

Pejalan itu menukas, "Kamu yang buta! Apa kamu tidak lihat, pelitamu sudah padam!" 

Si buta tertegun.. 

Menyadari situasi itu, penabraknya meminta maaf, "Oh, maaf, sayalah yang 'buta', saya tidak melihat bahwa Anda adalah orang buta." 

Si buta tersipu menjawab, "Tidak apa-apa, maafkan saya juga atas kata-kata kasar saya." 

Dengan tulus, si penabrak membantu menyalakan kembali pelita yang dibawa si buta. Mereka pun melanjutkan perjalanan masing-masing. 

Dalam perjalanan selanjutnya, ada lagi pejalan yang menabrak orang buta kita. 

Kali ini, si buta lebih berhati-hati, dia bertanya dengan santun, "Maaf, apakah pelita saya padam?" 

Penabraknya menjawab, "Lho, saya justru mau menanyakan hal yang sama." 

Senyap sejenak. 

secara berbarengan mereka bertanya, "Apakah Anda orang buta?" 

Secara serempak pun mereka menjawab, "Iya.," sembari meledak dalam tawa. 

Mereka pun berupaya saling membantu menemukan kembali pelita mereka yang berjatuhan sehabis bertabrakan. 

Pada waktu itu juga, seseorang lewat. Dalam keremangan malam, nyaris saja ia menubruk kedua orang yang sedang mencari-cari pelita tersebut. Ia pun berlalu, tanpa mengetahui bahwa mereka adalah orang buta. 

Timbul pikiran dalam benak orang ini, "Rasanya saya perlu membawa pelita juga, jadi saya bisa melihat jalan dengan lebih baik, orang lain juga bisa ikut melihat jalan mereka." 

Pelita melambangkan terang kebijaksanaan. Membawa pelita berarti menjalankan kebijaksanaan dalam hidup. Pelita, sama halnya dengan kebijaksanaan, melindungi kita dan pihak lain dari berbagai aral rintangan (tabrakan!). 

Si buta pertama mewakili mereka yang terselubungi kegelapan batin, keangkuhan, kebebalan, ego, dan kemarahan. Selalu menunjuk ke arah orang lain, tidak sadar bahwa lebih banyak jarinya yang menunjuk ke arah dirinya sendiri. Dalam perjalanan "pulang", ia belajar menjadi bijak melalui peristiwa demi peristiwa yang dialaminya. Ia menjadi lebih rendah hati karena menyadari kebutaannya dan dengan adanya belas kasih dari pihak lain. Ia juga belajar menjadi pemaaf. 

Penabrak pertama mewakili orang-orang pada umumnya, yang kurang kesadaran, yang kurang peduli. Kadang, mereka memilih untuk "membuta" walaupun mereka bisa melihat. 

Penabrak kedua mewakili mereka yang seolah bertentangan dengan kita, yang sebetulnya menunjukkan kekeliruan kita, sengaja atau tidak sengaja. Mereka bisa menjadi guru-guru terbaik kita. Tak seorang pun yang mau jadi buta, sudah selayaknya kita saling memaklumi dan saling membantu. 

Orang buta kedua mewakili mereka yang sama-sama gelap batin dengan kita. Betapa sulitnya menyalakan pelita kalau kita bahkan tidak bisa melihat pelitanya. Orang buta sulit menuntun orang buta lainnya. Itulah pentingnya untuk terus belajar agar kita menjadi makin melek, semakin bijaksana. 

Orang terakhir yang lewat mewakili mereka yang cukup sadar akan pentingnya memiliki pelita kebijaksanaan. 

Sudahkah kita sulut pelita dalam diri kita masing-masing? Jika sudah, apakah nyalanya masih terang, atau bahkan nyaris padam? JADILAH PELITA, bagi diri kita sendiri dan sekitar kita. 

Sebuah pepatah berusia 25 abad mengatakan: Sejuta pelita dapat dinyalakan dari sebuah pelita, dan nyala pelita pertama tidak akan meredup. Pelita kebijaksanaan pun, tak kan pernah habis terbagi. 

Bila mata tanpa penghalang, hasilnya adalah penglihatan. Jika telinga tanpa penghalang, hasilnya adalah pendengaran. Hidung yang tanpa penghalang membuahkan penciuman. Fikiran yang tanpa penghalang hasilnya adalah kebijaksanaan.
kuontai
04-08-2007, 12:16 PM
KENAPA bulan dan matahari tak dapat bertemu…Sedangkan BULAN dan BINTANG sahabat sejati???

”Cahaya bulan tidak pernah meramal, itu janji yang dipegangnya. Ia juga tidak pernah mengingatkan atau memberi awas-awas. Ia hanya menerima sinar matahari yang kemudian dipantulkannya ke bumi: kilau-kemilau” –Nur Rohayati Nengsih-

Suatu hari pernah ku dengar sebuah bintang berbicara pada bulan “Aku tidak ingin lagi menemanimu mulai malam ini dan seterusnya” katanya.

“Kenapa?” tanya bulan “Padahal aku menyukaimu, aku menyukai malam-malam dimana kau ada dan menemani ku hingga fajar menjelang” tetapi bintang itu hanya diam meredup dan bersembunyi di balik mega. Justeru kerana bulan menyukainya maka bintang itu menghilang. Aku mengetahui hal itu kerana sebuah bintang lain yang adalah teman karibnya mengatakannya padaku.

Cinta memang aneh, bukankah ia seharusnya mempersatukan?Bintang itu mencintai bulan. Tetapi bulan tidak mencintainya, ia hanya ‘menyukainya’. Siapa pula yang membeza-beza kan cinta dengan suka? Kenapa bulan tidak membencinya saja, malah bulan menyukainya sehingga bintang tidak mempunyai alasan untuk tidak menemaninya malam nanti. Bintang yang sinarnya paling terang adalah bintang yang berwarna biru.

Sebuah iklan tong gas yang sering kulihat di television juga selalu membangga-banggakan produknya yang memiliki api biru, bukankah bintang juga seperti api yang panas dan memberikan sinar?

Bintang yang sedang kuceritakan hanyalah sebuah bintang kecil yang berwarna merah. Kerana itu ia tidak pernah dapat mengumpulkan keberanian untuk berkata pada bulan “Akumencintaimu!”. Bulan sendiri tidak pernah menganggap bintang sebagai lebih dari sahabat yang selalu menemaninya setia pmalam, dan sesungguhnya bintang mengetahuinya.

“Aku mencintai matahari” kata bulan ”Ia dapat membuatku bersinar indah diwaktu malam. Ia membuatku selalu ditunggu oleh para pencinta malam. Ia membuatku selalu dinanti oleh para pujangga yang yang menulis berbait-bait puisi tentang cinta hanya dengan melihat diriku di langit malam. Anak-anak kecil menunggu kehadiranku agar dapat bermain-main dilapangan di tengah kampung

Bintang tak pernah habis berfikir kenapa bulan mencintai matahari, bulan bahkan hampir tak pernah bertemu denganmatahari dan ketika mereka bertemupun bulan akan kehilangan sinarnya.

Kita menyebutnya gerhana matahari, saat itu kita tidak diperbolehkan melihat langsung ke langit, katanya dapat merosak mata kita. Matahari tidak pernah memikirkan bulan, ia hanya bersinar dan memberikan sinarnya tanpa membeza-bezakan. Ia bahkan tidak mengetahui kalau sinarnya dimanfaatkan oleh bulan untuk bersinar dimalam hari. Ia hanya menganggap bulan sebagai benda yang kadang-kadang menghalanginya memberi sinar kepada bumi.

Mungkin matahari mencintai bumi, aku tidak tahu kerana aku tidak pernah bercakap-cakap dengan matahari dan bumi tidak pernah bercerita tentang ini, sejujurnya aku tidak terlalu peduli.

Bintang merasa tidak mendapatkan keadilan. Kenapa bulan mencintai matahari yang bahkan tidak pernah memikirkan bulan, dan bukan mencintai bintang yang mencintai bulan dengan sepenuh hatinya? Bintang juga merasa tak berdaya kerana walaupun ia ingin memberikan seluruh sinarnya kepada bulan agar selalu kilau kemilau, bintang tak dapat melakukannya kerana jaraknya yang sangat jauh.

Matahari juga adalah bintang, bintang merah yang sama seperti dirinya, kerana letak nyalah matahari dapat terlihat lebih terang daripada bintang. Tapi bintang adalah bukan matahari, kerana itu bulan tidak mencintai bintang.

Cinta memang aneh. Kerana itu sekali lagi bintang berkata, kali ini kepada semua teman-temannya “Aku tidak ingin lagi menemani bulan mulai malam ini” kemudian ia menghilang (tak hanya meredup danbersembunyi di balik mega) dan tak pernah lagi menemani bulan.

Aku akan memberitahu sebuah rahsia sekarang, BINTANG ITU ADALAH AKU. Ia turun ke bumi sebagai bintang jatuh dan juga permintaan sepasang kekasih agar mereka berdua dapat hidup berbahagia hingga akhir hayatnya. Ia kemudian jatuh kerumahku dan menyusup ke dalam rahim ibuku dan menjadi aku.

Dan betapa pun aku tak ingin lagi menemani bulan, kadang-kadang aku akan sangat merindukannya

Dan aku akan menatap bulan dan mendengarkan percakapan semesta, sambil berharap suatu hari nanti bulan akan dapat mencintai bintang. Jika hari itu tiba aku akan terbang ke langit dan kembali menjadi bintang yang akan selalu menemani bulan.
kuontai
09-08-2007, 05:20 PM
Sepasang suami isteri - seperti pasangan lain di kota-kota besar - meninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah semasa keluar bekerja. Anak tunggal pasangan ini, perempuan berusia tiga setengah tahun. Bersendirian di rumah dia kerap dibiarkan pembantunya yang sibuk bekerja bermain diluar, tetapi pintu pagar tetap dikunci. Bermainlah dia sama ada berayun-ayun di atas buaian yang dibeli bapanya,ataupun memetik bunga raya, bunga kertas dan lain-lain di halaman rumahnya.

Suatu hari dia melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer,coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya... karena mobil itu bewarna gelap, coretannya tampak jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya bermotor ke tempat kerja kerana macet ada perayaan Thaipusam. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil. Dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikut imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari si pembantu rumah.

Pulang petang itu, terkejut pasangan itu melihat mobil yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah ini pun terus menjerit, "Kerjaan siapa ini?" Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya, dia terus mengatakan 'Tak tahu... !" "kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?" hardik si isteri lagi.

Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya. Dengan penuh manja dia berkata "Ita yg membuat itu abahhh.. cantik kan!" katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 kw telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja, seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan.

Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs be rbuat apa?. Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu.

Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. "Oleskan obat saja!" jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya.

Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. "Ita demam..." jawap pembantunya ringkas. "Kasih minum panadol ," jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. "Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap" kata majikannya itu.

Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke hospital kerana keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. "Tidak ada pilihan.." katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena gangren yang terjadi sedah terlalu parah. "Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah" kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak terketar-ketar madandatangani surat persetujuan pembedahan.

Keluar dari bilik pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis.

Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata.

"Ayah.. Ibu... Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang abah.. sayang mama." katanya berulang kali membuatkan si ibu gagal menahan rasa sedihnya.

"Ita juga sayang Kak Narti.." katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris.

"Ayah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil.. Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi," katanya berulang-ulang.

Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya.
kuontai
09-08-2007, 05:24 PM
Seorang ibu muda berlari kencang mengejar bis yang berjalan merambat di depan halte di daerah Kebon Nanas, Tangerang, Banten. Saat berlari, ia tidak sendiri. Ia menggendong anaknya yang masih berusia satu tahun. Pundak kecilnya juga masih harus dibebani dengan sekotak alat musik karaoke. Dua beban yang tak menyurutkan laju kencangnya mengejar bis kota , sayangnya bis besar itu hanya menyisakan kepulan asap hitam di wajah wanita pengamen itu.

Si kecil yang digendongnya, hanya bisa menutup mata untuk menghindari kepulan asap yang memerihkan mata. Ia, sungguh takkan pernah mengerti sebab apa dibawa berlari mengejar satu bis ke bis lainnya. Ia, juga takkan pernah memahami, setiap kali ibunya bernyanyi di depan puluhan pasang mata di dalam bis kota . Yang ia tahu hanyalah, terik matahari, atau derasnya hujan, debu jalanan, asap knalpot, aroma bis kota , tatapan iba, dan juga makian penumpang yang terganggu oleh hingar musik ibunya. Semua itu menjadi sahabat sehari-hari si kecil.

Lain lagi dengan pemandangan di Pasar pagi Cikokol, Tangerang, Banten. Pukul 02.00 dini hari, seorang anak berusia tidak lebih tiga tahun terlelap di tengah pasar. Berselimut angin malam, berteman aroma pasar, si kecil tertidur ditemani hiruk pikuk para aktor pasar; penjual dan pembeli. Sesekali mimpinya tergugah oleh klakson mobil, matanya terbuka melihat sekejap sang ibu yang sibuk melayani pembeli. Kemudian terlelap kembali merajut mimpi indahnya.

Anak pasar itu -kalau boleh disebut begitu- tak pernah tahu sebab apa ibunya menyertakannya dalam aktivitas di pasar dini hari itu. Ia tak pernah benar-benar mengerti kenapa dirinya berada di tengah- tengah tumpukan cabai, bawang, tomat dan sayuran setiap pagi dan melihat transaksi jual beli yang dilakukan ibunya. Saat terbangun dan menemani ibunya, cabai, bawang, tomat itulah sahabatnya. Angin pagi yang menusuk menjadi selimutnya, dan aroma tak sedap pasar becek lah yang kerap mengakrabinya.

Di tempat yang berbeda. Seorang ibu di Bogor naik turun KRL (kereta api listrik) menggendong anaknya yang cacat mental dan fisik, padahal si anak sudah berusia belasan tahun. Anak yang takkan pernah mengerti itu, benar-benar tidak tahu, sebab apa ibunya rela menanggung malu mengemis belas kasih dari penumpang kereta. Si anak juga tak pernah bertanya, 

“beratkah ibu menggendong saya?”

Masih di kereta yang sama, seorang ibu lainnya menggendong anaknya yang berusia tiga tahun. Si kecil yang lucu dan ramah itu, hanya memiliki sebelah tangan. Ia tak dianugerahi tangan kiri dan dua kaki saat terlahir ke dunia ini. Anak itu, tak pernah memahami kenapa di setiap menit selalu ada tetes air mata di sudut mata ibunya. Si kecil selalu tersenyum, meski air muka ibunya tak pernah menyiratkan bahagia. Senyum sang ibu kerap dipaksakan di depan para penumpang kereta, demi sekeping receh yang diharapnya.

***

Anak-anak itu, memang belum akan mengerti sebab apa ibunya mengejar bis kota , mengakrabi malam di pasar, dan menyusuri gerbong demi gerbong kereta api. Yang mereka tahu hanyalah, mereka tak pernah jauh dari ibunya. Yang mereka rasakan adalah kecupan di kening dan wajah setiap kali sang ibu berkesah tak mendapatkan rezeki.

Bahasa kalbu ibu berkata, 

“sebab cinta, ibu melakukan semua ini nak”.

Sungguh, jika tak karena cinta, langkahnya sudah terhenti. Cintalah yang mengajarkannya untuk menghapus kata “lelah” dan “putus asa” dalam kamus hidup seorang ibu.
kuontai
09-08-2007, 05:30 PM
20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh... Sam, suamiku, memberinya nama Eric.Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica.Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergike taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah...

Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya. Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica, Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja.Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun..., 2 tahun..., 5 tahun..., 10 tahun... telah berlalu sejak kejadian itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam... Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak... Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia melihat ke arah saya.Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada mommy!" Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?" "Nama saya Elic, Tante." "Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric???" Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga.

Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya.Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric...Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang sebenarnya terjadi?" "Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu," tapi aku akan nenceritakannya juga dengan terisak-isak... Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang.

Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric... Eric... Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu.Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apapun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja.Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami.Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali.

Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau, "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!" Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini,Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu..." Sayapun membaca tulisan di kertas itu... "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan...Katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan...!!!" Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
kuontai
09-08-2007, 05:34 PM
Semenjak kecil, saya takut untuk memperingati hari ibu karena tak berapa lama setelah saya lahir, saya dibuang oleh ibu saya.

Setiap kali peringatan hari ibu, saya selalu merasa tidak leluasa karena selama peringatan hari ibu semua acara televisi menayangkan lagu tentang kasih ibu, begitu juga dengan radio dan bahkan iklan biskuit pun juga menggunakan lagu tentang hari ibu.

Saya tidak bisa meresapi lagu-lagu seperti itu. Setelah sebulan lebih saya dilahirkan, saya ditemukan oleh seseorang di stasiun kereta api Xin Zhu. Para polisi yang berada di sekitar stasiun itu kebinggungan untuk menyusui saya. Tapi pada akhirnya, mereka bisa menemukan seorang ibu yang bisa menyusui saya. Kalau bukan karena dia, saya pasti sudah menanggis dan sakit. Setelah saya selesai disusui dan tertidur dengan tenang, para polisi pelan-pelan membawa saya ke De Lan Center di kecamatan Bao Shan kabupaten Xin Zhu. Hal ini membuat para biarawati yang sepanjang hari tertawa ria akhirnya pusing tujuh keliling.

Saya tidak pernah melihat ibu saya. Semasa kecil saya hanya tahu kalau saya dibesarkan oleh para biarawati. Pada malam hari, di saat anak-anak yang lain sedang belajar, saya yang tidak ada kerjaan hanya bisa menggangu para biarawati. Pada saat mereka masuk ke altar untuk mengikuti kelas malam, saya juga akan ikut masuk kedalam.

Terkadang saya bermain di bawah meja altar, mengganggu biarawati yang sedang berdoa dengan membuat wajah-wajah yang aneh. Dan lebih sering lagi ketiduran sambil bersandar di samping biarawati. Biarawati yang baik hati itu tidak menunggu kelas berakhir terlebih dahulu, tetapi dia langsung menggendong saya naik untuk tidur. Saya curiga apakah mereka menyukai saya karena mereka bisa memanfaatkan kesempatan ini untuk keluar dari altar.

Walaupun kami adalah anak-anak yang terbuang, tetapi sebagian besar dari kami masih memiliki keluarga. Pada saat tahun baru ataupun hari raya, banyak sanak saudara yang datang menjemput. Sedangkan saya, dimana rumah saya pun saya tidak tahu.

Juga karena inilah para biarawati sangat memperhatikan anak-anak yang tidak memiliki sanak saudara sehingga mereka tidak memperbolehkan anak-anak lain menggangu kami. Sejak kecil prestasi saya cukup bagus dan para biarawati mencarikan banyak pekerja sosial untuk menjadi guru saya. Kalau dihitung-hitung sudah cukup banyak yang menjadi pengajar saya. Mereka adalah lulusan dan dosen dari universitas Jiao dan universitas Qing, lembaga penelitian, dan insinyur. Guru yang mengajarkan saya IPA pada tahun sebelumnya adalah seorang mahasiswa dan sekarang dia telah menjadi asisten dosen. Guru yang mengajari saya Bahasa Inggris adalah seorang yang jenius. Tidak heran sejak kecil kemampuan saya dalam berbahasa Inggris sudah bagus.

Para biarawati juga memaksa saya untuk belajar piano. Semenjak kelas 4 SD, saya telah menjadi pianis di gereja dan pada saat misa saya yang bertanggung jawab untuk bermain piano. Karena didikan yang saya dapatkan di gereja, kemampuan berbicara saya pun juga bagus. Di sekolah saya sering mengikuti lomba berpidato, pernah juga menjadi perwakilan alumni untuk mengikuti debat.

Tetapi saya sama sekali tidak pernah mendapatkan peran yang penting dalam acara peringatan hari ibu..

Walaupun saya suka memainkan piano tetapi saya mempunyai satu prinsip. Saya tidak akan memainkan lagu-lagu yang berhubungan dengan hari ibu, kecuali jika ada orang yang memaksa saya. Tetapi tetap saja saya tidak akan memainkan lagu-lagu tersebut atas dasar keinginan saya sendiri.

Terkadang saya pernah berpikir, siapakah ibu saya? Saat membaca novel, saya menebak bahwa saya adalah anak haram, ayah meninggalkan ibu dan ibu yang masih muda akhirnya membuang saya.

Mungkin karena kepintaran saya yang cukup bagus, ditambah lagi dengan adanya bantuan dari pengajar yang sepenuh hati membantu, saya dengan lancar bisa lolos ujian masuk jurusan arsitektur di Universitas Xin Zhu. Saya menyelesaikan kuliah sambil bekerja sambilan. Biarawati Sun yang membesarkan saya terkadang datang mengunjungi saya. Jika teman-teman kuliah saya yang bandel-bandel itu melihat biarawati Sun, mereka akan langsung berubah menjadi kalem. Banyak teman-teman saya yang setelah mengetahui latar belakang saya, datang menghibur saya. Mereka juga mengakui, bahwa saya mempunyai pembawaan yang baik, dikarenakan saya dibesarkan oleh para biarawati

Saat wisuda, orang tua dari mahasiswa lain semua berdatangan, sedangkan keluarga saya satu-satunya yang hadir hanya biarawati Sun.

Kepala jurusan saya bahkan meminta biarawati Sun untuk foto bersama.

Di masa wajib militer, saya kembali ke De Lan Center. Tiba-tiba saja di hari itu biarawati Sun ingin membicarakan hal yang serius dengan saya. Dia mengambil sebuah amplop surat dari raknya dan dia mempersilahkan saya untuk melihat isi-isi dari amplop surat itu.

Di dalam amplop surat itu, terdapat dua lembar tiket kereta.

Biarawati Sun berkata pada saya bahwa pada saat polisi mengantar saya ke tempat ini, dalam baju saya terselip dua lembar tiket perjalanan dari tempat tinggal asal ibu saya menuju stasiun Xin Zhu.

Tiket pertama adalah tiket bus dari salah satu tempat di bagian selatan menuju ke Ping Dong. Dan tiket yang satunya lagi adalah tiket kereta api dari Ping Dong ke Xin Zhu. Ini adalah tiket kereta api yang lambat. Dari situ saya baru tahu bahwa ibu kandung saya bukanlah orang yang berada.

Biarawati Sun mengatakan pada saya bahwa mereka biasanya tidak suka mencari latar belakang dari bayi-bayi yang telah ditinggalkan. Oleh karena itu, mereka menyimpan dua tiket kereta ini dan memutuskan untuk memberikannya pada saat saya sudah dewasa.

Mereka telah lama mengamati saya dan pada akhirnya mereka menyimpulkan bahwa saya adalah orang yang rasional. Jadi seharusnya saya mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah ini. Mereka pernah pergi ke kota kecil ini dan menemukan bahwa jumlah penduduk kota kecil itu tidak banyak. Jadi jika saya benar-benar ingin mencari keluarga saya, seharusnya saya tidak akan menemui kesulitan.

Saya selalu terpikir untuk bertemu dengan orang tua saya. Tetapi setelah memegang dua tiket ini, mulai timbul keraguan dalam hati saya. Saya sekarang hidup dengan baik, mempunyai ijazah lulusan S1, dan bahkan memiliki seorang teman wanita akan menjadi teman hidup saya. Mengapa saya harus melihat ke masa lalu? Mencari masa lalu yang benar-benar asing bagi saya. Lagi pula besar kemungkinan kenyataan yang didapatkan adalah hal yang tidak menyenangkan.

Biarawati Sun justru mendukung saya untuk pergi ke kota asal ibu saya. Dia menggangap kalau saya akan memiliki masa depan yang cerah.

Jika teka-teki tentang asal-usul kelahiran saya tidak dijadikan alasan sebagai bayangan gelap dalam diri saya, dia terus membujuk diri saya untuk memikirkan kemungkinan terburuk yang akan saya hadapi, yang seharusnya tidak akan menggoyahkan kepercayaan diri saya terhadap masa depan saya.

Saya akhirnya berangkat ke kota yang berada di daerah pegunungan, yang bahkan tidak pernah saya dengar namanya. Dari kota Ping Dong saya harus naik kereta api selama satu jam lebih untuk tiba di sana.

Saat musim dingin, walaupun berada di daerah selatan, di kota ini hanya terdapat satu kantor polisi, satu pos kota, satu Sekolah Dasar, dan satu Sekolah Menengah Pertama, selain itu tidak ada lagi gedung yang lainnya.

Saya bolak-balik ke kantor polisi dan pos kota untuk mencari data kelahiran saya. Akhirnya saya menemukan dua dokumen yang berhubungan dengan diri saya. Dokumen pertama adalah data mengenai kelahiran seorang anak laki-laki. Dokumen kedua adalah data laporan kehilangan anak. Hilangnya anak itu adalah di saat hari kedua saya dibuang satu bulan lebih setelah saya dilahirkan. Menurut keterangan dari biarawati, saya ditemukan di stasiun Xin Zhu. Sepertinya saya sudah menemukan data-data kelahiran saya.

Sekarang masalahnya adalah ayah saya telah meninggal dunia dan ibu saya juga telah meninggal dunia beberapa bulan yang lalu. Saya mempunyai seorang kakak laki-laki. Kakak saya telah meninggalkan kota dan tidak tahu ke mana perginya.

Karena ini adalah kota kecil, maka semua orang saling mengenal.

Seorang polisi tua di kantor polisi memberitahu saya, bahwa ibu saya selalu bekerja di SMP. Dia lalu membawa saya menemui kepala SMP itu.

Kepala sekolah itu adalah seorang wanita dan beliau menyambut saya dengan ramah. Dia membenarkan bahwa ibu saya pernah bekerja di sini.

Dan beliau sangat baik hati, sedangkan ayah saya adalah orang yang sangat malas. Saat pria yang lain pergi ke kota untuk mencari pekerjaan, hanya ayah yang tidak mau pergi. Di kota kecil, ayah hanya bekerja sebagai pekerja musiman. Padahal di dalam kota sama sekali tidak ada pekerjaan yang bisa dia kerjakan.

Oleh karena itu, seumur hidup dia hanya mengandalkan ibu saya yang bekerja sebagai pekerja kasar. Karena tidak memiliki pekerjaan, suasana hatinya menjadi sangat tidak baik. Jadi seringkali dia mabuk- mabukan. Dan setelah mabuk, terkadang ayah memukul ibu atau kakak saya. Walaupun setelah itu ayah merasa menyesal, kebiasaan buruk ini sangat susah untuk diubah. Ibu dan saudara saya terusik seumur hidup olehnya. Pada saat kakak duduk di kelas dua SMP, dia kabur dari rumah dan semenjak saat itu ayah tidak pernah kembali lagi.

Sepengetahuan ibu kepala sekolah, ibu itu memiliki anak kedua. Namun setelah berumur satu bulan lebih, secara misterius anak itu menghilang begitu saja. Saat ibu kepala sekolah tahu bahwa saya dibesarkan di sebuah panti asuhan di daerah utara, beliau mulai menanyakan banyak hal kepada saya dan saya menjelaskannya satu per satu.

Beliau mulai tergerak hatinya dan kemudian mengeluarkan selembar amplop surat. Amplop ini ditinggalkan ibu saya sebelum ibu meninggal dan ditemukan di samping bantalnya. Kepala sekolah berpikir bahwa di dalamnya pasti terdapat barang-barang yang bermakna. Oleh karena itu, dia menyimpannya dan menunggu sampai ada keluarganya yang datang mengambil.

Dengan tangan yang gemetar, saya membuka amplop itu. Dalam amplop itu berisi tiket kereta api. Semua itu adalah tiket-tiket perjalanan dari kota kecil di bagian selatan ini menuju kecamatan Bao Shan kabupaten Xin Zhu, dan semuanya disimpan dengan baik. Kepala sekolah memberitahu saya bahwa setiap setengah tahun sekali, ibu saya pergi ke daerah di bagian utara untuk menemui salah satu saudaranya.

Namun, tidak ada satu orangpun yang mengenal siapa saudara itu.

Mereka hanya merasa bahwa setiap ibu saya kembali dari sana, suasana hatinya menjadi sangat baik.

Ibu saya menganut agama Budha di hari tuanya. Hal yang paling membanggakan baginya adalah ia berhasil membujuk beberapa orang kaya beragama Budha untuk mengumpulkan dana sebesar NT 1.000.000 yang disumbangkan ke panti asuhan yang dikelola oleh agama Katolik. Pada hari penyerahan dana, ibu saya juga ikut hadir.

Saya merasa merinding seketika. Pada suatu kali, ada satu bus pariwisata yang membawa para penganut agama Budha yang berasal dari daerah selatan. Mereka membawa selembar cek bernilai NT 1.000.000 untuk disumbangkan ke De Lan Center.

Para biarawati sangat berterimakasih dan mereka mengumpulkan semua anak-anak untuk berfoto bersama para penyumbang. Pada saat itu, saya yang sedang bermain basket. Saya juga ikut dipanggil dan dengan tidak rela, saya pun ikut berfoto bersama mereka. Sekarang saya menemukan foto itu di dalam amplop ini. Saya meminta orang untuk menunjukkan yang mana ibu saya. Saya tersentak seketika. Yang lebih membuat saya terharu adalah di dalamnya terdapat foto kenangan- kenangan wisuda saya yang telah difotokopi. Foto itu adalah foto saya bersama teman-teman saya yang sedang mengenakan topi toga. Saya juga termasuk di dalam foto itu. Ibu saya, walaupun telah membuang saya, tetap datang mengunjungi saya. Mungkin saja dia juga menghadiri acara wisuda saya.

Dengan suara tenang, kepala sekolah berkata, "Kamu seharusnya berterima kasih pada ibumu.

Dia membuangmu demi mencarikanmu lingkungan hidup yang lebih baik. Jika kamu tetap tinggal di sini, bisa-bisa kamu hanya lulus SMP, lalu pergi ke kota mencari kerja. Di sini hampir tidak ada orang yang mengecap pendidikan SMU. Lebih gawatnya lagi, jika kamu tidak tahan terhadap pukulan dan amarah ayahmu setiap hari, bisa-bisa kamu seperti kakakmu yang kabur dari rumah dan tidak pernah kembali lagi." Kepala sekolah kemudian memanggil guru yang lain untuk menceritakan hal-hal tentang saya.

Semuanya mengucapkan selamat karena saya bisa lulus dari Universitas Guo Li. Ada seorang guru yang berkata, bahwa di sini belum ada murid yang berhasil masuk ke Universitas Guo Li.

Saya tiba-tiba tergerak untuk melakukan sesuatu. Saya bertanya kepada kepala sekolah apakah di dalam sekolah ada piano. Beliau berkata bahwa pianonya bukan piano yang cukup bagus, tetapi terdapat organ yang masih baru. Saya membuka tutup piano dan menghadap matahari di luar jendela dan saya memainkan satu per satu lagu tentang ibu. Saya ingin orang-orang tahu, walaupun saya dibesarkan di panti asuhan tetapi saya bukanlah yatim piatu karena saya memiliki para biarawati yang baik hati dan senantiasa mendidik saya.

Mereka bagaikan ibu yang membesarkan saya, mengapa saya tidak bisa menganggap mereka selayaknya ibu saya sendiri? Dan juga ibu saya selalu memperhatikan saya. Ketegasan dan pengorbanannya lah yang membuat saya memiliki lingkungan hidup yang baik dan masa depan yang gemilang.

Prinsip yang saya tetapkan telah dilenyapkan. Saya bukan saja bisa memainkan lagu peringatan hari ibu, tetapi saya juga bisa menyanyikannya. Kepala sekolah dan para guru juga ikut bernyanyi.

Suara piano juga tersebar ke seluruh sekolah dan suara piano saya pasti berkumandang sampai ke lembah. Di senja hari ini, penduduk- penduduk di kota kecil akan bertanya, "Kenapa ada orang yang memainkan lagu tentang ibu?" Bagi saya hari ini adalah hari ibu.

Sebuah amplop yang dipenuhi tiket kereta api membuat saya untuk selamanya tidak takut untuk memperingati hari ibu.
kuontai
21-08-2007, 01:57 PM
Seorang pemrogram komputer yang saya pesan untuk memperbaiki PC di rumah datang terlambat. Katanya, di tengah jalan ban mobilnya kempes. Ketika sedang memperbaiki komputer, bor listriknya macet tak mau berfungsi. Akibat berbagai masalah tadi, ia kehilangan waktu kerjanya hampir dua jam. Rupanya penderitaannya tak hanya berhenti di sini. Persis saat mau pulang, mendadak mesin mobilnya ogah distart dan mogok.

Agar tidak kemalaman, saya mengantarkannya pulang. Dalam perjalanan ia tampak termenung sedih atas kesialan yang bertubi-tubi menimpanya hari itu. Sesampainya di depan rumahnya, tiba-tiba ia berhenti sebentar di depan sebuah pohon kecil yang tumbuh di halaman depan. Ia menyentuh ujung- ujung cabang pohon itu dengan kedua tangannya. Setelah itu, raut mukanya menampakkan perubahan besar. Begitu pintu rumah terbuka, wajah yang semual lesu kusam itu mendadak penuh senyuman.

Dengan riang dan hangat ia memeluk kedua anaknya serta mencium sang istri yang menyambutnya. Karena penasaran, sebelum berpamitan saya bertanya apa yang dia lakukan dengan pohon tersebut? "Oh, itu adalah pohon masalah saya," jawabnya. Menyadari lawan bicaranya kebingungan, pria ini melanjutkan bicara. "Saya sadar, ada banyak persoalan muncul dalam pekerjaan. Namun, yang pasti segala permasalahan itu bukan milik orang rumah, baik anak maupun istri saya.

Itulah sebabnya, sore hari setiap pulang dari kantor, sebelum masuk rumah saya selalu menaruh semua masalah atau problem pekerjaan di pohon ini. Keesokan harinya, saya ambil untuk di bawa ke kantor lagi." "Anehnya", lanjutnya sambil tersenyum, "di pagi hari ketika saya ambil lagi masalah-masalah tersebut dari pohon, rasanya tidak lagi seberat ketika saya taruh kemarin sore."
kuontai
21-08-2007, 02:04 PM
Aku bukan orang yang suka menguping percakapan orang lain. Tapi pada suatu malam, sewaktu aku melintasi halaman rumah kami, aku ternyata melakukannya. Istriku sedang berbicara kepada anak bungsu kami selagi ia duduk di lantai dapur. Jadi aku berhenti untuk mendengarkan di luar pintu belakang. 

Sepertinya ia mendengar beberapa anak menyombongkan pekerjaan ayah mereka. Bahwa semuanya para eksekutif hebat.. lalu mereka bertanya pada Bob, anak kami, "Papamu memiliki karier bagus macam apa?" mulailah mereka bertanya. 

Bob menggumam perlahan sambil memalingkan muka, "Ia hanya seorang buruh". 

Istriku yang baik menunggu sampai mereka semua pergi, lalu memanggil masuk putra kami. 

Katanya, "Mama ingin bicara sama kamu, Nak" seraya mencium pipinya yang berlesung pipit. "Kamu bilang, papamu hanya seorang buruh, dan apa yang kamu katakan itu betul. Tapi Mama ragu, apakah kamu tahu apa artinya yang sebenarnya, jadi Mama akan menjelaskan padamu." 

"Dalam seluruh industri yang membuat negeri kita hebat Dalam semua toko dan warung dan truk yang menarik muatan setiap hari... Setiap kali kamu melihat rumah baru dibangun, ingatlah, anakku. Diperlukan seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!" 

"Kalau semua bos meninggalkan meja mereka dan libur selama setahun. Roda industri masih bisa berjalan-berputar dengan cepat. Jika orang seperti papamu berhenti bekerja, industri itu tak bisa berjalan. Perlu seorang buruh biasa untuk menyelesaikan pekerjaan besar itu!" 

Aku menelan air mata dan berdeham saat memasuki pintu. 

Mata putra kecilku berbinar gembira saat ia melompat dari lantai. 

Ia memelukku sambil berkata, "Hai, Pa, aku bangga jadi anak Papa.. Karena Papa adalah satu dari orang-orang istimewa yang menyelesaikan pekerjaan besar."
kuontai
22-08-2007, 09:37 AM
Rumah sakit ditempat saya bekerja, biasanya sangat sepi pada bulan Januari. Saya berada di ruang suster jaga di lantai tujuh. Saat itu sudah jam 9 malam. Saya sampirkan sthetoscope melingkari leher saya dan menuju kamar 712, kamar terakhir dari lantai 7. Kamar 712 dimasuki pasien baru bernama Tuan Williams, seorang laki laki yang pendiam dan tidak menceritakan tentang keluarganya. 

Pada saat saya memasuki kamar, matanya sepertinya ingin tahu siapa yang datang, tetapi akhirnya sayu ketika mengetahui saya yang memasuki kamar tersebut. Saya tekan stethoscope ke dadanya dan mendengarkannya. Cepat, perlahan, kadang kadang tidak beraturan. Ada indikasi bahwa dia menderita sedikit. Ia menderita serangan jantung beberapa jam yang lalu. 

Lalu ia berkata, "Suster, maukah kamu..", lalu ia terdiam, dan dari kelopak matanya mengalir air mata, saya sentuh tangannya menunggu kelanjutan bicaranya, lalu ia mengusap airmatanya dan berkata, "Maukah engkau menelpon anakku dan memberitahukannya bahwa aku terkena serangan jantung.. saya tinggal sendirian, dan dia adalah satu satunya sanak saudara saya." 

Pernafasannya tiba-tiba saja mencepat, lalu aku naikkan kadar oxigennya menjadi 8 liter permenit. 

Lalu saya katakan, "Tentu saja saya akan telpon dia", sambil memperhatikan mukanya. 

Dia menarik sprei, sehingga dia dapat maju, dari air mukanya terpancar rasa penting sekali, dan berkata "Maukah engkau memanggilnya sekarang? Secepat engkau bisa?" Ia bernafas cepat, terlalu cepat. 

"Saya akan menelepon dia secepatnya", kata saya sambil menepuk pundaknya, lalu saya menuju pintu, mematikan lampu, dan ia menutup mata dari wajah yang sudah berusia 50 tahun itu. 

Sebelum saya sampai ke pintu bapak itu memanggil saya lagi "Suster, bisakah anda memberikan saya kertas dan pen?" 

Lalu saya ambil kertas bekas berwarna kuning, dan pen dari kantong saya, lalu meninggalkan kamar tersebut menuju ruang suster jaga. 

Lalu saya mencari berkas Tuan William, dan mendapatkan nomor telpon anak Tuan Williams dari sana lalu saya mulai meneleponnya. Suara yang halus menjawab. 

"Janie ini Sue Kidd, suster dari Rumah sakit, Saya menelepon kamu tentang ayah kamu, dia masuk Rumah sakit sore ini karena sedikit serangan jantung dan ..." 

"Oh tidak!" ia menjerit mengagetkan saya. "Dia tidak dalam keadaan sekarat kan?" 

"Sekarang dalam keadaan stabil," jawab saya. Semua terdiam, dan saya menggigit bibir saya. 

"Kau tidak boleh membiarkan dia mati!" katanya. Suaranya begitu sedih, membuat tangan saya gemetar memegang gagang telepon itu. 

"Ia dalam penanganan yang paling baik", jawab saya. 

"Tapi kamu tidak mengerti," jawabnya. "Ayah dan saya tidak pernah bicara. Pada ulang tahun ke 21 saya, kami berkelahi, mengenai pacar saya, lalu saya kabur dari rumah. Saya tidak mau kembali. Beberapa bulan ini saya ingin menemuinya untuk meminta maaf, dan kalimat terakhir yang saya katakan kepadanya adalah aku membencimu!". 

Saya mendengar Janie terisak isak. Saya duduk, mendengarkan dan air mata saya membakar mata saya. Seorang ayah dan anak, masing masing sangat kehilangan, sehingga membuat saya memikirkan ayah saya yang jauh, dan sudah lama rasanya saya tidak mengatakan aku sayang Papa. 

Ketika Janie berusaha mengendalikan tangisnya, saya dalam hati berdoa, "Tuhan biarkan anak ini menemukan pengampunan." 

"Saya datang dalam 30 menit," katanya dan klik! Sambungan telepon terputus. 

Saya berusaha menyibukkan diri dengan merapikan kembali file file di meja, tetapi saya tidak bisa ber konsentrasi. Kamar 712! Ya saya tahu saya harus kembali ke kamar 712! 

Saya setengah berlari kekamar 712 dan secepatnya membuka pintu. Tuan Williams terbaring tidak bergerak, dan saya mengecek denyut nadinya. Tidak ada! 

"Kode 99, kamar 712. Kode 99. Stat.", pemberitahuan tersebut terdengar di seluruh rumah sakit dalam sekejab, sesudah saya laporkan ke Dokter jaga. 

Tuan William terkena serangan jantung! Dengan secepatnya saya membuat nafas buatan dua kali, lalu menaruh tangan saya di jantungnya dan mulai memompa dadanya. Saya menghitung Satu, Dua,Tiga. Pada hitungan ke 15 saya kembali membuat nafas buatan. Kemanakah bantuan Dokter? Lalu saya lakukan kembali memompa jantungnya. Saya berkata Oh Tuhan jangan biarkan orang ini mati anaknya sedang dalam perjalanan, dan jangan biarkan berakhir seperti ini. 

Pintu kamar terbuka lebar, Dokter dan suster lainnya masuk, dan mendorong alat alat bantu. Dokter langsung mengambil alih memompa jantung. 

Saya berkata, "Tuhan, jangan biarkan berakhir seperti ini, jangan dalam keadaan kepahitan dan kebencian. Anaknya dalam perjalanan, dan biarkan dia mendapatkan kedamaian." 

"Mundur" teriak seorang dokter. 

Saya menyerahkan kepadanya pengejut lisrik, lalu ia taruh di dada tuan Williams beberapa kali kami lakukan, tetapi tidak berhasil, Tuan Williams sudah meninggal. 

Suster yang lain mencopotkan selang oksigen, dan alat alat dari tubuh Tuan Williams, kemudian satu persatu meninggalkan ruangan tersebut, hanya tinggal saya sendiri sambil bergumam, "Bagaimana hal ini bisa terjadi? Bagaimana? Bagaimana saya menghadapi anaknya?" 

Ketika saya keluar dari kamar tersebut, saya melihat seseorang berdiri di dekat air mancur, dokter yang tadi berada dikamar 712 berdiri disampingnya, berbicara dengannya sambil memegang bahunya. Lalu dokter itu pergi, meninggalkannya. Dan saya menduga bahwa orang tersebut adalah Janie. Janie langsung menyandarkan badannya ke dinding. Rasa terpukul terlihat dari wajahnya. Dokter telah memberitahukan bahwa ayahnya telah pergi. 

Saya menggandeng tangannya dan membawanya ke ruangan suster. Kami duduk di bangku hijau tanpa berkata apa-apa. Ia menatap tajam kalender, dengan tatapan kosong. 

"Janie, maafkan saya" 

Lalu Janie menjawab, "Saya tidak pernah membencinya, kamu tahu, saya mencintainya". 

Dalam hati saya berkata "Tuhan tolong Janie" 

Tiba tiba Janie berkata, "Saya mau melihat ayah saya". 

Dalam pikiran saya mengatakan Mengapa engkau ingin menambah kepedihan? Melihat ayahnya hanya akan menambah kesedihan. Saya berdiri, dan merangkulnya, lalu kami berjalan perlahan lahan menuju pintu kamar 712. Sebelum masuk kamar, saya memegang tangan Janie sedikit keras, berharap agar Janie akan berubah pikiran. Janie membuka pintu kamar, dan kami menuju ke arah tempat tidur. Janie duduk dipinggir tempat tidur, dan membenamkan mukanya ke seprai. Saya berusaha untuk tidak melihat Janie pada saat seperti ini, sedih, sedih ditinggalkan seseorang dicintainya, yang telah lama tidak bertemu. 

Saya bersandar ke meja disamping tempat tidur, dan tangan saya menyentuh ke sepotong kertas kuning, saya ambil dan membacanya: 

Janie ku sayang, 

Aku memaafkanmu. Aku berdoa agar engkau juga Memaafkanku. Aku tahu engkau mencintaiku. Aku mencintai engkau juga. 

Ayah. 

Kertas itu membuat tangan saya bergetar ketika saya menyerahkannya kepada Janie. Janie membacanya sekali, kemudian dua kali, wajahnya perlahan-lahan bersinar, kedamaian mulai terpancar dari matanya. Kemudian ia memeluk kertas tersebut. 

Kataku "Terima kasih Tuhan" sambil melihat ke arah jendela. 

Beberapa bintang terlihat bersinar di kegelapan malam. Butiran salju jatuh dijendela dan mencair, pergi selamanya. Kehidupan terlihat sama rapuhnya seperti butiran salju. Terima kasih Tuhan, bahwa Hubungan seringkali dapat rapuh seperti butiran salju, tetapi dapat diperbaiki kembali, walaupun tidak ada waktu yang indah yang dialami bersama. Saya bergegas keluar dari kamar, dan menuju telepon. Saya ingin menelepon ayah saya, dan mengatakan "Saya mencintai engkau"
kuontai
22-08-2007, 09:39 AM
Pada minggu ini Conrad, pembuat sepatu, bangun sangat awal, membersihkan tokonya, kemudian kembali ke dalam rumahnya, menyalakan api di tungku dan menyiapkan meja. Dia tidak akan bekerja. Dia sedang menanti teman, seorang tamu khusus: Tuhan sendiri. Kemarin malam Tuhan datang padanya dalam suatu mimpi dan memberitahukan bahwa Dia akan datang bertamu besok. 

Jadi Conrad duduk di ruangan yang nyaman dan menunggu, hatinya penuh dengan kegembiraan. Kemudian dia mendengar langkah kaki di luar dan ketukan pada pintu "Itu DIA," pikir Conrad, sambil lari ke arah pintu dan membukanya. 

Ternyata itu hanyalah tukang pengantar surat. Wajahnya merah dan jari-jarinya biru kedinginan. Dia menatap sambil menelan ludah ke arah cerek teh di tungku. Conrad mempersilahkan dia duduk menghangatkan diri di dekat tungku. Kata pengantar surat itu, "Terima kasih, teh ini enak sekali." Kemudian dia menghilang di tengah hawa dingin di luar. 

Ketika pengantar surat itu pergi, Conrad membersihkan meja lagi. Lalu dia duduk di dekat jendela untuk menanti kedatangan tamunya. Dia merasa yakin bahwa tamu itu akan datang. 

Tiba-tiba dia melihat seorang anak laki-laki kecil yang sedang menangis. Conrad memanggilnya dan mengetahui bahwa anak itu kehilangan jejak ibunya di kota dan tidak tahu jalan untuk pulang. Kemudian, Conrad menulis pada secarik kertas dan meletakkannya di atas meja. Tulisan itu berbunyi, "Tunggulah saya. Saya akan kembali segera." Kemudian dia membiarkan pintu terbuka sedikit dan menggandeng anak kecil itu serta membawanya pulang. 

Ternyata perjalanan itu lebih lama dari perkiraannya, bahkan hari sudah mulai agak gelap ketika dia kembali ke rumah. Dia terkejut mendapati seseorang ada di dalam rumahnya sambil memandang ke luar jendela. tapi lalu hatinya berdebar. Orang itu pastilah Tuhan, yang sudah berjanji untuk datang. 

Namun Conrad mengenali bahwa orang itu adalah perempuan yang tinggal di tingkat atas dari flatnya. Perempuan itu tampak sedih dan lelah. Dia memberi tahu bahwa dia tak bisa tidur sama sekali sebab anak laki-lakinya Peter sedang sakit parah. Dia tidak tahu mau berbuat apa. Anak itu diam terbaring di sana, demamnya tinggi, dan dia tidak bisa lagi mengenali ibunya. 

Conrad merasa ikut sedih. Perempuan itu hidup sendiri dengan anaknya di sana sejak suaminya meninggal dalam kecelakaan. Jadi dia ikut wanita itu. Mereka bersama-sama menyelimuti Peter dengan kain basah. Conrad duduk di tepi tempat tidur anak laki-laki itu, sementara ibunya beristirahat sejenak. 

Ketika dia kembali ke ruangannya, hari sudah larut malam. Conrad sangat lelah dan sungguh kecewa ketika membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Hari sudah larut. Tuhan belum juga datang. 

Tiba-tiba dia mendengar suara. Ternyata suara Tuhan yang berkata, "Terima kasih, karena menghangatkan tubuh saya di rumahmu hari ini. Terima kasih karena menunjukkan jalan ke rumah. Dan terima kasih atas dukungan dan bantuanmu. Conrad, saya berterima kasih karena hari ini saya bisa menjadi tamumu."
meomeo
27-08-2007, 12:04 AM
Surat Untuk Libby di Surga(In Loving Memory of Allyvia Adzhani N. Saelan, 25 April 1998-29 April 2003)
Dear Libby,
Apa kabar Libby ? Akhir-akhir ini ayah kangen dan ingat terus sama Libby, apalagi di negara kita saat ini sedang berjangkit penyakit demam berdarah. Virus yang mengantarkan Libby menghadap Tuhan YME.
Ayah ingat hampir satu tahun yang lalu. Sejak hari Sabtu tgl 19 April 2003, Libby sudah mengeluh kurang enak badan, ayah langsung membawa Libby ke dokter specialis Libby di Mall Ambassador hari itu juga untuk mendapatkan perawatan. Dokter waktu itu menyatakan bahwa Libby sakit radang tenggorokan.
Walaupun sudah agak membaik, hari Senin 21 April 2003 Libby tidak sekolah dulu agar bisa beristirahat dan lagipula besok Libby akan perform ballet untuk pertama kalinya. Ketika ayah pulang kantor, Libby sangat excited untuk segera perform ballet besok harinya. Ayah juga ingat Libby tunjukkan semua costum yang telah dimiliki. Kamu memang sangat-sangat menyenangi ballet. "Ayah lihat Libby perform besok kan ?" tanya Libby pada ayah, yang ayah langsung jawab iya.
Keesokan harinya tanggal 22 April 2003, Ayah sengaja mengambil cuti agar bisa leluasa hadir ke performance ballet Libby yang pertama. Pk 6.15 Ayah mengantarkan Libby sekolah, sepanjang perjalanan Libby terus berbicara mengenai performance ballet (suatu ritual yang hampir setiap hari ayah jalani bersama Libby ketika Libby sudah mulai TK di Lab.School Rawamangun). Karena hari itu cuti, ayah pun bisa menjemput Libby ketika pulang sekolah pk 11.30, Libby sangat senang ayah jemput karena tidak biasa-biasanya ayah bisa jemput kamu. Dalam perjalanan pulang Libby bertanya sama ayah, "Ayah, siapa Kartini itu?" lalu ayah jawab "Kartini itu seorang putri yang berjasa pada kaum wanita makanya diperingati sebagai hari Kartini". Kemudian Libby bertanya lagi "kok putri tidak pakai baju Cinderella" (Libby tahunya gambaran Putri adalah seperti yang digambarkan dalam karakter Disney).
Ayah berusaha menjawab semua pertanyaan Libby dengan sebaik mungkin. Bahkan sampai pada pertanyaan "Kartini itu sudah meninggal ya ayah?", ayah jawab iya. Libby masih terus memborbardir ayah dengan pertanyaan, "Kalau Libby mau diperingati harus meninggal dulu ya yah? Ayah agak bingung juga menjawabnya, namun akhirnya ayah jawab "tidak perlu karena ada juga yang masih hidup sudah diperingati" .
Pertanyaan itu tadinya hampir tidak ada artinya kecuali contoh lain dari curiosity kamu yang sangat tinggi, namun belakangan ayah mulai menyadari bahwa mungkin ini adalah firasat tepat seminggu sebelum kepulangan kamu ke Tuhan YME.
Ketika perform ballet, ayah ingat Libby kelihatan masih lemas, belum lagi beberapa teman kamu tidak menari dengan baik sehingga secara keseluruhan penampilannya tidak terlalu menggembirakan. Kamu yang sangat perfectionist kelihatan sangat kecewa dengan penampilan kelompokmu yang kurang kompak.
Ketika pulang, Libby kelihatan agak murung, ayah terus menerus berusaha untuk menghibur Libby dengan mengatakan bahwa performance- mu cukup baik. Tapi tidak dapat ditutupi bahwa Libby kecewa sekali. Hari Kamis malam, Libby panas lagi sampai 40 derajat. Tanggal 25 April 2003, Libby ulang tahun yang ke-5, kamu masih sakit sehingga tidak masuk sekolah. Ayah dan Mommy kembali membawa kamu ke dokter, dokter mengatakan bahwa jika sampai Senin belum turun juga panasnya, Senin harus diambil darah.
Tanggal 26 April 2003, Libby merayakan pesta ulang tahun yang ke-5 di McDonald Arion. Libby sudah mulai turun panasnya hanya masih kelihatan lemas. Pesta ini adalah permintaan pertama Libby karena biasanya ulangtahunmu hanya dirayakan di sekolah dengan membawa kue ulang tahun saja. Entah kenapa Libby menginginkan pesta di McDonald lengkap dengan badut-nya. Ayah minta maaf sama Libby karena terlambat mengurusnya, badut yang diminta kamu tidak bisa hadir di pesta, ayah tidak tahu bahwa McD tidak memperbolehkan badut dari luar.
Libby kelihatan kecewa dengan ketidakhadiran badut itu karena ternyata kamu sudah bercerita pada teman-temanmu bahwa di pestanya akan ada badut teletubies (Ayah sangat-sangat menyesal tidak bisa memenuhi permintaan Libby, maafin ayah ya Liv...).
Libby ngomong, "badutnya nggak bisa datang ya, yah? Gimana ya nanti Libby dibilang pembohong sama teman-teman. Tapi nggak apa-apalah teman-teman pasti ngerti". Libby adalah seorang yang sangat patuh terhadap janji, kamu tidak mau mengecewakan orang lain.
Pulang dari pesta Libby kelihatan sakit lagi, ayah mencoba untuk menghibur kamu dengan melakukan kompres dan lain-lain, panas kamu tidak turun-turun, hadiah yang banyak pun hampir-hampir tidak kamu sentuh, hanya saja ada percakapan kita yang ayah masih sangat ingat. Libby ingat nggak ketika ayah tanya "Liv, uang yang dari nini kan banyak, mau dibeliin apa sama Libby, beliin mainan ya!?" Libby malah bilang sama ayah "Ayah, mainan Libby udah banyak sekali...bahkan sebagian mau Libby kasiin ke orang miskin, kasihan kan mereka nggak punya mainan... Libby mau kirim bunga yang banyak sekali untuk nini..Nini pasti seneng..."
Ayah kaget denger jawaban Libby tapi sama sekali tidak menyangka apa-apa..belakangan ayah baru sadar ini adalah tanda-tandamu yang lain karena waktu sebelum pemakaman ternyata rumah nini tempat kamu disemayamkan dipenuhi oleh bunga-bunga yang bersimpati sama kita.
Libby ingat nggak hari Minggu ayah dan Mommy bawa Libby ke rumah sakit Bunda untuk diambil darah karena ayah tidak mau nunggu lagi sampai hari Senin. Ayah ingat Libby minta ayam A&W dan minuman Fruity strawberry, ayah seneng sekali Libby minta makan karena sudah dua hari ke belakang Libby susah makan. Libby nggak pernah mengeluh sakit perut cuma mengeluh pusing saja dan mual.
Besoknya mommy membawa hasil test darah ke dokter lagi, trombosit kamu masih 149.000. Kata dokter Libby terkena gejala Thypus dan disarankan untuk istirahat dan banyak minum. Sore harinya panas Libby sudah mulai turun, ayah senang sekali pada saat itu, bahkan ayah telepon ke Bandung untuk memberi tahu bahwa Libby sudah turun panasnya, cuma pada saat itu Libby masih sangat lemas dan masih muntah.
Ayah pikir Libby sudah mendingan. Malamnya ternyata Libby terus mengigau dalam tidur, ayah, mommy dan uti nggak berhenti berdoa, kita putuskan untuk membawa kamu ke dokter lagi first thing in the morning. Sama sekali tidak terbersit dalam pikiran ayah bahwa Libby mungkin sudah mulai didekati oleh malaikat. Panas kamu sudah turun sekali ke 36 derajat.
Keesokan harinya Libby dianter sama mommy dan uti ke dokter lagi, di dokter menurut mommy trombosit kamu sudah turun ke 59.000 dan langsung diperintahkan untuk masuk rumah sakit. Mommy membawa kamu ke RS Mitra Jatinegara karena kata dokter, disana PICU (ICU anak-anak) nya cukup baik.
Kata Mommy, dalam perjalanan ke RS, kamu masih minta mie dan pisang. Mommy ingat di dalam mobil Libby ngomong, "Ma, kok orang-orang itu tidurnya aneh ya?" Mommy nggak bisa jawab cuma bilang, "Libby kuat ya...." sampai di rumah sakit Libby sudah nggak sadar, ketika ditaruh di bed gawat darurat, Libby langsung kejang dan pergi untuk selamanya sebelum dokter sempat melakukan pertolongan apa-apa.
Ayah minta maaf ya Liv nggak bisa nememin kamu pulang ke rumah kamu di surga. Ayah ngerasa bodoh sekali malah ikut meeting di kantor ketika kamu sedang berjuang dengan maut. Tapi memang jalannya sudah harus begitu, ayah rela Libby pulang ke rumah pemilik Libby karena ayah hanya diberi kesempatan untuk merawat Libby selama tepat lima tahun.
Mommy sekarang sedang hamil lagi, Adelle sudah mulai cerewet, maunya sekarang pake baju punya Libby terus. Kemarin-kemarin dia terus berbicara mengenai kamu, Libby datang ke mimpinya Adelle ya?? Ya udah dulu ya Liv, ayah harus kerja dulu. Ayah mau buat surat buat teman-teman ayah biar mereka belajar dari pengalaman kita.
Cium sayang
Ayahmu: Dicky
Teman-teman, pelajaran yang bisa kita ambil dari pengalaman kami adalah :
1. Pelajari dan kenali berbagai jenis penyakit dan gejalanya. Libby terkena demam berdarah dan kami sudah terlambat untuk membawanya ke rumah sakit. Jika anak-anak kita, atau kita sendiri panas selama dua hari berturut-turut, lebih baik langsung ke dokter dan minta periksa darah. Minta sekalian periksa darah untuk dengue rapid karena kadang-kadang trombosit-nya masih 200.000 (batas normal adalah 150.000-400. 000) tetapi sebenarnya sudah terkena virus dengue. Jika dokter menyatakan thypus atau radang tenggorokan, atau flu biasa, lebih baik cari second opinion dari dokter yang lain.
2. Sampai meninggalnya Libby, tidak timbul bercak-bercak merah di sekujur tubuhnya, tidak mimisan, tidak muntah darah. artinya symptom dengue sudah tidak khas. Salah satu cara termudah untuk mendeteksi dini DBD adalah dengan menekan salah satu kuku ibu jari, kemudian lihat apakah permukaan yang putih ketika ditekan langsung kembali merah.
Karena DBD menyebabkan darah agak mengental sehingga ketika selesai dipencet, biasanya kuku yang terkena DBD agak lambat kembali merahnya.
Raba denyut nadi, penderita DBD biasanya denyut nadinya agak lemah.
3. Pantau terus kondisi pasien jika sudah positif DBD, kadang-kadang beberapa rumah sakit mencek darah hanya sehari sekali, minta pengecekan dilakukan 6 jam sekali. Jika trombosit sudah mulai memasuki 30.000, tanya dan siapkan beberapa teman dan keluarga yang memiliki darah yang sama dengan penderita untuk berjaga-jaga jika tranfusi darah dibutuhkan karena saat ini sulit mendapatkan persediaan darah 
4. Pakaikan mosquito repellent pada anak-anak kita di waktu siang untuk menjaga gigitan nyamuk aedes aegepty.
5. Jika anak sakit, tinggalkanlah urusan kantor atau urusan apa pun, keluarga jauh lebih penting daripada apa pun di dunia ini, anda akan menyesal seumur hidup jika mengalami apa yang saya alami.
6. Setelah semua usaha kita lakukan, pasrahkan semua kepada Tuhan YME karena bagaimana pun kita berusaha jika Tuhan berkehendak lain, maka tidak ada yang dapat menghalangi keputusanNya. Pasrah dan rela terhadap apa pun keputusan Tuhan.
rgds
Dicky
Sumber: Cerita ini disiarkan Radio Delta beberapa waktu lalu juga dimuat di beberapa tabloid Ibu Kota.
Surat ini dibuat oleh seorang ayah untuk anaknya yg sudah meninggal dan bukan rekayasa.
meomeo
27-08-2007, 12:07 AM
Los Felidas

Los Felidas adalah nama sebuah jalan di ibu kota sebuah
negara di Amerika Selatan, yang terletak di kawasan
terkumuh diseluruh kota. Ada sebuah kisah yang
menyebabkan jalan itu begitu dikenang orang, dan itu
dimulai dari kisah seorang pengemis wanita yang juga ibu
seorang gadis kecil. Tidak seorang pun yang tahu nama aslinya,
tapi beberapa orang tahu sedikit masa lalunya, yaitu bahwa
ia bukan penduduk asli disitu, melainkan dibawa oleh
suaminya dari kampung halamannya. Seperti kebanyakan
kota besar di dunia ini, kehidupan masyarakat kota terlalu
berat untuk mereka, dan belum setahun mereka di kota itu,
mereka kehabisan seluruh uangnya, dan pada suatu pagi
mereka sadar bahwa mereka tidak tahu dimana mereka
tidur malam nanti dan tidak sepeserpun uang ada dikantong.
Padahal mereka sedang menggendong bayi mereka yang
berumur 1 tahun.
Dalam keadaan panik dan putus asa, mereka berjalan dari
satu jalan ke jalan lainnya, dan akhirnya tiba di sebuah
jalan sepi dimana puing-puing sebuah toko seperti
memberi mereka sedikit tempat untuk berteduh.
Saat itu angin Desember bertiup kencang,
membawa titik-titik air yang dingin.
Ketika mereka beristirahat dibawah atap toko itu,
sang suami berkata:
"Saya harus meninggalkan kalian sekarang. Saya harus
mendapatkan pekerjaan, apapun, kalau tidak malam nanti
kita akan tidur disini."
Setelah mencium bayinya ia pergi. Dan ia tidak pernah embali.
Tak seorangpun yang tahu pasti kemana pria itu pergi,
tapi beberapa orang seperti melihatnya menumpang kapal
yang menuju ke Afrika. Selama beberapa hari berikutnya
sang ibu yang malang terus menunggu kedatangan suaminya,
dan bila malam tidur di emperan toko itu.
Pada hari ketiga, ketika mereka sudah kehabisan susu,
orang-orang yang lewat mulai memberi mereka uang kecil,
dan jadilah mereka pengemis di sana selama 6 bulan erikutnya.
Pada suatu hari, tergerak oleh semangat untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ibu itu bangkit
dan memutuskan untuk bekerja. Masalahnya adalah di
mana ia harus menitipkan anaknya, yang kini sudah hampir
2 tahun, dan tampak amat cantik jelita.
Tampaknya tidak ada jalan lain kecuali meninggalkan anak
itu disitu dan berharap agar nasib tidak memperburuk
keadaan mereka. Suatu pagi ia berpesan pada anak gadisnya,
agar ia tidak kemana-mana, tidak ikut siapapun yang
mengajaknya pergi atau menawarkan gula-gula.
Pendek kata, gadis kecil itu tidak boleh berhubungan
dengan siapapun selama ibunya tidak ditempat.
"Dalam beberapa hari mama akan mendapatkan cukup
uang untuk menyewa kamar kecil yang berpintu, dan kita
tidak lagi tidur dengan angin di rambut kita". Gadis itu
mematuhi pesan ibunya dengan penuh kesungguhan.
Maka sang ibu mengatur kotak kardus dimana mereka
tinggal selama 7 bulan agar tampak kosong,
dan membaringkan anaknya dengan hati-hati di dalamnya.
Di sebelahnya ia meletakkan sepotong roti.
Kemudian, dengan mata basah ibu itu menuju kepabrik sepatu,
di mana ia bekerja sebagai pemotong kulit.
Begitulah kehidupan mereka selama beberapa hari,
hingga di kantong sang Ibu kini terdapat cukup uang untuk
menyewa sebuah kamar berpintu di daerah kumuh.
Dengan suka cita ia menuju ke penginapan orang-orang
miskin itu, dan membayar uang muka sewa kamarnya.
Tapi siang itu juga sepasang suami istri pengemis yang
moralnya amat rendah menculik gadis cilik itu dengan paksa,
dan membawanya sejauh 300 kilometer ke pusat kota.
Di situ mereka mendandani gadis cilik itu dengan baju baru,
membedaki wajahnya, menyisir rambutnya dan membawanya
ke sebuah rumah mewah dipusat kota. Di situ gadis cilik itu dijual.
Pembelinya adalah pasangan suami istri dokter yang kaya,
yang tidak pernah bisa punya anak sendiri walaupun
mereka telah menikah selama 18 tahun. Mereka memberi
nama anak gadis itu Serrafona, dan mereka
memanjakannya dengan amat sangat. Di tengah-tengah
kemewahan istana itulah gadis kecil itu tumbuh dewasa.
Ia belajar kebiasaan-kebiasaan orang terpelajar seperti
merangkai bunga, menulis puisi dan bermain piano.
Ia bergabung dengan kalangan-kalangan kelas atas,
dan mengendarai Mercedes Benz kemanapun ia pergi.
Satu hal yang baru terjadi menyusul hal lainnya, dan bumi
terus berputar tanpa kenal istirahat.
Pada umurnya yang ke-24, Serrafona dikenal sebagai anak
gadis Gubernur yang amat jelita, yang pandai bermain piano,
yang aktif di gereja, dan yang sedang menyelesaikan gelar
dokternya. Ia adalah figure gadis yang menjadi impian tiap
pemuda, tapi cintanya direbut oleh seorang dokter muda
yang welas asih, yang bernama Geraldo. Setahun setelah
perkawinan mereka, ayahnya wafat, dan Serrafona beserta
suaminya mewarisi beberapa perusahaan dan sebuah
real-estate sebesar 14 hektar yang diisi dengan taman
bunga dan istana yang paling megah di kota itu.
Menjelang hari ulang tahunnya yang ke-27, sesuatu terjadi
yang merubah kehidupan wanita itu.

Pagi itu Serrafona sedang membersihkan kamar mendiang
ayahnya yang sudah tidak pernah dipakai lagi, dan di laci
meja kerja ayahnya ia melihat selembar foto seorang anak
bayi yang digendong sepasang suami istri.
Selimut yang dipakai untuk menggendong bayi itu lusuh,
dan bayi itu sendiri tampak tidak terurus, karena walaupun
wajahnya dilapisi bedak tetapi rambutnya tetap kusam.
Sesuatu ditelinga kiri bayi itu membuat jantungnya
berdegup kencang. Ia mengambil kaca pembesar dan
mengkonsentrasikan pandangannya pada telinga kiri itu.
Kemudian ia membuka lemarinya sendiri,
dan mengeluarkan sebuah kotak kayu mahoni. Di dalam
kotak yang berukiran indah itu dia menyimpan seluruh
barang-barang pribadinya, dari kalung-kalung berlian
hingga surat-surat pribadi. Tapi diantara benda-benda
mewah itu terdapat sesuatu terbungkus kapas kecil,
sebentuk anting-anting melingkar yang amat sederhana,
ringan dan bukan emas murni. Ibunya almarhum
memberinya benda itu sambil berpesan untuk tidak
kehilangan benda itu. Ia sempat bertanya, kalau itu
anting-anting, dimana satunya. Ibunya menjawab bahwa
hanya itu yang ia punya. Serrafona menaruh anting-anting
itu didekat foto. Sekali lagi ia mengerahkan seluruh
kemampuan melihatnya dan perlahan-lahan air matanya
berlinang.
Kini tak ada keragu-raguan lagi bahwa bayi itu adalah
dirinya sendiri. Tapi kedua pria wanita yang
menggendongnya, yang tersenyum dibuat-buat,
belum penah dilihatnya sama sekali. Foto itu seolah
membuka pintu lebar-lebar pada ruangan yang selama ini
mengungkungi pertanyaan-pertanyaannya, misalnya:
kenapa bentuk wajahnya berbeda dengan wajah kedua
orang tuanya, kenapa ia tidak menuruni golongan darah
ayahnya.
Saat itulah, sepotong ingatan yang sudah seperempat abad
terpendam, berkilat di benaknya, bayangan seorang wanita
membelai kepalanya dan mendekapnya di dada.
Di ruangan itu mendadak Serrafona merasakan betapa
dinginnya sekelilingnya tetapi ia juga merasa betapa
hangatnya kasih sayang dan rasa aman yang dipancarkan
dari dada wanita itu. Ia seolah merasakan dan mendengar
lewat dekapan itu bahwa daripada berpisah lebih baik
mereka mati bersama. Matanya basah ketika ia keluar dari
kamar dan menghampiri suaminya yang sedang membaca
koran: "Geraldo, saya adalah anak seorang pengemis,
dan mungkinkah ibu saya masih ada di jalan sekarang
setelah 25 tahun?" Itu adalah awal dari kegiatan baru
mereka mencari masa lalu Serrafonna.
Foto hitam-putih yang kabur itu diperbanyak puluhan ribu
lembar dan disebar ke seluruh jaringan kepolisian diseluruh
negeri. Sebagai anak satu-satunya dari bekas pejabat yang
cukup berpengaruh di kota itu, Serrafonna mendapatkan
dukungan dari seluruh kantor kearsipan, kantor surat
kabar dan kantor catatan sipil. Ia membentuk
yayasan-yayasan untuk mendapatkan data dari seluruh
panti-panti orang jompo dan badan-badan sosial di seluruh
negeri dan mencari data tentang seorang wanita.
Bulan demi bulan lewat, tapi tak ada perkembangan apapun
dari usahanya. Mencari seorang wanita yang mengemis
25 tahun yang lalu di negeri dengan populasi 90 juta bukan
sesuatu yang mudah. Tapi Serrafona tidak punya pikiran
untuk menyerah. Dibantu suaminya yang begitu penuh
pengertian, mereka terus menerus meningkatkan
pencarian mereka. Kini, tiap kali bermobil, mereka sengaja
memilih daerah-daerah kumuh, sekedar untuk lebih akrab
dengan nasib baik. Terkadang ia berharap agar ibunya
sudah almarhum sehingga ia tidak terlalu menanggung dosa
mengabaikannya selama seperempat abad. Tetapi ia tahu,
entah bagaimana, bahwa ibunya masih ada, dan sedang
menantinya sekarang. Ia memberitahu suaminya
keyakinan itu berkali-kali, dan suaminya
mengangguk-angguk penuh pengertian.
Pagi, siang dan sore ia berdoa: "Tuhan, ijinkan saya untuk
satu permintaan terbesar dalam hidup saya: temukan saya
dengan ibu saya".
Tuhan mendengarkan doa itu. Suatu sore mereka
menerima kabar bahwa ada seorang wanita yang mungkin
bisa membantu mereka menemukan ibunya.
Tanpa membuang waktu, mereka terbang ke tempat itu,
sebuah rumah kumuh di daerah lampu merah,
600 km dari kota mereka. Sekali melihat, mereka tahu
bahwa wanita yang separoh buta itu, yang kini terbaring
sekarat, adalah wanita di dalam foto. Dengan suara
putus-putus, wanita itu mengakui bahwa ia memang
pernah mencuri seorang gadis kecil ditepi jalan,
sekitar 25 tahun yang lalu. Tidak banyak yang diingatnya,
tapi diluar dugaan ia masih ingat kota dan bahkan potongan
jalan dimana ia mengincar gadis kecil itu dan kemudian
menculiknya. Serrafona memberi anak perempuan yang
menjaga wanita itu sejumlah uang, dan malam itu juga
mereka mengunjungi kota dimana Serrafonna diculik.
Mereka tinggal di sebuah hotel mewah dan mengerahkan
orang-orang mereka untuk mencari nama jalan itu.
Semalaman Serrafona tidak bisa tidur. Untuk kesekian
kalinya ia bertanya-tanya kenapa ia begitu yakin bahwa
ibunya masih hidup sekarang, dan sedang menunggunya,
dan ia tetap tidak tahu jawabannya.

Dua hari lewat tanpa kabar. Pada hari ketiga, pukul 18:00 senja,
mereka menerima telepon dari salah seorang staff mereka.
"Tuhan maha kasih, Nyonya, kalau memang Tuhan mengijinkan,
kami mungkin telah menemukan ibu Nyonya. Hanya cepat
sedikit, waktunya mungkin tidak banyak lagi."
Mobil mereka memasuki sebuah jalanan yang sepi,
dipinggiran kota yang kumuh dan banyak angin.
Rumah-rumah di sepanjang jalan itu tua-tua dan kusam.
Satu, dua anak kecil tanpa baju bermain-main ditepi jalan.
Dari jalanan pertama, mobil berbelok lagi kejalanan yang
lebih kecil, kemudian masih belok lagi kejalanan berikutnya
yang lebih kecil lagi. Semakin lama mereka masuk dalam
lingkungan yang semakin menunjukkan kemiskinan.
Tubuh Serrrafona gemetar, ia seolah bisa mendengar
panggilan itu. "Lekas, Serrafonna, mama menunggumu,
sayang". Ia mulai berdoa "Tuhan, beri saya setahun untuk
melayani mama. Saya akan melakukan apa saja".
Ketika mobil berbelok memasuki jalan yang lebih kecil,
dan ia bisa membaui kemiskinan yang amat sangat,
ia berdoa: "Tuhan beri saya sebulan saja". Mobil belok
lagi kejalanan yang lebih kecil, dan angin yang penuh derita
bertiup, berebut masuk melewati celah jendela mobil yang
terbuka. Ia mendengar lagi panggilan mamanya, dan ia
mulai menangis: "Tuhan, kalau sebulan terlalu banyak,
cukup beri kami seminggu untuk saling memanjakan".
Ketika mereka masuk belokan terakhir,
tubuhnya menggigil begitu hebat sehingga Geraldo
memeluknya erat-erat. Jalan itu bernama Los Felidas.
Panjangnya sekitar 180 meter dan hanya kekumuhan yang
tampak dari sisi ke sisi, dari ujung keujung.
Di tengah-tengah jalan itu, di depan puing-puing sebuah toko,
tampak onggokan sampah dan kantong-kantong plastik,
dan ditengah-tengahnya, terbaring seorang wanita tua
dengan pakaian sehitam jelaga, tidak bergerak-gerak.
Mobil mereka berhenti diantara 4 mobil mewah lainnya
dan 3 mobil polisi. Di belakang mereka sebuah ambulans
berhenti, diikuti empat mobil rumah sakit lain. Dari kanan
kiri muncul pengemis-pengemis yang segera memenuhi
tempat itu.
"Belum bergerak dari tadi." Lapor salah seorang.
Pandangan Serrafona gelap tapi ia menguatkan dirinya
untuk meraih kesadarannya dan turun.
Suaminya dengan sigap sudah meloncat keluar,
memburu ibu mertuanya.
"Serrafona, kemari cepat! Ibumu masih hidup, tapi kau
harus menguatkan hatimu."
Serrafona memandang tembok dihadapannya, dan ingat
saat ia menyandarkan kepalanya ke situ. Ia memandang
lantai di kakinya dan ingat ketika ia belajar berjalan.
Ia membaui bau jalanan yang busuk, tapi mengingatkannya
pada masa kecilnya. Air matanya mengalir keluar ketika
ia melihat suaminya menyuntikkan sesuatu ke tangan
wanita yang terbaring itu dan memberinya isyarat untuk
mendekat. "Tuhan", ia meminta dengan seluruh jiwa raganya,
"beri kami sehari, Tuhan, biarlah saya membiarkan mama
mendekap saya dan memberitahunya bahwa selama
25 tahun ini hidup saya amat bahagia. Jadi mama tidak
menyia-nyiakan saya". Ia berlutut dan meraih kepala
wanita itu kedadanya. Wanita tua itu perlahan membuka
matanya dan memandang keliling, ke arah kerumunan
orang-orang berbaju mewah dan perlente, ke arah
mobil-mobil yang mengkilat dan ke arah wajah penuh air
mata yang tampak seperti wajahnya sendiri ketika ia
masih muda. "Mama....", ia mendengar suara itu, dan ia
tahu bahwa apa yang ditunggunya tiap malam - antara
waras dan tidak - dan tiap hari - antara sadar dan tidak -
kini menjadi kenyataan. Ia tersenyum, dan dengan seluruh
kekuatannya menarik lagi jiwanya yang akan lepas.
Perlahan ia membuka genggaman tangannya,
tampak sebentuk anting-anting yang sudah menghitam.
Serrafona mengangguk, dan tanpa perduli sekelilingnya ia
berbaring di atas jalanan itu dan merebahkan kepalanya
di dada mamanya.
"Mama, saya tinggal di istana dan makan enak tiap hari.
Mama jangan pergi dulu. Apapun yang mama mau bisa kita
lakukan bersama-sama. Mama ingin makan, ingin tidur,
ingin bertamasya, apapun bisa kita bicarakan.
Mama jangan pergi dulu... Mama..." Ketika telinganya
menangkap detak jantung yang melemah, ia berdoa lagi
kepada Tuhan: "Tuhan maha pengasih dan pemberi,
Tuhan..... satu jam saja.... ...satu jam saja....." Tapi dada
yang didengarnya kini sunyi, sesunyi senja dan puluhan
orang yang membisu. Hanya senyum itu, yang menandakan
bahwa penantiannya selama seperempat abad tidak
berakhir sia-sia.
meomeo
27-08-2007, 12:09 AM
RENUNGAN - Hati Seorang Ayah
Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya,
tatkala tanpa sengaja dia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang
mulai berkerut-merut dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk, disertai
suara batuk-batuknya.
Anak wanita itu bertanya pada ayahnya : "Ayah, mengapa wajah Ayah kian
berkerut-merut dengan badan Ayah yang kian hari kian terbungkuk?"
Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda. 
Ayahnya menjawab :
"Sebab aku Laki-laki." Itulah jawaban Ayahnya. Anak wanita itu bergumam :
"Aku tidak mengerti." Dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya
membuatnya tercenung rasa penasaran.
Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak wanita itu, terus
menepuk-nepuk bahunya, kemudian Ayahnya mengatakan : "Anakku, kamu
memang belum mengerti tentang Laki-laki." Demikian bisik Ayahnya, yang
membuat anak wanita itu tambah kebingungan.
Karena penasaran, kemudian anak wanita itu menghampiri Ibunya lalu
bertanya kepada Ibunya : "Ibu, mengapa wajah Ayah jadi berkerut-merut
dan badannya kian hari kian terbungkuk? Dan sepertinya Ayah menjadi
demikian tanpa ada keluhan dan rasa sakit?"
Ibunya menjawab : "Anakku, jika seorang Laki-laki yang benar-benar
bertanggung-jawab terhadap keluarga itu memang akan demikian." Hanya 
itu jawaban sang Ibu. Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa,
tetapi dia tetap saja penasaran, mengapa wajah Ayahnya yang tadinya
tampan menjadi berkerut-merut dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk?
Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi. Di dalam impian itu
seolah-olah dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu ternyata suatu rangkaian
kalimat sebagai jawaban rasa penasarannya selama ini.
"Saat Ku-ciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga
serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga, dia senantiasa
akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa
aman, teduh dan terlindungi."
"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot untuk membanting-tulang
menghidupi seluruh keluarganya dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya."
"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi
yang berasal dari tetes keringatnya sendiri yang halal dan bersih, agar
keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapat cercaan
dari anak-anaknya."
"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja yang akan membuat dirinya
pantang menyerah, demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat
panasnya matahari, demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan karena tersiram hujan dan dihembus angin, dia relakan tenaga perkasanya
terkuras demi keluarganya, dan yang selalu dia ingat, adalah disaat
semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari
jerih-payahnya."
"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat 
dirinya selalu berusaha merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh
kesah, walaupun disetiap perjalanan hidupnya keletihan dan kesakitan
kerapkali menyerangnya."
"Ku-berikan perasaan keras dan gigih untuk berusaha berjuang demi
mencintai dan mengasihi keluarganya, didalam kondisi dan situasi apapun
juga, walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai
hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa
aman pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan
perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang
menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi dan 
saling mengasihi sesama saudara."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan
pengertian dan kesadaran terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan
saat mendatang, walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh
anak-anaknya."
"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan
pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Isteri yang baik adalah Isteri yang
setia terhadap Suaminya, Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa
menemani, dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun
duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji setiap
kesetiaan yang diberikan kepada Isteri, agar tetap berdiri, bertahan,
sejajar dan saling melengkapi serta saling menyayangi."
"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti, bahwa Laki-laki itu
senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya untuk mencari dan menemukan
cara agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga bahagia dan badannya
yang terbungkuk agar dapat membuktikan, bahwa sebagai Laki-laki yang
bertanggung jawab terhadap seluruh keluarganya, senantiasa berusaha
mencurahkan sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya,
keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya."
"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh sebagai pemimpin
keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan
sebaik-baiknya. Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh 
Laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini adalah amanah di dunia."
Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa
hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri kamar Ayahnya yang
sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan
mencium telapak tangan Ayahnya. "Aku mendengar dan merasakan bebanmu,
Ayah."
meomeo
27-08-2007, 12:11 AM
Saat Malam Hujan
by Agus Syafii
Begitu lebat, Jakarta bagai padang luas yang disirami. Didalam
angkutan umum anak kecil menyanyikan lagu tombo ati, sambil mengusap
ingusnya. Nyanyian itu nyanyian hati ditengah duka ibukota. Anak
kecil itu tak mengerti tentang duka, yang dia tahu setelah menyanyi 
berharap ada uang receh yang didapat.
Nyanyian tombo ati bagai air hujan yang menyirami hati yang terluka
akibat duka yang berkepanjangan. Sebuah pertanyaan sempat terlontar.
Sudahkah kita membaca duka dengan memahami makna dibalik semua ini? 
Apa ya kira-kira hikmahnya? Kita terkadang buta untuk membaca makna.
Mudahnya kita terjebak pada materi yang nampak.
Sebagai orang yang terlibat dunia pendidikan seringkali menemukan
banyak orang yang terluka hatinya dan berharap ketemu, kemudian 
ditumpahkan uneg2nya dan selesailah semua persoalan. Padahal yang
saya lakukan hanya bisa mendengarkan aja. Setelah itu saya katakan,
sebenarnya kita selalu memiliki jawaban dari setiap persoalan yang
ada pada diri kita. 
Pernah saya ketemu dengan anak yang hiper aktif. Belakangan saya
tahu dari ibunya, sang anak sering melihat ayah dan ibu bertengkar
sehingga sang anak menjadi hiper aktif. Saya katakan pada ibu itu,
sebenarnya ibu tahu jawaban dari persoalan anak ibu, jangan 
membiarkan anak menyaksikan pertengkaran orang tua.
Pertengkaran Ayah dan ibu akan mempengaruhi perkembangan anak.
Pertengkaran itu muncul karena rasa sakit dalam hati. Kiranya
benarlah Nabi SAW memberikan kita resep obatnya hati, agar kita 
membaca Quran dan Maknanya, Mendirikan shalat malam, berkumpul
dengan orang shaleh, berpuasa, dan senantiasa zikir malam. Rasanya
membuat hati kita menjadi tentram dikala kita mampu mengerjakannya.
Malampun mulai sayup, angin terasa dingin. Bersamaan laju kencang 
kendaraan. Nyanyian Lagu tombo ati terdengar bagaikan doa penyembuh
dari bocah pengamen bagi mereka yang hatinya terluka.
meomeo
27-08-2007, 12:13 AM
Ang Swee Chai 
Bintang Mungil Palestina 
REPUBLIKA, Minggu, 27 Agustus 2006 
Perempuan mungil itu bernama dr Ang Swee Chai. Mungil karena memang tinggi tubuhnya tidak sampai 1,5 m. Penampilan perempuan berdarah Cina itu pun bersahaja. Saat datang ke Jakarta belum lama ini, dia terlihat sederhana dengan kemeja merah muda dan celana gembung berwarna biru tua. Tutur katanya lembut, bahkan terkadang nyaris tak terdengar.
Siapa sangka, di balik sosok lembut itu, ada tekad baja untuk terbang ke Beirut saat Israel menyerang kawasan itu pada 1982. Ketika mendengar bahwa keberadaan sukarelawan ahli bedah dibutuhkan untuk merawat korban perang di Beirut , ia langsung meninggalkan pekerjaannya di rumah sakit dan meninggalkan sang suami Francis Khoo di London, Inggris.
Di sanalah, ia menyaksikan kebrutalan Israel , pembantaian, korban jatuh di sana-sini, dan kematian. ''Aku sudah menatap wajah sang maut dan telah kulihat kekuatan serta keburukannya, tetapi aku juga telah menatap ke dalam matanya, dan melihat ketakutannya,'' tulis Swee pada sang suami dalam salah satu suratnya ketika berkisah tentang kesedihan sekaligus optimismenya. Saat menjadi sukarelawan itulah, dr Ang seolah menemukan hakikatnya sebagai seorang dokter. Bekerja tanpa mengenal lelah, menolong tanpa pandang bulu meski mereka adalah pembantai itu. 
Bersama sang suami dan beberapa rekannya, dr Ang membentuk Medical Aid for Palestinians (MAP) yang memberi bantuan medis kepada rakyat Palestina baik di pengungsian maupun di wilayah pendudukan Israel . Berkat pengorbanan itulah pada 1987, pemimpin PLO, Yasser Arafat, menganugerahi dr Ang Swee Chai dengan gelar Star of Palestine. Inilah penghargaan tertinggi bagi pengabdian kepada rakyat Palestina.
Di Jakarta, Ang datang untuk menghadiri acara peluncuran bukunya, From Beirut to Jerusalem , Tears of Heaven. Saat itulah dia menampilkan slide berisi foto-foto betapa hancur dan menderitanya warga Lebanon . ''Kalau saya pasang semuanya, kita akan tiga hari berada di sini,'' katanya. Pada wartawan Irfan Junaidi, Yusuf Assidiq, dan fotografer Syakir, Ang mengungkap segala kekalutan menyaksikan sejarah yang terulang di Lebanon , perjuangannya, dan harapan. Pun tentang tiga kucing mungilnya.
Bagaimana Anda melihat krisis yang terjadi di Lebanon dan Palestina?
Satu hal jelas adalah Israel tetap melakukan pembunuhan di Lebanon dan Palestina. Ribuan ton bom dijatuhkan membunuh banyak orang. Dari sudut pandang saya, Israel mencoba mewujudkan keamanan dan untuk bertahan di kawasan itu. 
Tapi, sebenarnya bukan dengan cara kekerasan hal itu bisa dicapai. Jika Israel menjalin hubungan baik dengan negara-negara di sekitarnya, maka kemungkinan untuk mewujudkan perdamaian menjadi lebih besar. Atau jika menjadikan anggaran membuat bom untuk membiayai program bantuan kemanusiaan, jelas akan lebih bermanfaat. Jadi, saya tidak mengerti apa motivasi sebenarnya pasukan Israel melakukan kekejaman di sana . Tapi, saya berharap mereka membuka mata dan hati dalam melihat berbagai penderitaan yang sudah mereka akibatkan terhadap banyak orang di kawasan tersebut. 
Sebelum tahun 1982-an, sebagai pemeluk Kristen, Anda memberikan dukungan kepada Israel . Apa pandangan Anda terhadap Israel ketika itu?
Ini berkaitan dengan pandangan gereja saya. Dikatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan dan Anda tidak bisa mengkritik Israel karenanya. Itu pandangan yang kemudian membuat saya tidak bisa mengerti. Di sisi lain kalangan Barat mencap bangsa Palestina sebagai teroris, saya kira itu kesalahan besar karena tidak sesuai kenyataan. Kita semua diciptakan setara oleh Tuhan, kita semua makhluk ciptaan Tuhan. Begitu juga orang Israel . 
Ketika itu Anda sudah mengetahui konsep tentang Islam?
Belum, saat itu sama seperti kebanyakan orang Barat, saya masih mengira orang Arab adalah kaum fanatik. Namun, ketika saya bekerja di kamp pengungsi Palestina tahun 1982, saya menemukan mereka adalah orang-orang yang sangat baik. Makanya saya pun kerap bertanya, inikah orang-orang Arab itu, mengapa berbeda sekali dengan yang saya ketahui selama ini. Lebih jauh, pertanyaan mulai mengarah, inikah ajaran Islam, ternyata begitu bersahabat. Saya pun banyak belajar dari sini dan semoga masyarakat Barat dapat melihat realitas umat Muslim seperti itu. 
Sikap gereja terhadap kegiatan Anda membantu warga Palestina?
Jelas mereka marah. Banyak teman Kristen saya tidak mau lagi berbicara dengan saya, bahkan hingga saat ini. Tapi untungnya, tidak semua bersikap demikian. Masih banyak kaum Kristen yang memiliki pandangan lebih baik dan bersedia memahami apa yang dialami bangsa Palestina. Rumah sakit di Gaza yang dibangun tahun 1991 selama intifada adalah bantuan dari umat Kristen. 
Segala peristiwa dan pengalaman di kancah perang Lebanon membuat Ang kesulitan mengingat hal menyenangkan selama berada di antara pengungsi Palestina. Sebagai dokter bedah ortopedis, dia terbiasa harus mengoperasi pasien dengan peralatan seadanya, tanpa aliran listrik, tanpa masker, dan tanpa obat bius.
Satu hal yang menurut dr Ang terkesan menggelikan adalah ketika dia mengoperasi seorang pasiennya. Dalam kondisi darurat, dia bertindak cepat untuk menyelamatkan nyawa sang pasien. Tiba-tiba, seorang perawat yang membantunya berseru, ''Ya Tuhan, dokter, Anda menyatukan kaki pasien itu ke meja operasi.'' Setelah itu, dr Ang tersenyum getir.
Apa yang membuat pandangan Anda berubah terhadap Israel ?
Fakta bahwa di tahun 1982 saya menyaksikan dari layar kaca bahwa Israel menjatuhkan bom-bom terhadap bangsa Lebanon dan Palestina. Itu terjadi awal bulan Juni ketika Israel meninvasi Lebanon . Setiap malam saya melihat bom yang meledak dan menewaskan banyak orang. Saya sama sekali tidak mengerti, seperti inikah Israel yang saya dukung selama ini, beginikah tingkah bangsa yang katanya pilihan Tuhan itu. Melihat foto anak-anak yang menderita dan banyaknya orang terluka, benar-benar mempengaruhi pandangan saya selanjutnya. 
Dua bulan kemudian tepatnya bulan Agustus, ada permintaan sukarelawan bantuan untuk petugas kesehatan dan dokter lapangan untuk diberangkatkan ke Beirut , Lebanon . Maka saya pun meninggalkan pekerjaan saya untuk pergi ke Lebanon dan merawat yang sakit. Saya percaya ini panggilan Tuhan agar saya melihat sendiri apa sebenarnya terjadi. Saya pun memutuskan ikut pergi dan ketika pergi, bukan hanya mengobati, tapi sekaligus saya belajar banyak hal tentang Lebanon dan Palestina. 
Apa yang kemudian Anda temukan dari pengalaman tersebut?
Sungguh sebuah ironi, bahwa bangsa yang selama ini menderita paling parah, terusir dari tempat kelahirannya, tetapi justru dianggap sebagai teroris. Lantas saya kembali teringat gereja saya mengecam orang-orang ini dan menolak mendengar kebenaran. Oleh karenanya seluruh harapan saya pun seolah sirna. 
Bagaimana Anda melihat orang-orang di Palestina? 
Mereka sangat luar biasa, orang-orang yang ramah dan bersahabat. Saat pertama bertemu mereka di bulan Agustus 1982, mereka sudah mengalami pemboman selama lebih kurang sepuluh pekan, mengungsi dan tinggal di tenda-tenda seadanya. Lantas ketika kembali ke rumah, mereka mendapatinya sudah hancur bahkan rata dengan tanah. Tapi, mereka lantas membangunnya kembali dan tinggal di sana , saya tak tahu sudah berapa kali itu terjadi. 
Mereka juga sangat dermawan. Apa pun yang dimiliki, mereka akan membaginya. Saya teringat secangkir kopi Arab pertama yang saya rasakan. Minuman itu saya nikmati di satu rumah warga dengan kondisi tanpa dinding. Hanya ada api unggun kecil. Seorang wanita Palestina, anak lelaki kecilnya, serta suaminya yang membuatkan kopi itu dari sebuah teko tua. 
Ang Swee Chai lahir di Penang, Malaysia , pada 26 Oktober 1948. Namun, jangan harap dia mampu berbahasa Melayu. Ang hanya fasih berbahasa Inggris dan Mandarin. Sejak 1977, bersama sang suami, Francis Khoo, peraih gelar master dalam bidang kesehatan kerja ini tinggal di Inggris. Kini, dia bekerja di St Bartholomew's Hospital dan the Royal London Hospital . Pasangan ini tidak dikaruniai anak. Namun, cinta mereka tetap tumpah untuk kucing-kucing mereka. Waktu luang Ang pun diisi dengan berbincang-bincang pada kucing-kucing yang diberi nama Max, Kitten, dan Ponti. Nama Ponti punya cerita sendiri. ''Saya melihat wajahnya ketika kecil terlihat sangat bodoh. Karena itulah saya beri nama Ponti.''Ketika akan meninggalkan suaminya saat ini, dia pun sudah memberi pesan pada kucing-kucingnya itu. ''Ayo, jaga Bapak baik-baik ya.''
Apa yang membuat Anda ingin menerbitkan sebuah buku?
Saya sebenarnya tidak menulis buku. Selama berada di Lebanon dan Palestina, saya kerap menulis surat untuk suami saya yang berada di London . Jika sedang sibuk, saya hanya sempat menulis surat tiga hari sekali atau kalau ada waktu sehari sekali. Saya titipkan surat itu melalui Palang Merah Internasional atau para jurnalis. 
Kemudian tahun 1988, saat itu infifada baru dimulai. Banyak korban berjatuhan dan bantuan kemanusiaan pun didatangkan. Saya berkeinginan untuk pergi lagi, tapi tidaklah mudah tanpa persetujuan dari pemerintah Israel . Saya tidak patah arang, pengajuan izin saya tembuskan ke Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Butuh waktu enam bulan sebelum akhirnya memperoleh visa. Nah, pada masa enam bulan menunggu itu, saya pergunakan untuk mengumpulkan surat-surat terdahulu untuk kemudian menjadi buku ini. 
Bagaimana pengalaman itu memengaruhi kehidupan Anda?
Itu jelas berpengaruh terhadap cara pandang saya melihat kebenaran. Panilaian saya terhadap bangsa Palestina, Arab dan Muslim, benar-benar berubah. Selain itu, juga mengubah hubungan saya dengan Tuhan karena sebelum tahun 1982, Tuhan terasa kecil karena cuma untuk bangsa Israel, tapi sekarang Tuhan Maha Besar lantaran seluruh masyarakat selalu memohon doa kepada-Nya. 
Sebelum tahun 1982, saya juga seorang dokter yang ambisius, penuh motivasi meraih prestasi. Tapi kemudian semuanya berubah, saya pun melihat bahwa ada hal yang lebih penting membutuhkan perhatian dibandingkan karier atau apa pun. 
Bagaimana dukungan suami?
Suami saya adalah mantan pengacara. Dan sebagai pengacara, dia tidak bisa pergi sebagaimana saya pergi bersama palang merah. Tapi, dia selalu memberikan dukungan penuh. Dia melihat bahwa sebagai seorang dokter, saya memang memiliki kewajiban menolong orang di mana pun. Namun sebagai manusia dan suami, dia pun pasti merasa khawatir ketika saya bertugas di Lebanon atau Palestina, dan itu membuat berat badannya turun. 
Apa yang Anda rasakan ketika menyaksikan kembali Lebanon dan Palestina dihujani bom?
Saya katakan, sejak tanggal 30 Juli lalu, hampir setiap hari, saya baru bisa tidur pukul satu malam dan bangun pukul empat dini hari. Saya selalu mengikuti perkembangan situasi di sana lewat internet. Ini 'bangsa' saya yang sedang mengalami kekejaman. Saya berusaha terus secara intelektual menyikapi keadaan dan mencoba memahami apa yang sedang terjadi. Tapi tetap saja, ketika melihat Kanaa dibom untuk kedua kalinya, seolah dunia saya runtuh. 
Anda tertarik untuk kembali ke Palestina lagi?
Tentu saja, hanya pertanyaannya adakah kesempatan untuk itu, kapan dan berapa lama lagi bisa terwujud? Kini saya bergabung bersama British National Health dan tidak banyak punya waktu libur. Rekan-rekan saya selalu bercanda, 'Oh Swee akan ambil libur dua pekan dan pergi ke Lebanon '. 
Masih tetap menjalin komunikasi dengan rekan-rekan Palestina Anda?
Oh hampir setiap hari. Kami saling berkomunikasi dengan e-mail, kini komputer saya penuh dengan kiriman e-mail dari Lebanon . Dan itu sudah dimulai sejak hari kedua pemboman, temanku di sana segera mengirim e-mail mengenai situasi dan kondisi di kota tersebut, tentang apa yang mereka butuhkan dan sebagainya. Jadi, selama ini di luar jam kerja, saya tetap sibuk menjaring dukungan dan bantuan berupa peralatan medis, makanan dan uang untuk membantu warga di sana . 
Ini pertama kalinya Anda datang ke Indonesia ?
Benar, dan senangnya berada di Indonesia atau Malaysia , adalah Anda merasa sedang berada di antara sahabat. Sementara di Inggris saya selalu berada di lingkungan rumah sakit, sehingga terlalu sibuk setiap saat. Begini saja, setiap pound yang didapatkan untuk selanjutnya disumbangkan ke Palestina, adalah uang yang harus Anda dapatkan melalui perjuangan memperoleh dukungan dari orang-orang Inggris. Jadi, ketika kita berhasil mendapatkan donasi sebesar 166 ribu pound dari warga Inggris, Anda tahu betapa keras upaya yang telah dilakukan. 
Masih tertarik menerbitkan buku lagi?
Masalahnya setiap kali saya duduk dan berpikir untuk menerbitkan buku lagi, pasukan Israel terus menjatuhkan bom ke Lebanon dan Palestina. Sejak tahun 1982, hal itu terus terulang, jadi bagaimana bisa menerbitkan buku yang up to date. 
Tahun 1993-1996, ketika pertama kali saya kembali ke Palestina, saya pikir mungkin kita perlu menuliskan tentang harapan dan aspirasi dari sebuah bangsa yang ingin merdeka. Akan tetapi pada saat hendak memulai, semuanya menjadi hiruk-pikuk kembali. Sebenarnya saya sungguh ingin menulis tentang ketidakadilan ini. Tapi, saya tidak bisa melakukannya karena kemudian saya hanya menulis tentang impian saya, Anda tahu maksud saya. Meski demikian itulah buku yang benar-benar ingin saya tuliskan.
Anda merasa hal itu tidak akan menjadi kenyataan?
Tentu saja saya percaya suatu saat harapan itu akan menjadi kenyataan, meski ketika saya sudah tiada, siapa tahu.
meomeo
27-08-2007, 12:15 AM
Kepada yang masih ada ibu…
ketika ibu saya berkunjung, ibu mengajak saya untuk shopping bersamanya kerana dia menginginkan sepasang kurung yg baru. Saya sebenarnya tidak suka pergi membeli belah
bersama dengan orang lain, dan saya bukanlah orang yang sabar, tetapi walaupun demikian
kami pergi juga ke pusat membeli belah tersebut.
Kami mengunjungi setiap butik yang menyediakan pakaian wanita, dan ibu saya mencuba sehelai demi sehelai pakaian dan mengembalikan semuanya. Seiring hari yang berlalu, saya mulai penat dan kelihatan jelas riak2 kecewa di wajah ibu.
Akhirnya pada butik terakhir yang kami kunjungi,ibu saya mencuba satu baju kurung yang cantik. Dan kerana ketidaksabaran saya, maka untuk kali ini saya ikut masuk dan berdiri bersama ibu saya dalam fitting room, saya melihat bagaimana ibu mencuba pakaian tersebut, dan dengan susah mencuba untuk mengenakannya. Ternyata tangan-tangannya sudah mulai dilumpuhkan oleh penyakit radang sendi dan sebab itu dia tidak dapatmelakukannya, seketika ketidaksabaran saya digantikan oleh suatu rasa kasihan yang dalam kepadanya. Saya berbalik pergi dan cuba menyembunyikan air mata yang keluar tanpa saya sedari. Setelah saya mendapatkan ketenangan lagi, saya kembali masuk ke fitting room untuk membantu ibu mengenakan pakaiannya.
Pakaian ini begitu indah, dan ibu membelinya. Shopping kami telah berakhir, tetapi kejadian tersebut terukir dan tidak dapat dilupakan dari ingatan . Sepanjang sisa hari itu, fikiran saya tetap saja kembali pada saat berada di dalam fitting room tersebut dan terbayang tangan ibu saya yang sedang berusaha mengenakan pakaiannya. Kedua tangan yang penuh dengan kasih, yang pernah menyuapi, memandikan saya, memakaikan baju, membelai dan memeluk saya, dan terlebih dari semuanya, berdoa untuk saya,sekarang tangan itu telah menyentuh hati saya dengan cara yang paling berbekas dalam hati saya. Kemudian pada malam harinya saya pergi ke kamar ibu saya mengambil tangannya, lantas menciumnya … dan yang membuatnya terkejut, saya memberitahunya bahwa bagi saya kedua tangan tersebut adalah tangan yang paling indah di dunia ini. Saya sangat bersyukur bahwa Tuhan telah membuat saya dapat melihat dengan sejelasnya, betapa bernilai dan berrharganya kasih sayang yang penuh pengorbanan dari seorang ibu.
Saya hanya dapat berdoa bahwa suatu hari kelak tangan saya dan hati saya akan memiliki keindahannya tersendiri. Dunia ini memiliki banyak keajaiban, segala ciptaan Tuhan yang begitu agung, tetapi tak satu pun yang dapat menandingi keindahan tangan Ibu…
With Love to All Mothers
” JIKA KAMU MENCINTAI IBU MU KIRIMLAH CERITA INI KEPADA ORANG LAIN, AGAR SELURUH ORANG DIDUNIA INI DAPAT MENCINTAI DAN MENYAYANGI IBUNYA”.
Note: Berbahagialah yang masih memiliki Ibu.Dan lakukanlah yang terbaik untuknya……..
meomeo
27-08-2007, 12:17 AM
Doa dan Bungkusan yang Ruwet

Malam Jum'at di Masjid Rungkut Jaya. Suatu kali.
Beberapa ayat telah dikupas dari berbagai tafsir: Jalalain, Al-Mishbah, Al-Azhar, Adz-Dzikra, Fii Dzilalil Qur'an, dan beberapa tafsir berbahasa Jawa dan Inggris.

"Saya pernah berdoa yang tak biasa, Pak," kata Bu Kus membuka sesi pertanyaan.

"Apa itu, Bu Kus?" tanya Pak Suherman Rosyidi, Sang Ustadz.

"Suatu kali saya berdoa: Ya Allah, jadikan saya isteri yang selalu terlihat cantik di mata suami."

"Doa yang bagus, dong," sergah Pak Ustadz, "lalu apa yang terjadi?"

"Ya, memang bagus, Pak Herman. Tetapi, esok harinya wajah saya mulai ditumbuhi jerawat yang saya tidak tahu darimana datangnya. Banyak. Beberapa hari kemudian malah memenuhi seluruh wajah. Saya jadi kebingungan. Akhirnya mau tidak mau saya harus menjalani perawatan kecantikan wajah ke sebuah salon kecantikan, suatu hal yang tidak pernah saya lakukan. Saya harus datang ke tempat itu untuk membersihkan jerawat di muka saya. Berkali-kali. Berhari-hari. Hasilnya tentu saja mengejutkan saya. Wajah saya menjadi lebih bersih dari semula. Lebih cantik."

"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"

"Ya, sih Pak. Tetapi itu belum seberapa, Pak."

"Maksudnya gimana?"

"Saya juga pernah berdoa yang tak biasa, Pak. Doa yang lain."

"Apa itu?"

"Saya berdoa agar Allah menjadikan saya isteri yang setia pada suami."

"Doa yang bagus juga. Lalu apa yang terjadi, Bu?"

"Esok harinya, suami saya jatuh sakit. Tak bisa bangun. Ia harus dirawat di rumah sakit. Berhari-hari. Saya mau tak mau harus menungguinya selama terbaring itu. Saya bahkan sampai merasa itu semua seperti ujian bagi saya. Ujian terhadap kesetiaan saya, apakah saya tetap setia pada suami apa tidak. Saya seketika teringat akan doa yang pernah saya panjatkan sebelumnya."

"Berarti doa ibu dikabulkan sama Allah. Ya nggak?"

"Ya, sih, Pak."

"Lalu sekarang, pertanyaannya Ibu apa?"

"Bukan pertanyaan, Pak."

"Lalu apa?"

"Sekarang ini, saya justru merasa takut untuk berdoa. Gimana ini?"

************************

"Apakah Tuhan memberikan apa yang engkau harap dengan mengantarkannya dalam bungkusan yang indah?"

Neno Warisman pernah bertanya demikian pada sebuah acara di televisi, mengutip pernyataan seorang pakar yang aku lupa namanya.

"Tidak!" lanjut Neno. "Tuhan tidak mengantarkan apa yang engkau minta dalam sebuah bungkusan yang menarik lagi indah. Bahkan Ia mengantarkannya dalam bungkusan yang jelek, ruwet, carut-marut, dan kelihatannya sukar untuk dibuka. 

Pertanyaannya adalah: mengapa?"

"Itu tidak lain karena Ia ingin melihat bagaimana engkau membuka bungkusan itu dengan penuh kesabaran, telaten, bersusah-payah lapis demi lapis, sedikit demi sedikit, terus, terus, dan terus. Tak pernah berhenti apalagi berpaling. Hingga pada akhirnya bungkus terakhir terbuka dan engkau mendapatkan sesuatu yang engkau harapkan ada di dalamnya."

Bukankah Allah pasti akan mengabulkan apa yang hamba-Nya pinta? Kuncinya kalau begitu adalah: jangan pernah berhenti memuja. Jangan pernah berhenti berharap.

Allah tidak tidur.
Allah mahamengetahui.
Allah mahamendengar. 
Dia maharahman dan rahim.

Sungguh tak ada yang sepatutnya kita lakukan kecuali selalu berprasangka baik pada setiap pemberian-Nya. Entah nikmat, entah musibah. Karena musibah pun mungkin hanyalah bungkus belaka; yang selayaknya kita yakini bahwa itu semua hanya karena Ia ingin melihat kita membukanya dengan sepenuh cinta.

*** sesuatu yg baik utk direnungkan ****
meomeo
27-08-2007, 12:18 AM
“Uang Korupsi Itu Merusak Anak Saya”
Jamil Azzaini - Kubik Leadership
Jakarta, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan bahwa korupsi di Indonesia sudah terlalu besar dan diluar kontrol. Korupsi sudah merasuki semua sendi kehidupan dan telah terjadi baik di eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Pernyataan presiden yang disampaikan ada acara Presidential Lecture di Istana Negara pada Rabu, 2 Agustus 2006, itu mengisyaratkan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia masih jauh dari harapan.
Kendati pelaku korupsi tampak tak terjamah, tapi yakinkah kita bahwa mereka benar-benar lolos dari jerat hukum? Ngomong-ngomong soal korupsi saya ingin berbagi cerita.
Suatu hari, saya diundang untuk berbicara di depan staff dan pimpinan sebuah perusahaan ternama. Pada kesempatan tersebut saya berbicara tentang “hukum kekekalan energi”, yang intinya, menurut hukum kekekalan energi dan semua agama, apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita di dunia. Dengan kata lain, apabila kita melakukan “energi positif” atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan “energi negatif” atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula.
Ketika sesi tanya jawab, salah seorang pimpinan di perusahaan itu mengkritik pedas “hukum kekekalan energi”. Walau saya sudah menjelaskan dengan beragam argumen ilmiah dan contoh-contoh dalam kehidupan nyata, dia tetap tidak yakin. Sampai kami berpisah, kami masih pada pendapat masing-masing.
Tujuh bulan berlalu, pimpinan itu tiba-tiba menelpon saya. “Pak Jamil, saya ingin bertemu anda,” ujarnya singkat.
Karena penasaran, undangan dari beliau saya prioritaskan. Singkat kata, pada waktu dan tempat yang telah disepakati kami bertemu.
Rupanya beliau tiba lebih dulu di tempat kami janjian. Begitu saya datang, beliau segera menyambut dengan sebuah pelukan erat. Cukup lama beliau memeluk saya. “Maafkan saya pak Jamil. Maafkan saya,” ucapnya, sambil terisak dan terus memeluk saya. Karena masih bingung dengan kejadian ini saya diam saja.
Setelah kami duduk, beliau membuka percakapan. “Saya sekarang yakin dengan apa yang pak Jamil dulu katakan. Kalau kita berbuat energi positif maka kita akan mendapat kebaikan dan bila kita berbuat energi negatif maka pasti kita akan mendapat keburukan,” ujarnya.
“Bagaimana ceritanya sekarang kok bapak jadi yakin?” tanya saya.
“Selama saya menjabat pimpinan di perusahaan itu, saya menerima uang yang bukan menjadi hak saya. Semuanya saya catat. Jumlahnya lima ratus dua puluh enam juta rupiah,” katanya.
Sembari menarik napas panjang beliau melanjutkan bercerita. Kali ini tentang anaknya.
“Anak saya sekolah di Australia. Karena pengaruh pergaulan, dia terkena narkoba. Sudah saya obati dan sembuh. Ketika liburan, dia ke Amerika dan Kanada. Tidak disangka, disana dia bertemu dengan teman pengguna narkobanya ketika di Australia. Anak saya sebenarnya menolak menggunakan lagi. Namun dia dipaksa dan akhirnya anak saya kambuh lagi, bahkan makin parah, pak.” Selama bercerita, beliau tak henti mengusap pipinya yang basah dengan air mata yang terus meleleh seperti tak mau berhenti.
“Pak Jamil tahu berapa biaya pengobatan narkoba dan penyakit anak saya?” Tanpa menunggu jawaban saya, lelaki separuh baya itu berkata lirih, “Biayanya lima ratus dua puluh enam juta rupiah. Sama persis dengan uang kotor yang saya terima, pak!”
Beliau tertunduk dan menggeleng-gelengkan kepala disertai isak tangis yang makin keras. Dengan terbata lelaki itu berkata, “Uang korupsi itu telah merusak anak saya, pak. Saya menyesal. Saya bukan orang tua yang baik. Saya telah merusak anak saya, pak!”
Saya peluk erat lelaki itu. Saya biarkan air matanya tumpah.
Tangisnya semakin keras….
Wahai saudara, haruskah menunggu anak kita menjadi pengguna narkoba dan sakit untuk berhenti korupsi?
Keterangan Penulis:
Jamil Azzaini adalah Senior Trainer dan penulis buku Best Seller
KUBIK LEADERSHIP; Solusi Esensial Meraih Sukses dan Kemuliaan Hidup.
meomeo
27-08-2007, 12:20 AM
Siapakah ?

Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang suka menyepelekan
waktu solatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan
seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s
Maka sempatkanlah bagimu untuk
beribadah..............dan bersegerralah!
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah
orang yang ditimpa musibah lalu dia berucap "Inna
lillahi wainna illaihi rajiuun." Kemudian
berkata,"Ya Rabb, Aku redha dengan ketentuanMu ini",
sambil mengukir senyuman.
Maka berbaik hatilah dan bersabar...............
Siapakah orang yang kaya ?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan
apa yang ada dan tidak lupa akan kenikmatan dunia
yang sementara ini.
Maka bersyukurlah atas nikmat yang kau terima dan
berbagilah.......
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan
nikmat yang ada selalu menumpuk-numpukkan harta.
Maka janganlah kau menjadi kiikir juga
dengki...........
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia
pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat
dan amal-amal kebaikan.
Maka hargailah waktumu dan
bersegeralah..............
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai
akhlak yang baik.
Maka peliharalah akhlakmu dari dosa dan
noda.............................
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling
luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah
orang yang mati membawa amal-amal kebaikan dimana
kuburnya akan di perluaskan sejauh mata memandang.
Maka beramal shalehlah selagi sempat dan
mampu...............
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi
dihimpit ?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang
yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu
kuburnya menghimpitnya.
Maka ingatlah akan kematian dan kehidupan setelah
dunia............
Siapakah orang yang mempunyai akal ?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang
menghuni syurga kelak karena telah menggunakan akal
sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Maka peliharalah akal sehatmu dan pergunakan
semaksimal mungkin untuk mengharap
ridho-Nya..............
Siapakah org yg PELIT ?
Orang yg pelit ialah org yg membiarkan atau membuang
email ini begitu saja, malah dia tidak akan
menyampaikan kepada org lain.
Maka sampaikanlah kepada yang lain sedikit berita
gembira ini selagi sempat, karena tiada ruginya
bagimu...........
meomeo
27-08-2007, 12:21 AM
Mahalnya sebuah karir untuk wanita
>
> Saya seorang ibu dengan 2 orang anak , mantan direktur sebuah 
Perusahaan
> multinasional. Mungkin anda termasuk orang yang menganggap saya orang
> yang berhasil dalam karir namun sungguh jika seandainya saya boleh
> memilih maka saya akan berkata kalau lebih baik saya tidak seperti
> sekarang dan menganggap apa yang saya raih sungguh sia-sia.
>
> Semuanya berawal ketika putri saya satu-satunya yang berusia 19 tahun
> baru saja meninggal karena overdosis narkotika.
> Sungguh hidup saya hancur berantakan karenanya, suami saya saat ini
> masih terbaring di rumah sakit karena terkena stroke dan mengalami
> kelumpuhan karena memikirkan musibah ini.
>
> Putera saya satu-satunya juga sempat mengalami depresi berat dan
> Sekarang masih dalam perawatan intensif sebuah klinik kejiwaan, dia 
juga
> merasa sangat terpukul dengan kepergian adiknya. Sungguh apa lagi 
yang
> bisa saya harapkan.
>
> Kepergian Maya dikarenakan dia begitu guncang dengan kepergian Bik 
Inah
> pembantu kami.
>
> Hingga dia terjerumus dalam pemakaian Narkoba.
>
> Mungkin terdengar aneh kepergian seorang pembantu bisa membawa dampak
> Begitu hebat pada putri kami.
>
> Harus saya akui bahwa bik Inah sudah seperti keluarga bagi kami, dia
> telah ikut bersama kami sejak 20 tahun yang lalu dan ketika Doni 
berumur
> 2 tahun.
>
> Bahkan bagi Maya dan Doni, bik Inah sudah seperti ibu kandungnya
> sendiri.
>
> Ini semua saya ketahui dari buku harian Maya yang saya baca setelah 
dia
> meninggal.
>
> Maya begitu cemas dengan sakitnya bik Inah, berlembar-lembar buku
> hariannya berisi hal ini.
>
> Dan ketika saya sakit (saya pernah sakit karena kelelahan dan 
diopname
> di rumah sakit selama 3 minggu)
>
> Maya hanya menulis singkat sebuah kalimat di buku hariannya "Hari ini
> Mama sakit di Rumah sakit" , hanya itu saja.
>
> Sungguh hal ini menjadikan saya semakin terpukul.
>
> Tapi saya akui ini semua karena kesalahan saya.
>
> Begitu sedikitnya waktu saya untuk Doni, Maya dan Suami saya.
>
> Waktu saya habis di kantor, otak saya lebih banyak berpikir tentang
> keadaan perusahaan dari pada keadaan mereka.
>
> Berangkat jam 07:00 dan pulang di rumah 12 jam kemudian, bahkan 
mungkin
> lebih.
>
> Ketika sudah sampai rumah rasanya sudah begitu capai untuk memikirkan
> urusan mereka.
>
> Memang setiap hari libur kami gunakan untuk acara keluarga, namun
> sepertinya itu hanya seremonial dan rutinitas saja, ketika hari Senin
> tiba saya dan suami sudah seperti "robot" yang terprogram untuk 
urusan
> kantor.
>
> Sebenarnya ibu saya sudah berkali-kali mengingatkan saya untuk 
berhenti
> bekerja sejak Doni masuk SMA namun selalu saya tolak, saya anggap ibu
> terlalu kuno cara berpikirnya.
> Memang Ibu saya memutuskan berhenti bekerja dan memilih membesarkan 
kami
> 6 orang anaknya.
>
> Padahal sebagai seorang sarjana ekonomi karir ibu waktu itu katanya
> sangat baik.
>
> Dan ayahpun ketika itu juga biasa-biasa saja dari segi karir dan
> penghasilan.
>
> Meski jujur saya pernah berpikir untuk memutuskan berhenti bekerja 
dan
> mau mengurus Doni dan Maya, namun selalu saja perasaan bagaimana
> kebutuhan hidup bisa terpenuhi kalau berhenti bekerja, dan lalu apa
> gunanya saya sekolah tinggi-tinggi?.
>
> Meski sebenarnya suami saya juga seorangyang cukup mapan dalam 
karirnya
> dan penghasilan.
>
> Dan biasanya setelah ada nasehat ibu saya menjadi lebih perhatian 
pada
> Doni dan Maya namun tidak lebih dari dua minggu semuanya kembali 
seperti
> asal urusan kantor dan karir fokus saya.
>
> Dan kembali saya menganggap saya masih bisa membagi waktu untuk 
mereka,
> toh teman yang lain di kantor juga bisa dan ungkapan "kualitas 
pertemuan
> dengan anak lebih penting dari kuantitas" selalu menjadi patokan 
saya.
>
> Sampai akhirnya semua terjadi dan diluar kendali saya dan berjalan
> begitu cepat sebelum saya sempat tersadar.
>
> Maya berubah dari anak yang begitu manis menjadi pemakai Narkoba.
>
> Dan saya tidak mengetahuinya!!! Sebuah sindiran dan protes Maya saat 
ini
> selalu terngiang di telinga.
>
> Waktu itu bik Inah pernah memohon untuk berhenti bekerja dan 
memutuskan
> kembali ke desa untuk membesarkan Bagas, putera satu-satunya, setelah
> dia ditinggal mati suaminya .. Namun karena Maya dan Doni keberatan 
maka
> akhirnya kami putuskan agar Bagas dibawa tinggal bersama kami.
>
> Pengorbanan bik Inah buat Bagas ini sangat dibanggakan Maya.
> Namun sindiran Maya tidak begitu saya perhatikan. Akhirnya semua 
terjadi
> , setelah tiba-tiba jatuh sakit kurang lebih dua minggu, bik Inah
> meninggal dunia di Rumah Sakit.
>
> Dari buku harian Maya saya juga baru tahu kenapa Doni malah pergi 
dari
> rumah ketika bik Inah di Rumah Sakit.
>
> Memang Doni pernah memohon pada ayahnya agar bik Inah dibawa ke
> Singapore untuk berobat setelah dokter di sini mengatakan bahwa bik 
Inah
> sudah masuk stadium 4 kankernya.
>
> Dan usul Doni kami tolak hingga dia begitu marah pada kami. Dari sini
> saya kini tahu betapa berartinya bik Inah buat mereka, sudah seperti 
ibu
> kandungnya!
> menggantikan tempat saya yang seolah hanya bertugas melahirkan mereka
> saja ke dunia.
>
> Tragis !
>
> Dan sebuah foto "keluarga" di dinding kamar Maya sering saya amati 
Kalau
> lagi kangen dengannya. Beberapa bulan yang lalu kami sekeluarga ke 
desa
> bik Inah.
>
> Atas desakan Maya kami sekeluarga menghadiri acara pengangkatan Bagas
> sebagai
> kepala sekolah madrasah setelah dia selesai kuliah dan belajar di
> pesantren.
>
> Dan Doni pun begitu bersemangat untuk hadir di acara itu padahal dia
> paling susah untuk diajak ke acara serupa di kantor saya atau 
ayahnya.
>
> Dan difoto "keluarga" itu tampak bik Inah, Bagas, Doni dan Maya
> tersenyum bersama.
>
> Tak pernah kami lihat Maya begitu senang seperti saat itu dan seingat
> saya itulah foto terakhirnya.
>
> Setelah bik Inah meninggal Maya begitu terguncang dan shock, kami 
sempat
> merisaukannya dan membawanya ke psikolog ternama di Jakarta.
>
> Namun sebatas itu yang kami lakukan setelah itu saya kembali berkutat
> dengan urusan kantor.
>
> Dan di halaman buku harian Maya penyesalan dan air mata tercurah.
>
> Maya menulis :
> "Ya Tuhan kenapa bik Inah meninggalkan Maya, terus siapa yang 
bangunin
> Maya, siapa yang nyiapin sarapan Maya, siapa yang nyambut Maya kalau
> pulang sekolah, Siapa yang ngingetin Maya buat berdoa, siapa yang 
Maya
> cerita kalau lagi kesel di
> sekolah, siapa yang nemenin Maya kalo nggak bisa tidur..........Ya 
Tuhan
> , Maya kangen banget sama bik Inah" bukankah itu seharusnya tugas 
saya
> sebagai ibunya, bukan bik Inah ?
>
> Sungguh hancur hati saya membaca itu semua, namun semuanya sudah
> terlambat tidak mungkin bisa kembali,
>
> seandainya semua bisa berputar kebelakang saya rela berkorban apa 
saja
> untuk itu.
>
> Kadang saya merenung sepertinya ini hanya cerita sinetron di TV dan 
saya
> pemeran
> utamanya. Namun saya tersadar ini real dan kenyataan yang terjadi.
>
> Sungguh saya menulis ini bukan berniat untuk menggurui siapapun tapi
> sekedar pengurang sesal saya semoga ada yang bisa mengambil pelajaran
> darinya.
>
> Biarkan saya yang merasakan musibah ini karena sungguh tiada 
terbayang
> beratnya.
>
> Semoga siapapun yang membaca tulisan ini bisa menentukan "prioritas
> hidup dan tidak salah dalam memilihnya". Biarkan saya seorang yang
> mengalaminya.
>
> Saat ini saya sedang mengikuti program konseling/therapy untuk
> menentramkan hati saya.
>
> Berkat dorongan seorang teman saya beranikan tulis ini semua.
>
> Saya tidak ingin tulisan ini sebagai tempat penebus kesalahan saya,
> karena itu tidak mungkin! Dan bukan pula untuk memaksa anda
> mempercayainya, tapi inilah faktanya.
>
> Hanya semoga ada yang memetik manfaatnya.
>
> Dan saya berjanji untuk mengabdikan sisa umur saya untuk suami dan 
Doni.
>
> Dan semoga Tuhan mengampuni saya yang telah menyia-nyiakan amanahNya
> pada saya.
>
> Dan disetiap berdoa saya selalu memohon "YA Tuhan seandainya Engkau 
akan
> menghukum Maya karena kesalahannya, sungguh tangguhkanlah Ya Tuhan,
> biar saya yang menggantikan tempatnya kelak, biarkan buah hatiku 
tentram
> di sisiMu".
>
> Semoga Tuhan mengabulkan doa saya.
>
>

kuontai                                                                                                                  24-09-2007, 12:34 PM
Seorang pemuda berjumpa seorang Tuan Guru yang bijaksana untuk mendapatkan nasihat, “Guru, saya sudah bosan hidup. Sudah jenuh betul. Rumahtangga saya berantakan. Usaha saya tidak berhasil. Apa pun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati.”

Tuan Guru tersenyum sambil mengusap-usap jambang putihnyanya, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan. Itu sebabnya saya ingin mati.”

Seolah-olah tidak mendengar alasannya, Tuan Guru berkata, “Kamu sakit. 
Ya, kamu alergik terhadap kehidupan.”

Sang guru memang benar. Banyak sekali di antara kita yang salah terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disedari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan.

Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan mengalir terus, tetapi kita menginginkan status-quo. Kita berhenti di suatu tempat, kita tidak mau ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit. 
Keengganan kita, penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit. Yang namanya usaha, pasti ada pasang surutnya. Dalam hal berumahtangga, perselisihan-perselisihan kecil itu memang lumrah dan asam garam berkeluarga.

Persahabatan pun tidak selalunya kekal abadi. Jadi, apa yang kekal dan abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyedari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

“Penyakitmu itu boleh disembuhkan, asal engkau ingin sembuh dan bersedia mengikut petunjukku.” demikian kata sang guru.

“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” Pemuda itu menolak tawaran sang guru.

“Jadi engkau tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”

“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”

“Baiklah, kalau begitu pagi esok engkau akan mati. Ambillah botol obat ini. Setengah botol diminum malam ini, setengah botol lagi diminum pukul 6 pagi esok. Engkau akan mati dengan tenangnya pada pukul 8 malam.”

Pemuda itu pula menjadi bingung. Setiap guru yang ditemuinya selama ini coba memberikannya semangat untuk hidup. Yang satu ini aneh. Malah guru ini menawarkan racun. Tetapi, disebabkan pemuda itu benar-benar putus asa dengan kehidupannya, dia menerimanya dengan senang hati.

Sesampainya di rumah, dia segera menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh guru itu. Dan, dia mula merasakan ketenangan yang tidak pernah dirasakannya sebelum ini. Begitu relaks, begitu santai! Tinggal sehari semalam lagi sebelum dia mati. Bermakna dia akan bebas dari segala macam masalah tidak lama lagi.

Malam itu, dia memutuskan untuk makan malam di luar bersama keluarganya di sebuah restoran Jepang. Sesuatu yang sudah lama dia tidak lakukan selama beberapa tahun kebelakangan ini. Kerana mengenangkan ia akan menjadi malam terakhirnya, dia ingin meninggalkan kenangan manis untuk anak isterinya. Sambil makan, dia bersenda gurau. Suasananya santai dan seisi keluarga terhibur!

Sebelum tidur, dia mencium bibir isterinya dan membisikkan kata-kata romantis di cupingnya, “Sayang, aku mencintaimu.” Kerana malam itu adalah malam terakhir, dia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya bangun tidur, dia membuka jendela kamar dan melihat ke luar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Lantas dia tergoda untuk berjogging sambil menikmati pagi yang indah . Pulang ke rumah setengah jam kemudian, dia melihat isterinya masih lena. 

Tanpa mengejutkannya, dia masuk dapur dan membuat dua cawan kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk isterinya. Disebabkan pagi itu adalah pagi terakhir, dia ingin meninggalkan kenangan manis!

Si isteri pun berasa aneh sekali, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin saya ada berbuat salah. 

Di kantor, pemuda itu menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun keheranan.

“Hari ini, Boss kita kenapa yah ?”

Dan sikap mereka pun turut berubah. Mereka menjadi lembut hati dan bekerja bersungguh-sungguh dan mengikut segala arahannya. Kerana siang itu adalah siang terakhir, pemuda itu ingin meninggalkan kenangan manis!

Tiba-tiba, segala sesuatu di sekitarnya berubah. Dia menjadi ramah dan lebih bertimbang rasa serta menghargai pendapat-pendapat yang berbeza, tidak seperti sebelumnya.

Tiba-tiba hidup menjadi sungguh indah. Dia mulai menghargai dan menikmatinya.

Pulang ke rumah pukul lima petang, isteri tercinta siap menunggunya di pintu depan dengan senyuman yang manis sekali. Kali ini isteri yang terlebih dahulu memberikan ciuman kepadanya, “Abang, sekali lagi saya meminta maaf, kalau selama ini saya selalu menyusahkan abang.”

Anak-anak pun tidak ingin ketinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan disebabkan oleh perangai dan kenakalan kami.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Dia terdetik untuk membatalkan niatnya untuk membunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah dia minum petang semalam?

Pemuda itu kembali menemui gurunya. Melihat wajah pemuda itu, sang Guru dapat mengetahui apa yang telah terjadi.

“Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh, Apabila kau hidup dengan kesedaran bahawa maut dapat menjemputmu bila-bila masa sahaja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan berasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”

Pemuda itu sungguh gembira dan tersedar akan kesilapannya selama ini dalam mengemudi hidup. Dia lantas mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Dia masih mengalir terus. Dia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, dia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!
kuontai
24-09-2007, 12:55 PM
Beberapa waktu yang silam, ada seorang ikhwah yang mempunyai seorang anak lelaki bernama Mat. Mat membesar menjadi seorang yang lalai menunaikan ajaran agama. Meskipun telah berbuih ajakan dan nasihat, suruhan dan perintah dari ayahnya agar Mat bersembahyang, puasa dan lain-lain amal kebajikan, dia tetap meninggalkannya.

Sebaliknya amal kejahatan pula yang menjadi kebiasaannya. Kaki judi, kaki botol, dan seribu satu macam jenis kaki lagi menjadi kemegahannya. Suatu hari ikhwah tadi memanggil anaknya dan berkata, “Mat, kau ni terlalu sangat lalai dan berbuat kemungkaran. Mulai hari ini aku akan pacakkan satu tiang di tengah halaman rumah kita.

Setiap kali kau berbuat satu kejahatan, maka aku akan benamkan satu paku ke tiang ini. Dan setiap kali kau berbuat satu kebajikan, sebatang paku akan kucabut keluar dari tiang ini.” Bapanya berbuat sepertimana yang dia janjikan, dan setiap hari dia akan memukul beberapa batang paku ke tiang tersebut

Kadang-kadang sampai berpuluh paku dalam satu hari. Jarang-jarang benar dia mencabut keluar paku dari tiang. Hari bersilih ganti, beberapa purnama berlalu, dari musim rebut tengkujuh berganti kemarau panjang. Tahun demi tahun beredar lepas. Tiang yang berdiri megah di halaman kini telah hampir dipenuhi dengan tusukan paku-paku dari bawah sampai ke atas. Hampir setiap permukaan tiang itu dipenuhi dengan paku-paku. Ada yang berkarat lepat dek kerana hujan dan panas.

Setelah melihat keadaan tiang yang bersusukan dengan paku-paku yang menjijikkan pandangan mata, timbullah rasa malu dan keinsafan dalam diri Mat kerana selama ini bergelumang dalam dosa dan noda. Maka dia pun berazamlah untuk memperbaiki dirinya. Mulai detik itu, Mat mula sembahyang. Hari itu saja lima butir paku dicabut ayahnya dari tiang.

Besoknya sembahyang lagi ditambah dengan sunat-sunatnya. Lebih banyak lagi paku tercabut. Hari berikutnya Mat tinggalkan sisa-sisa maksiat yang melekat. Maka semakin banyaklah tercabut paku-paku tadi. Hari demi hari,semakin banyak kebaikan yang Mat lakukan dan semakin banyak maksiat yang ditinggal, hingga akhirnya hanya tinggal sebatang paku yang tinggal melekat di tiang.

Maka ayahnyapun memanggillah anaknya dan berkata: “Lihatlah anakku, ini paku terakhir, dan akan aku cabutkannya keluar sekarang. Tidakkah kamu gembira?” Mat merenung pada tiang tersebut, tapi disebalik melahirkan rasa gembira sebagai yang disangkakan oleh ayahnya, dia mula menangis teresak-esak. “Kenapa anakku?” tanya ayahnya, “aku menyangkakan tentunya kau gembira kerana semua paku-paku tadi telah tiada.” Dalam nada yang sayu Mat mengeluh, “Wahai ayahku, sungguh benar katamu, paku-paku itu telah tiada, tapi aku bersedih kerana parut- parut lubang dari paku itu tetap kekal di tiang, bersama dengan karatnya.”

Ikhwah dan akhawat yang dimuliakan, Dengan dosa-dosa dan kemungkaran yang seringkali diulangi hinggakan menjadi suatu kebiasaan (habit), kita mungkin boleh mengatasinya, atau secara berangsur-ansur menghapuskannya, tapi ingatlah bahawa parut-parutnya akan kekal. Dari itu, bilamana kita menyedari diri ini melakukan suatu kemungkaran, ataupun sedang diambang pintu habit yang buruk, maka berhentilah serta-merta. Kerana setiap kali kita bergelimang dalam kemungkaran, maka kita telah membenamkan sebilah paku lagi yang akan meninggalkan parut pada jiwa kita, meskipun paku itu kita cabut kemudiannya. Apatah lagi kalau kita biarkan ianya berkarat dalam diri ini sebelum dicabut. Lebih-lebih lagilah kalau dibiarkan berkarat dan tak dicabut.
mikcucu
29-09-2007, 10:14 AM
Wah, jadi gimana gitu setelah baca thread ini.......
kuontai
01-10-2007, 04:51 PM
Seorang tukang air memiliki dua tempayan besar, masing-masing bergantung pada kedua ujung sebuah pikulan, yang dibawa menyilang pada bahunya. 

Satu dari tempayan itu retak, sedangkan tempayan yang satunya lagi tidak. Jika tempayan yang tidak retak itu selalu dapat membawa air penuh setelah perjalanan panjang dari mata air ke rumah majikannya, tempayan itu hanya dapat membawa air setengah penuh. 

Selama dua tahun, hal ini terjadi setiap hari. Si tukang air hanya dapat membawa satu setengah tempayan air ke rumah majikannya. Tentu saja si tempayan yang tidak retak merasa bangga akan prestasinya, kerana dapat menunaikan tugasnya dengan sempurna. Namun si tempayan retak yang malang itu merasa malu sekali akan ketidaksempurnaannya dan merasa sedih sebab ia hanya dapat memberikan setengah dari jumlah yang seharusnya dapat diberikannnya. 

Setelah dua tahun tertekan oleh kegagalan pahit ini, tempayan retak itu berkata kepada si tukang air, ”Saya sungguh malu pada diri saya sendiri, dan saya ingin mohon maaf kepadamu.” 

“Kenapa?” tanya si tukang air, “Kenapa kamu merasa malu?” 

“Saya hanya mampu, selama dua tahun ini, membawa setengah jumlah air dari yang seharusnya dapat saya bawa kerana adanya retakan pada sisi saya telah membuat air yang saya bawa bocor sepanjang jalan menuju rumah majikan kita. Kerana cacatku itu, saya telah membuatmu rugi.” kata tempayan itu. 

Si tukang air merasa kasihan pada si tempayan retak, dan dalam belas kasihannya, ia berkata, 

“Jika kita kembali ke rumah majikan besok, aku ingin kamu memerhatikan bunga-bunga indah di sepanjang jalan.” 

Benar, ketika mereka naik ke bukit, si tempayan retakmemerhatikan dan baru menyedari bahwa ada bunga-bunga indah di sepanjang sisi jalan, dan itu membuatnya sedikit terhibur. Namun pada akhir perjalanan, ia kembali sedih kerana separuh air yang dibawanya telah bocor, dan kembali tempayan retak itu meminta maaf pada si tukang air atas kegagalannya. 

Si tukang air berkata kepada tempayan itu, 

“Apakah kamu memerhatikan adanya bunga-bunga di sepanjang jalan si sisimu tapi tidak ada bunga di sepanjang jalan di sisi tempayan yang lain yang tidak retak itu. Itu kerana aku selalu menyedari akan cacatmu dan aku memanfaatkannya. Aku telah menanam benih-benih bunga di sepanjang jalan di sisimu, dan setiap hari jika kita berjalan pulang dari mata air, kamu mengairi benih-benih itu. Selama dua tahun ini aku telah dapat memetik bunga-bunga indah itu untuk menghias meja majikan kita. Tanpa kamu sebagaimana kamu ada, majikan kita tak akan dapat menghias Rumahnya seindah sekarang.” 

Setiap dari kita memiliki cacat dan kekurangan kita sendiri. Kita semua adalah tempayan retak. Namun jika kita mau, Tuhan akan menggunakan kekurangan kita untuk menghias-Nya. Di mata Tuhan yang bijaksana, tak ada yang terbuang percuma. Jangan takut akan kekurangan kita. Kenalilah kelemahan kita. 

Ketahuilah, di dalam kelemahan kita, kita menemui kekuatan kita.
kuontai
01-10-2007, 05:01 PM
Aku cuma ada seorang adik. Usianya tiga tahun lebih muda daripada aku. Suatu hari, untuk mendapatkan sehelai sapu tangan yang menjadi keperluan anak gadis ketika itu, aku ambil 50 sen dari poket seluar ayah.

Petang itu, pulang saja dari sekolah - ayah memanggil kami berdua. Dia meminta aku dan adik berdiri di tepi dinding. Aku menggeletar melihat rotan panjang sedepa di tangan ayah.

“Siapa ambil duit ayah?” tanya ayah bagai singa lapar.

Aku langsung tidak berdaya menentang renungan tajam mata ayah. Kedua-dua kami membisu,cuma tunduk memandang lantai.

“Baik,kalau tak mengaku,dua-dua ayah rotan!” sambung ayah sambil mengangkat tangan untuk melepaskan pukulan sulungnya ke belakang aku.

Tiba-tiba, adik menangkap tangan ayah dengan kedua-dua belah tangannya sambil berkata, “Saya yang ambil!”

Belum sempat adik menarik nafas selepas mengungkapkan kata-kata itu, hayunan dan balunan silih berganti menghentam tubuh adik. Aku gamam,lidah kelu untuk bersuara. Walau perit menahan sakit, setitis pun airmata adik tak tumpah.

Setelah puas melihat adik terjelepok di lantai, ayah merungut:

“Kamu sudah mula belajar mencuri di rumah sendiri. Apakah lagi perbuatan kamu yang akan memalukan ayah di luar kelak?”

Malam itu, emak dan aku tak lepas-lepas mendakap adik. Belakangnya yang berbirat dipenuhi calar-balar coba kami obati. Namun adik cukup tabah. Setitis pun air matanya tidak mengiringi kesakitan yang mencucuk-cucuk.

Melihat keadaan itu, aku meraung sekuat hati, kesal dengan sikap aku yang takut berkata benar.

Adik segera menutup mulutku dengan kedua-dua belah tangannya lalu berkata,”Jangan menangis kak,semuanya dah berlalu!”

Aku mengutuk diri sendiri kerana tidak mampu membela adik.

Tahun bersilih ganti, peristiwa adik dibelasah kerana mempertahankan aku bagaikan baru semalam berlaku. Adik mendapat tawaran belajar ke sekolah berasrama penuh dan aku pula ditawarkan menyambung pelajaran ke peringkat pra-universiti.

Malam itu ayah duduk di bawah cahaya lampu minyak tanah bersama ibu di ruang tamu. Aku terdengar ayah berkata, “Zah, kedua-dua anak kita cemerlang dalam pelajaran. Abang bangga sekali!”

“Tapi apalah maknanya bang… !” aku terdengar ibu teresak-esak.
“Di mana kita nak cari duit membiayai mereka?”

Ketika itulah adik keluar dari biliknya. Dia berdiri di depan ayah dan ibu. “Ayah,saya tak mau ke sekolah lagi!”

Perlahan-lahan ayah bangun, membetulkan ikatan kain pelekatnya dan merenung wajah emak,kemudian wajah adik dalam-dalam.

Panggggg… .sebuah penampar singgah di pipi adik. Seperti biasa yang mampu aku lakukan ialah menutup muka dan menangis.

“Kenapa kamu ni?Tahu tak,kalau ayah terpaksa mengemis kerana persekolahan kamu, ayah akan lakukan!”

“Orang lelaki kena bersekolah. Kalau tak, dia takkan dapat membawa keluarganya keluar daripada kemiskinan,” aku memujuk adik tatkala menyapu minyak pada pipinya yang bengkak.

“Kakak perempuan… biarlah kakak yang berhenti.”

Tiada siapa yang menyangka, dinihari itu adik tiada dibiliknya. Dia membawa bersamanya beberapa helai baju lusuh yang dia ada. Di atas pangkin tempat dia lelapkan mata, terdapat sehelai kertas yang tercatat… ..

“Kak… untuk dapat peluang ke universiti bukannya mudah. Saya cari kerja dan akan kirim uang buat kakak.”

Apa lagi yang saya tahu selain meraung. Ayah termenung, jelas dia cukup kecewa. Begitu juga emak yang menggunakan air matanya memujuk ayah.

Suatu petang ketika berehat di asrama, teman sebilik menerpa: “Ada pemuda kampung tunggu kau di luar!”

“Pemuda kampung?” bisikku. “Siapa?”

Tergesa-gesa aku keluar bilik. Dari jauh aku nampak adik berdiri dengan pakaian comotnya yang dipenuhi lumpur dan simen. “Kenapa sebut orang kampung, sebutlah adik yang datang!”

Sambil tersenyum dia menjawab, “KAkak lihatlah pakaian adik ini. Apa yang akan kawan-kawan kakak kata kalau mereka tahu saya adik kakak?”

Jantungku terasa berhenti berdenyut mendengarkan jawapannya. Aku cukup tersentuh. Tanpa sadar, air jernih mengalir di pipi. Aku kibas-kibas bebutir pasir dan tompokan semen pada pakaian adik.

Dalam suara antara dengar dan tidak, aku bersuara, “Akak tak peduli apa orang lain kata.”

Dari kocek seluarnya, adik keluarkan sepit rambut berbentuk kupu-kupu.Dia mengenakan pada rambutku sambil berkata, “Kak, saya tengok ramai gadis pakai sepit macam ni, saya beli satu untuk kakak.”

Aku kaku. Sepatah kata pun tak terucap. Aku rangkul adik dan dadanya dibasahi air mataku yang tak dapat ditahan-tahan.

Tamat semester, aku pulang ke kampung sementara menunggu konvokesyen. Aku lihat tingkap dan dinding rumah bersih, tak seperti selalu.

“Emak,tak payahlah kerja teruk-teruk bersihkan rumah sambut saya balik.”

“Adik kamu yang bersihkan. Dia pulang kemarin. Habis tangannya luka-luka.”

Aku menerpa ke biliknya. Cantik senyum adik. Kami berdakapan.

“Sakit ke?” aku bertanya tatkala memeriksa luka pada tangannya.

“Tak… .Kak tahu, semasa bekerja sebagai buruh kontrak, kerikil dan serpihan simen jatuh seperti hujan menimpa tubuh saya sepanjang masa.

Kesakitan yang dirasa tidak dapat menghentikan usaha saya untuk bekerja keras.”

Apalagi… aku menangis seperti selalu.

Aku berkahwin pada usia menginjak 27 tahun. Suamiku seorang usahawan menawarkan jawatan pengurus kepada adik.

“Kalau adik terima jawatan tu, apa kata orang lain?” kata adik.

“Adik takde pelajaran. Biarlah adik bekerja dengan kelulusan yang adik ada.”

“Adik tak ke sekolah pun kerana akak.” kata ku memujuk.

“Kenapa sebut kisah lama, kak?” katanya ringkas, cuba menyembunyikan kesedihannya.

Adik terus tinggal di kampung dan bekerja sebagai petani setelah ayah tiada. Pada majlis perkahwinannya dengan seorang gadis sekampung, juruacara majlis bertanya, “Siapakah orang yang paling anda sayangi?”

Spontan adik menjawab, “Selain emak, kakak saya… .”katanya lantas menceritakan suatu kisah yang langsung tidak ku ingati.

“Semasa sama-sama bersekolah rendah, setiap hari kami berjalan kaki ke sekolah.Suatu hari tapak kasut saya tertanggal. Melihat saya hanya memakai kasut sebelah, kakak membuka kasutnya dan memberikannya pada saya. Dia berjalan dengan sebelah kasut. Sampai di rumah saya lihat kakinya berdarah sebab tertikam tunggul dan calar-balar.”

“Sejak itulah saya berjanji pada diri sendiri. Saya akan lakukan apa saja demi kebahagiaan kakak saya itu. Saya berjanji akan menjaganya ”

Sebaik adik tamat bercerita, aku meluru ke pelamin, mendakap adik sungguh-sungguh sambil meraung bagaikan diserang histeria.
kuontai
02-10-2007, 09:16 AM
Seorang raja mengadakan sayembara dan akan memberi hadiah yang melimpah kepada siapa saja yang mampu melukis tentang kedamaian. Ada banyak seniman dan pelukis berusaha keras untuk memenangi pertandingan tersebut.

Sang raja berkeliling melihat-lihat hasil karya mereka. Hanya ada dua buah lukisan yang benar-benar disukainya. Tapi sang raja harus memilih satu di antara kedua-duanya.

Lukisan pertama menggambarkan sebuah telaga yang tenang. Permukaan telaga bagaikan cermin sempurna yang memantulkan kedamaian gunung ganang yang tenang menjulang di sekitarnya. Di atasnya terpampang langit biru dengan awan putih berarak-arak. Semua yang memandang lukisan tersebut akan berpendapat bahawa itulah lukisan terbaik mengenai kedamaian.

Lukisan kedua juga menggambarkan tentang kawasan pergunungan. Namun tampak kasar dan gondol. Di atasnya terlukis langit yang gelap dan merah menandakan turunnya hujan badai dan petir sabung menyabung. Di sisi gunung ada air terjun deras yang berbuih-buih, sama sekali tidak menampakkan ketenangan dan kedamaian.

Tapi ada sesuatu yang menarik perhatian raja. Di balik air terjun itu tumbuh semak-semak kecil di atas sela-sela batu. Di dalam semak-semak itu seekor ibu pipit meletakkan sarangnya. Jadi, di tengah-tengah riuh-rendahnya air terjun, seekor ibu pipit sedang mengerami telurnya dengan damai. Benar-benar damai.

Kalau saudara pembaca, lukisan manakah yang rasa-rasanya memenangi pertandingan itu? Bagi Sang Raja, baginda memilih lukisan kedua. Tahukah anda mengapa? Kerana jawab Sang Raja, “Kedamaian bukan bererti anda harus berada di tempat yang tanpa kekacauan, kesukaran atau pekerjaan yang sibuk. Kedamaian adalah hati yang tenang dan damai, meskipun anda berada di tengah huru-hara luar biasa.”
kuontai
02-10-2007, 09:20 AM
Syeikh Ibnu Khafif ialah seorang ahli sufi dari Parsi. Dia mempunyai dua orang murid yang mempunyai nama yang sama yaitu Ahmad. Untuk memudahkannya, dia memanggil Ahmad Tua untuk yang lebih tua umurnya dan Ahmad Muda untuk yang lebih kecil. Antara dua kanak-kanak itu, Ibnu Khafif lebih menyayangi Ahmad Muda. Tindakannya ini tidak disenangi murid-murid lain. Mereka beranggapan Ahmad Tua lebih bijak dan berdisiplin berbanding Ahmad Muda.

Ibnu Khafif ingin menunjukkan sesuatu pada mereka. Pada suatu hari, dia membawa murid-muridnya ke rumah. Di hadapan rumahnya, terdapat seekor unta yang sedang tidur.

“Ahmad Tua, ke mari! Angkat unta itu ke atas loteng sekarang,”Ibnu Khafif memberi arahan.

Ahmad Tua garuk kepala. “Mustahil, Tuan Guru. Unta itu kan besar. Mana bisa saya angkat seorang diri ke atas loteng.”

“Tak apa, cukuplah itu. Ahmad Muda, ke mari!” Ibnu Khafif memanggil Ahmad Muda pula. “Buat sebagaimana yang saya suruh tadi.”

Tanpa berkata apa-apa, Ahmad Muda terus menyingsing lengan baju dan mengetatkan ikatan pinggangnya. Kemudian dia mencangkung ke arah unta yang sedang tidur. Dia meletakkan kedua-dua tangannya di bawah tubuh unta itu dan…

“Eeergh!!!” Dengan segala kodrat yang ada Ahmad Muda coba mengangkat unta tersebut. Usahanya sia-sia sahaja. Unta itu sedikit pun tidak bergerak, maklum saja saiz haiwan itu yang besar manakan mampu diangkat oleh seorang kanak-kanak.

“Ahmad Muda. Cukuplah,” Ibnu Khafif menyuruhnya berhenti.

Ahli sufi itu memandang anak-anak muridnya dan berkata, “Kamu sudah melihatkan? Walaupun kamu lihat Ahmad Muda macam lurus bendul, itu tidak bermakna dia bodoh. Dia telah menjalankan tanggungjawab dengan segala daya upaya walaupun ia kelihatan mustahil. Sedangkan Ahmad Tua hanya memberi alasan dan tidak mau langsung berusaha. Antara kamu, siapa yang lebih bagus?” tanya Ibnu Khafif kepada mereka.

Pelajar-pelajarnya terdiam. Mulai hari itu, mereka mula menghormati Ahmad Muda.
kuontai
11-10-2007, 12:31 PM
Seorang pemuda masuk ke dalam sebuah kedai makan, memesan makanan. Tidak beberapa lama kemudian, pesanannya datang.

Saat pemuda itu hendak menikmati makanannya, datanglah seorang anak kecil menjajakan kue padanya, “Bang, mau beli kue, bang ?”

Dengan ramah pemuda yang sedang makan itu menjawab “Tidak, saya sedang makan”.

Anak kecil tersebut tidak putus asa dengan cobaan pertama.

Dia menunggu sampai pemuda itu selesai makan, lalu dia tawarkan lagi keh dagangannya, “Bang, mau beli kue, bang ?”

Pemuda tersebut menjawab, “Tidak dik, saya sudah kenyang.”

Lalu, pemuda itu membayar di kasir dan beranjak pergi dari kedai makan tersebut. Si anak kecil penjaja kue itu mengikuti. Sudah hampir seharian dia menjajakan kue buatan ibunya. Dia tidak menyerah pada usahanya.

Anak itu berfikir, “Coba aku tawarkan kue ini lagi pada pemuda itu. Siapa tahu kue ini dijadikan oleh2 buat orang di rumahnya.”

Apa yang dilakukan oleh anak kecil itu adalah usaha gigih membantu ibunya menyambung kehidupan yang serba sederhana ini.

Saat pemuda itu keluar rumah makan, anak kecil penjaja kue itu menawarkan kue dagangannya untuk yang ketiga kali, “Bang mau beli kue saya ?”.

Kali ini pemuda itu merasa risih untuk menolak. Kemudian, dia mengeluarkan uang dari dompetnya dan diberikan pada anak kecil itu sebagai sedekah.

Katanya, “Dik, ambil uang ini. Saya tidak beli kue adik. Anggap saja ini sedekah dari saya buat adik.”

Anak kecil itu menerima uang pemberian pemuda lalu memberikannya kepada seorang pengemis yang sedang meminta minta. Betapa terkejutnya pemuda itu.

“Bagaimana anak ini ? Diberi uang tak mau malah diberikan pada orang lain?”.

Katanya, “Kenapa kamu berikan uang itu pada pengemis ? Mengapa tidak kau ambil saja ?”

Anak kecil penjaja kue tersenyum lucu menjawab, “Saya sudah berjanji sama ibu di rumah untuk menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis. Dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. 
Uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya menjadi pengemis”.

Pemuda itu kagum dengan kata kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etika kerja bahawa “kerja adalah sebuah kehormatan”. Kehormatan anak kecil itu akan berkurang di hadapan ibunya, bila dia tidak bekerja keras dan berhasil menjajakan kue. 
Dan, adalah pantangan bagi sang ibu bila anaknya menjadi pengemis. Dia ingin setiap kali pulang ke rumah dia melihat ibunya tersenyum menyambut kepulangannya dan senyuman bonda yang tulus dia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.

Akhir cerita, pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan anak kecil itu. Bukan kerana kasihan, bukan kerana lapar tapi kerana prinsip yang dimiliki anak kecil itu “kerja adalah sebuah kehormatan”. Dia akan mendapatkan uang kalau dia sudah bekerja dengan baik.

Semoga cerita di atas bisa menyedarkan kita tentang erti pentingnya kerja. Bukan sekadar untuk uang semata. Jangan sampai mata kita menjadi “hijau” karena uang sehingga melupakan apa erti pentingnya kebanggaan kerja yang kita miliki. Sekecil apapun kerja itu, kalau kita kerjakan dengan sungguh-sungguh, pastilah akan bererti besar.
kuontai
11-10-2007, 12:35 PM
"Mengapa orang tidak bahagia? Karena mereka mendapatkan kepuasan yang janggal dari penderitaan mereka," kata Sang Guru.

Ia menceritakan bagaimana ketika suatu kali ia berada di tempat tidur bagian atas di sebuah kereta api, pada suatu malam. Ia tidak bisa tidur, karena dari tempat tidur bawah seorang wanita terus-menerus mengeluh, "Oh, betapa hausnya saya ... Aduh, betapa hausnya saya."

Terus-menerus suara keluhan itu terdengar. Akhirnya, Sang Guru turun ke bawah, berjalan melalui gang sepanjang kereta api, mengisi dua cangkir besar dengan air, membawanya dan memberikannya kepada wanita malang itu.

"Bu, ini ada air."

"Oh, baik sekali Anda. Terima kasih."

Sang Guru kembali ketempat tidur. Ia menyamankan badannya dan ketika hampir pulas dari bawah terdengar lagi suara keluhan, "Oh, betapa hausnya saya tadi... Aduh, betapa hausnya tadi."
kuontai
11-10-2007, 12:39 PM
Beberapa orang bertanya kepada Sang Guru, apa yang dia maksudkan sebagai "perbuatan tanpa pamrih." Ia menjawab, "Perbuatan yang dicintai dan dilakukan demi perbuatan itu sendiri, tidak demi pengakuan atau keuntungan atau hasil."

Kemudian ia menceritakan tentang seseorang yang disewa oleh seorang peneliti. Orang itu dibawa ke halaman belakang dan diberi sebuah kapak.

"Apakah kamu melihat batang pohon yang terletak di sana itu? Saya ingin agar kamu memotongnya. Syaratnya, kamu hanya boleh menggunakan bagian punggung dari kapak itu, bukan bagian yang tajam. Kamu akan mendapatkan 100 dolar per jam untuk itu."

Orang itu berpikir bahwa peneliti itu sinting, namun upahnya menggiurkan, maka mulailah ia bekerja.

Dua jam kemudian ia datang dan berkata, "Pak, saya berhenti saja."

"Ada apa? Bukankah kamu suka bayaran yang akan kamu peroleh? Saya akan melipatgandakan upahmu!"

"Tidak, terima kasih," kata orang itu. "Bayarannya baik. Tetapi kalau saya memotong kayu, saya harus melihat kepingan-kepingan kayu beterbangan."
kuontai
17-10-2007, 02:34 PM
Kadang-kadang anda merasakan anda mengenali seseorang lebih baik dari orang lain, tapi hanya untuk menyadari bahwa pendapat anda tentang seseorang itu bukan seperti yang anda gambarkan.

Dia bertemu dengan gadis itu di sebuah pesta, gadis yang menakjubkan. Banyak pria berusaha mendekatinya. Sedangkan dia sendiri hanya seorang laki-laki biasa. Tiada seorang gadis pun yang begitu mempedulikannya. Setelah pesta selesai, dia mengundang gadis itu untuk minum kopi bersamanya. Walaupun terkejut dengan undangan yang mendadak, si gadis tidak mau mengecewakannya. Mereka berdua duduk di sebuah kedai kopi yang begitu nyaman. Si lelaki begitu gugup untuk mengatakan sesuatu, sedangkan si gadis merasa sangat tidak nyaman.

“Cepat katakan sesuatu. Aku ingin segera pulang”, kata si gadis dalam hatinya.

Tiba-tiba si laki-laki berkata pada pelayan, “Tolong ambilkan saya garam. Saya ingin membubuhkan dalam kopi saya.”

Semua orang memandang dan melihat aneh padanya. Mukanya mendadak menjadi merah, tapi dia tetap mengambil dan membubuhkan garam dalam kopi serta meminum kopinya.

Sang gadis bertanya dengan penuh rasa ingin tahu kepadanya, “Kebiasaanmu sangat aneh?”.

“Saat aku masih kecil, aku tinggal dekat laut. Aku sangat suka bermain-main di laut, di mana aku dapat merasakan laut… asin dan pahit. Sama seperti rasa kopi ini”,jawab si laki-laki.

“Sekarang, tiap kali aku minum kopi asin, aku jadi teringat akan masa kecilku, tanah kelahiranku. Aku sangat merindukan kampung halamanku, rindu kedua orang tuaku yang masih tinggal di sana”, lanjutnya dengan mata berlinang.

Sang gadis begitu terharu. Itu adalah hal sangat menyentuh hati. Perasaan yang begitu dalam dari seorang laki-laki yang mengungkapkan kerinduan akan kampung halamannya. Ia pasti seorang yang mencintai dan begitu mengambil berat akan rumah dan keluarganya. Ia pasti mempunyai rasa tanggungjawab akan tempat tinggal dan orang tuanya. Kemudian sang gadis mulai bercerita tentang tempat tinggalnya yang jauh, masa kecilnya, keluarganya. 

Percakapan yang sangat menarik bagi mereka berdua. Dan itu juga merupakan permulaan yang indah dari kisah cinta mereka. Mereka terus menjalin hubungan. Sang gadis menyedari bahwa dia adalah lelaki idamannya. Dia begitu toleran, baik hati, hangat, penuh perhatian…kesimpulannya dia adalah lelaki baik yang hampir saja diabaikan begitu saja.

Untung saja ada kopi asin !

Seperti setiap kisah cinta yang indah: sang puteri menikah dengan sang putera, dan mereka hidup bahagia… Begitulah lelaki dan gadis itu akhirnya bernikah. Dan, setiap kali dia membuatkan suaminya secangkir kopi, dia membubuhkan sedikit garam di dalamnya, kerana dia tahu itulah kesukaan suaminya. Setelah 40 tahun berlalu, si laki-laki meninggal dunia. Dia meninggalkan sepucuk surat bagi isterinya:

“Sayangku, maafkanlah aku. Maafkan kebohongan yang telah aku buat sepanjang hidupku. Ini adalah satu-satunya kebohonganku padamu—tentang kopi asin. Kamu ingatkan saat kita pertama kali berkenalan? Aku sangat gugup waktu itu. Sebenarnya aku menginginkan sedikit gula. Tapi aku telah mengatakan garam. Waktu itu aku ingin membatalkannya, tapi aku tak sanggup, maka aku biarkan saja semuanya. Aku tak pernah sangka hal itu akan menjadi awal perbualan kita. Aku telah mencoba untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepadamu. Aku telah mencobanya beberapa kali dalam hidupku, tapi aku begitu takut untuk melakukannya, kerana aku telah berjanji untuk tidak menyembunyikan apapun darimu… Sekarang saat kau membaca surat ini, aku sudah tiada. Tidak ada lagi yang perlu aku bimbangkan, maka aku akan mengatakan ini padamu: Aku tidak menyukai kopi yang asin. Tapi sejak aku mengenalimu, aku selalu minum kopi yang rasanya asin sepanjang hidupku. Aku tidak pernah menyesal atas semua yang telah aku lakukan padamu. Aku tidak pernah menyesali semuanya. Dapat berada disampingmu adalah kebahagiaan terbesar dalam hidupku. Jika aku punya kesempatan untuk menjalani hidup sekali lagi, aku tetap akan berusaha mengenalimu dan menjadikanmu isteriku walaupun aku harus minum kopi asin sekali lagi.”

Sambil membaca, airmatanya membasahi surat itu.

Suatu hari seseorang telah bertanyanya, “Bagaimana rasa kopi asin?”

Si gadis pasti menjawab, “Rasanya begitu manis.”
kuontai
17-10-2007, 02:43 PM
Ada banyak hati yang cukup keras untuk melawan kemurkaan dan amukan kemarahan demi harga tinggi. Tapi jarang ada hati yang tahan melawan nyala api cinta kasih yang hangat. Betapa kebijaksanaan ada dalam sebuah kelembutan dan kehangatan, seperti api mencairkan hati yang dingin. Ah, tak ada yang tahan berhadapan nyala cinta kasih.

Alkisah suatu ketika dahulu, Kapak, Gergaji, Palu, dan Nyala Api sedang mengadakan suatu perjalanan bersama-sama. Di suatu tempat, perjalanan mereka terhenti karena terdapat sepotong besi baja yang menghalangi jalan. Mereka berusaha menyingkirkan besi baja tersebut dengan kekuatan yang mereka miliki masing-masing.

“Itu dapat aku singkirkan,” kata Kapak. Pukulan-pukulannya keras sekali menghantam besi yang kuat dan keras itu. Tapi setiap hantaman hanya membuat kapak itu lebih tumpul sampai ia terpaksa berhenti.

“Sini, biar aku yang urus,” kata Gergaji. Dengan gigi-gigi yang tajam tanpa perasaan, iapun mulai menggergaji. Tapi terkejut dan kecewa ia, semua giginya jadi tumpul dan jatuh.

“Lihat, aku sudah bilang,” kata Palu, “Kan aku sudah bilang anda semua tak dapat lakukan. Sini, sini aku tunjukkan caranya.” Tapi baru sekali ia memukul, kepalanya terpantul sendiri, dan besi tetap tak berubah.

“Boleh aku coba?” tanya Nyala Api. Dan iapun melingkarkan diri, dengan lembut menggeluti, membelai, memeluk, dan mendakap besi itu erat-eratnya seperti tak mau melepaskannya lagi. Besi yang keras itupun meleleh cair.
kuontai
08-11-2007, 09:33 AM
Kosong bagi seseorang boleh dianggap penuh oleh orang lain.
Sebaliknya, penuh bagi seseorang boleh dianggap kosong oleh orang lain.

KOSONG dan PENUH - kedua-duanya merupakan produk dari “fikiran” anda sendiri. Sebagaimana anda memandangi hidup demikianlah kehidupan anda. Hidup menjadi bererti, bermakna, kerana anda memberikan erti kepadanya,
memberikan makna kepadanya.

Bagi mereka yang tidak memberikan makna, tidak memberikan erti, hidup ini ibarat lembaran kertas yang kosong………..

Satu hari ketika seorang ayah membeli beberapa gulung kertas bungkusan hadiah, anak perempuannya yang masih kecil dan manja sekali, meminta satu gulung.

“Untuk apa?” tanya si ayah.

“Untuk bungkus hadiah” jawab si kecil.

“Jangan dibuang-buang ya.” pesan si ayah, sambil memberikan satu gulungan kecil.

Keesokan harinya, pagi-pagi lagi si kecil sudah bangun dan membangunkan ayahnya, “Yah, Ayah…….. ada hadiah untuk Ayah.”

Si ayah yang masih menggeliat, matanya pun belum lagi terbuka sepenuhnya menjawab, “Sudahlah…. nanti nanti saja.”

Tetapi si kecil pantang menyerah, “Ayah, Ayah, bangun Ayah, sudah pagi.”

“Eh… kenapa ganggu ayah… masih terlalu pagii untuk ayah bangun.”

Ayah terpandang sebuah bungkusan yang telah dibalut dengan kertas pembungkus yang diberikan semalam.

“Hadiah apa ini?”

“Hadiah hari jadi untuk Ayah. Bukalah Yah, buka sekarang.”

Dan si ayah pun membuka bungkusan itu.

Ternyata di dalamnya hanya sebuah kotak kosong. Tidak berisi apa pun juga.

“Eh.. kenapa kosong?? Tak ada isi di dalamnya. Kan Ayah dah kata jangan buang-buang kertas bungkusan Ayah. 

Si kecil menjawab, “Tidak Ayah….., Tadi kan, Puteri masukkan banyak sekali ciuman untuk Ayah.”

Si ayah merasa terharu, dia mengangkat anaknya. Dipeluk dan diciumnya.

“Puteri, Ayah belum pernah menerima hadiah seindah ini. Ayah akan selalu menyimpan hadiah ini. Ayah akan bawa ke pejabat dan sekali-sekala kalau perlu ciuman Puteri, Ayah akan mengambil satu. Nanti kalau kosong diisi lagi ya!”

Kotak kosong yang sesaat sebelumnya dianggap tidak berisi, tidak memiliki nilai apa-apa pun, tiba-tiba terisi, tiba-tiba memiliki nilai yang begitu tinggi. Apa yang terjadi?

Lalu, walaupun kotak itu memiliki nilai yang sangat tinggi di mata si ayah, namun di mata orang lain tetap juga tidak memiliki nilai apa pun. Orang lain akan tetap menganggapnya sebuah kotak kosong.
kuontai
04-12-2007, 12:30 PM
Aku adalah seorang ibu tunggal dan mempunyai seorang anak perempuan. Bekas suamiku tidak pernah menjenguk anakku sejak dia meninggalkan rumah. Itu amat meruntun perasaanku apabila anakku yang masih kecil itu seringkali bertanya ayahnya. Di awal perpisahan dulu, anakku sering sakit dan menangis dan aku terpaksa memujuknya dan menyuruhnya bersabar dgn mengatakan itu adalah dugaan Tuhan.

Walaupun ketika waktu itu anakku mungkin tak mengerti, aku tetap menjelaskan situasi yang berlaku sedaya upayaku dengan harapan anakku akan faham suatu hari nanti. Ketika dia sakit, aku akan menyapu minyak angin di belakang badannya, mengusap rambutnya dan mendodoikan dia tidur sambil bercerita kisah-kisah teladan yang pernah diceritakan oleh nenekku sewaktu aku kecil. Aku juga coba menyorokkan segala kesedihan dan ketakutanku dari pengetahuan anakku. Lama-kelamaan aku tengok anakku tidak lagi bertanya ayahnya lagi.

Namun,di suatu hari aku pulang ke rumah dengan keadaan yg cukup tertekan. Aku berasa seperti sakit jiwa dan putus asa dalam hidup lantaran tekanan perasaan yang aku alami. Aku terus masuk ke dalam bilik dan menangis semahu-mahuku di atas katil. Mungkin aku tak perasan anakku telah mengintai segala gerak-geriku di celah pintu yg aku lupa untuk menguncinya.

Tanpa sadarku, aku berasakan ada jari-jari kecil mengusap belakangku. Bau minyak angin dapat kuhirup. Alangkah terkejut dan terharunya aku apabila melihat anakku yg ketika itu baru berumur 5 tahun memegang botol minyak angin dan mengusap belakangku seperti mana aku pernah melakukan kepadanya dulu. Sambil mengusap-usap lembut badanku, anakku bertanya..”Kenapa ibu menangis??” Aku tak terkata apa-apa kerana aku tak tahu apa yang perlu aku katakan waktu itu. Tetapi yang lebih menghibakan aku anakku berkata lembut, ” Sabarlah ibu ..ini kan ujian Tuhan.”
Mendengar kata-kata dari bibir comel itu membuat aku terkedu dan terus memeluknya sambil menangis. Aku tak sangka anakkku yang kecil itu seolah-olah memahami apa yg aku lalui. Anakku itulah penawar hatiku….

Sejak itu, aku berazam untuk tidak lagi berputus asa dalam hidup dan terus berjuang untuk meneruskan kehidupan. Aku berjanji dalam diri untuk membesarkan anakku dgn penuh kasih sayang dan coba menyediakan segala keperluannya sedaya-upayaku. Bagiku dialah semangatku bagi menepis segala cobaan yang aku lalui tanpa seorg lelaki di sisi.

Kini aku bersyukur kerana anakku telah membesar menjadi anak yang comel, sihat dan pintar. Dia adalah anak yg baik dan jarang menimbulkan masalah untuk membesarkannya. Sekarang dia sudah berumur 10 tahun dan menunjukkan prestasi yg cukup membanggakan di sekolah. Sebagai ibu, sudah tentu aku berbangga dan berharap dia akan menjadi seorg insan yg berguna kpd agama, bangsa dan negara apabila dewasa kelak.
kuontai
23-01-2008, 10:40 AM
Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang begitu terasa berat. Namun sebenarnya kalau kita sudah menjalankannya, kita ternyata mampu. Malah yang kita anggap mustahil untuk dilakukan sekalipun.


Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya. “Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetik paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” 

“Ha?,” kata jam terperanjat, “Mana sanggup saya?”

“Bagaimana kalau 86,400 kali dalam sehari?” tanya si pembuat jam.

“Lapan puluh enam ribu empat ratus kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?” jawab jam penuh keraguan.

“Bagaimana kalau 3,600 kali dalam satu jam?” cadang si pembuat jam.

“Dalam satu jam harus berdetik 3,600 kali? Banyak sekali itu” tetap saja jam ragu-ragu dengan kemampuan dirinya.

Tukang jam dengan penuh kesabaran kemudian berkata lagi kepada si jam. “Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetik satu kali setiap detik?” 

“Oh, kalau begitu, aku sanggup!” kata jam dengan penuh semangat.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetik satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa kerana ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetik tanpa henti. Dan itu bererti ia telah berdetik sebanyak 31,104,000 kali.
kuontai
23-01-2008, 11:39 AM
Seorang lelaki telah menemui kepompong kupu-kupu di tengah jalan. Ada lubang kecil pada kepompong itu. Dia duduk mengamati lubang itu dan melihat ada kupu-kupu cuba berjuang untuk membebaskan diri melalui lubang kecil itu. Kemudian kupu-kupu itu berhenti mencuba. Ia kelihatan telah berusaha sedaya upaya dan kini tidak mampu untuk melakukan lebih jauh lagi. Akhirnya lelaki tersebut mengambil keputusan untuk membantu kupu-kupu tersebut. Dia mengambil gunting dan memotong sisa kekangan dari kepompong itu.

Kupu-kupu tersebut keluar dengan mudahnya. Namun, dia mempunyai tubuh gembung dan kecil, sayap-sayapnya berkeriut. Lelaki tersebut terus mengamatinya sambil berharap sayap-sayap itu akan mekar dan melebar sehingga mampu menampung tubuh kupu-kupu itu, yang mungkin akan berkembang seiring dengan berjalannya waktu. Namun, harapannya hanya tinggal harapan.

Hakikatnya, kupu-kupu itu terpaksa menghabiskan sisa hidupnya merangkak di sekitarnya dengan tubuh gembung dan sayap-sayap berkeriut dan tidak sempurna. Dia tidak pernah mampu terbang.

Lelaki yang membantu kupu-kupu tersebut tidak mengerti bahawa kupu-kupu tersebut perlu berjuang dengan daya usahanya sendiri untuk membebaskan diri dari kepompongnya. Lubang kecil yang perlu dilalui kupu-kupu tersebut akan memaksa cairan dari tubuh kupu-kupu itu ke dalam sayap-sayapnya sehingga dia akan siap terbang dan memperoleh kebebasan dari kepompong tersebut.

Kadang-kadang perjuangan adalah suatu yang kita perlukan dalam hidup kita.Jika Tuhan membiarkan kita hidup tanpa ranjau dan perjuangan, kita mungkin akan jadi lemah dan tak tahan ujian. Kita mungkin tidak kuat untuk menghadapi rintangan bagi mencapai cita-cita dan harapan yang kita idamkan.

Kita mungkin tidak akan pernah dapat ‘terbang’ jauh. Sesungguhnya Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Kita memohon kekuatan dan keteguhan hati…Dan Tuhan memberi kita dugaan dan ujian untuk membuat kita kuat dan cekal..

Kita memohon kebijaksanaan…Dan Tuhan memberi kita berbagai persoalan hidup untuk diselesaikan agar kita bertambah bijaksana dan matang.

Kita memohon kemakmuran…Dan Tuhan memberi kita akal dan tenaga untuk dipergunakan sepenuhnya bagi mencapai kemakmuran.

Kita memohon cinta…Dan Tuhan memberi kita orang-orang bermasalah untuk diselamatkan dan dicintai.

Kita memohon kemurahan rezeki dan kebaikan hati…Dan Tuhan memberi kita kesempatan-kesempatan yang silih berganti.

Begitulah cara Tuhan membimbing Kita…

Adakah jika saya tidak memperoleh apa yang saya idamkan, bererti bahawa saya tidak mendapatkan segala yang saya inginkan ?

Kadang-kadang Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, tapi dengan pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita, kebanyakan kita tidak dapat melihat hikmah disebaliknya, bahkan tidak mahu menerima rencana Tuhan, padahal itulah yang terbaik untuk kita.
kuontai
23-01-2008, 11:53 AM
Ada 4 lilin yang menyala.

Sedikit demi sedikit habis meleleh.

Suasana begitu sunyi sehingga terdengarlah percakapan mereka.

Yang pertama berkata:
“Aku adalah Damai.”
“Namun manusia tak mampu menjagaku, maka lebih baik aku mematikan diriku saja!”

Demikianlah sedikit demi sedikit sang lilin padam.
Yang kedua berkata:
“Aku adalah Iman.”
“Sayang aku tak berguna lagi.”
“Manusia tak mau mengenaliku, untuk itulah tak ada gunanya aku tetap menyala.”Begitu selesai bicara, tiupan angin memadamkannya.

Dengan sedih giliran Lilin ketiga bicara:
“Aku adalah Cinta”
“Tak mampu lagi aku untuk tetap menyala.”
“Manusia tidak lagi memandang dan mengganggapku berguna.”
“Mereka saling membenci, malah membenci mereka yang mencintainya, membenci keluarganya.”

Tanpa menunggu waktu lama, maka matilah Lilin ketiga.

Tanpa terduga…

Seorang anak saat itu masuk ke dalam kamar, dan melihat ketiga Lilin telah padam.

Kerana takut akan kegelapan itu, si anak berkata:
“Eh apa yang terjadi?? Kalian harus tetap menyala, aku takut akan kegelapan!”

Lalu si anak menangis tersedu-sedu.

Lalu dengan terharu Lilin keempat berkata:

“Jangan takut,
Janganlah menangis, selama aku masih ada dan menyala, kita tetap dapat selalu menyalakan ketiga Lilin lainnya:

” Akulah H A R A P A N “

Dengan mata bersinar, si anak mengambil Lilin Harapan, lalu menyalakan kembali ketiga Lilin lainnya.

Apa yang tidak pernah mati hanyalah H A R A P A N yang ada dalam hati kita. Semoga ia dapat menjadi alat, seperti si anak tersebut yang dalam situasi apapun mampu menghidupkan kembali Iman, Damai, Cinta dengan HARAPAN-nya.
kuontai
23-01-2008, 11:56 AM
Renungan : 

Kekuatan hidup dan mati ada di lidah. Kekuatan kata-kata yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” justeru dapat membuat orang tersebut bangkit dan membantu mereka dalam menjalani hari-hari.

Kata-kata buruk yang diberikan pada seseorang yang sedang “jatuh” dapat membunuh mereka. Hati hatilah dengan apa yang akan diucapkan. Suarakan ‘kata-kata kehidupan’ kepada mereka yang sedang menjauh dari jalur hidupnya. Kadang-kadang memang sulit dimengerti bahwa ‘kata-kata kehidupan’ itu dapat membuat kita berfikir dan melangkah jauh dari yang kita perkirakan. 

Semua orang dapat mengeluarkan ‘kata-kata kehidupan’ untuk membuat rekan dan teman atau bahkan kepada yang tidak kenal sekalipun untuk membuatnya bangkit darikeputus-asaanya, kejatuhannya, ataupun kemalangannya.

Sungguh indah apabila kita dapat meluangkan waktu kita untuk memberikan semangat kekuatan bagi mereka yang sedang putus asa dan jatuh.


Sekelompok kodok sedang berjalan-jalan melintasi hutan,dan dua di antara kodok tersebut jatuh kedalam sebuah lubang. Semua kodok-kodok yang lain mengelilingi lubang tersebut. Ketika melihat betapa dalamnya lubang tersebut,mereka berkata pada kedua kodok tersebut bahwa mereka lebih baik mati. Kedua kodok tersebut tak menghiraukan komentar itu dan mencuba melompat keluar dari lubang itu dengan segala kemampuan yang ada. Kodok yang lainnya tetap mengatakan agar mereka berhenti melompat dan lebih baik mati.

Akhirnya, salah satu dari kodok yang ada di lubang itu mendengarkan kata-kata kodok yang lain dan menyerah. Dia terjatuh dan mati. Sedang kodok yang satunya tetap meneruskan untuk melompat sedapat mungkin. Sekali lagi kerumunan kodok-kodok tersebut berteriak padanya agar berhenti berusaha dan mati saja. Dia bahkan berusaha lebih kuat dan akhirnya berhasil.

Ketika dia sampai diatas, ada kodok yang bertanya, “Apa kau tidak mendengar teriakan kami?”. Lalu kodok itu (dengan membaca gerakan bibir kodok yang lain) menjelaskan bahwa ia pekak. Akhirnya kodok2 tesebut sadar bahwa saat di bawah tadi kodok pekak itu menganggap mereka telah memberikan semangat kepadanya.
kuontai
18-02-2008, 09:51 AM
Ibu saya adalah seorang yang sangat baik, sejak kecil, saya melihatnya dengan begitu gigih menjaga keutuhan keluarga. Ia selalu bangun dini hari, memasak bubur yang panas untuk ayah, karena lambung ayah tidak baik, pagi hari hanya bisa makan bubur.

Setelah itu, masih harus memasak sepanci nasi untuk anak-anak, karena anak-anak sedang dalam masa pertumbuhan, perlu makan nasi dengan begitu baru tidak akan lapar seharian di sekolah.

Setiap sore, ibu selalu membungkukkan badan menyikat panci, setiap panci di rumah kami bisa dijadikan cermin, tidak ada noda sedikiktpun.

Menjelang malam, dengan giat ibu membersihkan lantai, mengepel seinci demi seinci lantai di rumah tampak lebih bersih dibanding sisi tempat tidur orang lain, tiada debu sedikit pun meski berjalan dengan kaki telanjang.

Ibu saya adalah seorang wanita yang sangat rajin.

Namun, di mata ayahku, ia (ibu) bukan pasangan yang baik. 

Dalam proses pertumbuhan saya, tidak hanya sekali saja ayah selalu menyatakan kesepiannya dalam perkawinan, tidak memahaminya.

Ayah saya adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. 
Ia tidak merokok, tidak minum-minuman keras, serius dalam pekerjaan. Setiap hari berangkat kerja tepat waktu, bahkan saat libur juga masih mengatur jadwal sekolah anak-anak, mengatur waktu istirahat anak-anak, ia adalah seorang ayah yang penuh tanggung jawab, mendorong anak-anak untuk berpretasi dalam pelajaran.

Ia suka main catur, membuat kaligrafi, suka larut dalam dunia buku-buku kuno.

Ayah saya adalah seoang laki-laki yang baik, di mata anak-anak, ia maha besar seperti langit, menjaga kami, melindungi kami dan mendidik kami. 

Hanya saja, di mata ibuku, ia juga bukan seorang pasangan yang baik, dalam proses pertumbuhan saya, kerap kali saya melihat ibu menangis terisak secara diam diam di sudut halaman. 

Ayah menyatakannya dengan kata-kata, sedang ibu dengan aksi, menyatakan kepedihan yang dijalani dalam perkawinan.

Dalam proses pertumbuhan, aku melihat juga mendengar ketidakberdayaan dalam perkawinan ayah dan ibu, sekaligus merasakan betapa baiknya mereka, dan mereka layak mendapatkan sebuah perkawinan yang baik.

Sayangnya, dalam masa-masa keberadaan ayah di dunia, kehidupan perkawinan mereka lalui dalam kegagalan, sedangkan aku, juga tumbuh dalam kebingungan, dan aku bertanya pada diriku sendiri : Dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia? 

Pengorbanan yang dianggap benar.

Setelah dewasa, saya akhirnya memasuki usia perkawinan, dan secara perlahan -lahan saya pun mengetahui akan jawaban ini.

Di masa awal perkawinan, saya juga sama seperti ibu, berusaha menjaga keutuhan keluarga, menyikat panci dan membersihkan lantai, dengan sungguh-sungguh berusaha memelihara perkawinan sendiri. 

Anehnya, saya tidak merasa bahagia ; dan suamiku sendiri, sepertinya juga tidak bahagia.

Saya merenung, mungkin lantai kurang bersih, masakan tidak enak, lalu dengan giat saya membersihkan lantai lagi, dan memasak dengan sepenuh hati.

Namun, rasanya, kami berdua tetap saja tidak bahagia. 

Hingga suatu hari, ketika saya sedang sibuk membersihkan lantai, suami 
saya berkata : istriku, temani aku sejenak mendengar alunan musik!

Dengan mimik tidak senang saya berkata : apa tidak melihat masih ada separoh lantai lagi yang belum di pel ? 

Begitu kata-kata ini terlontar, saya pun termenung, kata-kata yang sangat tidak asing di telinga, dalam perkawinan ayah dan ibu saya, ibu juga kerap berkata begitu sama ayah. 

Saya sedang mempertunjukkan kembali perkawinan ayah dan ibu, sekaligus mengulang kembali ketidakbahagiaan dalam perkwinan mereka.

Ada beberapa kesadaran muncul dalam hati saya. 

Yang kamu inginkan ?
Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu memandang suamiku, dan teringat akan ayah saya. Ia selalu tidak mendapatkan pasangan yang dia inginkan dalam perkawinannya,

Waktu ibu menyikat panci lebih lama daripada menemaninya.

Terus menerus mengerjakan urusan rumah tangga, adalah cara ibu dalam mempertahankan perkawinan, ia memberi ayah sebuah rumah yang bersih, namun jarang menemaninya, sibuk mengurus rumah, ia berusaha mencintai ayah dengan caranya, dan cara ini adalah mengerjakan urusan rumah tangga.

Dan aku, aku juga menggunakan caraku berusaha mencintai suamiku. cara saya juga sama seperti ibu, perkawinan saya sepertinya tengah melangkah ke dalam sebuah cerita, dua orang yang baik mengapa tidak diiringi dengan perkawinan yang bahagia. 

Kesadaran saya membuat saya membuat keputusan (pilihan) yang sama.

Saya hentikan sejenak pekerjaan saya, lalu duduk di sisi suami, menemaninya mendengar musik, dan dari kejauhan, saat memandangi kain pel di atas lantai seperti menatapi nasib ibu.

Saya bertanya pada suamiku : apa yang kau butuhkan ?
Aku membutuhkanmu untuk menemaniku mendengar musik, rumah kotor sedikit tidak apa-apa-lah, nanti saya carikan pembantu untukmu, dengan begitu kau bisa menemaniku! ujar suamiku.

Saya kira kamu perlu rumah yang bersih, ada yang memasak untukmu, ada yang mencuci pakianmu dan saya mengatakan sekaligus serentetan hal-hal yang dibutuhkannya.

Semua itu tidak penting-lah! ujar suamiku. 
Yang paling kuharapkan adalah kau bisa lebih sering menemaniku.

Ternyata sia-sia semua pekerjaan yang saya lakukan, hasilnya benar-benar membuat saya terkejut.Kami meneruskan menikamti kebutuhan masing-masing, dan baru saya 
sadari ternyata dia juga telah banyak melakukan pekerjaan yang sia-sia, kami memiliki cara masing-masing bagaimana mencintai, namun, bukannya cara pihak kedua.

Jalan kebahagiaan 

Sejak itu, saya menderetkan sebuah daftar kebutuhan suami, dan meletakkanya di atas meja buku, Begitu juga dengan suamiku, dia juga menderetkan sebuah daftar 
kebutuhanku. 

Puluhan kebutuhan yang panjang lebar dan jelas, seperti misalnya, waktu senggang menemani pihak kedua mendengar musik, saling memeluk kalau sempat, setiap pagi memberi sentuhan selamat jalan bila berangkat. 

Beberapa hal cukup mudah dilaksanakan, tapi ada juga yang cukup sulit, misalnya dengarkan aku, jangan memberi komentar.

Ini adalah kebutuhan suami. Kalau saya memberinya usul, dia bilang akan merasa dirinya akan tampak seperti orang bodoh.

Menurutku, ini benar-benar masalah gengsi laki-laki.

Saya juga meniru suami tidak memberikan usul, kecuali dia bertanya pada saya, kalau tidak saya hanya boleh mendengar dengan serius, menurut sampai tuntas, demikian juga ketika salah jalan.

Bagi saya ini benar-benar sebuah jalan yang sulit dipelajari, namun jauh lebih santai daripada mengepel, dan dalam kepuasan kebutuhan kami ini, perkawinan yang kami jalani juga kian hari semakin penuh daya hidup.

Saat saya lelah, saya memilih beberapa hal yang gampang dikerjakan, misalnya menyetel musik ringan, dan kalau lagi segar bugar merancang perjalanan keluar kota.
Menariknya, pergi ke taman flora adalah hal bersama dan kebutuhan kami, setiap ada pertikaian, selalu pergi ke taman flora, dan selalu bisa menghibur gejolak hati masing-masing.

Sebenarnya, kami saling mengenal dan mencintai juga dikarenakan kesukaan kami pada taman flora, lalu bersama kita menapak ke tirai merah perkawinan, kembali ke taman bisa kembali ke dalam suasana hati yang saling mencintai bertahun-tahun silam. 

Bertanya pada pihak kedua : apa yang kau inginkan, kata-kata ini telah menghidupkan sebuah jalan kebahagiaan lain dalam perkawinan. Keduanya akhirnya melangkah ke jalan bahagia. 

Kini, saya tahu kenapa perkawinan ayah ibu tidak bisa bahagia, mereka terlalu bersikeras menggunakan cara sendiri dalam mencintai pihak kedua, bukan mencintai pasangannya dengan cara pihak kedua. 

Diri sendiri lelahnya setengah mati, namun pihak kedua tidak dapat merasakannya, akhirnya ketika menghadapi penantian perkawinan, hati ini juga sudah kecewa dan hancur. 

Karena Tuhan telah menciptakan perkawinan, maka menurut saya, setiap orang pantas dan layak memiliki sebuah perkawinan yang bahagia, asalkan cara yang kita pakai itu tepat, menjadi orang yang dibutuhkan pihak kedua! Bukannya memberi atas keinginan kita sendiri, perkawinan yang baik, pasti dapat diharapkan.
kuontai
06-11-2008, 11:31 AM
Mataku merenung tepat ke tengah laut. Air di lautan kelihatan bercahaya disepuh sinaran fajar mentari di waktu senja. Pemandangan di pantai Seroja sangat mengasyikkan.

Gulungan ombak yang beralun-alun tidak aku hiraukan. Biarlah ombak yang mengganas itu menghempas pasir pantai. Biarlah ombak yang cemburu membawa apa sahaja yang diinginkannya.

Kicauan dan siulan permai sekumpulan burung yang berterbangan, kian mengalun merdu, memecah kesunyian dan diiringi deruan bayu angin laut yang menjadi irama yang penuh berseni. Ditambah pula dengan kehijauan alam dan alunan ombak laut yang menggamit mesra serta hamparan kaki langit yang membiru.

Awan comel yang sedikit kekuningan berambal-ambalan di langit. Sinaran fajar senja yang kuning kemerahan melengkapkan lagi lingkaran keindahan pantai ini. Alangkah indahnya. Alangkah!

Betapa agungnya ciptaan Ilahi. Aku mengucap syukur kerana diberi peluang kembali untuk menatap sekelumit keindahan di alam fana ini. Bayu angin laut yang sepoi-sepoi bahasa mendamaikan perasaanku. ****** yang menyelimuti rambutku berkibas-kibas disentuh desiran pawana yang tidak putus-putus menerpa tubuhku.

Aku duduk memeluk tubuh di bawah pohon jacaranda yang terletak di tepian pantai. Kuntuman-kuntuman bunga jacaranda yang berwarna ungu lembut mengucup mesra jiwaku. Kesuk-kesik kuntuman jacaranda seakan-akan membisikkan sesuatu yang mesra. Aku mengambil sekuntum dedaun jacaranda, lalu menciumnya. Terasa harumannya menerobos di segenap rongga hidungku.

Aku melihat kuntuman itu tanpa berkedip. Aku tersenyum. Segera fikiranku dibawa belayar ke pulau kenanganku bersama Adam ketika kami berusia 17 tahun. Ya, Adam Syamir! Mutiara sahabatku yang selama ini mewarnai hidupku yang berlorongkan kegelapan. Adam yang sebelum ini tidak jemu menjaga gadis buta seperti aku!

“Kau tahu Neesa, dulu waktu aku dihantar ke Teratak Kasih masa berumur 10 tahun, sedih aku kerana seluruh keluarga meninggal akibat kebakaran, belum pulih lagi. Setiap hari aku menangis sampailah bonda Murni menyuruh aku pergi ke pohon jacaranda ini. Sejak itu, kesedihan aku semakin pudar. Kalau kau nak tahu, pohon jacaranda inilah yang membuatkan aku bahagia,” ujar Adam panjang lebar.

“Jadi kau sudah tujuh tahun di Teratak Kasih?”

“Ya dan kau pula sudah lima tahun tinggal di Teratak Kasih?”

“Betul. Sudah lama benar kita tinggal di sini tapi macam baru semalam aku dihantar ke sini. Aku ingat lagi perkenalan pertama kita dulu, kau masih ingat lagi masa silam kau Adam?”

“Mana boleh tak ingat. Tapi kalau boleh aku nak lupakan sebab aku takut kesedihan dulu muncul kembali dalam hidup aku. Tapi, berkali-kali aku cuba melupakan, kenangan silam tetap tidak hilang,” ujar Adam.

Aku juga begitu, mahu melupakan kisah silamku yang penuh dengan kesedihan. Aku tidak mahu ujian Tuhan yang menerpa diriku dulu menghalang titian impianku.

“Aku suka sangat mencium kuntuman bunga jacaranda ini. Terasa damai. Walaupun tak dapat melihat warna, bentuk dan pohonnya tapi cukuplah kalau aku boleh mencium harumannya sahaja,” ujarku sambil mencium kuntuman bunga jacaranda.

“Aku rasakan, agaknya Tuhan jadikan pohon jacaranda ini untuk kita. Pohon ini berhampiran Teratak Kasih, di tepian pantai Seorja, bagai memudahkan kita menikmati keindahan pohon yang dianugerahkan oleh Tuhan ini. Lagipun, kalau duduk di bawah pohon jacaranda, hati mesti tenang dan damai, betul tak Neesa?”

“Betul tu. Kuntuman bunga jacaranda itu seperti kuntuman yang mekar mengelopak, memekar di taman hati seseorang, terkibas dihempas tiupan bayu berterbangan ke dahan sukma sepi hati seseorang dan pasti hati dan jiwa akan kembali mekar mengelopak…”

“Wah, pandai kau bersastera Neesa.”

“Terima kasih Adam. Itu hanya ilham yang tiba-tiba mengelopak yang perlu dikopak.”

“Tak fahamlah aku dengan sastera ni. Kau minat sangat ke dengan sastera?”

“Entahlah Adam tapi jauh di sudut hati, aku teringin sangat nak jadi seperti Khadijah Hashim, Nisah Haron, Faisal Tehrani atau semua sasterawan tanah air. Sejak kecil, aku suka sangat membaca, tak kisahlah buku apa. Yang penting aku dapat ilmu pengetahuan. Tapi mungkinkah aku capai impian itu? Aku buta, Adam.”

“Neesa, kau gadis buta yang berbakat. Walaupun buta, tapi Tuhan telah anugerahkan kau bakat yang tidak ternilai itu jadi kau mesti yakin. Semua impian boleh jadi kenyataan apabila dilakukan bersungguh-sungguh seperti kata pepatah, ‘ular dipalu biarlah mati, pemalu janganlah patah, tanah janganlah lembang.”

Sewaktu mula-mula ditempatkan di rumah anak-anak yatim Teratak Kasih ini, Adamlah satu-satunya teman yang sudi berkawan denganku. Penghuni lain tidak menyenangiku. Aku sedar, aku gadis buta.

Tetapi aku tidak minta menjadi buta. Aku hanya reda dan pasrah pada ketentuan Tuhan. Aku menerima petaka ini kerana terlibat dalam kemalangan jalan raya yang dahsyat. Parah di mataku menyebabkan aku buta. Kehilangan ayah, ibu, abang dan seorang adikku adalah kegemparan yang begitu meratah jendela hidupku. Aku baru berusia 12 tahun ketika seluruh keluargaku pergi meninggalkanku dan nikmat penglihatanku diragut!

Di saat itu, aku hanya mampu menangis dan terus menangis. Kehidupanku mula berlorongkan kegelapan, kesuraman, kekecewaan, kesunyian dan penuh kedukaan. Seluruh semangat, kekuatan dan keyakinanku terkulai layu seperti sepohon mawar putih yang layu ketandusan air.

Kehidupanku umpama saban malam bulan merintih, pungguk terusan berlagu sayu, ujian-Nya telah menghimpit hatiku yang pedih dan kuntuman hidupku bertukar layu.

Masa terus berlalu tetapi aku masih terkapai-kapai untuk meniti titian kehidupan tanpa insan tersayang dalam hidupku yang penuh kegelapan. Dalam aku kehausan menagih kasih, aku hampir putus asa menanti cebisan sinaran bahagia dan aku nyaris rebah bersama serpihan hati yang hampir jatuh berderai.

Memandangkan aku tiada saudara mara lagi yang dapat menjagaku, aku dihantar ke Teratak Kasih. Bermula waktu itulah kuntuman bahagiaku kian mekar mengelopak. Aku berkenalan dengan Adam. Aku ingat lagi kata-katanya pada saat aku menceritakan mengenai ujian yang menimpa diriku ini.

“Neesa, kau tak boleh lemah semangat. Setiap manusia pasti menerima ujian-Nya. Bersabarlah dan bertawakallah selalu. Kau masih ada aku lagi. Kita mesti teruskan hidup kita walaupun tanpa keluarga. Kau kena mula mengatur langkah untuk ke hadapan. Mungkin ada sebutir kejayaan dapat kau capai di hadapan sana.”

Semangat dan keyakinan yang Adam titiskan kepadaku menjadi bintang kejora yang menyuluh dan mewarnai hidupku. Jendela hidupku yang sebelum ini dipenuhi kegelapan dan kesedihan mula dilingkari dengan kebahagiaan, kegembiraan dan sinaran yang bergemerlapan.

Aku mula melupakan sejarah kedukaan yang melanda hidupku. Semangat dan kekuatanku kembali mengelopak seperti kuntuman bunga jacaranda. Walaupun wajah mulia Adam tidak dapat kutatap, tetapi hatiku dapat melihat wajahnya yang bersinar umpama rembulan, kata-kata dan tawanya menjauhkan aku dalam segala kedukaan.

Terima kasih Tuhan kerana menitipkan seorang insan berhati mulia buatku. Bunyi kicauan burung mencantas lamunanku. Serta-merta bayangan kenangan bersama Adam hilang daripada tubir mataku. Aku membetulkan ******ku tatkala desiran angin laut menggerakkannya.

Sekali-sekala aku merenung jauh di kaki langit yang membiru. Seperti terdengar pula deruan ombak dan bayu bersatu seperti membawa suara Adam yang masih terngiang-ngiang di cuping telingaku.

“Neesa, manusia itu dilahirkan untuk meraih kejayaan, bukan untuk mengalami kegagalan. Jangan hanya kerana kau buta, kau hilang semangat dan keyakinan. Bayang kita akan menjadi malap sekalipun diterangi cahaya cerah apabila kita hilang keyakinan diri. Tuhan telah anugerahkan kau dengan bakat penulisan jadi kau harus gunakan sebaik-baiknya bakat kau itu.

“Aku sentiasa menyokong kau dan aku akan membantu kau menggapai impian kau itu. Neesa, pengayuh sayang dibasahkan, sampan tidak akan sampai ke seberang, impian tidak akan tercapai tanpa usaha. Ingat tu Neesa.” Panjang lebar Adam memberikan kata-kata semangat.

Aku terdiam dalam ketakjuban. Hatiku terasa terdodoi dengan selingkar kata-kata Adam yang seperti menghembus tiupan sukma bahagia ke dalam hati dan jiwaku. Adam umpama hujan yang mulai turun renyai-renyai lalu kuntuman-kuntuman semangat dan keyakinanku mula mengelopak kerana terpalu oleh titis-titis air hujan yang dicurahkan oleh Adam.

Bermula waktu itu, aku mencuba-cuba untuk berkarya. Adam yang membantuku untuk menulis hasil penulisanku. Sesekali aku mengeluh juga kerana tiada idea untuk mencipta sesuatu karya. Tetapi Adam banyak memberikan sokongan dan dorongan. Jika tiba-tiba ilhamku menjelma, aku cepat-cepat menyuruh Adam menuliskan semua idea yang tercipta itu. Sesekali aku terasa lucu dan kasihan melihat Adam yang tergopoh-gapah mencari sebuah buku dan sebatang pensil untuk menuliskan idea yang tiba-tiba muncul di fikiranku. Tapi kata Adam, dia ikhlas membantuku. Dia mahu aku jadi seorang penulis yang berjaya.

Apabila selesai hasil karyaku yang pertama, aku memberanikan diri untuk menghantarnya ke syarikat penerbitan akhbar. Mulanya aku takut juga untuk menghantar tapi Adam berkeras memujukku dan memberi kata-kata semangat yang sememangnya terus menyemarakkan semangat dan keyakinanku.

Selang beberapa minggu kemudian, aku menerima khabar gembira daripada Adam. Katanya, karyaku tersiar di akhbar. Aku mengucap syukur kepada-Nya kerana bakatku sudah dapat dilihat.

“Terima kasih Adam. Kalau bukan kerana kau, mungkin aku tak yakin yang aku berbakat dalam penulisan.”

“Sama-sama Neesa. Lagipun aku hanya menolong kau setakat yang terdaya. Aku gembira sangat, akhirnya aku berjaya membantu kau untuk mendalami dunia penulisan.”

“Kau tahu Adam, kau tu umpama matahari, sinarnya memancar menyinari jendela hidupku, hangat membakar di segenap ruang hatiku dan persis mutiara yang mewarnai dan menyinari semangat serta keyakinanku untuk berjaya.”

“Yalah tu. Kau tu Neesa, kalau dah asyik bersastera, tsunami melandai pantai Seroja ini pun kau tak perasan agaknya.” Aku mendengar Adam tergelak besar.

Aku kembali terus menghasilkan pelbagai karya. Apabila selesai sahaja, Adam akan menghantarnya ke akhbar atau majalah. Begitulah rutin kehidupanku. Baru aku sedar, Tuhan itu maha adil, pasti ada kelebihan pada setiap manusia yang serba kekurangan seperti aku.

Aku tersedar buat kedua kalinya. Aku mengambil beg tanganku di sisi lalu membukanya untuk mengambil sesuatu. Air mataku meluncur laju tatkala mataku menatap sekeping gambar Adam, satu-satunya gambar yang diberikannya kepadaku sebelum pemergiannya.

Aku tidak sempat menatap wajah sebenar miliknya. Kelihatan Adam seperti tersenyum memandangku. Rasa rindu kepada Adam begitu meruntun jiwa hinggakan aku seperti ingin terbang ke pangkuannya. Perlahan-lahan aku mengambil sekeping surat berwarna merah jambu. Surat itu sudah hampir lunyai. Mana tidaknya, hampir saban waktu aku memegang dan membacanya.

“Assalamualaikum…

Kepadamu kutitipkan salam terindah dan salam kasih sayang daripada segugus hatiku yang suci lagi murni.

Sayangku Neesa,

Sebaik sahaja kau terima sepucuk surat ini, aku sudah pergi jauh menyusuli keluargaku menemui Tuhan. Pintaku, janganlah kau menangis apatah lagi meratapi pemergianku. Ingat Neesa, kau juga suatu hari nanti pasti menemui aku di sana kelak.

Sayangku Neesa,

Sudah lama aku menyimpan perasaan kasih dan cintaku padamu. Sejak aku melihat seraut wajahmu, jantungku terasa berdebar-debar. Apatah lagi tatkala aku melihat kesungguhanmu dalam menggapai sebutir impianmu walaupun kedua-dua pasang matamu tidak dapat melihat. Kau begitu tabah menghadapi semua dugaan dan cabaran yang menimpa dirimu demi mengejar segugus impianmu yang murni itu Neesa.

Sayangku Neesa,

Maafkanlah aku andai aku tidak memberitahu perasaan cintaku padamu. Aku tidak mahu ia menghalang sebutir impianmu. Aku juga tidak mahu andai perasaanku padamu akan memusnahkan istana persahabatan yang sudah kita bina dulu. Oleh kerana sepohon cintaku yang merimbun padamu, aku ikhlas membantumu untuk mengejar impianmu itu.

Kerana itu juga, aku menitipkan sepasang mataku ini sebagai cenderamata cintaku padamu. Semoga dengan sepasang mataku yang bersinar-sinar di matamu sekarang, kasih dan sayangku padamu akan terus mengerdipkan cahaya kasihnya di denai hatimu.

Sayangku Neesa,

Semoga kau mendapat kebahagiaan dan impian yang kau dambakan sebelum ini. Yakinlah, sebutir impianmu sedang menantimu di hadapan sana. Sesungguhnya di bawah pohon jacarandalah aku jatuh cinta padamu. Neesa, jadikanlah pohon jacaranda sebagai tempat yang terindah dalam hidupmu. Semoga kita berjumpa di syurga kasih. Aku setia menantimu di sana.

Salam kasih dan cintaku padamu.

Mutiara sahabatmu, Adam Syamir.”

Aku membiarkan mutiara jernih mengalir di pipiku. Hatiku sungguh terharu. Rupa-rupanya selama ini Adam mencintaiku tetapi dia takut untuk meluahkannya. Sesungguhnya, aku juga mencintaimu dalam diam dan aku juga takut untuk meluahkannya kerana aku gadis buta sebelum ini. Ya Tuhan, kalaulah sebelum ini aku tahu Adam mencintaiku..

Teringat kenangan terakhirku bersama Adam.

“Selamat hari jadi yang ke-17 tahun, Neesa.” Aku terkejut mendengar ucapannya. Mana tidaknya, Adam masih ingat hari ulang tahunku, sebaliknya aku sendiri yang lupa.

“Kau kan kawan kesayanganku. Nah, hadiah untukmu.” Serentak Adam menghulurkan hadiah kepadaku.

Aku terasa sebuah bungkusan di tanganku. Aku meraba-raba di segenap penjuru hadiah itu. Aku keriangan.

“Wah! Mesin taip Braille. Ini untuk aku Adam?” Aku bagaikan tidak mempercayai apa yang aku terima ketika itu.

“Aku belikan mesin taip itu untuk memudahkan kau berkarya. Aku juga sudah mendaftarkan nama kau di sekolah orang buta. Jadi, kau boleh bersekolah kembali selepas ini.”

“Ya Allah, Adam betapa mulianya hatimu. Terima kasih Adam.” Aku begitu terharu dengan kebaikannya.

“Bagaimana dengan matamu Neesa?” Aku terpegun seketika.

“Kata doktor, aku boleh melihat semula, asalkan ada penderma berhati mulia sanggup mendermakan matanya kepadaku.” Sepi membungkam seketika.

“Neesa, kalau kau dapat melihat semula, siapakah yang hendak kau lihat dulu?”

Aku terkesima. Siapa agaknya yang hendak aku lihat dahulu? Adakah bonda Murni, tukang masak di Teratak Kasih yang baik hati itu? Mungkinkah pohon jacaranda yang menjadi pohon kesayanganku? Atau aku mahu melihat foto keluargaku yang sudah lama benar tidak dilihat? Atau pantai Seroja?

“Aku mahu melihat wajahmu dulu, Adam. Wajah orang yang selama ini mewarnai dan menyuluhi hidupku. Wajah orang yang memberikan mesin taip Braille, hadiah yang paling aku hargai.”

“Neesa, kau pasti akan melihat semula. Aku akan bawa hadiah yang kau idam-idamkan selama ini,” ujarnya sambil membetulkan ******ku yang rosak dikibas deruan angin sepoi-sepoi bahasa.

Kita hanya merancang dan Tuhan yang menentukan. Kering darahku apabila aku dikhabarkan mutiara sahabatku kemalangan. Dia kemalangan semasa hendak menghantarkan karyaku untuk dipos ke akhbar, selepas pemberian mesin taip Braille itu.

Kebahagiaanku yang kembali bersinar malap tatkala aku dikejutkan dengan berita mengenai kecelakaan itu yang seperti meratah seluruh kekuatanku. Aku terus dibawa ke hospital. Bonda Murni setia menemani dan memimpinku untuk ke wad kecemasan.

“Neesa, baru sebentar tadi semasa kita duduk di bawah pohon jacaranda, aku sudah katakan padamu, akan akan bawa hadiah yang kau idam-idamkan selama ini,” suara Adam putus-putus. Hatiku dipalu kesayuan.

“Kau juga katakan, kau mahu melihat wajahku dahulu. Tetapi aku minta maaf Neesa, kau tak akan sempat melihatku. Tiada apa lagi yang dapat kutitipkan padamu melainkan sepasang mataku ini. Terimalah sebagai hadiah terakhir dariku.”

Aku memegang erat tangan Adam, tidak mahu melepaskan walaupun seketika. Tiba-tiba tanganku direnggangkan. Tangan Adam sejuk. Kaku.

Aku tersedar lagi buat ketiga kalinya apabila kuntuman jacaranda berguguran terkena mukaku. Peristiwa 15 tahun dahulu seakan-akan baru sehari dua berlalu. Hari sudah benar-benar meninggi. Aku kembali menatap seraut wajah Adam yang terpampang di foto itu. Aku tersenyum.

Terima kasih Adam kerana aku dapat melihat semula keindahan alam ciptaan Tuhan ini. Terima kasih juga Adam kerana kau, aku berjaya menggapai impianku dan aku sekarang sudah menjadi seorang penulis terkenal.

“Mama, bukankah itu pohon jacaranda?” Tersentak aku mendengar suara Neena, anak kecilku yang berusia tujuh tahun. Bibir mungilnya tersenyum sambil jari telunjuknya menuding ke arah pohon jacaranda di persisiran pantai. Pohon yang indah sebegini boleh meneduhkan hati yang paling rawan sekalipun.

Sesungguhnya di bawah pohon jacaranda inilah tempat yang paling terindah yang tidak dapat aku lupakan. Di bawah pohon jacaranda segugus cinta terlarik indah di denai hatiku dan di denai hati Adam. Di bawah pohon inilah aku mengenali erti persahabatan, pengorbanan, kesabaran, kebahagiaan, kesedihan dan sebuah cinta.

Aku tetap bahagia walaupun aku tidak bisa memiliki cinta Adam lagi. Kebahagiaan dan segugus cintaku hanya untuk suamiku dan dua puteriku yang comel. Tetapi Adam tetap yang paling istimewa di hatiku.
kuontai
06-11-2008, 11:41 AM
Aku memandang kalender yang terletak di meja dengan kesal. Sabtu, 30 Maret 2002, hari ulang tahun perkawinan kami yang ketiga. Dan untuk ketiga kalinya pula Aa’ lupa. Ulang tahun pertama, Aa’ lupa karena harus rapat dengan direksi untuk menyelesaikan beberapa masalah keuangan perusahaan. Sebagai Direktur keuangan, Aa’ memang berkewajiban menyelesaikan masalah tersebut. Baiklah, aku maklum. Persoalan saat itu memang lumayan pelik.

Ulang tahun kedua, Aa’ harus keluar kota untuk melakukan presentasi. Kesibukannya membuatnya lupa. Dan setelah minta maaf, waktu aku menyatakan kekesalanku, dengan kalem ia menyahut,” Dik, toh aku sudah membuktikan cintaku sepanjang tahun. Hari itu tidak dirayakan kan tidak apa-apa. Cinta kan tidak butuh upacara…”

Sekarang, pagi-pagi ia sudah pamit ke kantor karena harus menyiapkan beberapa dokumen rapat. Ia pamit saat aku berada di kamar mandi. Aku memang sengaja tidak mengingatkannya tentang ulang tahun perkawinan kami. Aku ingin mengujinya, apakah ia ingat atau tidak kali ini. Nyatanya? Aku menarik napas panjang.

Heran, apa sih susahnya mengingat hari ulang tahun perkawinan sendiri? Aku mendengus kesal. Aa’ memang berbeda dengan aku. Ia kalem dan tidak ekspresif, apalagi romantis. Maka, tidak pernah ada bunga pada momen-momen istimewa atau puisi yang dituliskan di selembar kertas merah muda seperti yang sering kubayangkan saat sebelum aku menikah.

Sedangkan aku, ekspresif dan romantis. Aku selalu memberinya hadiah dengan kata-kata manis setiap hari ulang tahunnya. Aku juga tidak lupa mengucapkan berpuluh kali kata I love you setiap minggu. Mengirim pesan, bahkan puisi lewat sms saat ia keluar kota. Pokoknya, bagiku cinta harus diekspresikan dengan jelas. Karena kejelasan juga bagian dari cinta.

Aku tahu, kalau aku mencintai Aa’, aku harus menerimanya apa adanya. Tetapi, masak sih orang tidak mau berubah dan belajar? Bukankah aku sudah mengajarinya untuk bersikap lebih romantis? Ah, pokoknya aku kesal titik. Dan semua menjadi tidak menyenangkan bagiku. Aku uring-uringan. Aa’ jadi benar-benar menyebalkan di mataku. Aku mulai menghitung-hitung waktu dan perhatian yang diberikannya kepadaku dalam tiga tahun perkawinan kami. Tidak ada akhir minggu yang santai. Jarang sekali kami sempat pergi berdua untuk makan malam di luar. Waktu luang biasanya dihabiskannya untuk tidur sepanjang hari. Jadilah aku manyun sendiri hampir setiap hari minggu dan cuma bisa memandangnya mendengkur dengan manis di tempat tidur.

Rasa kesalku semakin menjadi. Apalagi, hubungan kami seminggu ini memang sedang tidak baik. Kami berdua sama-sama letih. Pekerjaan yang bertumpuk di tempat tugas kami masing-masing membuat kami bertemu di rumah dalam keadaan sama-sama letih dan mudah tersinggung satu sama lain. Jadilah, beberapa kali kami bertengkar minggu ini.

Sebenarnya, hari ini aku sudah mengosongkan semua jadual kegiatanku. Aku ingin berdua saja dengannya hari ini dan melakukan berbagai hal menyenangkan. Mestinya, Sabtu ini ia libur. Tetapi, begitulah Aa’. Sulit sekali baginya meninggalkan pekerjaannya, bahkan pada akhir pekan seperti ini. Mungkin, karena kami belum mempunyai anak. Sehingga ia tidak merasa perlu untuk meluangkan waktu pada akhir pekan seperti ini.

”Hen, kamu yakin mau menerima lamaran A’ Ridwan?” Diah sahabatku menatapku heran. ”Kakakku itu enggak romantis, lho. Tidak seperti suami romantis yang sering kau bayangkan. Dia itu tipe laki-laki serius yang hobinya bekerja keras. Baik sih, soleh, setia… Tapi enggak humoris. Pokoknya, hidup sama dia itu datar. Rutin dan membosankan. Isinya cuma kerja, kerja dan kerja…” Diah menyambung panjang lebar. Aku cuma senyum-senyum saja saat itu. Aa’ memang menanyakan kesediaanku untuk menerima lamaranku lewat Diah.

”Kamu kok gitu, sih? Enggak senang ya kalau aku jadi kakak iparmu?” tanyaku sambil cemberut. Diah tertawa melihatku. ”Yah, yang seperti ini mah tidak akan dilayani. Paling ditinggal pergi sama A’ Ridwan.” Diah tertawa geli. ”Kamu belum tahu kakakku, sih!” Tetapi, apapun kata Diah, aku telah bertekad untuk menerima lamaran Aa’. Aku yakin kami bisa saling menyesuaikan diri. Toh ia laki-laki yang baik. Itu sudah lebih dari cukup buatku.

Minggu-minggu pertama setelah perkawinan kami tidak banyak masalah berarti. Seperti layaknya pengantin baru, Aa’ berusaha romantis. Dan aku senang. Tetapi, semua berakhir saat masa cutinya berakhir. Ia segera berkutat dengan segala kesibukannya, tujuh hari dalam seminggu. Hampir tidak ada waktu yang tersisa untukku. Ceritaku yang antusias sering hanya ditanggapinya dengan ehm, oh, begitu ya… Itupun sambil terkantuk-kantuk memeluk guling. Dan, aku yang telah berjam-jam menunggunya untuk bercerita lantas kehilangan selera untuk melanjutkan cerita.

Begitulah… aku berusaha mengerti dan menerimanya. Tetapi pagi ini, kekesalanku kepadanya benar-benar mencapai puncaknya. Aku izin ke rumah ibu. Kukirim sms singkat kepadanya. Kutunggu. Satu jam kemudian baru kuterima jawabannya. Maaf, aku sedang rapat. Hati-hati. Salam untuk Ibu. Tuh, kan. Lihat. Bahkan ia membutuhkan waktu satu jam untuk membalas smsku. Rapat, presentasi, laporan keuangan, itulah saingan yang merebut perhatian suamiku.

Aku langsung masuk ke bekas kamarku yang sekarang ditempati Riri adikku. Kuhempaskan tubuhku dengan kesal. Aku baru saja akan memejamkan mataku saat samar-samar kudengar Ibu mengetuk pintu. Aku bangkit dengan malas.

”Kenapa Hen? Ada masalah dengan Ridwan?” Ibu membuka percakapan tanpa basa-basi. Aku mengangguk. Ibu memang tidak pernah bisa dibohongi. Ia selalu berhasil menebak dengan jitu.

Walau awalnya tersendat, akhirnya aku bercerita juga kepada Ibu. Mataku berkaca-kaca. Aku menumpahkan kekesalanku kepada Ibu. Ibu tersenyum mendengar ceritaku. Ia mengusap rambutku. ”Hen, mungkin semua ini salah Ibu dan Bapak yang terlalu memanjakan kamu. Sehingga kamu menjadi terganggu dengan sikap suamimu. Cobalah, Hen pikirkan baik-baik. Apa kekurangan Ridwan? Ia suami yang baik. Setia, jujur dan pekerja keras. Ridwan itu tidak pernah kasar sama kamu, rajin ibadah. Ia juga baik dan hormat kepada Ibu dan Bapak. Tidak semua suami seperti dia, Hen. Banyak orang yang dizholimi suaminya. Na’udzubillah!” Kata Ibu.

Aku terdiam. Yah, betul sih apa yang dikatakan Ibu. ”Tapi Bu, dia itu keterlaluan sekali. Masak Ulang tahun perkawinan sendiri tiga kali lupa. Lagi pula, dia itu sama sekali tidak punya waktu buat aku. Aku kan istrinya, bu. Bukan cuma bagian dari perabot rumah tangga yang hanya perlu ditengok sekali-sekali.” Aku masih kesal. Walaupun dalam hati aku membenarkan apa yang diucapkan Ibu.

Ya, selain sifat kurang romantisnya, sebenarnya apa kekurangan Aa’? Hampir tidak ada. Sebenarnya, ia berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakanku dengan caranya sendiri. Ia selalu mendorongku untuk menambah ilmu dan memperluas wawasanku. Ia juga selalu menyemangatiku untuk lebih rajin beribadah dan selalu berbaik sangka kepada orang lain. Soal kesetiaan? Tidak diragukan. Diah satu kantor dengannya. Dan ia selalu bercerita denganku bagaimana Aa’ bersikap terhadap rekan-rekan wanitanya di kantor. Aa’ tidak pernah meladeni ajakan Anita yang tidak juga bosan menggoda dan mengajaknya kencan. Padahal kalau mau, dengan penampilannya yang selalu rapi dan cool seperti itu, tidak sulit buatnya menarik perhatian lawan jenis.

”Hen, kalau kamu merasa uring-uringan seperti itu, sebenarnya bukan Ridwan yang bermasalah. Persoalannya hanya satu, kamu kehilangan rasa syukur…” Ibu berkata tenang.

Aku memandang Ibu. Perkataan Ibu benar-benar menohokku. Ya, Ibu benar. Aku kehilangan rasa syukur. Bukankah baru dua minggu yang lalu aku membujuk Ranti, salah seorang sahabatku yang stres karena suaminya berselingkuh dengan wanita lain dan sangat kasar kepadanya? Bukankah aku yang mengajaknya ke dokter untuk mengobati memar yang ada di beberapa bagian tubuhnya karena dipukuli suaminya?

Pelan-pelan, rasa bersalah timbul dalam hatiku. Kalau memang aku ingin menghabiskan waktu dengannya hari ini, mengapa aku tidak mengatakannya jauh-jauh hari agar ia dapat mengatur jadualnya? Bukankah aku bisa mengingatkannya dengan manis bahwa aku ingin pergi dengannya berdua saja hari ini. Mengapa aku tidak mencoba mengatakan kepadanya, bahwa aku ingin ia bersikap lebih romantis? Bahwa aku merasa tersisih karena kesibukannya? Bahwa aku sebenarnya takut tidak lagi dicintai?

Aku segera pamit kepada Ibu. Aku bergegas pulang untuk membereskan rumah dan menyiapkan makan malam yang romantis di rumah. Aku tidak memberitahunya. Aku ingin membuat kejutan untuknya.

Makan malam sudah siap. Aku menyiapkan masakan kegemaran Aa’ lengkap dengan rangkaian mawar merah di meja makan. Jam tujuh malam, Aa’ belum pulang. Aku menunggu dengan sabar. Jam sembilan malam, aku hanya menerima smsnya. Maaf aku terlambat pulang. Tugasku belum selesai. Makanan di meja sudah dingin. Mataku sudah berat, tetapi aku tetap menunggunya di ruang tamu.

Aku terbangun dengan kaget. Ya Allah, aku tertidur. Kulirik jam dinding, jam 11 malam. Aku bangkit. Seikat mawar merah tergeletak di meja. Di sebelahnya, tergeletak kartu ucapan dan kotak perhiasan mungil. Aa’ tertidur pulas di karpet. Ia belum membuka dasi dan kaos kakinya.

Kuambil kartu ucapan itu dan kubuka. Sebait puisi membuatku tersenyum.

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Lewat kata yang tak sempat disampaikan
Awan kepada air yang menjadikannya tiada
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu.
kuontai
20-12-2008, 12:44 PM
Toshinobu Kubota yang biasanya dipanggil Shinji terpaksa meninggalkan keluarganya utk mencari kehidupan yang lebih baik di Amerika. “Di sini keadaannya amat sukar. Kau adalaah harapan kami” kata si ayah sambil memeluk anak lelakinya itu sambil mengucapkan selamat tinggal.

Shinji menaiki kapal Atlantik yang menawarkan pengangkutan percuma kepada para pemuda yang mahu bekerja sebagai buruh penyodok arang batu sebagai imbalan kos pelayaran selama sebulan. Kalau Shinji menemui emas di pergunungan Colorado, keluarganya akan menyusul. Berbulan lamanya Shinji mengerjakan tanahnya tanpa kenal lelah. Emas yang tidak besar memberinya penghasilan yang tidak seberapa tetapi teratur.

Setiap hari ketika pulang ke pondoknya, Shinji sangat teringin disambut oleh Asaka Matsutoya, gadis yang diam-diam diminatinya di kampung. Sepanjang ingatannya keluarga mereka sudah lama saling mengenali dan sepanjang itulah dia menyimpan hasrat untuk memperisterikan Asaka. Senyumnya yang menawan membuatnya menjadi puteri keluarga Yoshinori Matsutoya yang paling cantik.

Setiap malam sebelum tidur di kabinnya, Shinji ingin sekali membelai rambut ikal panjang Asaka yang perang kemerah-merahan itu. Akhirnya dia mengirim surat kepada ayahandanya untuk merealisasikan impiannya itu. Kira-kira setahun kemudian, sebuah telegram datang membawa berita. Yoshinori Matsutoya akan mengirimkan puterinya kepada Shinji di Amerika.

Anak perempuannya itu akan bekerjasama dengan Shinji dan membantunya mengembangkan bisnis perlombongan emas. Diharapkan setelah setahun, keluarga masing-masing akan mampu datang ke Amerika untuk menghadiri acara pernikahan mereka. Hati Shinji sangat bahagia. Dia menghabiskan satu bulan berikutnya untuk merenovasi rumahnya menjadi tempat tinggal yang lebih sempurna.

Dia membeli ranjang sederhana untuk tempat tidurnya di ruang tamu dan menata kamar tidurnya agar sesuai untuk seorang wanita. Langsir dari bekas karung goni diganti dengan kain bermotif bunga dari bekas karung gandum. Di meja sisi tempat tidur, dia meletakkan pasu berisi bunga-bunga kering yang dipetiknya di padang rumput.

Akhirnya, hari yang dinanti telah kunjung tiba. Dengan membawa seikat bunga daisi segar yang baru dipetiknya, di pergi ke stasiun keretapi. Asap mengepul dan roda-roda berderit ketika keretapi mendekat lalu berhenti. Shinji melihat setiap jendela, mencari senyum dan rambut ikal Asaka. Jantungnya berdebar kencang penuh harapan sebelum tersentak kemudiannya. Bukan Asaaka, tetapi Yumi Matsutoya, kakaknya yang turun dari keretapi.

Gadis itu berdiri malu-malu di depannya, matanya menunduk. Shinji hanya mampu memandang terpana. Kemudian dengan tangan gementar dihulurkan jambangan bunga itu kepada Yumi. “Selamat datang” katanya perlahan-lahan sambil matanya menatap nanar. Senyum tipis menghiasi wajah Yumi yang tidak cantik.

“Aku senang ketika ayah mengatakan kau ingin aku datang ke sini” kata Yumi.

“Mari! Aku akan membawa tas mu” kata Shinji dengan senyum terpaksa, bersama-sama mereka menuju kereta kuda.

Sementara Shinji bekerja di lumbung, Yumi mencatat semua kegiatan di lumbung. Dalam tempo enam bulan, aset mereka telah meningkat pesat. Masakannya yang lezat dan senyumannya yang tenang menghiasi pondok itu dengan sentuhan ajaib seorang wanita.

“Tetapi bukan wanita ini yang aku inginkan” keluh Shinji di dalam hati, setiap malam sebelum tidur dengan seribu rasa susah hati di ruang tamu.

Setahun lamanya Shinji dan Yumi bekerja, bermain dan tertawa bersama, tetapi tidak pernah ada ungkapan cinta. Pernah sekali Yumi mencium pipi Shinji sebelum masuk ke kamarnya. Pria itu hanya tersenyum canggung. Sejak itu, kelihatannya Yumi hanya mampu berpuas hati dengan jalan-jalan berdua menjelajahi pergunungan atau sekadar berbual di beranda setelah makan malam.

Pada suatu petang di musim bunga, hujan deras menyirami punggung bukit, membuat jalan masuk ke lumbung mereka ditenggelami air. Shinji mengisi karung-karung pasir untuk dijadikan benteng. Badannya basah kuyup tetapi usahanya sia-sia. Tiba-tiba Yumi muncul di sampingnya, memegang karung goni yang terbuka. Shinji mencedok dan memasukkan pasir ke dalamnya, kemudian dengan tenaga sekuat lelaki, Yumi melemparkan karung itu ke tepi lalu membuka karung yang lain.

Berjam-jam bekerja dengan kaki terbenam lumpur setinggi lutut, sampai hujan reda. Dengan berpegangan tangan mereka berjalan pulang ke pondok. Sambil menikmati sup panas, Shinji berterima kasih kepada Yumi. “Aku takkan dapat menyelamatkan lumbung itu tanpamu”

“Sama-sama” gadis itu menjawab sambil tersenyum tenang seperti biasa, lalu tanpa berkata-kata dia masuk ke kamarnya.

Beberapa hari kemudian, Shinji menerima sepucuk surat yang menyatakan keluarga Matsuyo dan keluarga Kubota akan tiba minggu berikutnya. Meskipun berusaha keras menyembunyikannya, namun jantung Shinji kembali berdebar-debar seperti dahulu karena akan bertemu lagi dengan Asaka. Ketika Asaka muncul di hujung platformnya, Yumi menoleh kepada Shinji. “Sambutlah dia” katanya. Shinji berasa kaget, “Apa maksudmu?”

“Shinji, sudah lama aku tahu bahawa aku bukan puteri Matsutoya yang kau inginkan. Aku memperhatikan bagaimana kau bercanda dengan Asaka pada pesta bunga nan lalu.”katanya. Dia mengangguk ke arah adiknya yang sedang menuruni tangga kereta. “Aku tahu bahwa dia bukan aku, yang kau inginkan menjadi isterimu..”

“Tapi…” Yumi meletakkan jarinya pada bibir Shinji.
“Syy..” bisiknya “Aku mencintaimu Shinji. Aku selalu mencintaimu. Karena itu, yang kuinginkan hanya melihatmu bahagia. Sambutlah adikku,” Shinji mengambil tangan Yumi dari wajahnya dan menggenggamnya. Ketika Yumi mendongakkan mukanya, utk pertama kalinya Shinji melihat betapa cantiknya gadis itu.

Dia ingat ketika mereka berjalan-jalan di padang rumput, ingat malam-malam tenang yang mereka nikmati di depan unggun api, ingat ketika Yumi membantunya mengisi karung-karung pasir. Ketika itulah dia menyadari, apa yang sebenarnya selama berbulan-bulan tidak disadarinya.

“Tidak, Yumi. Dikaulah yang kuinginkan”

Shinji merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya dan mengucup dahinya dengan cinta yang tiba-tiba membara di dalam dadanya. Keluarga mereka berkerumun dan berseru, “Kami datang untuk menghadiri pernikahan kalian!” Cinta sejati tidak akan berakhir dengan menggembirakan karena cinta yang tulus dan suci itu sesungguhnya tidak akan pernah berakhir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar